
Pantai, itu yang selalu menjadi pelipur laranya. Memandangi ombak dan tarian camar. Menelisik pasir, mencari remahan sejarah sebelum memfosil. Seperti di rumahnya, seperti masa kecilnya.
Belum jauh langkah Clarissa Mae, belum letih kakinya. Tapi senja telah hampir merapat, dan tangan kecil seorang bocah berambut sepunggung tiba-tiba meraih jemarinya.
Kenapa selalu bocah perempuan ? Mungkin karena author sedang berharap punya anak perempuan, walau hasil pemeriksaan USG menafikannya--sukurin !
Iya deh, Kamvreet ah !
Tangan itu membawanya berlari, menjejak karang yang sebagiannya tergelung pasir. "Hust ! Huuusst !!" teriaknya. Menghalau camar terbang rendah, menukik lalu kembali mengudara.
Tapi semua nyaris percuma. satu mengudara, seratus menukik lalu mematuk seratus keong lemah. Kemudian mengudara sambil mengibas paruh, menebar serpihan keong tanpa nyawa.
"Ihiiks ... ihiiiiks ...!" tangis bocah itu. Rambutnya berpasir juga berpeluh. Menggenggam bayi keong tanpa cangkang. "Kenapa kau tanggalkan cangkangmu ?" rintihnya pasrah di antara pekik camar pembantai yang terus saja menukik memakan keong tanpa cankang.
"Dia harus berganti cangkang, yang sesuai dengan ukuran badannya. Akan terus seperti itu ! Untuk menyesuaikan kebesarannya."
Clarissa Mae menyentuh pundak anak itu, berusaha membesarkan hatinya dengan tutur lembut seorang ibu. "Dan camar-camar itu memangsa karena mereka lapar, sebagian akan dibawanya pulang untuk anak-anak mereka."
"Camar itu tak salah ! Hanya cangkang ini yang malas, memilih untuk tetap kerdil ? ga peduli pada kebesaran penghuninya !"
Tanda tanya besar melingkari kepala Clarissa Mae, merasa tersindir, merasa sedang dikuliti. Cangkang ! Dan lemah nya keong tanpa kehadirannya.
"Dasar sampah !" kakinya menghentak lalu memutar, seolah ingin mengubur cangkang bekas itu sedalam-dalamnya. "Lihat keong ini, Tante !" bocah itu menyodorkan tangannya, kemudian membuka genggamannya, “Kasihan kan dia ? Cangkangnya egois."
"Iya ... egois." perlahan lalu berbalik, kemudian berlari.
Aku ! Dan lemahnya Vinnie tanpa hadirku.
Berlari dan terus 'berlari', sekuat kakinya, setegar jantungnya. Kemudian terhenti di sisi ranjang. Memandang tubuh Arvine Dowson, tubuh itu bahkan lebih lemah daripada seekor bayi keong.
Tangannya perlahan meraih liontin. Membuang talinya, kemudian melepas kalung di lehernya. Kalung emas peninggalan mamanya, yang disakralkan melebihi segalanya.
Apakah salah ? Bila kemudian dia menyematkan liontin itu pada kalungnya. Apakah dosa ? Bila kemudian kalung itu dilingkarkannya ke leher kekasihnya. Entahlah ! Tapi semua itu dilakukan oleh Clarissa Mae dengan ketulusan dan keihlasan, juga titik airmata.
"Rissaaa ...."
"Hssssssahh."
Kemudian tangannya lirih menjamah, bibir, hidung, bulu mata, lalu lembut meremas rambut kekasihnya. "Biarkan liontin ini menempel di dadamu, agar dekat dengan jantungmu, agar lebih tegar hatimu."
__ADS_1
Lalu didekapnya kepala lelaki itu, semesra ombak memeluk pantai. "Vinnie ... Maafkan aku." bisiknya.
"Ris--"
"Psssst !" selanya kala bibir Arvine Dowson hampir terbuka. Lalu tanpa malu, wajahnya mendekat.
"Cup" walau tak seindah yang dia mau, itulah ciuman pertamanya. Bibirnya mengecup bibir sobek kekasihnya, membuatnya kembali menitikkan darah.
Darah Arvine Dowson telah menjadi pemerah bibirnya, bukti bahwa bibir itu telah ada pemiliknya. Lalu keningnya, kemudian hidung dan matanya, dua pipinya, seluruh wajahnya dilekatkan mesrah. Menerakan darah. Berandanya telah ditandai, rumah itu telah berpenghuni. Walau seringnya terbengkalai.
Telah kau tandai aku sebagai milikmu. Kini aku adalah cangkangmu, aku akan membesarkan hatiku untuk kebesaranmu.
Perlahan mata sipit itu kian menyempit, menyerupai garis lalu terpejam sempurna. Nafasnya halus. Terlelap tanpa mimpi, terbaring pulas tak merindui.
***
'The Stallion' adalah nama sebuah club exclusive. Hanya lelaki hebat yang bisa masuk ke sana. Tidak cukup hanya berduit, tapi juga harus berpengaruh.
