The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 31


__ADS_3

Pov : Arvine Dowson.


Sepertinya Rissa mergokin aku, tapi biar saja. Suatu saat nanti dia akan paham kenapa aku harus mencium bibir Hani. Saat ini Rissa pasti sedang marah, jadi percuma saja aku jelaskan alasanku. Yang ada malah dikiranya aku sedang mencari-cari pembenaran atas kecuranganku.


Apa betul bahwa aku mencurangi Rissa ? Toh pada kenyataannya semua kulakukan atas dasar kemanusiaan. Tapi memang rada ribet sih menjelaskannya. Karena hanya aku dan Tuhan saja yang tahu niat dalam hatiku.


Kenapa juga aku membawa-bawa Tuhan ke dalam urusan nafsu dan kecemburuan, sepertinya urusan itu terlalu kecil di mataNya sehingga sah-sah saja bila Dia abai.


"Selamat siang, Pak !" sapa dua orang dengan seragam putih-putih padaku, mereka membawa kereta dorong.


"Siang juga." balasku.


Aku yakin mereka adalah perawat yang akan memindahkan Hani ke kamar perawatan reguler.


Dan benar saja, kedua orang itu memasukkan kereta dorongnya ke dalam kamar rawat intensif dimana Hani sedang dirawat. Aku pun menyusul mereka.


Dari cara mereka menangani Hani, aku yakin mereka adalah perawat terlatih, cepat dan trengginas, tanpa kesalahan.


Dalam tempo kurang dari 5 menit, kereta dorong itu sudah meluncur meninggalkan kamar. Aku dan tiga orang anak didik Hani mengikuti langkah cepat mereka. Fatimah sedikit keteteran, langkah kakinya terlalu gemulai untuk mengejar dua perawat di depan kami.


Semua berjalan baik, sampai akhirnya ada sesuatu yang ganjil. Di pertigaan koridor seharusnya mereka belok ke kanan untuk menuju bangsal reguler sesuai petunjuk arah mata panah, tapi kenapa mereka membelokkannya ke kiri ? Ke arah 'exit'.


"Maaf, Pak !" seru ku.


Mereka sedikit melambatkan laju kereta dorongnya. Setengah berlari aku mendekati mereka.


"Bukankah kita seharusnya ke sana ?" kutunjuk arah belakang, arah dimana bangsal perawatan reguler berada.


Dengan langkah yang sedikit pelan, salah seorang dari perawat itu menjawab : "Kita diperintahkan untuk merujuk pasien ini ke rumah sakit di Singapura, Pak !"


Singapura !?


Jujur, aku bingung mendengar jawabannya. Kenapa harus ke Singapura ? Bukannya dokter tadi bilang kalau Hani akan dipindah ke ruang rawat reguler.


"Maaf, Pak ! Kenapa dirujuk ? Apakah rumah sakit ini ga mampu menangani pemulihan Hani ?" kejarku.


"Ini perintah pihak manemen, Pak ! Perintah langsung dari direktur rumah sakit ini."


Hani juga terkejut mendengar penjelasan itu, maka aku mengalihkan pertanyaan kepadanya :"Kamu kenal sama direktur rumah sakit ini, Han ?"


Dia menggelengkan kepala.


Kereta dorong kembali melaju menuju pintu dengan tulisan 'EXIT' berukuran besar.


"Kita mau kemana, Bang ?" tanya Cindi, dia terlihat bingung.


"Entah !" jawabku ngasal. "Pak ! Sebentar, Pak !" kualihkan ucapanku pada kedua perawat yang sepertinya enggan berhenti.


"Maaf ya, Tuan Dowson ! Kita sedang mengejar penerbangan." jawab salah satu dari perawat itu dengan muka agak ditekuk.


"Kenapa Hani harus dirujuk ? Ke Singapura lagi !" protesku tak kalah kesal.

