
POV : Clarissa Mae.
Setelah berdialog panjang lebar nan melelahkan dengan Eddy, akhirnya aku berhasil meyakinkannya bahwa tempatku bukanlah di kelas president suit hotel bintang lima miliknya, tapi di sini. Di salah satu bilik di gedung tempat ku berkantor.
Ironis memang jika membandingkan hidupku saat di Jakarta dengan di sini. di Jakarta semua fasilitas kehidupanku bisa dibilang sempurna. Dari kolam renang, room spa, penghangat dan pendingin ruangan, hingga perlengkapan sauna, semuanya berada di dalam rumahku. Tentu semua itu adalah buah dari kerja kerasku.
Tapi di sini, di Surabaya, semua berasa kembali dari nol, seperti saat aku dan Raquella kecil baru mulai melanjutkan bisnis warisan papa. Saat itu rumah kami adalah batu bersekat-sekat, seperti bilik ini, ukurannya pun hanya cukup untuk ditempati 3 orang saja. Tanpa pendingin atau penghangat ruangan, untungnya sebelah rumah kami adalah pantai, sejuknya angin laut sering kami jadikan pengganti AC, dan hangatnya angin darat sebagai penghangat rumah. tapi bilik ini pengap karena jauh dari pantai.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di dalam bilik ini, aku sempat bernostalgia, merasakan kembali betapa nyaman hidupku saat kami masih utuh. Ada papa yang bermain gitar, ada suara mama yang terdengar merdu dengan omelannya, ada Raquella yang sering aku buat menangis. Hmmm ... semua terasa indah walau kami tak punya apa-apa.
Tapi semua itu adalah masa lalu, masa yang indahnya telah habis dicecap sejarah, meninggalkan sisa berupa gerah dan jengah. Menjejali hari-hariku dengan rasa bersalah. Utamanya hari ini.
Jujur, aku mengaku salah. Telah mempercayai hatiku yang termakan bara cemburu saat mataku melihat Raquella tinggal di rumah Vinnie, aku mengira mereka tinggal serumah ! Padahal Vinnie belum nyampe di Jakarta, dia masih 'nyangkut' di sini, mengurus sesuatu yang semestinya menjadi urusan Tuhan. Tapi biasalah itu ... si tukang gombal memang selalu usil pada 'gombal' yang harusnya jadi sejarah. Tapi itu lah yang membuatku leleh dalam pelukannya, hati Vinnie itu bersih, ihlas dan total saat membantu orang lain.
Vinnie ... Bibir ini sudah menanti untuk kau kecup, tangan ini sudah berharap untuk kau genggam, tubuh ini telah siap untuk kau dekap, dan yang 'ini' nih-- yang sedang kuhimpit guling ini-- segeralah kau koyak ... ihik ... agar rahimku bisa kau buahi, agar ada bayinya ... Oh Vinnie, aku mau bayimu ! Untuk kuasuh dan kugendong, kita besarkan sampai dewasa, agar hatinya tumbuh melebihi putihnya hati mu.
Wew !! Kok otakku jadi bucin gini ya ? Sedang permintaan maaf aja belum kusampaikan.
Telpon Vinnie, ah ! Tapi ntar ngomongnya bagaimana ? "Haai Vinnie ! Maafin aku yaaa, panggilanmu kemaren ga sengaja ke-reject." masa gitu dia percaya ? Ga mungkin ! Atau gini aja : "vin ... Kangen ! Pelukan yuuu." ah ! Ganjen banget. Sudah ah ! Pusing kepalaku. Terserah besok aja, saat ku samperin dia di rumah sakit, mau marah atau mau meluk semua terserah Vinnie, memang semua salahku.
Tapi besok ada rapat sampai sore, terus kapan dong aku bisa ketemu Vinnie ?
"Knock ... knock ... knock ...!"
Siapa lagi nih ? Jam 23 lewat kok masih ngetuk pintu.
"Siapa ?"
"Saya Hendro, Bu !"
Hendro !? Sepertinya itu nama satpam kantor deh.
"Sebentar, Pak !"
Setelah merapikan pakaian, aku membuka pintu.
Tak salah dugaanku, seorang lelaki dengan seragam satpam lengkap telah berdiri di sebalik pintu.
"Maaf telah mengganggu waktu istirahat Bu Clarissa. Saya hanya ingin mengantar titipan ini." jawab pak Hendro seraya menyerahkan sebuah kotak berbungkus plastik putih.
"Ini apa ya, Pak ?"
"Orang tadi bilang katanya bekal makan malam buat Bu Clarissa."
"Mana orangnya ?"
__ADS_1
"Sudah pergi, Bu ! Naik motor sport."
"Apa Pak Hendro tadi sudah bilang terimakasih ?"
"Siap, Bu ! Belum."
Kebiasaan buruk ! Sekecil apapun pemberian dari seseorang adalah bukti itikad baiknya, maka setidaknya kita harus berterimakasih.
"Lain kali jangan diulangi ya, Pak ! Berterimakasih adalah kewajiban bagi yang menerima pemberian."
"Siap, Bu ! Laksanakan."
"Yasudah ! Pak Hendro kembali ke pos jaga, terimakasih karena sudah repot-repot ngantarin makan malam untuk saya."
"Siap. Sama-sama, Bu Clarissa ! Selamat malam."
"Malam juga, Pak Hendro."
