
Pernikahan ku dengan Vinnie sudah kupikir dengan matang, tidak cukup hanya berlandas perasaan cinta saja. Karena cinta bisa pudar merahnya, digerus hitam rasa cemburu akibat penghianatan misalnya. Tidak juga karena kegantengan nya, karena ganteng bisa musnah digerus usia. Pun begitu dengan harta dan jabatan, bisa saja sirnah oleh musibah sesaat. Semua nya bisa hilang seiring berjalannya waktu. Makanya aku lebih mengedepankan faktor kecocokan dalam berpikir dan bertindak.
Dari kecocokan berpikir dan bertindak inilah rasa nyaman berasal. Apa gunanya punya suami kaya, ganteng, dan berkuasa kalau aku tak pernah nyaman di dekatnya. Yang ada karena ganteng nya, aku bisa pusing dihantam cemburu. Atau karena kekayaannya, aku bisa saja diperlakukan semena-semena seperti pembantu misalnya. Juga karena kekuasaannya, aku bisa saja dijadikan tumbal bagi ambisi berkuasanya. Tapi aku bersyukur sekali karena rasa nyaman di hatiku tumbuh saat berada di dekat Vinnie, lelaki tampan dan kharismatik walau tak sekaya aku, tapi sangat rendah hati.
Karena rasa nyaman itulah, aku berdiri di sini dalam balutan gaun pengantin untuk menyambut datangnya suamiku dalam pesta resepsi pernikahan kami.
\*\*\*
Author.
Setelah pekik "sah !" keluar dari mulut beberapa lelaki yang menjadi saksi dalam pernikahannya, Clarissa Mae mengusap ujung matanya dengan tisu lusuh.
Lusuh dan kumalnya tisu itu menggambarkan betapa tegang perasaannya menjalani prosesi ijab qobul di depan penghulu. Hanya tisu itu pelampiasan nya, diremas dan digenggam oleh telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin.
Akhirnya, tisu itu terserak di ujung lututnya seiring semburat wajah secantik peri menjelma dalam sosok Clarissa Mae, nafasnya seperti senandung pucuk pinus, senyumnya mengalir bak sungai ghadaqoh, dan kerling matanya laksana purnama di bulan september. Dia telah sah menjadi istri lelaki yang juga cinta pertamanya di usia 28 tahun.
"Ga usah ribet ! Pakai gaun apapun dia terlihat sempurna ... Karena cantiknya keluar dari dalam hati." itu ucapan periasnya saat bersiap menata pesta resepsi. "Mana yang nyaman aja !" lanjutya, lalu tersenyum lega dan bangga kala semua paes yang dia lukiskan di kening Clarissa Mae menempel sempurna, tak meleleh barang sedikitpun. Itu berarti sang pengantin masih virgin, keringatnya masih wangi bak bunga, belum anyir bau janda.
"Sun dikit, Bu !" Seru sang perias.
"Apaan sih, Mbak ... Emmmuach !"
Clarissa Mae menerima dan membalas kecupan dari sang perias.
__ADS_1
"Jarang-jarang lho, Bu ! Saya bisa merias pengantin virgin di jaman ini." Lanjut sang perias, senyumnya lebar.
"Emang kelihatan ?"
"Kalau periasnya faham sih kelihatan, Bu !"
Begitulah mereka, saling bercengkeramah santai satu sama lain selama proses berhias, sebelum akhirnya mereka sepakat untuk tampil lebih modern dan inklusif. Lalu ... kala senja hampir punah ....
Berdirilah sosok seorang dewi bernama Clarissa Mae di bawah naungan gazebo mewah menghadap ke pantai. Menjadi pusat perhatian dalam pesta resepsi pernikahannya.
Sementara di tengah samudera, telah menanti sebuah kapal pesiar mewah berbendera Jepang milik lelaki yang mendampinginya berdiri, Yamamoto. Kapal itu khusus dikirim dari tanah Nipon untuk Clarissa Mae dan suaminya berbulan madu, sekoci pun siap diturunkan.
"Nona Colarissa canatiko !" puji Yamamoto dalam bahasa indonesia berdialek jepang.
Tapi langit tak bisa dibohongi, kala dia mengutus segerombol mendung di kaki senja, untuk kembali mengusik hati Clarissa Mae, memperolok dewi itu dengan gurauan basi : "Apa kabarnya Raquella ? Apakah adekmu itu juga sebahagia dirimu saat ini ?"