__ADS_1


"Ini perintah atasan, Tuan !" kali itu matanya sedikit melotot, "kami hanya melaksanakan tugas."


"Atas otorisasi siapa ?" suaraku agak kukeraskan, agar mereka ngerti bahwa sebagai peanggungjawab atas biaya perawatan Hani, suaraku juga harus dipertimbangkan, bukannya melulu mengikuti keputusan direktur mereka saja.


Semua harus kuperhitungkan. Biaya rumah sakit di Singapura tentu lebih mahal dari di Surabaya, akomodasinya juga mungkin ga sanggup kututup dengan sisa uang di dompetku. Belum lagi bagaimana cara ku menjaga Hani selama di Singapura.


"Atas perintah saya !" tiba-tiba suara itu terdengar dari balik dinding kaca.


Seorang laki-laki menatapku sambil berkacak pinggang. Pakaiannya perlente lengkap dengan jas dan dasi panjang. Di kedua sisinya berdiri 6 orang bertampang kriminal.


"Maaf, Anda ini siapa ?" tanyaku kepada lelaki perlente itu sambil tanganku menahan laju kereta dorong, tepat di tengah pintu. Dan kedua perawat itu terpaksa berhenti.


"Kamu yang siapa ?"


Penekanan kalimatnya di kata 'kamu' itu sedikit mengganggu kecerdasanku, dia jelas telah meremehkan aku, sosoknya juga terkesan seperti orang pongah saat memandang aku dari ujung rambut sampai outsol sepatuku. Maka aku menyorotnya dengan tatapan menantang.


Kemudian jengkelku mulai kental saat ketiga anak didik Hani menyapanya : "Selamat siang, Pak Edward." suara ketiganya nyaris bersamaan. Dari cara mereka menunduk terkesan sepertinya orang pongah yang sedang berdiri di depanku ini orang yang disegani.


Wajah model begini ini biasanya orang kaya, tapi lagaknya ga layak dihormati.


"Ini Pak Edward Rodmeyer, Bang !" kata Farah isuke


Nah kan, bener ! Keluarga konglomerat. Eitsss !! Pakai cipika-cipiki pula.


Dan Hani pun tersenyum. Mulai ada rasa miris di hatiku, mirip perasaan pengen nginjak ginjal orang pongah itu.


Sabar ... ini ujian.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang ?"


"Sudah enakan kok, mana Sean ?" balas Hani. Dari keramahannya terlihat mereka sudah akrab satu sama lain.


"Sean ga tega ngelihat kamu terluka lalu dirawat intensif seperti kemaren." jawab si pongah. Aku mulai merasa dikacangin.


"Jadi ... Sean kemaren menjenguk aku ?"


"Ya begitulah ! Dia nangisin kamu bahkan sampai di rumah."


Asem ! Itu aku ... kacang rasa asem.


"Vin, memang berapa lama aku pingsan ?" Hani menanyakan itu padaku sambil menggerakkan tangannya, sepertinya dia ingin memegang tangan ku.


"Seminggu, Sha ! Kamu pingsan seminggu. Selama itu pula aku nungguin kamu."


Njiiiir ! Sudah culun, songong, bohong lagi ... Hmmm ku tebas juga leher mu ntar.


Dia bahkan berani menepiskan tangan Hani, " Aku akan membawamu ke Singapura, di sana ada rumah sakit yang lebih baik untukmu." lanjut si songong sambil memicingkan mata ke arahku.


"Di sini saja, Eddy ?" balas Hani. Tangannya berhasil meraih tanganku, lalu menggenggamnya lumayan erat.


"Setidaknya 2 atau 3 hari, kamu harus di sana ! Biar para dokter ahli sana bisa mendiagnosa kondisimu, Sha ! Aku ga percaya sama dokter sini."

__ADS_1


Kali itu si songong berhasil kembali melepas genggaman tangan kami.


"Dalam hal ini, bukankah pilihan pasien seharusnya yang diutamakan." usulku.


