The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 39


__ADS_3

Entah apa yang sudah mereka sepakati, tiba-tiba saja mereka saling bertukar HP. Clarissa Mae dengan tatapan penuh selidik sedang mengamati foto di dalam HP Poetri Maharani. Sedangkan poetri Maharani mulai kesal, karena HP bosnya itu hanya menyimpan satu file foto.


"Kalau isinya cuma begini, di toko juga banyak, Bu !" sebuah sarkas keluar begitu saja dari bibir Poetri Maharani. HP bosnya hampir seperti baru, dalam icon galery-nya hanya ada sebiji foto, Clarissa Mae dan adiknya sedang berpelukan.


"Memang belinya di toko, Ran ! Hehehehe."


"Terus saya disuruh lihat apa ?"


"Ya lihat HP lah !"


"HP kosongan gini !?" nada Poetri Maharani naik sedikit, setengah oktaf mungkin. "Curang !"


"Hahahaha ... kan bilangnya tadi tukar lihat HP ! ya ... lihat saja HP saya itu." ledek Clarissa Mae. Matanya tetap fokus pada foto keluarga Poetri Maharani.


"Wajah kalian mirip ko. Pasti kalian berjodoh." komentar Clarissa Mae saat melihat adanya kemiripan antara wajah sekretarisnya itu dengan sang suami.


"No comment !"


"Foto ini siapa yang jepret ? Sudut pengambilannya bagus."


"Hantu kali, Bu !"


"Hantu korea ya, Ran ?"


Poetri Maharani tak menjawab ledekan bosnya, karena HP di dalam genggamannya mulai bergetar. Ada paggilan masuk.


"Dari siapa, Ran !" suara Clarissa Mae terdengar hawatir.


"Vinnie pakai hati merah dan harum wkwkwkwk ... angkat ah !"


"JANGAN RAN !" Teriak Clarissa Mae.


Reaksi itu sudah ditebaknya, membuat Poetri Maharani di atas angin. Dia membalas ledekan bosnya dengan caranya. Me-reject panggilan itu lalu berpura-pura telah menerima.


"Selamat pagi, Pak Vinnie ...."


Wajah Clarissa Mae mendadak memerah. Ada guratan amarah dari sorot matanya. Sesuatu yang sangat jarang dipertontonkan pada siapapun.


"Maaf, Bu ! Bercanda, panggilan tadi sudah ku-reject." sesal Poetri Maharani. Wajahnya ketakutan, dia merasa bersalah karena candaannya sudah kelewatan.


Meski realita yang diterimanya hanya sebuah prank, tapi adrenalinnya masih membekas di wajah merah padam itu. Sehebat apapun Clarissa Mae berusaha menyimpan gurat hawatir dari wajahnya, tapi gemetar di jemarinya tak sanggup dihentikan.


Poetri Maharani pun mendekat, menempelkan lengannya ke bahu Clarissa Mae. Menyesal sekaligus prihatin atas kekacauan di dalam hati bosnya.


"Maaf, Bu." ucap Poetri Maharani saat meletakkan HP milik Clarissa Mae di atas meja. Tapi HP itu kembali bergetar, ada panggilan masuk. Bukan dari Arvine Dowson, tapi nomer tak terdaftar. Dengan tenang Clarissa Mae mengangkatnya.

__ADS_1


"Iya, saya sendiri." wajahnya datar.


"APA !!? DIA DIMANA SEKARANG ?" wajahnya mendadak kacau.


"Saya ke sana sekarang. TUNGGU SAYA !!" wajahnya kalut.


"Rani, tolong antar saya ke rumah sakit." bibir Clarissa Mae pun ikut bergetar. Lalu tangan es nya menarik lengan sekretarisnya. "Buruan, Ran !" kalap.


***


Gedung-gedung mundur terlalu pelan, mobil mobil lain juga seperti merambat merambat mundur. Kaca depan mobilnya berkabut, seperti ada cairan bening yang sedang menyelimuti kaca itu. Hampir diusapnya, tapi tak jadi. Dia tahu bahwa air itu tak akan hilang walau diusapnya beribu kali, malah mungkin akan makin meluap menjadi tangis.


"Sabar, Bu ! Sedikit lagi kita akan sampai di rumah sakit."


Suara Poetri Maharani itu membuat trotoar seperti makin enggan bergerak, dan bayangan pepohonan seperti mati berdiri. Semua terpaku semakin samar.


"Berhenti, Rani ! Menepilah."


Laju nobil pun terhenti, seiring berhentinya gedung-gedung. Menepi perlahan dengan tanda tanya besar dalam hati pengemudinya.


"Kita berputar saja, kembali ke kantor."


"Tapi, Bu--"


"Bu Clarissa akan sangat menyesal bila sampai tetjadi apa-apa."


"Tapi aku takut kemarahanku akan menambah deritanya."


Kalimat itu diucapkan dengan pandangan nyaris hampa. Dan keringat itu, membasah dari bongkah hingga ke ujung rambutnya. Kemudian ditutup dengan ayunan kepalanya, ke bawah, mencari ujung ibu jari kakinya.


