The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 4


__ADS_3

SSembalun, nama sebuah desa asri di kaki gunung Rinjani, desa terakhir sebelum mereka benar-benar bertarung dengan cadas dan koral serta semak belukar liar, mencoba peruntungan untuk menggapai puncak gunung nomor dua tertinggi di Indonesia. 4 orang tengah berehat setelah menempuh perjalanan udara estafet dari Jakarta hingga Lombok, mereka menunggu giliran untuk belanja bekal di sebuah toko tradisional.


"21 hari !" teriak Arvine Dowson kepada Nickolaus Welas.


"#?" Raquella Mae tertegun, melempar pandangan kagetnya pada Billy, Billy 'the trouble' Williams.


Nickolaus Welas pun tak luput dari keterkejutannya, 21 hari !? Semua tak tahu apa yang terbersit dalam benak Arvine Dowson, kenapa harus berbelanja bekal untuk 21 hari sedangkan untuk naik lalu kembali turun gunung Rinjani hanya butuh waktu 6 atau 7 hari. Tapi mereka seolah kompak untuk bersabar, tak menggugat efisiensi pemimpin mereka.


"Siapkan 21 power bank full charge dan space disk 21 Terra byte !" Perintah Arvine pada Raquella.


"Ga kurang tuh ?" Sindir Raquella jengkel.


21 power bank itu setara 15 kg dan 21 Terra byte disk itu setara 2 kg, ditambah kamera dan tripodnya 15 kg, total 32 kg beban akan menggantung di punggung Raquella hingga perjalanan usai. Itu memberatkan nya.


"Itu masih minimal ! Kita butuh lebih, karena kita akan berada di puncak gunung ini setidaknya 15 hari." jelas Arvine.


"15 hari ?" Hanya Raquella yang mengekspresikan keterkejutannya dengan bahasa verbal, Nickolaus Welas dan Billy Williams hanya saling menukar pandangan penuh tanda tanya. "Mau ngapaen di sana selama itu ?" Lanjut Raquella.


Arvine Dowson menatap Raquella, mata nya tajam menghunjam benak perempuan yang telah merasa menjadi bagian dari kehidupannya itu. Tak dipungkiri bahwa keberanian Raquella menggugat keputusan Arvine Dowson adalah karena kedekatan emosional mereka.


Tiba-tiba Raquella menangkap keanehan dalam sorot mata Arvine, ada sedikit ambisi dan emosi. Dia mendapati mata itu tak lagi mati !


"Apa hanya di gunung, hatinya hidup ? Di antara kaki-kaki langit telanjang ? Hanya Di dalam semak tanpa peradaban, dia bisa hidup ?" telisik dalam hati Raquella saat itu. " tak apa lah beban pendakian akan ku pikul, berat di badan masih bisa ku atasi demi melihatnya hidup kembali."


Begitulah empati si gadis tomboy, demi Arvine Dowson, beban ekstra siap dipikulnya. Kemudian dia melangkah menuju toko perlengkapan yang tak jauh dari penginapan mereka.


"Adik cewe lo, Vin ?" tanya Nickolaus Welas sesaat setelah Raquella pergi.


"Yoai ! Gadis bermasalah." sambar Arvine Dowson.


"Hahaha ... Siapa sih pecandu adrenalin yang ga bermasalah ?" sahut Billy Williams renyah.


"Gw ga !" bantah Arvine Dowson, tawanya mengembang.


Nickolaus Welas berdiri, sejurus kemudian tangan kotornya mendarat di muka Arvine Dowson, dengan usapan seolah sedang membasuh wajah sahabat nya itu, dia berkata : "Lo yang terparah ! Ha ha ha ha ha ...." lalu nyelonong pergi menyusul Raquella.


Bermuka kecut, Arvine Dowson nyengir.


"Emang lo belum bisa move on ?" kejar Billy Williams.


"Siapa bilang gw gagal move on ?" balik Arvine Dowson.


"Kalau begitu, gw juga sudah sembuh !"


"Memang kapan lo terakhir tidur, Bill ?"


"Minggu lalu kali, ya ? Hahahaha ...."


"Yap ! Lo normal, Bill. Asal jangan dekat-dekat rumah sakit jiwa aja !" balas Arvine Dowson kepada Billy Williams, sahabatnya sejak masa kuliah.


Harus diakui, rata-rata pendaki gunung itu memiliki masalah pada kepribadiannya. Dan Billy Williams sedang menderita gangguan tidur. Dia tak mau tidur, karena bila tertidur maka mimpi buruk tentang pertengkaran orang tuanya akan segera hadir. Sebuah pertengkaran antara papa dan mamanya yang berujung pada terbakar nya seluruh rumah mereka, menelan korban seluruh anggota keluarga itu kecuali Billy Williams.