Si songong melotot, kesannya dia ingin menggertakku, tapi jatuhnya malah jadi lucu. Masa mata culun gitu mau membungkam nyali ku, yaaa ... Ga mempan lah !


"Tahu apa kamu soal medis ?" ucap si songong, lalu matanya berkedip mirip waria ke arah belakangku. Bisa kutebak apa maunya.


"Yasudah ! Kita ke Singapura." pasrah Hani saat pundakku dipegang oleh tangan kasar beberapa orang bertampang kriminal dari arah belakang.


"Han ! Kalau memang ga mau ya bilang aja ga mau !! Ga usah takut sama mereka."


"Hmm ... Vinnie ! Tetep aja kek dulu."


Ada kerling di sudut mata Hani, kerling itu selalu menjadi penyempurna lesung pipitnya saat dia sedang tersenyum. Sesuatu yang pernah sangat kurindukan, dia memang Hani ku.


"Tungguin aku di rumah ! Sekalian titip jagain anak-anak ini." senyum Hani tak berakhir, kerling di sudut mata nya juga tak berhenti, hanya arah manik matanya saja yang bergeser dari kepadaku kemudian menuju ke arah tiga muridnya. Hani tak berubah, malah sorot mata nya kini lebih syahdu.


"Bawa ke ambulance, sekarang !" sengak si songong.


Saat kedua perawat itu mulai mendorong keretanya, Hani menyempatkan diri untuk mengangkat kepalanya, "Tunggu di rumah ku--" teriaknya, yang dilanjut dengan bahasa bibir " I Love You !" tanpa suara. Itu yang menggemaskan, itu yang kurindu, itu yang kupuja.


I love you too, Han !


Bibirku tersenyum, hatiku berantakan.


Beriring kerlip kampu hazard dan sirine ambulance, hari itu aku kembali kehilangan Hani. Kapan dan dimana dia akan kembali ? Aku tahu jawabnya : "kapan saja yang dia mau di hatiku !" karena ternyata aku tak pernah bisa menolak hadirnya Hani, kapan saja ! Hari ini, esok atau lusa ... Lebih cepat lebih baik !


"KAMU JANGAN MACAM-MACAM !" tiba-tiba saja muka si songong berada di ujung hidungku, nengancam. Lalu ...


"Bruug !" bunyi pukulan mendarat di ulu hatiku, perutku sontak mules. Susah untuk bernafas. Lalu ...


"Praak !" bunyi jari ber-akik menumbuk rahangku. dunia berputar melawan arah jarum jam, warnanya temaram.


"Berani deketin Shasa lagi, gw mampusin Lo !" entah siapa yang bilang kek gitu, saat kerah leher baju ku memaksa tulang punggungku kembali tegak. Nada bicaranya terdengar seperti orang ....


Impoten !!


Entah kenapa hatiku berkata begitu, entahlah ... Perutku mules dan mataku mulai lebih jelas saat kurasakan sepertinya aku sedang tersungkur.


"Dasar impoten !" erangku sambil berusaha duduk.


"Bang Vinnie, gapapa ?" nadanya seperti suara Fatimah.


"Gapapa gimana ? Mules, tahu !!"


"Hellleh ... Cemen !" itu pasti suara Cindi. Tapi dia membantuku berdiri.


"Siapa sih mereka ?" tanyaku saat semua sudah pada pergi, hanya menyisakan aku dan 3 problem baru ku--tiga anak gadis yang ga aku kenal asal usulnya.


"Itu pak Edward Rodmeyer, pacarnya kak Shasa !" Farah Isuke seperti menusuk jantungku.

__ADS_1


"Owh !"


Hanya kata 'owh' yang bisa mewakili rasa panas yang tiba-tiba mengalir di seluruh sistem syarafku. Tak sanggup menyalahkan, juga tak mungkin membenarkan.


__ADS_2