
Sembari sesekali menunduk untuk menjawab salam orang-orang yang berpapasan dengannya, Clarissa Mae berjalan mengiringi langkah Edward Rodmeyer. Membelah lalu lalang para karyawan itu menuju pintu lift khusus untuk anggota dewan direksi.
Setelah hanya tinggal berdua, di dalam lift, Clarissa Mae melanjutkan perang urat sayarafnya dengan Edward Rodmeyer.
"Hanya karena liontin itu, hidungmu patah ! Sepertinya akan semakin parah bila tak segera kau kembalikan." ledeknya.
"Setidaknya sakit di hidungku sudah terbalas dengan remuk redamnya badan cowo mu itu. Masih untung aku berbaik hati, membiarkan nyawanya masih melekat di raganya." suaranya datar dan rendah, ekspresi Edward Rodmeyer menunjukkan bahwa dia adalah lelaki yang tak mudah diprofokasi.
"Massa !?" berlagak kecentilan, dia menyenggol kopor kecil di tangan lelaki itu sambil tertawa kecil, "sepertinya tadi Vinnie baik-baik saja, tak terluka sedikitpun. Atau mungkin dia memang tak bisa dikalahkan ? Dan kamu takut bila tiba-tiba dia mendatangimu ?"
Meski sedikit terganggu dengan ledekan Clarissa Mae, Edward Rodmeyer tetap terlihat tenang. Dia berdiri menghadap pintu lift, berharap agar angka di atas pintu itu segera menunjuk angka 4. Lantai dimana kantornya berada.
"Tiiing !" angkanya 4. Pintu lift auto terbuka.
"Ayolah, Eddy ! Berikan saja liontin itu kepadaku, aku akan mengembalikannya. Ga perlu ada yang terluka untuk hal yang sesepele itu."
"Ha ha ha ha ...." gelak Edward Rodmeyer setelah menyadari bahwa segala ejekan dan sarkas Clarissa Mae adalah untuk melemahkannya. Agar dia tak melukai Arvine Dowson.
"Bahkan dalam posisi ini pun, kamu masih berusaha melindungi bocah biadab itu ! Aku jadi ingin tahu seberapa berartinya dirimu bagi dia ... Ha ha ha ha ... Dengan begitu, permainan ini akan lebih menarik !" terus saja terbahak, menertawakan perasaan Clarissa Mae yang hanya bisa merunduk senyap, menyusuri koridor dengan rasa malu. Kalah telak dalam adu diplomasi.
Tepat di depan pintu, saat tangan Edward Rodmeyer memegang handle. Tiba-tiba Clarissa Mae merosot, menekuk lututnya di hadapan lelaki itu.
"Aku akan menjadi budakmu, menghambakan diri menyembahmu di sisa umurku, asal kamu berikan liontin itu padaku. Please, Eddy ! Aku mohon ... Berikan liontin tak berharga itu padaku." mengiba dan memohon belas kasih.
"Dan permainan ini akan berakhir tanpa tragedi. Begitu maumu ? Ha ha ha ha ha ... Tuhan menciptakan bumi ini untuk menikmati tragedi ! Begitu juga aku, Rissa ! Aku ingin menikmati sebuah tragedi dari mata-Nya. Menertawakannya, bahkan memperoloknya sebagai alasan untuk tertawa. Dan lagi, saat ini pun kamu sudah menjadi budakku ! Ha ha ha ha ha."
Mengabaikan lutut Clarissa Mae tetap di lantai, tangan sombongnya menarik handle lalu mendorong pintu dengan tubuh besarnya. Rasa Edward Rodmeyer melangit, seperti telah duduk di atas singgasana para dewa. Di bawah hak sepatunya, tertulis kisah dua hati yang akan dibuatnya berdarah.
Tapi kok pedih ? Pipi Edward Rodmeyer memerah, ada bekas cap empat jari di pipi itu setelah sebuah tamparan tiba-tiba menerpanya. "PLAAAK !" lalu ....
"Apa yang sudah kamu lakukan !?" Helena Krysnowack berdiri di balik pintu. Tangan wanita itu tampak bergetar, jemarinya menggigil kesakitan karena baru saja menampar. Menghadap Edward Rodmeyer dengan muka merah padam. Kemudian menyibak badan mantan suaminya itu agar menyisi, hanya untuk membantu Clarissa Mae berdiri.
__ADS_1
"Selamat pagi, Madam !" Clarissa Mae merunduk lalu menggapai tangan Helena Krysnowack, untuk dikecup buku jarinya, tanpa sedetikpun mengangkat wajah.
Tubuh kurusnya baru terangkat oleh pelukan Helena Krysnowak, itupun sambil terpejam. Gemeretak suara tamparan itu sangat menakutinya. Sekecil apapun kekerasan fisik tetaplah sebuah adegan horor bagi inderanya.
"Kamu bahkan telah membuat perempuan lemah ini ketakutan." ujarnya sesaat setelah menyimpan tubuh Clarissa Mae di punggung tinggi besarnya.
"Apa yang terjadi padamu, Eddy ? Belakangan ini sikapmu sudah seperti papamu ! Apakah 'cacat'mu itu menjadi sebab semua perilaku kejam mu ?" mendengus kasar lalu membawa Clarissa Mae keluar. Menyisir koridor, menuju lift.
"Ayolah, Helen ! Kamu bahkan belum mendengar penjelasanku. Jangan kau bawa dia ! AKU BELUM SELESAI DENGANNYA !!"
Helena Krysnowak melanjutkan langkahnya, membimbing tubuh Clarissa Mae untuk tetap berjalan tegak dalam papahannya. Edward Rodmeyer hanya mampu mengusap kasar kepalanya sendiri.
