The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 21


__ADS_3

Perjalanan singkat dengan maskapai penerbangan paling elit di kelas VIP tidak serta merta membuat Clarissa Mae merasa nyaman. Antara Cengkareng dan Juanda hanya butuh 1 jam dan 15 menit, tapi pinggangnya terlihat seperti terlalu sakit untuk bersantai di atas kursinya. Itu karena hatinya sedang terpuruk, angannya melayang ke saat dia sedang memarahi adiknya di kantor, beberapa jam sebelum memutuskan untuk terbang ke Surabaya.


" Duduk, Dek ! " awalnya saat itu.


"Apalagi sih, Kak ! Aku ngantuk banget." keluh Raquella.


"Kamu harus mulai belajar mengelola bisnis ini !"


"Iya, Kak ! Tapi jangan sekarang ... Aku tidak tidur sejak semalam."


"Sekarang !"


"Ish ... Maksa aja kerjanya."sewot Raquella ditunjukkan dengan caranya membuang muka.


" harus ! Karena kamu harus tahu berapa laba perusahaan kita perbulan." sejenak Clarissa menghela nafas, sekedar untuk menata hati dan kalimatnya agar tak sampai menusuk perasaan adiknya itu.


"Sejak kamu menuntut pembagian kapital atas perusahaan ini, kamu tahu berapa total kas yang sudah kamu tarik ?" lanjut Clarissa dengan nada lembut.


Seperti sudah menebak arah pembicaraan kakaknya, Raquella menatap mata Clarissa dengan pandangan miring.


"200 juta rupiah, Dek ! Dalam tempo hanya 3 minggu."


"Lha trus ? Kakak keberatan ?"


"Itu senilai laba bersih kita dalam satu kwartal !"


"Aku butuhnya segitu, Kak !"


"Kita bisa bangkrut dalam waktu kurang dari setahun ! Paham ga sih, Lo ?" tegas Clarissa yang sepertinya sudah mulai jengkel.


"Ya ... Aturlah, Kak ! Jangan sampai bangkrut. Itu tugas mu sebagai Direktur Utama !" balas Raquella dengan nada tak kalah galak.


"Tapi kamu juga harus tahu batas !" Bentak Clarissa.


" Eh, Kak ! Dengerin omongan gw baik-baik ... Selama belasan tahun, Lo sudah mengelola perusahaan ini ! Semua labanya sudah lo makan sendiri, lo pakai untuk membiayai gaya hidup Lo yang sok dermawan itu." debat Raquella dengan nada tinggi. Kemudian dia berdiri dengan pandangan beringas."dan jangan pernah lagi membatasi kemauanku, karena aku sudah bukan anak kecil lagi." lanjutnya sambil beranjak meninggalkan kursinya.


"DUDUK !" teriak Clarissa.


Tubuh Raquella terkesiap, jantungnya bergetar dengan kencang seiring rasa kaget di hatinya. Seumur hidupnya, baru sekali itu dia menerima kemarahan kakaknya. Dan itu membuatnya ngeri, memaksanya untuk kembali menduduki kursinya.


"Kalau kamu bukan anak kecil lagi, maka buktikan dengan sikap dewasamu ! Bikin papa dan mama bangga saat melihatmu dari alam sana, dengan menyelesaikan kuliahmu, dengan menjadi manusia yang bisa bertanggung jawab. Mereka hanya meminta itu dari mu ! Di saat akhir dari penghujung nafas papa."


Ucapan Clarissa itu membuat Raquella membeku, diam.


"Aku terpaksa harus segera ke Surabaya, Dek ! Mengurus cabang perusahaan ini langsung dengan tanganku sendiri. Aku ga tega meninggalkanmu dalam keadaan kacau seperti ini." lanjut Clarissa dengan suara lembut.


"Ya jangan pergi lah !"

__ADS_1


"Trus darimana aku bisa mendapatkan uang untuk mencukupi gaya hidup 'dewasamu' itu ?"


Raquella mulai bisa menerima logika berpikirnya Clarissa. Tak mungkin lagi baginya untuk terus bergantung pada orang yang menjadi pesaingnya dalam percintaan, meski dia adalah kakak kandungnya sendiri. Dia harus keluar dari bayang-bayang kehidupan kakaknya.


"Mulai nanti malam, kamu harus tidur di rumah. Karena 3 jam lagi aku harus sudah berada di Surabaya."


"Secepat ini ?"


"Iya ! Kenapa ? Kamu mau nunggu sampai aku mati dulu baru mau belajar memimpin perusahaan ini ?"


"Ish ...."


