The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 32


__ADS_3

Suzana Miller, tiba-tiba saja nama itu meramaikan kening ku. Sosoknya yang lembut sering ku samakan dengan sosok seorang bangsawan kerajaan Iggris, Diana Frances Spencer. Cantiknya, mata birunya, rambut pirangnya, bahkan kulitnya, semua terlihat hampir sama. Dan yang paling kusuka adalah cara beliau tersenyum, entah karena adat orang eropa seperti itu atau memang gayanya, bu Suzana selalu menutupi bibirnya dengan apa saja bila sedang tersenyum, favoritku adalah bila dia menutup senyumnya dengan juntaian rambut pirang itu.


Jauh di dalam hatiku berharap agar segala kebaikan dan berkah tuhan selalu mengalir untuk bu Suzana, kami hanya sempat bertemu sebanyak dua kali, tapi sudah cukup bagiku untuk sampai pada kesimpulan bahwa beliau adalah perempuan yang super baik.


Dalam perjalananku ke rumah Hani kali itu, sempat kuberharap untuk dapat kembali mencium tangannya.


Sudah setua apakah dirimu sekarang, Bu ?


Masih terasa hangat belaian tangannya di pundakku saat aku pamit hendak pulang setelah mengantar Hani ke rumahnya, "Jaga Shasa, ya ! Aku percaya kamu anak yang baik." pesannya kala itu.


Maaf, Bu ! Aku gagal menjaga Hani, aku bahkan mencelakainya dengan egoku.


Setelah perjalanan dengan taksi yang menyita waktu cukup lama, akhirnya aku dan ketiga murid Hani sampai di gerbang sebuah mansion megah. Pembatas tanah pekarangannnya lebih mirip benteng daripada pagar. Tapi sayang, semuanya tampak seperti kurang terurus. Bahkan pos satpamnya saja dibiarkan berlumuran debu.


Rumah sebesar itu tidak menggunakan jasa satpam, cukup aneh, rasanya seperti sedang mengundang kejahatan. Tapi saat gerbang nya dibuka, semua menjadi tak aneh lagi. Keberadaan puluhan kamera CCTV di hampir semua sudut pekarangan rumah menjelaskan segalanya.


Gaya bangunan mansion itu terkesan ketinggalan jaman, bahkan warna biru di beberapa bagian dinding luarnya tampak mulai memudar. Sepertinya pak Johny dan bu Suzana tidak pernah lagi ke sini. Hani memang benar-benar mereka tinggalkan sendiri.


"Ini rumah atau Fortress ?" celetukku santai saat kami memasuki mansion.


Ketiga gadis muda itu memandag ke arahku, Cindi tampak tersenyum aneh. Sepertinya sedang menyimpan sesuatu dalam hati mereka, suatu kejutan yang telah mereka persiapkan sebelumnya.


"Ini !" Cindi melempar sebentuk sapu dengan tangkai teramat panjang. Aku menerima sapu itu dengan sebelah tangan. "Bang Vinnie bersihkan seluruh dinding dan plavon rumah ini semuanya ! Dari lantai satu sampai tiga, jelas ?" lanjutnya dengan suara bulat.


"Kok aku ? Di sini aku kan tamu."


"Kalau tamu, tempatnya di beranda, Bang !" lanjut Farah, suaranya tak kalah bulat.


"Rumah ini tidak menerima tamu laki-laki ! Paham ?" Si culun Fatimah ikutan galak.


Rupanya ini alasan mengapa mereka cekikikan selama di taksi. Mereka memberi ucapan selamat datang kepadaku dengan kerja rodi ! Dasar bocah-bocah centil !


"Lantainya serahkan pada kami. Tapi besok aja, sekarang kami mau tidur. Cavek ! Tha tha Babang Vinnie !!"


Mereka pun berlalu ke arah kamarnya masing-masing, "Fat !" teriak Cindi.


Fatimah menoleh ke arah Cindi dengan muka masam, matanya hampir tak sanggup lagi terbuka. Belum lagi jalannya yang sudah seperti Billy saat sedang mabok.


"Tidur sama aku aja, di kamar ku !" lanjut Cindi. Dia melirik sejenak ke arahku, lalu melempar seulas senyum.


"Di sini aja, di kamar kak Shasa aja." balas Fatimah memelas. Membuat Cindi geram, lalu berjalan mendekati sahabatnya itu dengan langkah cepat. Kemudian berbisik, entah apa yang mereka bisikkan.


Setelah itu mereka berjalan menuju kamar yang diakui Cindi sebagai kamarnya, mereka masuk, kemudian mengunci kamar itu dari dalam.


Hmmm ... Kamarnya Hani.

__ADS_1


Aku berjalan mendekati kamar itu, membayangkan Hani sedang rebahan di kamar itu, lalu : "Ceklek." bunyi handle pintu.


Rupanya kamar itu tak terkunci, ada desiran aneh menggelitik alam sadarku. Ada niatan untuk masuk ke dalam kamar itu, sekedar memastikan apakah masih ada kenangan tentang diriku dalam kehidupannya.


Sebaiknya ga usah masuk. Ini privasinya Hani, sesuatu yang ga seharusnya ku jamah.


