The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 24


__ADS_3

POV : Arvine Dowson.


"Kemana seharusnya kita 'berkiblat' ? Kepada kesenangan yang melenakan atau duka yang mengajarkan ?" jawaban dari pertanyaan logis itu lah yang membuatku menjadi sosok 'aneh' dalam kehidupan sosial ku.


Di saat semua orang menganggap suatu kesenangan sebagai tujuan yang harus dicapai dalam hidup mereka, aku harus memilih untuk belajar dari duka.


Bukannya karena ingin tampil sosoan atau agar terkesan keren dengan pribadi antimainstream, tapi semua terjadi begitu saja, mengalir seperti alur pada sebuah diagram flowchart dalam garis hidupku. Tidak memberi ruang kepada batinku untuk memilih. Setiap ujung mata panah alur flowchartku berakhir pada kotak logika yang hanya berisi duka dan airmata.


Hingga suatu ketika, guru PAI di Sekolah Dasar tempatku belajar memahamkanku : "tidak ada airmata yang tertumpah sia-sia, semua pasti ada hikmahnya." di saat itu lah paradigma berpikir ku berubah, aku tak lagi larut dalam sesal dan airmata kala bersua duka, kualihkan pikiranku pada pencarian hikmah apa yang bisa kupetik.


Di saat teman sebayaku sedang asik bermain game online dengan gadget mereka, aku belajar ilmu mekanika dasar tentang sumbu rotasi dan perbandingan gigi pada sistem transmisi dari tiap kayuhan sepeda onthelku saat harus mengantar kue-kue bikinan ibu ku ke kedai-kedai pengecernya.


Di saat teman sebayaku sedang menikmati sejuknya AC di dalam mobil orang tua mereka, aku belajar ilmu klimatologi tentang kelembaban udara statis ( tanpa hembusan angin ) pasti akan diikuti turunnya hujan dari sengatan panasnya matahari di kulitku saat harus menjemur tepung di halaman rumah kami.


Dan saat mereka sedang tertawa di warung kopi, aku sedang belajar ilmu marketing tentang brand image dari tiap bungkus kue bikinan ibu ku yang harus terjual habis oleh ku.


Itu semua menjadikanku sebagai sosok yang cerdas dan tangguh, keberadaanku diakui oleh lingkunganku walau kami tak punya apa-apa. Di sekolahku, aku selalu menjadi yang terbaik.


Masa remaja ku sambut penuh suka cita, kala seorang dara jelita, Shanique Miller, teman SMP ku bersedia menjadi pelabuhan cinta monyetku, kemudian lebih dari itu. Dia menjelma menjadi cinta sejatiku.


Kurajut hari-hariku bersamanya menjadi bait-bait puisi indah tiada tara, kubingkai dengan rapsodi tentang janji sehidup semati. Kami monumenkan kisah kami dengan liontin 'Vinnie & Hanie' di dalam sebentuk hati.


Sampai di akhir kisah, Hani pergi seperti badai. Tanpa permisi menghancurkan ranting-ranting yang mungkin akan berbuah kasih pada pohon asmara ku, merampas dedaunan yang mungkin menghijaukan warna takdirku, membawa serta semua rasaku lalu menggantinya dengan gelombang adrenalin. Menjadikan aku sebagai sosok penggila ketegangan, pencinta ruang di antara kehidupan dan kematian, menggantungkan hidup pada seutas tali logika.


Kepergian Hani tak pernah sanggup kuhikmahi dengan logika, karena tempatnya bermukim bukan di logika, tapi di hatiku, yang sudah terlanjur porakporanda.


Musafir. Itulah aku tanpa hadirnya, berteduh di beranda beberapa huma, menepi di beberapa pantai. Sampai akhirnya kutemukan rumah bernama Clarissa Mae, tempatku bersinggah yang sempat kukira bermukim.


Rissa menghancurkan hukum sebab akibat dalam logika ku. Membuatku percaya bahwa tidak semua 'jika' akan bersua 'maka', tidak semua 'aksi' akan berbalas 'reaksi'. Baginya, kata 'harus' itu tidak ada, berganti dengan kata 'ihlas'. Cara Rissa mencintai aku, membuktikan kebenaran semua teorinya.