Sialnya, Billy Williams akan membuat masalah dengan siapa saja bila sudah tak tidur lebih dari sebulan. Dan setiap masalah yang dia buat pasti berujung pada pingsannya, entah karena digebuki massa, dihantam tongkat polisi, atau bahkan tertabrak kendaraan. Itulah kenapa para sahabatnya menjuluki dia sebagai 'the trouble' (perkara). Tapi, betapapun Billy Williams bermasalah, dia memiliki keistimewaan. Tubuhnya yang tinggi dan berotot adalah mesin pengangkut terhebat dalam dunia hikers. Pernah suatu ketika, di misi Jaya wijaya, dia harus memikul beban tubuh pendaki lain yang sedang cedera. Berat total yang harus diangkutnya saat itu tak kurang dari 120 kg, Dan dia berhasil mengemban misi itu tanpa terluka.


"Nicko tuh kenapa, Vin ?" tanya Billy Williams.


"Setahu ku, dia itu pelarian."


"Maksud lo ?"


Arvine Dowson terpaksa berpaling muka, menoleh ke arah Billy Williams. Ada kesan ragu saat bibirnya mulai bicara.


"Ehmmm ... Gimana cara ngejelasinnya ya ?"


"Bukankah sudah harus beres semua persoalan diantara sesama hikers sebelum mereka mulai beradu nyali diantara jurang dan belukar ? Itu kan ajaran lo nomor 1 !" gugat Billy Williams, Memojokkan Arvine Dowson, memaksanya memberi penjelasan.

__ADS_1


"Nickolaus Welas, saat masih remaja dia pernah terlibat dalam kasus pembunuhan."


"BUSET DAH !!" Billy Williams terkesima sambil melotot.


"Dengar dulu !" ucap Arvine Dowson yang juga kaget pada reaksi Billy Williams. "Meski bukan dia pelaku nya, tapi dia terlibat pada aksi penyekapan nya. Dan dia berada di lokasi saat pemenggalan leher itu terjadi. Sampai sekarang, dia masih trauma, dia masih sering melihat sorot mata orang yang dipenggal kawanannya--"


"Ikutan merinding gw !" potong Billy.


"Makanya, kalau mau bunuh orang, jangan pernah melihat mata korban mu ! Berabe ntar ! Kek si Nicko tuh." Nasehat Arvine Dowson.


"Gw ga bakalan bunuh orang !" janji Billy Williams.


"Hey ... Lo laki man ! Kadang membunuh itu satu-satunya pilihan yang masuk akal. Meski ujungnya bakal masuk bui." bantah Arvine Dowson, "saat terdesak, seorang lelaki harus memilih ... Membunuh atau terbunuh. Itu realita yang mungkin akan ditolak oleh kaum feminis !" nada bicara Arvine Dowson terdengar berapi-api, memancing sebuah senyum bahagia dari bibir Raquella Mae yang terlihat berjalan mendekati mereka.


"Dia lolos dari bui ?"


"Ngga lah ! Dia dipenjara selama 4 tahun." jelas Arvine Dowson.


"Asyik bener ngobrol nya ? Nimbrung dong !" seru Raquella Mae, tanpa permisi dia duduk di antara dua kaki Arvine Dowson, lalu menyandarkan kepalanya di dada lelaki itu.


Arvine Dowson tak kaget melihat ulah manja Raquella Mae, dia bahkan mulai menyentuh ujung kepala Raquella Mae untuk merapikan rambut gadis itu yang menjuntai terlepas dari ikatan bando nya.


"Kalau dia ?" tanya Billy Williams, dia menunjuk ke arah Raquella Mae dengan pandangan nya.


"Dia ini aman ! Dia adalah pembawa secuil jiwa ku." jelas Arvine Dowson dengan senyum simpul penuh makna.


"Separoh kan asik, Mbang !" celoteh ngasal ala Raquella Mae.


"Separoh ku itu Clarissa, kakak lo ! Secuil kecil ini aja buat lo." balas Arvine Dowson.


"Oh ya, tempo hari itu, selepas Lo pergi, Clarissa nangis sampe pingsan." kata Raquella Mae dengan mimik bahagia. Sekeras apapun usaha nya untuk mengubur debar jantungnya, tapi saat dalam pelukan Arvine Dowson, debar itu kembali hadir untuk menebar damai di seluruh jiwa raga nya.


"Pingsan ?" Arvine Dowson mendorong pelan pundak Raquella Mae. "Kenapa ga lo bilang dari kemaren ?"


