The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 43


__ADS_3

"Selamat siang, Mbak ! Nama saya Clarissa. Saya ke sini untuk melunasi tagihan atas nama tuan Arvine Dowson."


"Mohon ditunggu sebentar ya, Bu ! Saya akan cek rekapnya." jawab seorang perempuan muda penjaga meja teller. Sejenak dipandanginya wajah Clarissa Mae, seperti ingin memastikan bahwa perempuan yang sedang duduk di hadapannya itu tak punya niat jahat.


Jemput aku di rumah sakit √√


Rumah sakit mana ? Rani.


Tempat Vinnie dirawat √√


Ngapain ke sana lagi ? Rani.


Kepo Lo ! Buruan datang ! √√


"Sepertinya tagihan itu sudah dibayar lunas, Bu ! Pelunasannya dilakukan 3 hari yang lalu saat beliau meninggalkan rumah sakit ini."


"Oh ya !?" sengaja Clarissa Mae mengangkat kaca mata hitamnya, menyibak poninya. Membuka diri untuk dinilai.


Kutunggu 15 menit lagi ! √√


Kemudian dia tersenyum. Meredakan kecurigaan perempuan penjaga meja teller itu.


30 menit, Bu ! Rani.


"Boleh saya minta print out struck pelunasannya ? Biasa, Mbak ! Tuntutan Administrasi kantor."


20 menit !! On time. √√


Chatt end.


"Mohon ditunggu sebentar. Saya print kan dulu ya, Bu."


Seperti biasa, mata sipit itu bekerja sempurna. Meyakinkan siapa saja yang melihatnya, seolah membuka tabir di hatinya yang tanpa noda. Walau sebenarnya kadang menipu.


"Ini, Bu !" secarik kertas tersodor di hadapannya. Sebuah data penting telah didapatkannya, data tentang alamat orang yang telah membuatnya super resah semenjak pagi. Alamat terakhir Vinnie-nya.


Setelah menyimpan struck itu ke dalam tas tangannya, "terimaksih, Mbak ! Saya mohon diri. Selamat siang." Clarissa Mae meninggalkan kursinya untuk diduduki oleh pengantre lain.


Lalu angin menjadi terpidana, debu menjadi tersangka, bahkan langit biru pun tiba-tiba didakwa. Seluruh alam menjadi pesakitan yang harus dihukum atas ulah Poetri Maharani yang bahkan belum terlambat dari waktu yang dijanjikan. Kaki kurus itu tak jarang menjejak lantai, seolah bumi pertiwipun harus ikut merasakan resahnya.

__ADS_1


Saat mobil warna keperakan hampir memasuki gerbang, Clarissa Mae pun berlari menghampiri. Mencegatnya agar kembali memutar.


"Lama banget, Sih !" suaranya sesak, jantungnya masih terlalu liar. Sehingga pintu mobilpun dibantingnya kelewatan.


Poetri Maharani mencoba untuk tetap tenang, berusaha memahami situasi secara perlahan. Membiarkan bosnya berlaku semaunya. Dalam benaknya, sang bos memang sedang halu, otaknya sedang sekacau acar martabak.


Racauan apapun yang keluar dari bibir Clarissa Mae tak membuatnya pusing, dibiarkan mengalir lurus dari telinga kiri kemudian keluar dari telinga kanan. Tak sedikitpun menyampah di otaknya. Yang penting, kakinya menginjak pedal gas agar mobilnya berjalan.


Entah telah habis berapa ribu kosa kata, akhirnya Clarissa Mae bungkam. Memberikan ruang kepada Poetri Maharani untuk bertanya. "Kita mau kemana, Bu ?" ada senyum di sudut bibirnya.


"Ini !" struck dari rumahsakit disodorkan.


"Struck apaan nih ?"


"Bukan strucknya ! Tapi baca alamatnya." suara Clarissa Mae mulai naik 2 oktaf. Memaksa Poetri Maharani bungkam, hanya matanya yang menari, membaca alamat yang tertera dalam struck itu.


"Owh ... Dada !" ucapnya setelah tahu bahwa alamat yang dituju adalah alamat Arvine Dowson.


"Ko dada, Sih ?"


Hampir saja Poetri Maharani buka mulut untuk menjelaskan, tapi setelah melirik wajah Clarissa Mae, dia mengurungkan niatnya. Wajah itu terlalu kaku untuk dibawa bercanda, bahkan lebih mirip orang hampir step.


Bibir Clarissa Mae kelu. Diam tak bergerak. Pandangannya menyapu jalanan tanpa berkedip, lurus ke depan. Kesurupan ? Tidak, Poetri Maharani tahu bahwa itu lah ekspresi bosnya saat sedang super galau. Sudah biasa baginya, hapal di luar kepala.


"Uuppss !" desis Poetri Maharani, kakinya bergerak cekatan, berpindah ke pedal rem lalu menginjaknya dua kali. Kemudian terpaksa mengunci dengan hand rem. Menderitkan rodanya, memaksanya berhenti mendadak. Sabuk pengaman bekerja maksimal, mempertahankan posisi duduk kedua pemakainya.


"Sialan !"


Empat mobil keluar dari dalam gang dengan kecepatan tinggi, seolah jalanan itu adalah milik nenek buyutnya sendiri. Setelah yakin semua aman, Poetri Maharani melajukan mobilnya secara perlahan, memasuki gang yang sama.