Membuatnya tertegun lalu menunduk, menyisakan getir di palung hatinya, kenapa adek yang dicintainya dengan segenap jiwa raganya itu tak jua muncul hingga ujung hari bahagianya ? Apa yang salah ? Clarissa Mae tegores luka baru dalam kesuciannya. Luka yang tak jua lenyap walau angin menyapunya, walau mendung penggoresnya pun telah lenyap menjadi virga.
Renjana di hatinya memang tak sempurna, tapi tertutup rapat oleh pesona sosok dan senyumannya. Clarissa Mae tetaplah Clarissa Mae, perempuan tangguh yang mampu menyimpan semua gundah hanya untuknya, tak seorangpun tahu.
Ketika suara Adele mengalun lembut, bersenandung tentang ketulusan cinta dalam simponi bertajuk 'Make You Feel My Love', 6000 mulut terdiam, 6000 pasang telinga tertegun, dan 6000 pasang mata terkesima, tertuju pada sebuah spotlight yang hanya melingkar di sosok Clarissa Mae saat semua lampu taman mendadak dimatikan.
Tak lama, spotlight kedua menyala tepat di ujung karpet merah, melingkari sosok seorang lelaki gagah dan tampan bersama ibu nya, Arvine Dowson melangkah mantap menyisir karpet sambil menggandeng ibunya, perempuan tua sederhana.
__ADS_1
Hembusan angin laut seolah mengiris bentang karpet di antara mereka, semakin lama semakin tipis. Kala hanya tersisa lima depa, Arvine Dowson berhenti. Matanya terkesima oleh panorama di depan matanya, sang istri tercinta menjelma bidadari, berdiri menyambutnya dengan senyum penuh cinta.
Sejenak dirapikannya tuxedo putih pembungkus badan tegaknya, dan celana putih pembungkus paha dan kakinya, serta letak kakinya yang terbalut sepatu putih. Sebelum akhirnya mata Arvine Dowson mulai mengagumi.
Clarissa Mae bertudung transparan putih dua lapis, menyemat pandangan cerah, secerah tiara bertahta berlian yang terpasang di ujung kepalanya. Rambutnya tertata messy, berantakan diterpa angin. Menebar rona ranum dari dalam wajah matangnya.
Lehernya dibiarkan jenjang tanpa liontin, bening dan mulus laksana sutera. Hanya bolero mutiara yang terangkai empat baris dari bahu kanan hingga kirinya, juga mempercantik bagian atas dadanya. Seolah ingin menggugah gairah suaminya dengan molek tubuhnya.
Dan gaun putih model sabrina itu mengembang menebarkan sebuah kemewahan sensasional seorang ratu.
Tanpa berkedip, Arvine Dowson memangkas jarak, ibunya mengikuti dengan senyum bahagia, sang menantu teramat cantik, terlalu cantik untuk putranya. Lalu tangan pun bersahut, di sela sarung tangan berenda transparan itu kulit tangan mereka bersambut, telapaknya saling merenggut. Sebuah dekapan jemari yang tak ingin mereka akhiri hingga berhentinya waktu.
Buket bunga Baby's Breath menjadi saksi, cinta mereka akan abadi, diceritakan oleh tiga generasi, tentang cinta yang tak hanya bermakna cinta, tapi juga kesempurnaan.
Mereka adalah pasangan tanpa cela.
Tepat ketika suara tetamu mulai berbisik : "KISS THE BRIDE ! PLEASE KISS THE BRIDE !" Suara sumbang terdengar meraung, membahana dari moncong knalpot sebuah motor trail. Melaju membelah tetamu dengan sinar lampu kabutnya yang menyilaukan mata. Membuat beberapa tamu lanjut usia menghujat dan menyumpah, tapi motor itu tak perduli, dia terus saja meraung melintasi meja-meja sambil sesekali menjengkangkan kursi hingga menyulitkan para satpam yang mengejarnya.
Lampu taman terpaksa kembali dinyalakan, suara Adele terpaksa dihentikan. Mengaburkan spotlight, juga menghanguskan kesyahduan.
"Adek ! Akhirnya kamu datang juga." bisik dalam hati Clarissa Mae. Jauh di dalamnya dia bersyukur. Tanpa memperdulikan cara kedatangnya, dia merasa bahwa kedatangan Raquella Mae adalah penyempurna hari bahagianya.
Saat motor itu berhenti tepat di depannya, Clarissa Mae bergegas membuka helmet sang pengendara.
__ADS_1
"Terimakasih, Dek !" Seru Clarissa Mae sejenak setelah wajah sang adik menyembul. Namun saat dia akan memeluk, Raquella Mae ....