The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 53


__ADS_3

Ada luka robek di kulit kepala Edward Rodmeyer, itupun tak seberapa lebar. Hanya butuh satu atau dua jahitan. Tapi darahnya menjadi drama, apalagi di mata Helena Krysnowack. Darah itu menjadi sumbu untuk menyalakan tangis, menganggapnya sebagai akhir dari kehidupannya.


Masih tak perduli pada sorot mata Edward Rodmeyer, Clarissa Mae lekat menatap wajah Helena Krysnowack, mengamati satu persatu bulir airmata yang luruh di pipi perempuan itu, juga menggigilnya bibir berlipstik tebal itu. Semuanya bukan drama, bukan bentuk kepura-puraan, itu tulus mengalir dari dalam hati.


Ini sama sekali bukan madam Helena seperti yang digembar-gemborkan oleh media ! Orang ini mencintai Eddy, tulus adanya.


Clarissa Mae hanya bisa membuat huruf 'O' dengan bibirnya saat menyaksikan Helena Krysnowack memapah tubuh Edward Rodmeyer, seolah ingin menuntun orang yang sering menyakitinya itu untuk berjalan keluar.


"Madam !?" suara Clarissa Mae tergagap, "bukankah Eddy telah menyakitimu ? Bahkan menceraikanmu."


"Demi Tuhan ! Nona Mae ... Jaga ucapanmu !" suara Helena Krysnowack itu sangat ditekan. Pita suaranya bergetar penuh emosi, "apakah sakit hati dan perceraian mampu menghapus cinta dari dalam hati seorang perempuan ?"


"Dia bahkan menjerumuskanmu ke jurang kesesatan !"


Kali itu suara Clarissa Mae memaksa kaki Helena Krysnowack untuk berhenti melangkah. Membiarkan Edward Rodmeyer bersandar di tiang pintu.


Bermata kalut, "dengar, Nona Mae ! Sekali saja perempuan jatuh cinta, maka tak akan ada lagi yang sanggup menghapusnya. Tidak dunia malam, tidak perceraian, tidak juga rasa sakit hati ! Hanya kematian yang mungkin sanggup menghapus rasa itu." Helena Krysnowack memberengut kesal lalu berpaling. Saat seperti hendak melangkah pergi, ia kembali menoleh ke wajah Clarissa Mae hanya untuk melempar sebaris kalimat : "Kelak kau akan mengerti, Nona ! Saat semua terasa hampir terlambat."


Kembali berdiri mematung, Clarissa Mae tertegun. Menyaksikan dirinya sendiri dalam wujud Helena Krysnowack. Tangisnya kala menangisi luka Arvine Dowson sama seperti tangis Helena Krysnowack, kalutnya kala merawat Arvine Dowson sama seperti kalutnya Helena Krysnowack, tegarnya kala memilih untuk mengalah sama dengan ketegaran Helena Krysnowack. Padahal Helena Krysnowack adalah perempuan sampah di mata publik !


Saat kembali tersadar dari lamunannya, Clarissa Mae sudah tinggal sendirian. Helena Krysnowack dan Eddy Rodmeyer sudah tidak ada lagi di pintu. Bahkan ketika dia berlari menuju lift, dia tak menemukan siapa-siapa.


Sempat terpikir untuk mengejar Arvine Dowson ke kantornya, tapi tak mungkin. Clarissa Mae telah berbohong tentang keberadaannya. Dan satu-satunya tempat untuk dituju adalah mansion keluarga Rodmeyer, setidaknya di sana dia bisa merehatkan hati dari segala keterkejutannya.


Mencintai lelaki yang hatinya telah terisi cinta perempuan lain hanya akan menjadikanku seperti madam Helena, perempuan sampah ! Ternyata menjadi 'debu' tak semudah yang kubayangkan. Tak cukup hanya bermodal ihlas.


Suara sumir itu terus terngiang di telinga Clarissa Mae, memenuhi seluruh ruang dalam kepalanya. Di taksi bahkan sampai di depan pintu mansion, frase 'perempuan sampah' menekan mata batinnya untuk menciptakan ketakutannya sendiri.


"Nak Rissa !? Tumben pulang sendiri." sambut Karen Rodmeyer dari ruang tengah. Suara perempuan tua itu sedikit menghapus gelisahnya.


Butuh tempat untuk menyandarkan hati, Clarissa Mae memeluk tubuh Karen Rodmeyer cukup lama. Mungkin terlalu lama. "Ada apa lagi, Nak ?" Bisik perempuan tua itu di telinganya.


Tanpa sedikitpun melonggarkan pelukannya, "ga ada apa-apa, Ma ! Letih aja ko." Clarissa Mae mulai merasa sedikit lega. "Eddy ada urusan pribadi di luar kantor. Jadi saya pulang aja duluan." melepas pelukan kemudian menebar senyum.