Lama mereka terdiam. Isi kepala Poetri Maharani sibuk mencari jalan tengah, sementara Clarissa Mae sibuk menahan airmatanya. Ironis memang, di saat Arvine Dowson sedang merintih memanggil namanya, Clarissa Mae kesulitan menata hatinya.


Tiba-tiba mobil bergerak, keempat rodanya menelisik aspal jalanan, di saat hidung Clarissa Mae mulai tersumbat.


"Ran !?" suara itu sengau.


"Kalau Bu Clarissa tak sanggup maka sebaiknya menunggu saja di mobil. Biar saya saja yang mencari tahu, apa yang akan terjadi di dalam sana." bulat tekad Poetri Maharani. Semua dilakukannya atas dasar persahabatan.


Hanya butuh waktu 5 Menit, mobil mereka akhirnya memasuki area parkir sebuah rumah sakit swasta kelas 'melati'.


"Bu Clarissa di sini saja dulu, saya akan melihat keadaan tuan Dowson. Apapun hasilnya, saya akan secepatnya melapor."


Mengangguk perlahan, tanda menyetujui, lalu kembali merunduk. Clarissa Mae mencoba untuk terus memahami hatinya yang tak jua mau memberi ampunan. Maaf yang kelak akan diberikan harus tulus dengan keihlasan, "Maaf, Vin ! Saat ini aku belum bisa memaafkanmu." bisik dalam hatinya.


Sejak pintu mobil itu dihentak, sejak itu pula matanya memicing. Lalu diantara lentik bulu mata itu, dia mulai menghitung.

__ADS_1


Setiap jarum detik jamnya berdecak, aliran darah dalam jantungnya meniggi. Mengalirkan resah ke dalam pembulu darahnya. Kala jarum menitnya bederit, resah itu menggiring bola gelisah menyusuri kewarasannya. Seperti menjerit, "Rani ... Kenapa lama ? Apa yang terjadi pada Vinnie-ku ?" tanpa suara. Hanya ada airmata.


Pusaran angin tiba-tiba menghampiri mobilnya, kecil tapi membawa serta butiran debu ke angkasa. Tidak sampai menderu, hanya kemerisik dedaunan yang menjadi bukti kehadirannya, tapi mampu mengangkat dagu Claissa Mae.


"Kenapa Vinnie memilih menyakitiku ? Padahal aku tulus menyayanginya." tanya Clarissa kepada pusaran angin.


Tapi angin itu tak menjawab, dia lebih memilih untuk memelintir daun akasia kering. Melambungkannya sejenak lalu mengajaknya menari.


"KENAPA VINNIE MEMILIH MENYAKITIKU ? PADAHAL CINTAKU TULUS UNTUKNYA, JAWABLAH !!" teriakan itu sangat lantang. Dan bernada mengutuk. Seolah menagih janji Tuhan bahwa kepasrahan dan kesabaran adalah pegangan yang akan menguatkannya.


Kemudian angin tercengang, sejenak berhenti menari hanya untuk menggaungkan echo ke telinga Clarissa Mae : "KENAPA KAU MEMILIH MEMBIARKANNYA SENDIRIAN ? PADAHAL SETIAP CINTA BUTUH PERJUANGAN."


"hanya berpasrah pada kehendak yang maha kuasa adalah perbuatan manusia lemah. Tidak ada dosa yang mengapung di atas gelombang takdir, pun tak ada pahala yang hanyut dalam derasnya arus takdir. Semua butuh niat baik, untuk saling memperbaiki diri."


"Kejahatan tercipta bukan untuk dibenci, tapi untuk dipahami sebagai cermin agar diri tak seburuk itu."


"Sakit hati takkan sembuh hanya dengan pembalasan, tapi laranya akan menepi bila diihlaskan."


Dogma-dogma kehidupan yang pernah ia dengar dari mamanya itu segera mengalir lagi ke dalam hati Clarissa Mae, menguatkan dirinya.


Pusaran anginpun mulai tersenyum, kemudian melanjutkan tariannya di puncak akasia. Sedkit meramaikan alam yang sepertinya sedang sendu.


"Bu !?" tegur Poetri Maharani yang tiba-tiba sudah duduk di sisinya.


"Bagaimana keadaannya ?"


Poetri Maharani terpana sesaat, seperti tak percaya pada apa yang didengarnya. Suara Clarissa mae terdengar bulat dan kembali percaya diri, bahkan ada kesan dingin.


"Masih pingsan, Bu ! Dan benar, tuan Dowson memanggil nama Bu Clarissa."


"Yasudah ! Kita kembali ke kantor. S e k a r a n g !"


"Ko ...?"


"Dia akan belajar. Kodrat lelaki bukanlah untuk dimanja. Derita akan menempanya menjadi lelaki yang sekufu dengan ku."


"Tapi, Bu ?"


"Apa lagi, Ran ?"


"Bu Clarissa ga takut bakal kehilangan dia ?"


"Selama di hatinya masih ada namaku, dia akan 'pulang' kepadaku."


Poetri Maharani menginjak pedal gas mobilnya dengan kesimpulan baru tentang bosnya, "pantesan belum laku ! Dinginnya ngalahin freezer kulkasku." tapi cuma berani di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2