"Mbak, berhenti Mbak !" sergah seorang lelaki muda. Mencoba menghentikan mobil dengan cara bar-bar.


Sesaat sebelum digedor, Poetri Maharani menghentikan laju mobilnya. Kemudian membuka kaca jendela. "Ada apa, Cak ?"


"Masuk ae, Mbak ! Orang di dalam sana butuh bantuan."


Ratusan orang berkerumun, menghalangi pandangan. Menutupi wajah yang dipenuhi luka memar dari sorot mata Clarissa Mae. Meski telah mencoba untuk mencari cela, mata sipit itu tak jua dapat jalan.


"Ini alamatnya, Bu. Tuan Dowson tinggal di sini." berbisik tapi menghunjam di urat sadarnya.

__ADS_1


"VINNIE !!"


Clarissa Mae seperti mengaum, meneriakkan nama itu bahkan sebelum dia membuka pintu. Menyibak kerumunan dengan pandangan penuh tanya. Lalu berlari menghambur, membelah pinggang para lelaki yang menghalangi jalannya. Memiringkan punggung yang sebelumnya membentang.


"Rissa ...." mungkin itu yang ingin dia katakan, tapi semua terlalu temaram, dan bibirnya tak sanggup. Arvine Dowson pun kembali terlelap. Memar akibat hantaman benda tumpul telah memenuhi wajah dan tubuhnya. Dan lelehan darah itu, membuat kalut siapa saja.


Dua orang lelaki tampak berdiam diri. Menyambut Clarissa Mae dengan tatapan tak terbaca. Sedang tangan mereka meregam lengan Arvine Dowson. Seperti hendak mempersalahkan diri karena malu dan merasa gagal.


Semua telah terjadi. Firasatnya benar tapi datangnya terlambat. Perang telah dimulai beberapa menit sebelumnya. Tak mampu dicegahnya, dan pasti tak mungkin diakhirinya. Semua akan mengalir sesuai qaidahnya, tangis untuk tangis, duka untuk duka, darah untuk darah, dan nyawa untuk nyawa.


Clarissa Mae hanya bisa mengusap rambut lelakinya, terbaring di pangkuannya dengan nafas setengah-setengah. Terpejam tapi tersenyum. Mungkin sedang bermimpi tentang langit tenggara, langit milik berdua. Di dalam mobil sederhana milik sekretarisnya.


"Puncak kertaj*ya, Ran !"


Nama apartemen disebut menjadi tujuan perjalanan mereka. Menjadi tempat dimana Clarissa Mae ingin memulai pengabdiannya, menjaga dan merawat kekasihnya. Menjadi tumbal dari peperangan dengan caranya.


"Sudah reservasi, Bu ?"


Hampir saja bibirnya menjawab, tapi diurungkannya. Karena dia tak ingin sekretarisnya itu tahu terlalu banyak soal privasinya. Hanya dirinya dan Arvine Dowson yang boleh tahu keberadaan mereka, yang lain sebaiknya tak tahu. Semua dilakukannya untuk mengurangi kerusakan akibat kemarahan Edward Rodmeyer.


"Ran ! Anggap saja kamu tak pernah tahu keberadaan Vinnie. Antarkan kami sambil membutakan mata. Please !"


"Iya, Bu !"


Kali itu giliran Poetri Maharani yang kemudian terserang rasa ngeri. Bosnya sedang meminta komitmen untuk menjadi seorang sahabat. Meminta perlindungan kepadanya sebagai seorang sekutu, mempercayakan keselamatan lelakinya. Atas ancaman siapa ? Poetri Maharani mulai mengira-ngira.


Mobil mereka telah sampai, dua lelaki dempal menyambut tubuh pingsan Arvine Dowson kemudian menghilang entah kemana. Mereka adalah orang-orang sewaan, dari sebuah agen keamanan internal perusahaan Clarissa Mae. Mereka terbiasa bekerja dengan cara-cara siluman.


"Ingat, Ran ! Kamu tak pernah datang ke sini, faham ?"


Tatapannya sangat serius. Bahkan ada kesan mengancam. Menghapus kesan bahwa mata itu bermuara dari hati yang lemah. "Sekarang, pulanglah ! Terimakasih."


Poetri Maharani tak menjawab, dia menjalankan mobilnya untuk kembali ke kantor. Tak ingin terlibat pada urusan yang mungkin akan mengganggu tidurnya.


***


Pintu apartemen itu terbuka tipis, setipis tubuh kerempeng Clarissa Mae yang seperti menyelip antara kusen dan daun pintu. Kemudian rapat menutup kembali, terkunci.


Tidak ada apa-apa di dalamnya, hanya tubuh Arvine Dowson yang tergolek pingsan di atas tempat tidur. Apartemen itu lebih terlihat seperti aula, tanpa kehadiran perabot berukuran besar. Tapi pemiliknya sangat berbahagia, bahkan nyaris berlinang airmata.

__ADS_1


Ada masa ketika bibir itu menyakitinya, kala mengecup bibir perempuan lain di depan matanya. Ada masa ketika dada itu membakar jiwanya, kala erat mendekap tubuh perempuan lain di ujung hidungnya. Lebih dari itu semua, ada pintu maaf yang mulai sedikit terbuka, meski belum sempurna, tapi matanya telah rakus menjamah.


__ADS_2