"Ayo sarapan ! Badanmu seperti papan tulis ... Putih, tipis dan transparan." Karen Rodmeyer segera menarik tangannya ke arah meja makan. "Bikin malu aku aja ! Entar ada yang bilang kalau aku ini pelit, ga mau kasih makan kamu. Padahal kamunya saja yang susah makan, tinggal bilang saja seleramu ! Semua cheff di rumah ini akan memasakny untukmu--"


"Steve !? Tumben pagi-pagi sudah manyun ?" sela Clarissa Mae untuk menghentikan rentetan 'mercon' di bibir Karen Rodmeyer.


Walau dipaksakan untuk tersenyum, wajah Steve Rodmeyer tetap tak sanggup untuk menyimpan jengkel di hatinya. Anak muda ganteng itu memilih membuang matanya ke plafon.

__ADS_1


"Bilangin adikmu, Tuh ! Massa dia minta nikah ? Kuliah aja belum lulus ! Belum bisa nyari duit ! Mau dikasih makan ap--"


"Haah ... beneran ? kamu pengen nikah. Hebaaaat kamu, Steve ! Aku mendukungmu." meskipun diucapkan sambil terkekeh, tapi Clarissa Mae bersungguh-sungguh tentang dukungannya. "Aku suka pada lelaki yang berani mengambil keputusan sepenting itu !"


Ga kek Vinnie ! Badan aja yang gede, menikah aja takut. Dasar cemen. Ko aku mikirnya gitu ich !!


"Beneran, Mbak ?" Steve Rodmeyer mulai merasa mendapat eskrim, bibirnya segera mengembang.


"Nak Rissa !!" Karen Rodmeyer kesal, suaranya menekan kemana-mana. "Steve itu terlalu kecil untuk menikah !"


"Ngga ah ! Aku udah besar. Bahkan sudah lebih tua dibanding saat papa menikahi mama. Ayolah ... Ma !? Restui pernikahanku."


Clarissa Mae mencebik bibir saat meihat wajah Karen Rodmeyer, tentu menutupi cebik itu dengan jarinya dari pandangan Steve Rodmeyer. Dia sedang bermuka dua.


"Eh !! Darimana kamu dengar cerita itu ? Papamu dulu sudah bewokan saat kami menikah--"


Naloh ! Mau nikah ko harus bewokan !? Trus yang bewok apanya, hayooo ?


"Maaf ! Maksud ku sudah dewasa." buru-buru Karen Rodmeyer memperbaiki salah ucapnya.


"Aku sudah dewasa, Ma !" rengek Steve Rodmeyer, mata memelasnya mengiba pada sang mama.


"Kapan terakhir Mama mencium pipi ku ? Pasti sudah 20 tahun yang lalu. Ya, kan ?" Steve Rodmeyer berusaha meyakinkan mamanya dengan menarik balik waktu. Setidaknya itu adalah usaha terbaiknya.


"Tadi malam." santai dan sinis.


"Tapi kamar ku kan selalu terkunci, Ma ?"


"Tapi aku punya kunci masternya ! Jadi aku ini tetap bisa membuka pintu kamarmu kapan saja, lalu melakukan apa saja yang ku mau, termasuk mencium pipimu tiap malam."


"MAMAAAA !" malu dan kesal, Steve Rodmeyer buru-buru menarik tisu lalu ia mengusap seluruh bagian wajahnya, terutama dua pipinya.


"Hey !! Jadi begitu ya, Steve ? Sun sayang mamamu ini sekarang najis. Ga boleh menempel di kulitmu lagi !"


"Bukan begitu, Ma ! Aku ini sudah gede ... sudah dewasa ! jadi ga boleh sembarangan dicium."


"Kecuali ciuman dari pacarmu, kan ?" tiba-tiba Clarissa Mae nimbrung dengan ekspresi tanpa dosa, senyam-senyum di tengah peperangan anak vs mamanya.


"Ya ga gitu juga kali, Mbak ! Lagian Mbak Rissa ini belain siapa sih ? Tadi bilangnya mendukung aku." Mencebik bibirnya, Steve Rodmeyer segera memutar manik matanya. "Cape deh !"

__ADS_1


Clarissa Mae hanya sanggup tertawa melihat mimik muka anak bungsu keluarga Rodmeyer itu.


"Pokoknya aku mau nikah ! Kalau ga direstui ... biar saja aku buntingin anak orang sekalian ! Biar semua kena malu."


"Wow ... sabar dulu, Anak muda !" Sergah Clarissa Mae tiba-tiba. Keputusan yang telah diambil oleh Steve Rodmeyer ternyata sangat serius. Dan bisa saja membawa pengaruh buruk bagi reputasi keluarganya.