"Dia yang larang ...." sesal Raquella Mae mulai terlihat dari bibirnya yang dimanyunkan. Apalagi saat akhirnya Arvine Dowson memilih berdiri lalu berjalan menjauh ke arah jendela, Raquella Mae benar-benar menyesali kecomelan mulutnya sendiri, karena dia tahu bahwa setiap kali nama Clarissa disebut maka binar mata lelaki itu akan mulai meredup kemudian memblur, menyimpan sesuatu.


Emblem nama bertulis 'SHANIQUE MILLER' tergeletak di atas sebuah nakas, sementara sang pemilik sedang larut dalam buaian mimpi tentang masa remajanya, tergolek gelisah di atas springbed beralas sprei warna tosca dengan motif bunga babby's breath.


Majalah 'Music & Fashion' tergeletak tak jauh dari tangan kurusnya, sementara pintu lemari pakaiannya terbuka sedikit hingga terlihatlah betapa banyak pakaian 'branded' yang tersimpan dalam lemari berukuran 6 × 2 meter itu.


Di seberang nakas, berdiri sebuah meja rias yang tak kalah mewah dari milik hotel berbintang lima, tapi lacinya nyaris kosong, hanya ada bedak dan sepasang lipstick dan glossnya, serta sisir milamin bergagang gading.


Sebentuk keset bergambar karakter kartun 'Upin' tergeletak di atas lantai pualam tepat di depan pintu kamar mandi. Sedepa dari keset itu terpasang dua buah box tempat meletakkan baju kotor, satu bertuliskan 'WHITE' dan sebelahnya bertulis 'COLOURS'.


Dinding kamarnya secara khusus dilapisi wallpaper peredam suara, itu agar pemilik kamar bisa leluasa menghidupkan system ultra dome pada stereoset-nya yang terpasang legkap di tiap sudut atas kamar itu.


Jam dinding menunjuk angka 11.23 saa kamar itu dibuka dari luar.


"Kak Shasa ! Bangun, woooy ... Sudah siang banget ini." ucap sosok gadis mungil bermuka mirip jepang sesaat setelah dia memasuki kamar.


Pemilik kamar tak terganggu, meneruskan mimpi indahnya ke jilid 2.


"Dasar kebo lo, Kak !" seru gadis itu, lalu "slereeeek ...." gorden jendela disibak.


"Silau ni, ah ! Tutup lagi." keluh Shanique Miller dengan suara malas.


"Kak Shasa ada acara bedah buku, kan ?" gadis itu mengingatkan.


"Iya." Balas Shanique Miller sambil menutup kepalanya dengan bantal.


"Ini sudah siang, Kak ! Ntar telaat." suara gadis itu merengek. "Udah jam setengah dua belas !"


"Hah ! Deadline ku ... Kenapa baru bangunin sih, Farah !"


Shanique Miller terjaga tiba-tba, dia teringat pada deadline dari penerbit yang harus dipenuhinya. Dan itu sudah terlewat sejam sebelumnya.

__ADS_1


"Kok jadi aku yang salah ? Bukannya kak Shasa sendiri yang molornya kelamaan !" balas Farah.


Farah Isuke namanya, gadis berusia 20 tahun, mahasiswi jurusan sastra Indonesia. Kuliah di Unesa semester 6. Dia bersama 2 temannya-Cindy Latuconsina dan Fatimah Mahmud-tinggal bersama Shanique Miller di mansion milik keluarga Miller. Sebuah rumah mewah bersusun 3 menghadap ke laut jawa. Dulunya rumah itu adalah pusat berkumpulnya politisi kelas kakap negeri ini, kerap digunakan oleh para petinggi partai untuk membuat kesepakatan-kesepakatan 'bawah tangan'. Sebelum akhirnya, Johny 'the mouse' Miller beserta istri-Suzanna Miller--yang juga merupakan orang tua Shanique Miller--harus kabur ke luar negeri untuk menghindari jerat hukum anti korupsi negeri ini.


"Aku baru tidur menjelang subuh, Farah !" protes Shanique Miller.


"Helloow ... Trus itu karena mikirin gw, gitu ?" Ledek Farah Isuke.


Shanique Miller tak menjawab, dia nyelonong ke kamar mandi dengan hanya mengenakan lingerie mini transparan membalut celana dalam ketat, tanpa BH di dadanya.


"Ih ...! Kek bayi aja ! Jorok." nyinyir Farah Isuke mengomentari pakaian tidur yang dikenakan Mentornya itu.


"Dasar Nipon, cerewet !" Balas Shanique Miller saat menutup pintu kamar mandinya. "Tolong beresin tempat tidur ku, ya ! Please." lanjutnya dari dalam kamar mandi.