Kenapa Eddy mengalah pada madam Helena ? Bahkan terkesan tak berdaya. Dan kenapa juga madam Helena seperti berusaha melindungiku ?
Semua pertanyaan itu menggelayut dalam benak Clarissa Mae. Ada banyak puzle yang belum tertata secara benar, terutama menyangkut perempuan yang sedang memeluk pundaknya itu.
Di dalam lift, "Mohon maaf, Madam ! Bila saya dianggap lancang, tapi saya ingin bertanya sesuatu." Clarissa Mae berusaha memberanikan diri. Tapi Helena Krysnowak tak menjawab. Ia lebih sibuk dengan debar jantungnya sendiri.
***
Tapi pagi itu sedikit berbeda, langit Arvine Dowson terasa seperti lebih kelam dari pagi-pagi biasanya. Kepergian Clarissa Mae menjadi penyebabnya.
Bukankah lebih baik baginya ? Kepergian Clarissa Mae ke Jakarta meninggalkan harta berupa perusahaan yang bisa dikelolanya untuk menjalani hidup yang lebih baik. Mengangkat statusnya dari hanya seorang vlogger 'tanggung' menjadi seorang Direktur Utama merangkap Presiden Komisaris sebuah perusahaan berskala nasional.
Tapi Arvine Dowson memiliki sudut pandang berbeda. Dia melihat semua pemberian Clarissa Mae itu sebagai sebuah amanah, titipan yang harus dijaga sebaik mungkin, untuk suatu saat dikembalikan lagi kepada pemiliknya. IDEALIS ! Memang, dan itu terjadi atas unsur keterpaksaan. Kemiskinan yang dikelola oleh kecerdasan akan mengerucut pada idealisme.
Ehmm ... ngaco lagi gw ! Muup, efek biasa nulis essay.
Segala bentuk kejutan yang menderanya selama dua hari terakhirnya membenamkan nalarnya ke titik nadir. Arvine Dowson tak memiliki pilihan lain kecuali harus bertarung demi sesuatu yang masih ia rasakan sebagai hak-nya. Dan itu dipicu oleh melintasnya sebuah sedan putih di hadapannya. Model convertable roof.
Bukankah itu Helena ? Mantan bini si songong.
__ADS_1
Kala rambut jagung pengendara mobil itu terlihat menguar diterpa angin jalanan. Lalu berbelok ke memasuki basemen sebuah gedung berlantai 7.
Sepagi ini ? Dia pasti akan melakukan kejahatan pada mantan suaminya. Harus aku ikuti, siapa tahu ada cela. Hmmm ....
Setelah berhasil menyerupakan diri dengan para cleaning service, lengkap dengan sapu dan alat pel di tangannya.
"Maaf, Bu ! Boleh saya numpang lift, saya kesiangan. Ruang Komisaris Utama belum saya bersihkan." ucap Arvine Dowson sesaat sebelum pintu lift ditutup oleh Helena Krysnowack dari dalam.
Perempuan bule itu lalu menahan pintu lift yang telah menutup seperempatnya, kemudian mempersilahkan Arvine Dowson untuk masuk.
"Terimakasih, Bu !"
Helena Krysnowack hanya mengangguk lalu bergeser agak menjauh seraya menutup hidung maha besarnya dengan tisu jenis penghilang bau kere.
Setelah pintu lift terbuka di lantai 4, Mereka kompak melangkah. Helena Krysnowack di depan, Arvine Dowson yang kikuk dengan peralatan pel mengikutinya di belakang. Tujuannya sama ! Ruang Komisaris Utama, ruang dimana biasanya Edward Rodmeyer bekerja.
"Silahkan dibersihkan ! Tanpa suara. Ngerti kamu ?"
Arvine Dowson patuh, mulai bekerja tanpa bersuara. Meninggalkan Helena Krysnowack duduk di sofa panjang.
Sempat terbersit pertanyaan dalam benak Arvine Dowson, "kenapa perempuan ini hanya duduk gelisah di sofa ? Bukannya girang menjamah barang-barang mewah ini. Mengingat kedatangannya ke sini tentulah berniat buruk." Tapi semua harus dipendamnya dalam hati. Demi menjaga penyamarannya.
Saat terdengar suara tawa dai luar ruangan yang disertai suara Hadle pintu ditekan, Helena Krysnowack bergegas menuju pintu, berdiri tegak di depan pintu seperti siap untuk menyerang siapa saja yang akan keluar dari dalamnya. Saat itulah Arvine Dowson beringsut, menyembunyikan dirinya ke balik gorden, serapat mungkin.
Auuwch ... berani betul perempuan ini ? Dia tabok si songong. awokawokawok ... m*mpus Lo !
Tiba-tiba jantungnya seperti berhenti berdetak, suara itu, suara yang kerap mengekang hatinya dengan rasa bersalah, terdengar di telinganya.
Rissa ? Ah ... Tak mungkin ! Dia sedang di Jakarta.
Gorden disibaknya sedikit, hanya sebatas matanya, untuk mengintip. Tapi nihil ! Tak ada siapapun di pintu itu kecuali Edward Rodmeyer yang bertingkah konyol menahan geram.
__ADS_1
Aaarrgh ! Baru 5 hari aku kehilangan Rissa, dan aku mulai halu.
Kemudian senyap, hanya menyisakan suara nafas kasar Edward Rodmeyer. Sebilah pisau lipat tercabut dari dalam saku celana Arvine Dowson. Kecil tapi berkilau tajam, siap memotong urat leher lelaki yang sudah menodai wilayah kekuasaannya. Sebuah serangan mendadak mungkin akan membawa kematian.