Terlepas dari perangai jajat Edward Rodmeyer kepada dirinya, Clarissa Mae memutuskan untuk terlibat dalam permasalahan berat yang akan menimpa keluarga Rodmeyer. Kemudian dadanya serasa tertusuk sebilah belati kala matanya bersirobok lalu terpaut dengan mata Karen Rodmeyer. Perempuan tua itu menitikkan airmata.


"Apa dosaku sehingga tuhan menghukumku dengan cambuk ini ? Kedua anakku akan pergi dengan cara sekejam ini. Mereka tak pernah mendengar kata-kataku."


Steve Rodmeyer yang dihinggapi rasa bersalah tiba-tiba berdiri dari kursinya, sekelebat saja, dia sudah menutup pintu kamarnya dari dalam.


Clarissa Mae dengan penuh iba segera bergeser, berpindah ke kursi sebelah kanan Karen Rodmeyer.


"Berbeda dengan Eddy yang pendiam dan cenderung mememdam masalah dalam batinnya sendiri, Steve ini lebih mirip papanya. Nekat dan berani berbicara sesuai kehendak hatinya. Perasaan ini dulu pasti dirasakan oleh ibu mertuaku saat Jack memilih minggat dari rumahnya demi menikahi aku. Ternyata sakit ... Maafkan aku, Bu ! Bila dulu pernah melukai hatimu." Karen Rodmeyer makin larut dalam rasa bersalah. Dan tak tahu harus berbuat apa.


"Sabar ya, Ma ! Biar Rissa yang bicara sama Steve. Semoga ada jalan tengah untuk kita semua." memeluk pundak tua itu, lalu meremas jemarinya, Clarissa Mae perlahan bangkit kemudian melangkah menuju pintu kamar Steve Rodmeyer.


"Steve ... boleh mbak Rissa masuk ?" ujarnya di depan pintu. Hampir mengetuk, tapi keduluan pintu terbuka. Si empunya kamar masih manyun, seperti ekspresi anak lelaki yang gagal memperoleh senapan mainan.


"Boleh aku ngomong ? Kalau boleh, aku mau ngomong sesuatu yang penting walau mungkin akan bertentangan dengan kemauanmu. Tapi kalau ga boleh ngomong, aku ga akan ngomong ! Cuma nyiumin pipi kamu aja sampai besok pagi." ujar Clarissa Mae sambil duduk di tepi kasur tepat di sebelah kiri Steve Rodmeyer.


"Apaan sih, Mbak Rissa ! Malu-maluin aja." Steve Rodmeyer sedikit tersenyum, ada rasa malu saat menerima ejekan itu. "Mama memang parah ! Masa nyuri-nyuri cium saat aku sedang tidur. Kan risih banget itu."


"Menjadi seorang ibu itu ga gampang, Steve ! Mereka sering lupa untuk membedakan garis waktu. Mereka ga pernah menyadari kalau bayi merah yang mereka lahirkan itu akan tumbuh dewasa bersama bergesernya waktu. Di mata mama Karen, kamu tetaplah bayi merahnya, bayi yang harus selalu dijaganya." entah darimana nada lembut itu berasal, tapi suara Clarissa Mae terdengar lembut seperti suara ibu maha baik dalam dunia dongeng. Membius Steve Rodmeyer.


"Coba tunangan saja dulu. Mengulur waktu agar aku bisa meluluhkan hati mama. Gimana ?" sebuah tawaran yang masuk di akal Steve Rodmeyer. Membuatnya mengangguk sejenak.


"Tapi jangan lama-lama ! Sebagai lelaki, aku malu terus nyaman berada di 'zona pacaran'. Numpukin dosa mulu ! Mending menikah. Halal dan bermartabat." tegas dan bulat, suara Steve Rodmeyer memang terdengar sangat serius. "Seminggu lagi aku sudah harus tunangan ! Dan paling lama sebulan setelah tunangan, aku sudah harus menikah."


"Kita ngomongin masalah tunangan dulu ! Masalah nikah ma harus diomongin sama keluarga cewe kamu juga .. gimana sih kamu, Steve ! Emang mau nikah sama anak kudanil ? Tinggal comot di kebun binatang." ledek Clarissa Mae. Dia berhasil membujuk kekerasan hati Steve Rodmeyer, membuat anak muda itu menyembunyikan senyum malu-malunya.


"Yasudah, aku mau ngobrol sama mama dulu. Berdoalah ! Semoga berhasil." pungkas Clarissa Mae. Laku berdiri dan mengacaukan klimisnya rambut Steve Rodmeyer.


Tepat di batas pintu, "oh ya, Steve ! Memangnya kamu sudah punya pacar ?"


"Sudah punya lah, Mbak !"


"Oh kirain halu ! Banyak kok pembaca novel ini yang halu ... pingin segera nikah tapi masih jomblo."

__ADS_1


__ADS_2