
"Bang !?"
Suara dari ujung sambungan telephone itu seperti mencekat tenggorokan Arvine Dowson. Itu bukan suara milik Clarissa Mae.
"Halo, Fatimah ?"
Suara itu lelah, telinganya juga mulai berdengung saat menerima undangan untuk menghadiri acara pertunangan gadis di ujung telephone-nya. Mungkin karena letih di tubuhnya, atau rindu di hatinya yang tak kunjung terobati.
Sofa di sudut pintu menjadi pilihan satu-satunya, Arvine Dowson rebah di sana, yang kemudian berakhir memicing dan nyaris terlelap saat heel sepatu Poetri Maharani terdengar memasuki ruangan.
Dia yang terlampau letih tak sanggup lagi bangkit, membiarkan kopi diletakkan di atas meja kerjanya. Bahkan membiarkan siluet Poetri Maharani berdiri dalam jangkauan tangannya.
Curang kamu, Riss !
Itu terjadi karena Poetri Maharani memotret dirinya dalam terlalu banyak 'jepretan'. Untuk apa coba ? Jika bukan untuk dikirimkan kepada Clarissa Mae.
Arvine Dowson yang pada awalnya pura-pura tertidur, akhirnya pulas bahkan sebelum sekretarisnya itu mengakhiri aksi pemotretannya.
***
Dari pantulan cermin, Clarissa Mae menatap dirinya sendiri. Wajahnya tak ranum lagi, mulai termakan waktu. Meski telah ia basuh wajah itu berulang kali, tapi tetap saja ada yang ia rasa salah.
Bibirnya ! Ia risih pada bekas ciuman Edward Rodmeyer. Entah sudah berapa puluh kali bibir itu diusapnya, bahkan tisu bekasnya saja sudah memenuhi tempat sampah, meluber hingga terserak ke lantai kamar mandinya, dan masih saja terus dibersihkannya. Hingga akhirnya ia menyerah, rasa risih itu ia biarkan sebagai pengingat bahwa ada noda yang hanya akan hilang bila tertimpa noda lain.
Rani ....
Nama itu melintas dalam pikirannya saat smartphone-nya berdenting beberapa kali. Ia biarkan pintu kamar mandi itu tetap terbuka, ditinggalkan begitu saja karena antusias pada apa yang dikirimkan oleh sahabatnya.
Tersenyum, kedua sudut bibirnya membentang maksimal, menanamkan lesung pipit di kedua pipinya. Girang seperti bocah bermain hujan. Lalu entah karena senang atau miris, ia tengkurap di atas tempat tidurnya sambil menikmati rangkaian foto yang barusan ia terima.
Vinnie dalam sleeping pose ... selalu menjadi gambar favoritku.
Kemudian tertawa sendiri saat video live chat ia terima. Arvine Dowson sedang tertidur di atas sofa di kantornya.
"Puas ?" suara Poetri Maharani berbisik.
__ADS_1
"Belum. Zoomkan ke luka di pelipisnya." pinta Clarissa Mae.
Kamera pun mendekat, menyorot tepat di pelipis Arvine Dowson, dimana sebuah luka gores tampak mulai mengering. Meski tak lebar, tapi luka itu membuat Clarissa Mae menahan nafas. "Kenapa akhir-akhir ini dia sering terluka ?"
"Kalau ga tega, buruan datang ke sini ! Dia nanya-nanya, kasihan kalau dibohongi terus. Sepertinya luka ini tak diurus, dibiarkan mengering karena angin dan matahari."
"Kamu jangan bicara, Ran ! Ntar dia kebangun."
"Ga bakalan, Bu ! Saat di tiba di kantor tadi, kondisinya terlihat seperti zombie. Kayaknya habis dari Jakarta deh, nyetir sendiri--"
"Jakarta !?" memulai mode gugup nya.
"Iya, Bu. Dia ke kantor dengan sedan Lamborghini warna merah, mewah dan berplat B."
Rara ! Itu pasti mobil barumu.
Tak ingin mengucapkan apa yang ada di dalam benaknya, Clarissa Mae menggigit bibir bawahnya. Berusaha mengusir kegugupan dari dalam hatinya.
"Untuk apa dia ke Jakarta ?"
"Aku juga ga mau terus membohonginya. Kalau semua skenario berjalan mulus, mungkin lusa aku sudah bisa menemuinya. Ga tau sebagai apa." keluh Clarissa Mae. Sedih tapi mencoba untuk tetap tegar. "Yang pasti bukan lagi sebagai kekasih hatinya."
"Maksudnya !?"
"Besok malam, aku harus menerima pinangan Eddy--"
"Haaaah !"
Layar smartphone Clarissa Mae sontak berpindah. Dari wajah sendu Arvine Dowson berganti dengan wajah Poetri Maharani yang tengah tercengang.
Clarissa Mae sekali lagi menggigit bibir bawahnya. Menyembunyikan perasaan sedihnya.