Kebimbangan membuat ku ragu, berdiri di depan pintu kamarnya saja sudah membuat dadaku bergetar. Masih adakah remahan rasa itu di kamarnya ? Pertanyaan itu kembali menyelimuti kepalaku. Membuat kakiku kembali terangkat.


Tidak ! Sebesar apapun kenangannya tentang aku, tetap saja tindakan memasuki kamar ini adalah kesalahan.


Kakiku kembali menapak lantai dengan sempurna. Aku harus sadar diri, Hani tak sedang jomblo, ada lelaki lain di hatinya. Mungkin saja hubungan mereka telah 'jauh'. Dan aku tak ingin membebani Hani dengan terlalu banyak pilihan, mengingat kondisi kesehatannya yang masih berantakan.


Aku pergi saja. Memantrainya di puncak Rinjani adalah kekeliruan terbesarku.


Ku balikkan badanku, lalu kutarik daun pintu agar kembali menutup.


Kenapa dia bilang "i love you" kepadaku ? Bukankah itu berarti Hani menginginkanku ? Atau aku yang salah membaca gerak bibirnya ?


Aku bebar-benar menjadi orang paling bloon sedunia. Memikirkan pikiran orang lain adalah kesia-siaan. Dan selalu saja begitu, kecerdasanku musnah bila menyangkut soal Hani. Sepertinya dia adalah kanker yang sedang menggerogoti nutrisi setiap sel di dalam kepalaku.


Tapi tunggu, keknya dulu aku ga gini deh ! Hani selalu menjadi alasanku untuk berjuang.


Berarti bukan Hani sumber kekacauan otakku, tapi rasa di dada ini lah masalahnya ! Waaaah ... Kacau kalau begini.


Vin ! Kamu ga boleh jatuh cinta ! Karena cinta adalah fatamorgana yang pasti akan hilang pada saatnya.


Kalau sampai ada yang merekam, terus diunggah ke yout*be, alamat berabe urusannya ! Masa artis bersihin rumah orang ! Ckckckckck.


"Drrrt ... drrrt ... drrrrrrt" Gadget di kantong ku bergetar, merindu untuk disentuh.


Bramantyo. Tumben nowel nomer ku !


"Hallo, Bram !"


"Kacau, Vin ! Semuanya hancur." suara Bramantyo sarat dengan emosi. Bahkan terdengar seperti kalut. Belum pernah aku mendengar dia bersuara seperti itu.


"Santai, Man !"


"Bagaimana mau santai kalau kita hancur begini !"


"Apanya yang hancur, Bram ?"


"Kita, Vin ! Kita hancur ! ... uhuk ... uhuks ... manajemen kita berantakan." suara Bramantyo di selingi suara tersedak, terdengar seperti sedang kalap. Sedikit menaikkan adrenalin ke ubun-ubun ku.


"Berantakan, gimana ?"

__ADS_1


"Mario, Vin ! Dia membawa kabur semua uang kita. Coba lo cek rekening manajemen kita ! Zerro, Bro ! Habis riwayat kita."


"Kok bisa ?"


"Ya bisa ! Nyatanya begitu. Kantor manajemen diobrak abrik, semua barang berharganya di bawa kabur. Dan yang paling parah adalah 'disk' penyimpan video lo yang siap upload periode ini ke depan juga dibawa kabur."


"Termasuk yang Rinjani ?"


"Iya, Vin ! Juga aksi nekat lo nyelametin cewe di Surabaya."


Degggg ....


Itu nilainya milyaran rupiah ! Dua video itu kubuat dengan taruhan nyawa, nilai artistiknya pasti sangat tinggi.


"Vin ... hallow, Vinne ... halo !"


Kenapa terus begini ? Semua yang menyangkut soal hubungan ku dengan Hani selalu saja membawa kesusahan. Apakah ....


"Halo Vin ... are you there ?"


... ini adalah sebentuk peringatan dari Tuhan, bahwa kami mesti saling menjauh. Apa akan selamanya begini ? Aku harus melepas satu-satunya sumber kebahagiaan ku itu agar kami tak saling melukai. Ujian macam apa ini ?


"Vinnie ? Jawab gw dong !"


"Iya, Bram !" aku tergagap.


"Terus nasib tim manajemen kiya bagaimana, Vin ?"


"Tunggu gw balik ke Jakarta."


"Kapan ?"


"Tunggu aja, Bram ! Yang pasti tidak dalam waktu dekat ini. Masih ada persoalan yang musti gw beresin di sini."


"Jangan terlalu lama, Vin ! Gw juga harus nafkahin anak bini gw."


"Iya, Bram ! Secepatnya."


"Yaudah kalau begitu. Ntar kalau sampai ketemu si Mario, gw mampusin dia."


"Kleg" sambungan terputus.


Aku bangkrut ! Uang hasil jerih payahku musnah bersama kaburnya Mario, bendahara manajemen ku. Hanya tersisa uang 'receh' di rekening pribadi ku. Sama sekali tak banyak, karena sebagian besar telah kutarik untuk membiayai pengobatan Hani.


Tak lagi ku lanjutkan aktifitas bersih-bersih ku, selain lemes karena sedikit shock, aku juga harus membuktikan kebenaran berita yang barusan ku dengar dari kepala operasional kantor manajemen keartisanku--Bramantyo Airlangga.

__ADS_1


Dan benar saja, aku bangkrut.


__ADS_2