"Para direktur senior akan membimbingmu dan para staff akan memberi penjelasan detil soal operasional." pungkas Clarissa sambil berdiri dari kursinya lalu menjinjing sebuah koper tanggung.


"Kakak mau kemana ?" tanya Raquella. Dia mulai gusar.


"Kok kamu masih nanya ! Apa kurang jelas prmbicaraan kita tadi ?"


Tak ada yang bisa diperbuat nya lagi selain berdiri bengong saat sang kakak berlalu meninggalkannya seorang diri dalam ruangan itu, membuat batin Raquella mulai diliputi kecemasan.


"Mama ... Papa ... Mafin Rissa !" bisik dalam hatinya. Di balik kaca mata hitamnya, mulai berlinang bulir air.


Ketika tubuh kurusnya terguncang oleh tak mulusnya turbulensi pra pendaratan, dia menyadari bahwa sebentar lagi dia akan berhadapan dengan kehidupan baru di lingkungan yang tak banyak diketahuinya.


Sebuah kerja keras harus dihadapi oleh Clarissa demi kebahagiaan Raquella dan Arvine Dowson, ironi yang sulit hilang dari sudut jantungnya.


Ketika pesawat yang ditumpanginya telah benar-benar berhenti, saat semua penumpang antre untuk meninggalkan pesawat itu, Clarissa memilih untuk berdiam sejenak, memejamkan mata, bibirnya lalu bergetar pelan seiring doa-doa yang digumamkannya.


"Hmmm ...." balas Clarissa sambil berdiri.


"Silahkan !" lanjut sang pramugari.


Clarissa segera melangkah, meninggalkan pesawat sebagai penumpang terakhir. Entah apa tujuannya, tapi dia selalu melakukan itu dalam setiap penerbangan yang dia jalani.


Selang beberapa menit setelah dia berdiri menunggu, bagasi Clarissa pun akhirnya muncul di atas 'conveiyor' dan segera diraihnya.


Cardigan lusuh pembungkus T-shirt O neck yang melekat di tubuhnya perlahan dirapikannya. Kemudian pandangannya menyapu ke arah celana panjang hingga high heel di kakinya, semuanya masih rapi. Meski tak mewah, tapi pakaian yang dikenakannya selalu harus dalam keadaan rapi. Yang terakhir disentuh adalah kaca mata hitamnya, dinaikkannya hingga ujung kepala, menyingkap bagian depan rambutnya. Membuat wajah lelah nya itu terlihat lebih ranum. Yaaa ... Masih cantik dan ranum, meski usia Clarissa sudah tak muda lagi.


Saat kakinya menapaki lantai di ujung terminal kedatangan, mata Clarissa dikejutkan oleh seorang lelaki tampan bertubuh tegap sedang menenteng sebuah kertas putih bertuliskan namanya, 'CLARISSA MAE'.


Lelaki itu melihat kedatangan Clarissa dengan harap-harap cemas. Sudah tak ada penumpang yang lain, hanya Clarissa yang tersisa sebagai penumpang terakhir. Sebelum akhirnya bibir lelaki itu menyunggingkan sebuah senyum tipis.


"Apakah Anda menjemput saya ?"


Ada keraguan di benak Clarissa, bagaimana mungkin ada orang yang menjemputnya di bandara sedangkan dia tak mengatur akomodasinya hingga sejauh itu. Sejak semula dia berencana untuk naik taksi guna sampai ke hotel yang telah dipesannya.


"Hanya jika anda adalah nona Clarissa Mae." jawab sang lelaki.

__ADS_1


"Tapi saya tak pernah menerima konfirmasi dari siapapun menyangkut akomodasi penjemputan."


"Anda benar, Nona ! Ini semua saya lakukan atas permintaan bu Faizah."


Segera terlintas di pikiran Clarissa tentang pesan ibu kepala panti asuhan yang telah dianggapnya seperti ibunya sendiri. "Bila di Surabaya nanti kamu bertemu pemuda bernama Eddy, maka cobalah untuk sedikit memberi perhatian kepadanya, dia adalah anak teman ku. Semoga kalian berjodoh."


Tapi pesan itu tak pernah ditanggapinya secara serius, itu karena niat Clarissa ke Surabaya adalah untuk urusan bisnis, bukan ramontisme.


"Iya ... Saya kenal beliau." balas Clarissa dengan senyum simpul, "saya Clarissa Mae." sambungnya dengan hati yang masih tak percaya. Penampilan lelaki yang sedang berdiri di hadapannya itu terlihat lebih gahar daripada yang sering dilihatnya di media. Kaos V-neck warna biru tua dipadukan bluejins dan sepatu kets putih membuat penampilan lelaki itu terkesan lebih macho.