Hening. Kedua perempuan sebaya itu hanya bisa saling pandang melalaui layar gadget mereka.
"Aku harus menyelamatkan adikku, Ran." Clarissa Mae mengakhiri keheningan, "darah lebih kental daripada cinta."
__ADS_1
"Tak seharusnya darah dan cinta diperbandingkan, keduanya senafas dan saling melengkapi."
Clarissa Mae membenamkan wajahnya ke dalam kasur. Kemudian mengubur kepalanya dengan sebuah bantal. Suara yang barusan ia dengar adalah suara khas milik Karen Rodmeyer. Perempuan itu entah bagaimana tiba-tiba saja telah berada di dalam kamar, dan entah apa saja pembicaraan yang telah ia dengar.
Rasa malu dan gugup membuat Clarissa Mae semakin dalam mengubur diri, bisa saja isi pembicaraannya menjadi penghambat bagi skenario yang ingin ia bangun.
"Bu Clarissa !?" suara Poetri Maharani mencoba menggapai dari ujung sambungan live chat.
Tak mampu berbuat apa-apa lagi, ia membiarkan gadgetnya diambil alih. Tangan tua itu kemudian menggantinya dengan regaman penuh kasih pada telapak tangan Clarissa Mae.
"Arahkan kameramu ke wajah lelaki itu, aku ingin melihatnya lebih jelas !" perintah Karen Rodmeyer tak sanggup ditolak oleh Poetri Maharani. Saat wajah Arvine Dowson memenuhi layar gadget di tangannya, Karen Rodmeyer hanya tersenyum. Dia sudah mendapat penjelasan atas pertanyaannya kenapa Clarissa Mae bersikap kekanakan saat berada di kediaman keluarga Miller sehari sebelumnya.
"Apa yang kamu lihat dari lelaki dekil ini ?"
Bantalpun ia bongkar, benteng yang dibangun oleh Clarissa Mae ia angkat paksa, menyibakkan rambut gadis itu agar mau menatapnya, Karen Rodmeyer mencoba menggali apa yang ada di balik mata sembab dan basah itu.
"Ma ...." hanya merengek pilu, itu cara Clarissa Mae untuk mengelak dari tatapan iba Karen Rodmeyer. Bahkan kemudian nekat membenamkan wajahnya ke dalam pangkuan perempuan tua itu.
Mengelus rambut Clarissa Mae, "aku hanya ingin melihatmu bahagia, Nak." suara Karen Rodmeyer halus dan lembut. "Walau mungkin harus gagal menjadikanmu menantu." tiba-tiba sangat ditekan. Mengocok perasaan lawan bicaranya hingga lebur, cara yang disengaja untuk memaksa Clarissa Mae bicara apa-adanya.
"Sama seperti papa, Arvine Dowson tak pernah bicara tentang masa lalunya. Dia hanya bicara tentang masa depannya. Visi dan tanggungjawabnya meyakinkan saya bahwa dia lah yang terbaik." Clarissa Mae mulai terbuka.
"Menurut saya, rayuan terbaik seorang lelaki adalah saat dia berbicara tentang visinya, tentang harapan-harapannya di masa mendatang. Lelaki hebat hanya bicara tentang masa depan."
"Lelaki yang banyak bicara tentang masa lalunya adalah lelaki bermental tempe, walau mungkin dia telah bergelar sarjana dan kaya raya."
"Yang terpenting dari seorang lelaki adalah tanggungjawabnya untuk mewujudkan misi dan visi hidupnya. Karena kodrat lelaki adalah menjadi memimpin dunia, bukan menjadi budak cinta istrinya !"
"Seorang istri tidak bisa menuntut cinta suaminya sebesar cintanya. Karena cinta, doa dan kemulyaan yang ia terima dari anak-anaknya adalah imbalan yang melebihi segalanya."
Rangkaian kalimat yang tertata tegas itu membuat Karen Rodmeyer terdiam, mendengarkan dan membenarkan setiap kata-kata nya. Lalu menyentuh kemudian mengangkat kepala Clarissa mae dari pangkuannya. Menatap mata gadis itu dengan perasaan takjub. Meragum pipi merah itu dengan kedua bilah telapak tangannya.
"Kamu memang hebat, Nak Rissa !" suaranya ditekan, "layak untuk mendapatkan lelaki yang lebih baik daripada Eddy." semakin ditekan, "aku akan mengikuti skenariomu. Apapun itu !" Karen Rodmeyer memaksa Clarissa Mae agar duduk, untuk membenamkan pelukan hangat. "Apapun yang akan terjadi, aku akan selalu menjadi mamamu. Aku janji !" bisiknya.
”Terimakasih, Ma !" balas Clarissa Mae, dia memejamkan mata, larut dalam haru biru pelukan Karen Rodmeyer. Membiarkan Poetri Maharani menghabiskan paket internetnya.
__ADS_1