
"Bukankah ini kediaman keluarga Rodmeyer ?" tanya Shanique Miller.
Mata perempuan itu sedikit gelisah, pupilnya kasar bergeser ke kanan dan kiri seperti ingin mencari celah untuk menghindari gerbang rumah mewah gaya mediteranian itu. Tapi terlambat, seorang pemuda tanggung dengan seragam marun bertopi ala tukang parkir hotel telah membentangkan tangan, pertanda bahwa mobilnya harus dihentikan.
"Steve Rodmeyer, Kak ! Tentu saja ini kediaman keluarga taipan pemilik 'The Rodmeyer grup'." Jawab Fatimah Mahmud.
"Harusnya dari kemarin kalian bilangnya Steve Rodmeyer ! Bukannya Steve saja." Gerutunya saat keluar dari dalam mobil.
Farah Isuke dan Cindi Latuconsina menatap ekspresi kesal dari raut wajah Shanique Miller, mereka menangkap kesan 'terpaksa' pada sorot mata mentornya itu ketika harus berjalan menyusuri karpet merah menuju pintu utama rumah yang lebih pantas disebut istana itu.
Sementara Fatimah Mahmud malah menikmati sambutan istimewah itu dengan polos. Menebar senyum kepada undangan yang telah lebih dulu hadir sambil bergelayut di lengan Shanique Miller. Mereka berjalan di jalur berbeda dari tamu lainnya, karpet merah yang mereka pijak adalah jalur tamu dengan undangan khusus. Bisa kerabat yang dituakan, pejabat setingkat menteri, atau rekanan bisnis penting keluarga itu.
"Kalau semua ini adalah 'prank', maka awas saja balasanku !" Gerutu Shanique Miller di sela senyum yang terpaksa ditebarkannya agar terkesan ramah pada semua orang.
"Idih kak Shasa ! 'Prank' apaan coba ?" Balas Fatimah Mahmud, dia belum mengerti apa yang membuat mentornya itu senewen.
"Ini semua karena warna undangan kita beda dari lainnya, Kak !" Sahut Farah Isuke, "undangan kita warna merah, sedangkan undangan orang lain berwarna kuning." lanjutnya masih dalam suara berbisik.
"Iya, saya ngerti ! Tapi kenapa undangan kalian bisa berwarna merah ? Sementara teman-teman kuliah kalian menerima undangan warna kuning." Debat Shanique Miller.
"Itu salahnya si Steve, Kak !" Jawab Fatimah Mahmud. Membuat mentornya itu gemas lalu mencubit pelan lengannya.
Tiba-tiba terdengar tawa Cindi Latuconsina, cekikikan dari belakang mereka. "Keknya ada yang kena 'prank' nih ! Xixixixixi ...."
"Prank apaan ?" Sambar Farah Isuke.
"Lihat aja nanti ! Wkwkwkwk ...." Tawa dara Ambon itu makin sulit untuk dibendung. Membuat Shanique Miller makin susah bersikap wajar.
Cindi Latuconsina tahu bahwa ada yang sengaja mengatur skenario supaya mentornya itu tidak tahu bahwa pesta yang katanya adalah acara ulang tahunnya Steve itu sesungguhnya cuma akal-akalan keluarga Rodmeyer untuk menghadirkan sosok Shanique Miller di kediaman mereka. Tapi dia tak tahu apa tujuan mereka hingga harus membuang uang puluhan juta untuk merekayasa sebuah pesta.
"Awas lo, Cind !" Bisik Shanique Miller.
"Eh ... Bukan saya, Kak ! Fatimah yang terima undangannya." Pekik pelan khas Ambonnya terpaksa dikeluarkan untuk membela diri.
Si polos Fatimah Mahmud makin bingung, dia berusaha untuk mencoba mencerna situasi dengan otak lugunya, tapi semua itu mulai membuatnya sakit kepala, lalu menggaruknya.
"Selamat datang nona Shasa ! Ha ha ha ha ...." Suara sophran seorang lelaki tua berperawakan tinggi besar menyambut, ketika mereka baru saja melangkah melewati garis pintu bak pendapa.