Membiarkan 'ihlas' tak berbalas adalah tirani. Sebagai lelaki, tirani jelas bukan jalan ku. Kuputuskan untuk membelah langit, merobek jala nasib yang menutupi pintu takdir. Kuisi konstantanya, kulengkapi koefisiennya, serta kupenuhi variabelnya, agar takdirku tak lagi temaram ... Kupaksa Tuhan untuk menghadirkan Hani kembali dalam hidupku, supaya 'ihlas'-nya Rissa bisa kuberi kepastian saat aku mendapat jawaban, siapa seungguhnya pemilik hati ini.


Hingga akhirnya, di sinilah aku ... Hanya bisa berdiri di sisi ranjang dimana Hani tergolek tak berdaya. Memandangi hidung lancipnya, mengagumi bentuk bibirnya, memutar balik waktu kembali ke masa awal kami bersua. Aku dan dia sedang duduk berdua, di kaki lembah Santrean, tepat di bawah pohon nyiur di ujung pantai, kala mentari memerah dipermalukan senja, kala pujangga muda membacakan syair untuk kekasihnya, dalam seragam sekolah kami, putih biru :


"I am the darkest cloud.


Drowning the skies into the river of blood.


I am a hurricane.


Breaking down so many branch.

__ADS_1


I am a heavy rain.


Flooding over streets in such of pain.


As you are stand still, my rosebud !


Remain as the sunshine afterwards."


"Gila !" suara Cindi membuyarkan lamunanku. Dia melihat ku sambil mengerenyitkan dahinya, seperti ingin memastikan bahwa aku tidak sedang mengigau. "Keluar begitu saja ? Tanpa konsep dan kerangka ?" lanjutnya.


Pertanyaannya tak kujawab, selain karena ga ngerti apa maksudnya, aku juga 'risih' pada kehadiran mereka yang secara tiba-tiba harus kuakrabi.


Beberapa kali aku mencoba untuk menemukan liontin nya Hani yang seharusnya berada di dalam kotak barang pribadinya, tapi tak kutemukan. Bahkan saat ku serakkan semua isi kotak itu ke atas meja, liontin Hani tak juga terlihat.


Nicko sedang mengotak-atik kamera saat aku meminta tolong kepadanya untuk menghubungi ruang IGD, meminta konfirmasi mereka atas hilangnya sebuah liontin milik Hani. Dia berangkat meski sedikit berat hati, aku tahu dia pasti berangkat, padahal dia paling benci bila harus berurusan dengan administrasi, tapi entah kenapa Nicko selalu saja menuruti apapun yang ku suruh.


"Bentuk liontinnya seperti apa, Bang ?" kali itu giliran si Jepang yang mengusikku.


Kupalingkan wajahku kepadanya lalu tersenyum. Itu saja jawabku atas pertanyaannya, kemudian kubereskan kembali meja yang berserakan dengan cincin, gelang dan beberapa perhiasan lain milik Hani.


"Apa ada yang salah dengan kami, Bang ?" keluh Fatimah.


"Sombong amat sih, Lo ! Baru juga jadi vloger amatiran." celetuk Cindi.


Dari ketiga gadis yang selalu mengekoriku selama di rumah sakit, Cindi lah yang paling emosional. Kuanggap itu sebagai ekspresi kesedihannya atas nasib buruk Hani.


"Sudah ah ! Ayo kita keluar." lanjut Farah. Dia menggandeng tangan Cindi dan Fatimah untuk mengikutinya berjalan keluar kamar perawatan.


"Selamat malam, Pak Vinnie !" seru seorang perempuan dengan seragam perawat saat memasuki kamar. Senyumnya mengembang saat tubuhnya nyaris saja bertubrukan dengan Farah.


"Selamat malam, Bu !" jawabku.


"Bentuk liontinnya seperti apa, ya ?" tanya suster itu tanpa basa basi.


Tapi membuat aku kelabakan, karena liontin kembarannya kugantung di ujung pahaku, sedikit di atas lututku, di balik celana jeans ku, terikat tali hitam seperti saat kami dahulu membuatnya.


"Nih !" seru Nicko yang tiba-tiba nyengir di balik pintu, berdiri berjejer dengan ketiga gadis kuliahan itu. Dia melempar pisau lipat ke arahku.