Pintu ku tutup kembali dengan tanda tanya besar di dalam kepalaku. Siapa orang yang mengirim kotak ini ? Jawabnya bisa siapa saja, secara aku kan pemilik perusahaan, jadi mungkin salah satu dari staf atau karyawan yang ingin mengambil hati untuk kepentingan promosi jabatan. Ah terserah deh ! Yang penting buka dulu isinya, lihat apa masih bisa dimakan.
Lho, kok ?
Ternyata isi kotak itu adalah burger combo ++, lengkap dengan ekstra telur mata sapi, dan selada utuh di kemas tersendiri.
"Ya Tuhan, Vinnie !" segera nama itu yang muncul di otakku, hanya dia yang tahu burger kesukaanku hingga sedetil itu.
Rasa jengah menumpuk di kepalaku. Kenapa rindu ku hanya terjamu perhatian, aku mau rinduku dijamu rindunya Vinnie ! Aku mau pelukku di dekap dadanya Vinnie ! Aku mau nafasku menyelip di tengah nafasnya Vinnie !
"AKU MAU VINNIE !!"
Kenapa bulir airmataku menetes lagi ? Menangisi rindu seolah aku tak pernah ihlas melepasnya. Sampai kapan aku harus terus begini ? Menderita sakit karena rindu, menunggu hati untuk dijamah bukan hanya untuk dimengerti.
Vinnie ... hiks ... hiks ... Aku ga butuh burger ini !
"Praaak !!" suara kotak menumbuk dinding. Menyerakkan burger di bawahnya.
Aku ga mau hanya gambar mu !
"Proook !!" suara HP menabrak daun pintu. Memusnahkan video Vinnie.
Aku benci airmata !
"Bruuuk ... bruuk ... bruk !!" suara bantal menampar mukaku sendiri, berkali-kali ! Tapi mata ini tak juga kering.
Vinnie ... Aku tak mau hidup tanpamuuuuuuu ... huuu ... uuu ... uu ... u ....
__ADS_1
"Dheeeg" suara keningku mematikan lampu, memadamkan semua sinar di mataku ... semua gelap ... semua sunyi ... mati rasa, Pingsan !!
***
"Apa Bu Clarissa baik-baik saja ?" tanya Rani, lengkapnya Poetri Maharani, sekretaris pribadiku. Umurnya sebaya denganku tapi anaknya sudah 3. Aku iri setiap melihat dadanya yang telah rusak karena aus, diempeng oleh 3 jagoannya ! Sementara punyaku masih bagus, karena selalu dibungkus, ga ada guna !
... i**hiks ....
"Ya, saya baik-baik saja !"
"Tapi, Bu !"
Mata Rani melihat benjolan besar di keningku. Sudah kucoba untuk menyembunyikannya di balik poni rambutku, tapi sepertinya sia-sia, semua yang melihat wajahku pasti manik matanya segera tertuju pada keningku.
"Apa sudah lengkap personelnya ?"
"Sudah, Bu. Rapat bisa segera dimulai."
Rapat tingkat divisi segera aku mulai, 10 orang duduk menghadapku. Semua pertanyaan ku mereka jawab dengan jujur dan terbuka. Menghasilkan sebuah kesimpulan akhir permasalahan yang paling mendesak untuk ditangani. Yaitu distribusi ! Kami kesulitan untuk mengirimkan mobil dalam jumlah besar ke wilayah timur indonesia. Keamanan cargonya tidak dicover asuransi, karena kapal pengangkutnya tak ada yang bersertifikasi, kecuali kapal-kapal milik Rodmeyer Shipping Corp yang biasa mereka singkat dengan RSC.
"Siapkan proposal kerjasama dengan pihak RSC." ujarku singkat.
"Maaf, Bu ! Sudah beberapa kali kami ajukan proposal seperti yang Bu Clarissa minta kepada mereka, tapi RSC tidak pernah memberi respon." jawab Rani.
"Sudah pernah dilobi ?"
"Sudah, Bu !"
"Mentoknya dimana ?"
"Bagian Adm dan keuangan mereka, Bu ! Sulit ditembus, sepertinya ada permainan bawah meja antara Kabag Adm & Keuangan mereka dengan kompetitor kita." jelas Mario. Lelaki kurus yang mengepalai bagian keuangan divisi Surabaya.
"Well ... Siapkan saja proposal sesuai yang saya minta, lalu serahkan ke saya. Biar saya yang membawanya untuk melobi langsung ke perusahaan iduknya." pungkasku.
Jujur aku ingin rapat ini segera selesai, karena aku ingin segera ke rumah sakit. Melepas kangen.
"Apakah itu mungkin, Bu ? Konglomerasi itu tidak mengurusi langsung semua anak perusahaannya. Mereka memakai sistem 'mandiri penuh'."
"Rani ! Siapkan saja yang saya minta, kita lihat. Apakah saya masih bisa membuat keajaiban ?"
"Iya, Bu !" jawab Rani, kembali matanya menatap keningku, memaksaku untuk mencubit pinggangnya dari balik meja.
"Auww !" jerit Rani.
Semua mata menuju padanya, aku pura-pura ga tahu. Membuat dia malu tapi senang. Malu karena latahnya ketahuan, tapi senang karena aku membuka garis pembatas dengan caraku mengajaknya bercanda.
__ADS_1
"Antarin aku ke rumah sakit ! Sekarang." bisikku.