"Terima kasih, Tuan dan Nyonya Rodmeyer ! Sungguh penyambutan yang menyenangkan." Balas Shanique Miller.
Sebaris gigi putih dan rapi segera terlihat dari balik bibir tipisnya, meski tak terlalu tebal lipstik yang dioleskan di bibir itu tetap memberi rona cerah pada wajah Shanique Miller.
__ADS_1
"Ha ha ha ha ... Papa Jack ! Panggilan Itu lebih enak untuk telinga saya."
"Dan saya, Mama aja deyh !"
Sang taipan dan istrinya yang menyambut kedatangan mereka berempat, itu bukan perkara sepele ! Jack Rodmeyer adalah konglomerat yang menguasai negeri ini. Hanya segelintir orang yang mereka terima dengan cara itu, presiden atau menteri saja harus melalui protokol tertentu untuk bertemu, dan saat itu, Shanique Miller bersama 3 anak didiknya disambut layaknya tamu agung. Keempat perempuan itu segera menjadi pusat perhatian seluruh mata yang berada di dalam balai tamu.
Untuk apa semua itu ? Mengingat mereka hanya mahasiswi dan mentor akademisnya. Sama sekali bukan orang penting ! Bukan juga orang yang akan membawakan mereka keuntungan dalam berbisnis. Itulah pertanyaan yang sedang memenuhi hati Fatimah Mahmud.
"Silahkan, Non !" tiba-tiba suara seorang penerima tamu mengarahkan Fatimah Mahmud, Cindi Latuconsina dan Farah Isuke untuk berjalan menuju tangga yang mengarah ke balkon. Sementara Shanique Miller digamit ramah oleh Jack Rodmeyer beserta nyonya menuju Hall room di ruang tengah.
Perjalanan menaiki tangga balkon belum tertempuh setengahnya, saat sosok Steve Rodmeyer telah muncul di ujung tangga, Pemuda 20 tahun yang tak terlalu tampan untuk ukuran anak seorang taipan, wajah dan perawakannya menitis dari sang ayah, hanya kulitnya yang seputih mamanya. Dia tersenyum lebar, bersedikap dan bersandar di ujung handle tangga. Sebuah aksi yang membuat hati tiga dara dibawah nya semakin geram.
"Awas lo !" geram Farah Isuke.
Gadis itu terlihat jengkel dan ingin segera membuat perhitungan.
"Kita hajar rame-rame !" lanjut Cindi Latuconsina.
"Siapa ?" bingung Fatimah Mahmud.
"Tuh ! Si songong." jawab Farah Isuke.
"Maksud mu Steve ?" kejar Fatimah Mahmud, "Kenapa ?" lanjutnya dengan kepala yang makin pusing.
Cindi Latuconsina mulai geram pada kepolosan Fatimah Mahmud, apalagi setelah mendengar kata "owh" yang keluat dari mulut sahabatnya itu. Dan kegeraman itu ingin segera dia lampiaskan pada sosok yang tengah menyambutnya dengan muka sok ga berdosa itu.
Tak butuh waktu lama untuk membuat Steve Rodmeyer mengaduh, sebuah cubitan melintir menerpa pinggangnya saja sudah membuat anak taipan itu kesakitan.
"Bar-bar amat sih lo, Farah !" keluh Steve Rodmeyer.
"Itu akibat kalau lo berani ngeprank kami !"
"Itu bokap gw yang suruh !" Elak Steve Rodmeyer.
"Beta serius, eh ! Kami bisa kena masalah kalau bu Shasa sampai marah. Beta tak mau bila harus mengulang mata kaliahnya." sahut Cindi Latuconsina dalam dialek khasnya.
Logat bicara itu membuat Steve Rodmeyer tak mampu menahan tawa, apalagi saat matanya melihat betapa tiga orang gadis di depannya itu khawatir. Dia sedang menikmati kemenangannya. Tapi itu hanya sesaat, Fatimah Mahmud yang merasa dipermalukan memilih berjalan menjauh. Dara berhijab itu merasa dirinya paling bersalah.
"Fat ! Tunggu ...."
"Apa lagi sih, Steve ?"
