The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 22


__ADS_3

Clarissa Mae mengerenyitkan dahi, "are you trying to impress me, Eddy ?" itu kalimat yang keluar dari mulutnya saat berbicara dengan Edward Rodmeyer di depan pintu kamar kelas presiden suit.


"Mungkin." jawab Edward Rodmeyer.


"Ini pasti hotel milikmu, sehingga kamu bisa melakukan segalanya di sini. Salah satunya adalah memindahkan reservasi ku dari reguler room menjadi presiden suit ini. Ya, kan ?"


"Mungkin juga !" kembali Edward Rodmeyer seperti mengajak Clarissa Mae berteka-teki.


"Apalagi yang biasa kamu lakukan untuk mempesona hati para gadis pemujamu ?"


"Dinner meybe ? Tonight ?"


Clarissa Mae tertawa mendengar tawaran itu. Orang yang baru saja dikenalnya sedang mengajaknya untuk makan malam bersama. Padahal selama 4 tahun kebersamaannya dengan Arvine Dowson, tak sekalipun dia pernah diajak makan malam bersama.


"Bagaimana ?" Edward Rodmeyer mengangkat bahu sambil tersenyum, menanti sebuah persetujuan dari perempuan yang sedang terkekeh di hadapannya.


"Kamu lucu, Eddy."


Sambil membuka pintu kamarnya, Clarissa Mae masih terus tertawa. Menertawakan ironi dalam kehidupannya.


"Ayolah ... Katakan 'iya' agar nyenyak tidurku nanti malam."


"Okey ... Deal !" jawab Clarissa Mae saat pintu kamar nya nyaris tertutup, "thanks, Eddy." pungkasnya.


***


Di depan pintu ruang tunggu IGD sebuah rumah sakit swasta, Arvine Dowson terlihat mondar-mandir, berjalan sendiri tak tentu arah. Duduk berdiam diri membuat nafasnya sesak, kehawatiran membekap jantungnya, kesedihan menyumbat paru-parunya.


Hem warna tosca dan Celana jins biru tua telah membungkus tubuhnya, tapi tak cukup untuk menghalau aroma busuk air parit yang masih membasahi rambutnya.


"Mandi dulu, Bro ! Keramas sekalian." ucap Nickolaus Welas yang tiba-tiba muncul di belakanganya. Sebungkus peralatan mandi segera tersodor di hadapannya.


Bungkusan itu memang diterimanya, tapi tidak berarti dia langsung beranjak pergi ke kamar mandi. Dia memilih untuk meneruskan langkah tak jelasnya, ke pilar sebelah kanan beranda lalu kembali ke sebelah kiri sambil sesekali bersedikap memandang langit.


Tanpa berkata apapun, Arvine Dowson terus berjalan mondar-mandir. Sementara Nickolaus Welas mulai beringsut ke bangku ruang tunggu, mengemas kembali kameranya lalu menyimpannya bersama tripod di dalam tas punggung nya, tapi matanya tak lepas dari sosok sahabatnya. Sepanjang hidupnya, Nicklaus Welas belum pernah melihat Arvine Dowson bertingkah aneh seperti saat itu, seperti sedang kehilangan kepercayaan diri, seperti orang yang tak bisa menerima garis takdir.


"Sudah 2 jam, Bang ! Lo Mondar-mandir kek orang kesurupan. Ga capek apa ?" Teriak Nickolaus Welas.


"Gw lagi mikir, Nick !" bentak Arvine Dowson.


"Apa yang Abang pikirin ? Doi sedang di tolong oleh orang yang ahli di bidangnya. Biarkan mereka bekerja sesuai batas kemampuannya !"


"Kamu tahu apa, Nick ? Ini masalah hati !"


"Serah Lo deh, Bang ! Tapi bau parit di badan Lo itu bikin aku mual."


"Pulang sana ke kost-an nya Billy !"


"Ha ha ha ... Itu masalahnya, Bang ! Aku tak tahu mesti jalan ke mana."


"Telphonlah Billy ! Suruh dia jemput kemari."