Memang hanya sebuah bangunan lama, bekas dipakai untuk arena judi pacuan kuda. Sangat pas untuk orang-orang bergaya cowboy dan sok jago yang kerap merasa berkuasa pada banyak kepentingan.
Malam itu, Edward Rodmeyer sedang berurusan dengan 'tangan kirinya' di sana, gerombolan manusia dengan spesifikasi khusus, biangkerok !
Kursi kayu antik kemudian disandarinya, kakinya bertumpu sebelah, menyilang dengan pongah. Setelah melempar sekotak cerutu kuba ke atas meja, tangannya bersedikap, ala Videl Castro !
"Saat kami datang, ada dua orang menghadang. Nyali mereka hebat, bahkan sempat mekukai Rhino dan Bram ! Tapi semua bisa kami kendalikan dengan ini." begundal itu dengan bangganya menunjuk pistol jenis organik yang terselip di pinggangnya.
"Lalu muncul orang cacat dari dalam garasi reyot itu. Dia menenangkan dua orang yang menghadang kami. Dan dia mengaku sebagai Arvine Dows--"
"Tunggu dulu !" sergah Edward Rodmeyer dengan suara rendah, "orang cacat ?"
"Iya, Bos ! Dia berjalan pakai kruk, dia bahkan harus bersusah-payah untuk melangkah maju, menyibak pundak dua temannya itu."
"Arvine Dowson !? Cacat ? Hahahahaha .... ngaawur kamu." terkejut kemudian Edward Rodmeyer terkekeh. Lelaki bermata seram itu cacat ? Rasanya tak mungkin. Baru seminggu yang lalu dia mematahkan hidungku.
"Itulah ... Bos bilang Arvine Dowson itu tangguh, makanya saya membawa 23 orang untuk menghadapinya ! Rupanya dia orang cacat ! Tapi jujur, nyalinya ada. Dua temannya itu diusirnya, katanya : "Ini perang saya ! Kalian jangan terlibat" dan dua orang itu nurut ! Ha ha ha ha ...."
"Maksudmu ? Arvine Dowson tidak melibatkan anak buahnya."
"Sepertinya begitu, Bos ! Memudahkan pekerjaan kami ... betul ga, Bro ?" begundal itu memalingkan mukanya ke arah kawanannya.
__ADS_1
"Yoai ... tinggal sikaaaat !"
"Terus ?" Edward Rodmeyer tampak serius mendengar laporan 'tangan kiri'-nya itu.
"Ya terus kami hajar, Bos ! Habis sehabis-habisnya ... muka gantengnya itu kami permak sampai hancur !"
"Mati !?"
"Oh tidak, Bos ! Kan cuma kasih peringatan. Ntar Bos marah lagi kalau dia sampai kami matikan ... Hahahaha."
"Bagus !!" Edward Rodmeyer manggut-manggut. Ada kesan puas dari cebiknya. "Teruskan !"
"Sebenarnya saya ingin mematahkan kedua tangan dia, tapi warga kampung sudah keburu datang. Sepertinya sudah siap mengepung kami, jadi terpaksa kami kabur."
"Tapi pesanku sudah kau sampaikan, Kan ?"
"Sudah, Bos ! Tapi keknya ada yang salah deh." suara begundal itu sedikit ragu. Ada ketakutan dengan dimensi unik di kecut senyumnya. "Tidak mungkin dia menculik anak Pak Bos. Orang cacat gitu."
Tercekat sejenak, "bisa saja dia menyuruh anak buahnya." alih Edward Rodmeyer untuk menutupi keraguannya. "Apa jawab dia pada pesan saya ?"
"Dia bilang akan datang bila bos sudah siap bersujud di kakinya."
"Brengseeek !!" kemudian meja kayu antik itu digebarak sangat telak. Bila bukan kayu jati, mungkin meja itu akan hancur oleh gebrakannya.
Bahkan di saat sudah hancur seperti itu pun dia masih menolak untuk tunduk kepadaku. Kerasnya kepalamu akan membawa kematianmu, Dowson !
"Tenang, Bos ... hehehehe ..., dia takkan sanggup menganggu siapapun setidak dalam waktu sebulan. Mengingat bonyok mukanya akibat ulah kami ... hahahahaha."
Tawa para begundal itu meredakan hawatirnya, walau amarahnya masih tinggi, dan geramnya makin membekas.
"Sekarang, saya ada tugas baru untuk kalian !" suara Edward Rodmeyer sedikit serak, mungkin geram yang menjadi penyebabnya, atau mulai takut ? "Kalian awasi perempuan ini ! Namanya Helena Krysnowack, biasa dipanggil Helen ! Alamat rumahnya ada di belakang foto ini."
"Siap, Bos !"
"Sudah ... Bubar kalian !"
"T-tapi, Bos ?" meski sedang ketakutan, tapi jempol dan jari telunjuk begundal itu terus saja bergesek. Tak berhenti sebelum tangan Edward Rodmeyer membuka koper kerjanya. Mengangkat sepucuk pistol juga selembar amplop.
"Pilih mana, huh ?" tanyanya sembari meniup moncong pistolnya, pelan tapi melirik tajam.
__ADS_1