Tanpa menjawab, Farah Isuke segera membenahi sprei dan bantal yang berserakan di atas kasur. Tapi saat dia menarik sprei yang sudah kusut itu, tersembullah Gadget dari lipatan sprei. Gadget itu tidak terkunci, dan langsung menyala saat ditekannya tombol 'aktifasi' di sisi kanan.


"Nah ! Kok ?" kejut dalam hati Farah Isuke. Di layar gadget itu muncul foto wajah seorang Yo*tuber yang juga sangat disukainya. Merasa tidak etis untuk terus menelisik privasi orang yang sangat dikaguminya, gadis itu memutuskan untuk menaruh gadget itu di atas nakas.


"Kaa--" suara Fatimah Mahmud tercekat, pandangan matanya tertuju pada tangan Farah Isuke. Fatimah Mahmud masuk kamar tanpa permisi karena kamar itu memang sedang terbuka, dia memergoki sahabatnya sedang memegang gadget milik Shanique Miller sebelum meletakkannya di atas nakas.


"Ngapain lo ?" selidiknya kepada Farah Isuke yang tampak merasa bersalah.


"Hussst !" jawab Farah Isuke sambil menyilangkan jari telunjuk di depan bibir mungilnya.


"Ada apaan sih ?"


"Ngga ada apa-apa ! Ayo keluar, ntar ku jelasin di meja makan." ajak Farah Isuke, seretan tangannya menandakan keseriusannya saat mengajak sahabatnya itu keluar kamar.


Setelah melewati ruang lobby yang luasnya seperempat luas mansion itu, Farah Isuke dan Fatimah Mahmud telah ditunggu Cindi Latuconsina. Dia duduk di kursi paling ujung, menghadap sudut paling oval dari meja marmer yang menjadi tempat makanan mereka dihidangkan, di tangannya sedang terselip sebuah novel lama karangan Shanique Miller, judulnya : 'CINTA : PUTIH & BIRU'. Dara cantik dengan senyum khas ambon manise itu lebih intens dengan novelnya daripada kedatangan dua sahabatnya.


Farah Isuke dan Fatimah Mahmud kemudian mengambil duduk di kursi terjauh dari Cindi Latuconsina.


"Farah ?" Bisik Fatimah Mahmud.


"Apaan sih, Fat ?"


"Lo tadi janji apa ?" tagih Fatimah Mahmud. Dia tahu Fara Isuke sedang menyimpan sebuah rahasia tentang mentor mereka, itu pastilah rahasia penting.


"Psssst ! Tunggu dia pergi." jawab Farah Isuke, wajahnya menunjuk ke seberang meja. Saat itu Cindi Latuconsina juga sedang menatapnya, membuat dia makin kelabakan, apalagi ketika Cindi Latuconsina mulai menyindir : "Ehm ... Kalau ada dua orang sedang berbisik, maka orang ketiga adalah setannya ! Nasib ku Tan ... Setan !"


"Hehehe ... Maap, Cind !"


"Hmm ...." Geram Cindi Latuconsina, kemudian dia berdiri meninggalkan kursinya dan berjalan meninggalkan ruang makan melewati pintu yang berada di belakang dua sahabatnya itu dengan muka masam.


"Elo sih !" Farah Isuke menyalahkan Fatimah Mahmud atas masamnya muka Cindi Latuconsina.


"Kok aku, Sih ?" Balas Fatimah Mahmud, dara berhijab krem itu menolak dipersalahkan.


"Yaudah, biarin aja ! Ntar juga dia tahu sendiri rahsia ini." Pungkas Farah Isuke.


Setelah Farah Isuke merapikan rambutnya, dalam tatapan serius Fatimah Mahmud, gadis keturunan Jepang itu pun mulai bercerita.


"Kamu percaya, ga ? Kalau ku kasih tahu bahwa Kak Shasa adalah fansnya Arvine Dowson."


"Maksudmu ... Yo*tuber calon suamiku itu ?"


"Ngarep banget lo, Fat ! Mending juga sama aku ... Bisa jalan-jalan ke gunung Fuji sekalian mampir ke rumah mertua ... Wkwkwkwk !" canda Farah Isuke.


"Ga mungkin, tipe kak Shasa bukan seperti dia, kurang modis dan terlalu urakan." Balas Fatimah Mahmud.


"Tapi gadgetnya dipenuhi foto bang vinnie, Fat !"


"Massa ?"


"Serius ! Tadi itu aku juga kaget ... Massa selera kak Shasa sama kek kita-kita ? Barisan Baby Imut."

__ADS_1


"Secara umur, kak Shasa kan sudah hampir 30--" Ucapan Fatimah Mahmud langsung terhenti, hatinya sontak kaget oleh suara : "Ehmmm ...."


__ADS_2