__ADS_1


"Betul juga saran mu, Bang ! He he he ... Kenapa ga kepikir dari tadi."


"Otakmu itu, Nick ! Perlu dioperasi."


"Dan bau badan Abang itu perlu diamputasi !"


"Garing Lo !" ketus Arvine Dowson. Dia melanjutkan langkah kakinya yang makin tak jelas itu.


Saat tiga orang gadis muda dengan pakaian anak kuliahan meliriknya, Arvine Dowson tak perduli. Dia melanjutkan ritualnya, berjalan mondar-mandir tanpa peduli walau banyak orang yang berpapasan dengannya terpaksa menutup hidung.


"Kepada Bapak Arvine Dowson, diharap segera ke ruang administrasi IGD." bunyi dari pengeras suara itu mengagetinya, membuatnya langsung bergerak lurus memasuki ruang administrasi tanpa melihat ke arah manapun. Bahkan saat tiga gadis kuliahan mulai menguntitnya, Arvine Dowson seperti mengabaikan mereka.


"Silahkan duduk, Pak ...?" ujar dokter yang menyambutnya di belakang meja.


"Arvine Dowson, Dok !"


"Well ... Tuan Dowson ! Sesungguhnya telah terjadi banyak keajaiban dalam proses penanganan teman Anda. Hal hal yang berada di luar prediksi kami terjadi begitu saja. Luka trauma yang menimpa sekujur tubuh dan kepala teman anda terlalu parah untuk dilakukan tindakan medis level 2. Sedangkan keadaanya tak memungkinkan untuk dilakukan tindakan level 1. Tapi ternyata daya juang pasien luar biasa, dia mampu mengatasi rasa sakitnya hingga sanggup bertahan sampai detik ini. Itu berarti teman Anda telah melewati masa kritisnya." mula Dokter itu.


"Hmmm ... Setelah mendengar penjelasan dari para dokter spesialis atas rekam X-ray ini." kata dokter itu sambil mengangkat selembar plastik buram di hadapan Arvine Dowson, "saya bisa memberikan dua macam berita kepada Tuan." dokter itu menghentikan penjelasannya. Tangannya membenahi letak kaca matanya. Membuat tiga gadis kuliahan yang berada di belakang kursi Arvine Dowson seperti geram, terutama yang berambut ikal.


"Kondisi teman Anda saat ini sudah stabil, TTV-nya sudah kembali ke angka normal. Itu kabar baiknya !"


"Terus kabar buruknya, Dok ?"


"Di bagian ini." dokter itu menunjuk satu ruas tulang belakang yang tergambar dalam rekam X-ray. "Ada kerusakan serius."


"Seberapa serius, Dok ?"


"Dalam rekm X-ray 2 dimensi ini ... tulang ini terlihat seperti retak. Tapi sebetulnya lebih dari itu, Tuan ! Ruas ini remuk !"


Tiga Gadis kuliahan itu terlihat mulai panik, tapi mereka masih berhasil untuk tetap tak bersuara.


"Artinya, Dok ?" suara Arvine Dowson terdengar mulai serak.


"Artinya ... Terjadi trauma pada saraf pusatnya, atau setidaknya ada tekanan berlebihan pada saraf pusatnya akibat terhimpit pecahan tulang ini, yang pada akhirnya bisa saja menimbulkan kelumpuhan parsial pada bagian bawah tubuh teman Anda."


”Maksudnya ... Hani akan-- ?" Arvine Dowson tak sanggup melanjutkan ucapannya, dia hanya menunduk. Di sepanjang hayatnya, itulah kali yang pertama terjadi. Lelaki tangguh yang tak lekang dihantam badai, tak surut dihadang nestapa, saat itu hanya bisa menunduk pasrah pada goresan nasib buruk.


"Lumpuh, Tuan !"