__ADS_1
"Aku mau kasih ini buat lo !" serak suara Steve Rodmeyer saat mengulurkan setangkai mawar putih kepada Fatimah Mahmud.
Sudah menjadi rahasia umum kalau Steve Rodmeyer itu naksir berat sama Fatimah Mahmud. Tapi mereka belum jadian, itu karena Fatimah Mahmud masih butuh waktu untuk memantaskan diri guna menerima cinta dari seorang Steve Rodmeyer. Dara itu merasa dirinya bukanlah figur yang layak untuk mendampingi anak seorang taipan.
"Biar gw jelasin ya !" lanjut Steve Rodmeyer kala jemarinya melepas mawar itu untuk berpindah ke jemari Fatimah Mahmud. "Ayuk !" lanjut cowo 'sugar' kampus itu. Sebuah pelukan menimpa bahu kanan Fatimah Mahmud yang kemudian membawanya ke ujung balkon.
"Kacang ... Kacang ...."
"Obat nyamuk ... Obat nyamuk !"
Ledek Farah Isuke dan Cindi Latuconsina bersahutan.
Mereka berempat terhenti di ujung balkon, memegang pembatas sambil memandang ke arah hall utama rumah, letaknya berada dibawah mereka.
"Cowo yang bertuxedo putih lengkap dengan dasi kupu-kupu itu adalah kakak ku. Namanya Eddy ! Edward Rodmeyer !" mula Steve Rodmeyer.
"Anak 6 tahun yang sedang digandengnya itu anaknya hasil pernikahannya dengan Helena ... Itu yang paling menor di sudut kanan. Mereka bercerai karena perempuan itu selingkuh." dia menunjuk ke arah perempuan ber-make up tebal dengan gaun warna marun.
"Trus apa hubungannya dengan kak Shasa ?" sambar Cindi Latuconsina.
"Hussst ... Jan nguping ! Gw lagi ngomong sama Calon bini gw." balas Steve Rodmeyer.
"Yang baik kalau lagi ngomong sama senior !" seru Farah Isuke saat mencubit pinggang Steve Rodmeyer sekali lagi.
"Aduh, Nipon ! Huuuh dasar bar--"
"Lanjutin !" suara Fatimah Mahmud mengalun kalem. Memaksa Steve Rodmeyer untuk kembali fokus pada ceritanya.
"Papa adalah fans beratnya bu Shanique, mama lebih gila lagi ... Dan kabar baiknya adalah : Mereka ingin menjodohkan Eddy dengan bu Shanique. Paham klean ?"
"Mereka sudah tahu tentang rencana papa-mama mu ?" kejar Cindi latuconsina.
"Sudah ! Tapi keknya bu Shanique lebih sering menghindar. Padahal kak Eddy adalah lelaki yang lebih hebat dari kata sempurna." jawab Steve Rodmeyer dengan mimik muka serius.
"Kalau sudah masuk dalam perjamuan seperti ini, maka keselamatan dan harkat kemanusiaan bu Shanique menjadi tanggung jawab keluarga besar Rodmeyer. Siapapun yang berani menyentuhnya akan berhadapan dengan papa !"
"Kalau mereka ga jadi nikah ?" kejar Fatimah Mahmud.
"Acara ini adalah penasbihan bu Shanique menjadi anggota keluarga kami ! Dengan menikahi Eddy atau tidak, bu Shanique tetap menjadi bagian keluarga ini." pungkas Steve Rodmeyer.
Pelan tapi pasti, mata ketiga dara itu mulai mengamati gaya mentor mereka, betapa kesederhanaan gayanya itu terlihat menyatu dengan tetamu lain di saat hatinya sedang gundah.
__ADS_1
"Selain menulis, kak Shasa ternyata adalah seorang aktris yang luar biasa !" eluh Fatimah Mahmud yang kemudian disambut pelukan dari dua sahabatnya.
"Sekarang, kita harus segera ke kandang 'bebek' ! Anak-anak sudah nungguin kita untuk berpesta ala bebek ... Wkwkwkwk ... Kita ga pantas masuk perjamuan itu !" ajak Steve Rodmeyer.