Tanpa pikir panjang, segera kurobek celana jeansku tepat di bagian lutut. Lalu kutarik tali hitamnya maka muncullah liontin ku, 'Vinnie & Hanie', sebuah liontin yang pernah kupercaya akan abadi menempel di atas lututku.


Ada perasaan lega saat kulihat liontin itu masih utuh walaupun sedikit kotor.

__ADS_1


"Jorok !" kembali Cindi nyeletuk.


Dengan sedikit segan, kuserahkan liontin itu ke tangan suster. Dia mengamati nya sambil berjalan mengitari tempat tidur.


"Sepertinya saya pernah melihat liontin ini ... Tapi dimana, ya ?" suster itu masih terus berputar sambil memicingkan mata, spertinya sedang berusaha mengingat. "Sebentar ya, Pak !" ujarnya tiba-tiba.


"Tolong Pak Vinnie bergeser sedikit."


Aku pun mundur selangkah, menjauh dari sisi tempat tidur.


Suster itu membuka telapak tangan kiri Hani, dengan hati-hati karena jarum infus masih menempel sedikit di atas pergelangannya. Tapi nihil.


"Biasanya pasien akan berusaha menggenggam barang yang paling disakralkannya sesaat sebelum operasi." jelas suster itu sambil berjalan ke sisi lain dari tempat tidur, "itu reflek." lanjutnya sambil kembali tersenyum.


"Nah kan !" seru suster itu, sudut bibirnya ditarik ke samping, agak tinggi. Tangannya meraih kepalan tangan kanan Hani, di dalamnya terlihat sedang menggenggam sesuatu.


"Jangan, Bu !" seru ku saat tangan Hani hendak dibuka paksa. "Biarkan saja di situ." aku yakin, tangan Hani sedang menggenggam liontinnya.


Aku menghampiri suster itu, lalu berdiri di sampingnya, mengambil alih kepalan tangan Hani dari tangannya. Sambil tersenyum, suster itu berkata : "hal-hal kecil seperti ini justru menjadi sebab terjadinya keajaiban-keajaiban besar." kemudian dia menyerahkan kembali liontinku.


"Terimakasih, Bu !"


"Jangan Bu, dong ! Aku masih muda dan belum punya suami. Panggil saja Nindi ... Dan saya adalah fans berat Bang Vinnie." pungkas suster sesaat sebelum melangkah meninggalkan ruang. "Besok minta tanda tangannya ya, Bang !"


"Dengan senang hati, Nindi." aku pun merunduk, memberi salam juga terimakasih.


Selang sedetik saja setelah pintu tertutup, "hellleeeeh ... Sama suster aja Lo nunduk ... Sok kemanisan, Lo !" suara Cindi jelas terdengar sewot. Entah apa yang membuatnya begitu.


Aku males meladeni mulut perempuan. Menganggap ucapan Cindi sebagai desing suara nyamuk.


"Ngajakin berantem lo, ya ?" lanjut Cindi membalas cuek ku. Dia bergerak maju sambil melempar tas nya ke sudut ruangan. Tapi tangannya terhalang cengkeraman Farah. Meski lebih kecil, tapi tangan Farah ternyata mampu menghalangi langkah Cindi untuk mendekatiku. Atau mungkin Cindi sengaja mengalah, sekedar menggertak ? Maka ku lempar satu lagi senyum kepada mereka, senyum sinis mengejek.


"Biar aku yang maju !" giliran Farah yang bernada sengak.


"Apalagi ini ?" pikirku. Senyumku makin sinis.


Celoteh Farah segera mengalir, mengabarkan elegi sosok seorang dewi yang sedang merintih merindukan manusia hina sepertiku. Bait-bait ceritanya terbungkus syahdu oleh burai airmata, meniti lini membias ke relung hatiku, menuntun rasa bersalahku ke lembah paling dalam, bahkan menjelma sesal. "Kenapa aku tak mencarinya bila aku memang masih mencintanya ? Kenapa aku malah lari ke dalam candu adrenalin untuk menghalau rasa sepiku di saat Hani ku menangis memanggilku ?" bisik dari palung jiwaku.


Berdiri sendiri di atas sumpah saat liontin itu ku sematkan di lehernya, Hani bertahan dalam rindu, kala aku menuduhnya atas sebuah penghianatan.


"Maaf !" hanya itu kata yang sanggup ku ucapkan saat kukecup tangannya.

__ADS_1


__ADS_2