"Dan saya Eddy."


"Anda jangan bercanda, Tuan Rodmeyer !" sambar Clarissa, dia menutupi kegusaran hatinya dengan mendekatkan kedua alisnya agar bertemu di tengah dahinya, membentuk 'poker face'.


"Nama saya memang Edward Rodmeyer, tapi dalam lingkungan keluarga, mereka menyebutku Eddy, termasuk bu Faizah." jelas lelaki itu. Senyumnya mengembang setelah melihat sosok orang yang dijemputnya adalah perempuan dengan dandanan sederhana namun tampak luwes dengan pilihan warna pakaian yang harmonis.


"Silahkan, Nona !"


"Clarissa ... Panggil saja saya dengan nama itu." jawab Clarissa Mae sambil mulai berjalan di sisi kanan Edaward Rodmeyer.


"Lupakan Rodmeyer ... Just call me Eddy ! Okay ?"


Bukan senyum Edward Rodmeyer yang membuat Clarissa Mae seperti sesak nafas, melainkan derap langkah enam pengawal pribadinya yang membuat perempuan itu risih dan sesak nafas, karena mereka menjadi pusat perhatian semua orang di terminal kedatangan internasional.


Saat perjalanan mereka baru saja sampai di ujung koridor, sebuah limousin mewah menjemput.


"Boss ! Calon 'queen' ya ?" tanya seorang wartawan kepada Edward Rodmeyer, lirikannya tepat kearah mata Clarissa Mae. Lalu 'klik' sebuah jepretan kamera mengabadikan kebersamaan mereka berdua.


Sontak empat orang pengawal pribadi bergerak mendekati sang Wartawan, mereka bermaksud merampas kamera.


"Pak !" seru Clarissa Mae kepada para pengawal itu, "biar saja ! Dia juga butuh berita untuk menyambung kehidupan keluarganya."


Keempat pengawal bertubuh tegap itu pun terdiam, pandangan mereka menatap ke arah Edward Rodmeyer. Tanda tanya besar mengganjal di hati mereka, karena kebiasaan Helena Krysnowack sudah seperti agama bagi mereka, merampas lalu menghapus seluruh gambar yang tersimpan di dalam kamera para wartawan, "Fotoku sangat berharga, jangan diobral kepada publik tanpa nilai ekonomis bagi ku !!" kalimat itu yang biasanya keluar dari mulut Helena Krysnowack. Tapi Clarissa Mae tidak melakukan hal yang sama dengam Helena, dia membiarkan foto dirinya disebarkan oleh media ke publik, meski ada unsur keterpaksaan.


Para pengawal itu pun segera mundur saat Edward Rodmeyer menurunkan tangannya, tanda bahwa dia pun rela fotonya diabadikan oleh wartawan tersebut.


Seolah mendapat angin segar, sang wartawan kembali memberanikan diri untuk mendekati Clarissa Mae, meski wanita cantik itu telah memasuki limousin.


"Nama, Bu !" tanya wartawan itu buru-buru. Memaksa Clarissa Mae untuk membuka kaca jendela di sisinya.


"Nama saya Clarissa, dan saya belum pasti bisa menjadi 'queen of the Rodmeyer', karena seperti yang anda ketahui, cowo dengan kualitas pribadi sehebat Edward Rodmeyer tentu dikelilingi banyak perempuan hebat, dan saya bahkan bukan salah satunya." sebuah senyum simpul mengakhiri pejelasannya.


"Minta kartu namanya, Bu !" harap sang wartawan saat limousin itu mulai bergerak.


"Tunggu, Pak !" seru Clarissa Mae pada sopir limousin itu. Mobilpun segera terhenti.


"Ini, Dek !" seru Clarissa Mae saat menyerahkan selembar kertas kecil pada sang wartawan."maaf, ya ! Pak Boss sedang buru-buru. Kalau mau minta klarifikasi, hubungi saja nomor saya ... Selamat siang !"

__ADS_1


"Siang juga, Bu Clarissa !" balas wartawan itu kegirangan.


Di dalam limousin, Edward Rodmeyer terlihat sedang memandang wajah Clarissa Mae, mengamati caranya berbicara dengan wartawan, dan kerling matanya saat tersenyum. "Bu Faizah memang tak pernah salah menilai, Clarissa memiliki kualitas untuk dicintai. Tapi sanggupkah hati ku 'berpaling' ?" bisik dalam hati Edward Rodmeyer.


__ADS_2