Itu berita terburuk yang pernah didengarnya, kekasih yang disayanginya harus lumpuh karena egonya. "Apakah Hani akan lumpuh seandainya aku tak memaksa untuk bertemu ? Kekuatan apa yang mampu mencipta peringatan sekejam ini ? Dedemit penunggu kawah gunung Rinjani ? Atau memang Tuhan sedang menuntut pembuktian kesucian cintaku?" dan masih banyak pertanyaan yang merasuki kepala Arvine Dowson. Membuat matanya perlahan mem-blur untuk menyimpan sumpah ke dalam jiwanya. Agar tak terlihat ganjil di hadapan dokter, dia segera menutupi matanya dengan sebuah kaca mata hitam.


"Baiklah, Dok ! Lakukan yang terbaik untuknya. Saya percayakan perawatannya kepada rumah sakit ini." jawab Arvine Dowson, tetap dengan suara tegar meski sedikit bergetar.


"Sudah ? Cuma begitu doang yang bisa Bang Vinnie lakukan !?" seru satu dari tiga gadis kuliahan di belakangnya, mengageti Arvine Dowson.


"Siapa kalian ?"


"Kami keluarga Bu Shasa !" ketus gadis berwajah mirip orang Jepang. "Saya Farah Isuke, ini Cindi Latuconsina." lanjutnya sambil menunjuk gadis ikal di sebelahnya.


"Dan saya Fatimah Mahmud." ujar gadis berhijab dengan suara lembut, pipinya basah oleh airmata.

__ADS_1


"Owh ...."


"Oh ! Cuman oh doang ?" Cindi Latuconsina mulai bernada tinggi.


"Jadi gw mesti gimana ?" balas Arvine Dowson.


"Maaf, Tuan Dowson ! Selesaikan masalah Anda dengan anak-anak ini di luar ruangan." usir dokter itu dengan suara halus. Memaksa Arvine Dowson untuk meninggalkan ruangan.


"Percuma bu Shasa nangisin Lo, Bang ! Sampai matanya bengkak tiap pagi."


"Dibelain sampai sekarang tetap melajang ! Eh ... Cuman gitu doang balasan lo, Bang !"


"Kasian bu Shasa ... Cowo nya ternyata cemen ! Ga ada tanggungjawabnya."


Dab bla ... bla ... bla ... Seabrek tuduhan mengalir ke telinga Arvine Dowson dari tiga gadis kuliahan yang mengekorinya berjalan menyusuri lorong hingga kembali duduk di bangku ruang tunggu.


Arvine Dowson terduduk sambil memejamkan mata, tangannya menjambak rambutnya sendiri, sambil sedapat mungkin mengatur nafas di dadanya.


"Bang ! Tolong jangan tinggalin bu Shasa." rengek Fatimah Mahmud sambil berlutut di depan Arvine Dowson. Sember suaranya mewakili tangisnya yang kian sarat dengan duka.


"Eh ! Apa-apaan kau ?" Keberatan Nickolaus Welas atas ulah Fatimah Mahmud.


"Iya, Bang Vinnie ! Tolong jangan tinggalin bu Shasa ... Dia ingin menemui mu, Bang !" lanjut Farah Isuke sambil menyusul Fatimah Mahmud, berlutut di depan Arvine Dowson.


Tak lama, Cindi Latuconsina pun turut berlutut, tanpa berkata apapun kecuali isak yang tertahan-tahan.


Seolah tak hirau pada harap mereka-mereka yang berlutut di hadapannya, perlahan bibir Arvine dowson menggumamkan sebuah syair :


"Rindu bukan terwujud semata karena rentang ruang dan waktu.


Kadang mungkin mengharu karena rasa tak tentu.


Maka biarkan sendunya membiru pilukan kalbu.


Karena hadirnya bukan tuk membawa tabu


Linang air mata bukan terwujud semata karena sedih


Kadang mungkin menitik mencari kasih


Maka biarkan tetesnya luruh mengiris hati


Karena hadirnya bukanlah untuk dimengerti


Yakinkan hatimu, Kekasihku !


Wujudku bukan untuk menambah lukamu dan laraku


Izinkan syairku memeluk birunya rindumu


Hingga kau mengerti, bahwa air matamu sudah menyayat hatiku seperih tersayatnya hatimu.”

__ADS_1


Sambil terus memejamkan mata.


__ADS_2