The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 2


__ADS_3

Menjelang senja, kala pelangi menjelma hanya untuk tepikan hujan, di gazebo sebuah rumah pantai .... usai dari pesta taman resepsi pernikahan seorang sahabat..


"Ayo diminum !"


Sebuah ucapan sederhana dilantunkan Clarissa Mae dengan nada datar dan raut muka ala 'poker face', kemudian duduk di sudut gazebo sisi rumah nya. Dia sengaja mengambil bentang jarak terjauh dari Arvine Dowson. Matanya samar menatap debur ombak yang beriring menyapu pantai. "Debur ombak itu tak pernah berhenti, menghapus jejak noda di pantai, melarung buih kembali ke lautan, melayani camar yang terus saja mengajaknya bermain air. Dia tetap tegar memberi makna, walau akhirnya kadang tercerai-berai oleh hempasan karang. Aku harus setegar ombak !" bisik dalam hatinya.


Teh yang diseduh adalah teh biasa, dengan takaran gula seperti biasa, air nya pun air masak biasa, pun begitu dengan cangkir dan tatakan nya ... Semua biasa saja, tapi entah kenapa Arvine Dowson kala itu seperti enggan meneguknya, padahal kemaren nya, juga beratus-ratus hari sebelum itu, dia tak pernah segan meminum teh bikinan kekasih nya itu.


"Kenapa, Vin ? Air teh nya lebih merah dari bibir ku, ya ? Dan mungkin rasa nya juga akan lebih manis dari senyum ku ?" sejenak Clarissa Mae menjeda ucapan nya, untuk sekedar melepas seulas senyum nya ke arah Arvine Dowson, yang segera membalas dengan sebuah helaan nafas panjang penuh sesal, dia tahu bahwa Clarissa Mae masih kesal kepada dirinya.


"Pucuk teh yang dipetik akan selalu muncul pucuk baru, gula nya pun begitu ... Akan selalu ditanam tebu yang baru. Jdi wajar dong kalau merah dan manis nya teh ini akan abadi ? Sedangkan aku--" kembali Clarissa Mae menjeda ucapan nya, kali itu untuk menunduk lalu merapikan juntaian rambut di pipi kanan nya.


"Aku akan terus menua ! Bibir ku akan kian memucat, senyum ku juga sebentar lagi ompong, dan rahim ku ...." tak ada lagi kata terucap, tak seuntai benang suara pun tergetar, berganti dengan isak tertahan. Ada gejolak emosi yang harus segera dihempaskan agar nafas nya kembali berirama, tapi dia tak ingin membiarkan itu menghempas segala nya lalu menghancurkan segala kenangan indah antara dirinya dengan sang kekasih. Clarissa Mae hanya ingin menangis tanpa niat membebani siapapun dengan tangis nya itu, terutama Arvine Dowson, sebisanya dia tahan isak nya, dia simpan tangis nya, dia kembangkan senyum di bibir nya, hanya untuk menjaga agar lelaki itu tidak merasa bersalah.


Semua perempuan tahu bagaimana rasa nya menangis tanpa airmata, menyimpan segala lara, resah, kecewa, amarah hanya sampai sebatas dada. Tak boleh sedikitpun tersirat entah itu di bibir atau di mata, tidak boleh sampai tersesak atau terisak, semua harus terkendali ! Itu sakit, sangat sakit, terlalu sakit untuk ditahankan oleh wanita biasa. Hanya wanita sejati yang sanggup melakukan nya.


Meski itu menyakitkan, Clarissa Mae telah memilih menjadi wanita sejati, menyimpan semua duka untuk dirinya semata, dan mewujudkan hanya senyum bahagia di mata kekasih nya. Seperti cara mama nya mencintai papa nya.


Tak ada yang salah dengan cara itu, meski banyak teman-teman nya menganggap aneh, bahkan adik kandung nya sendiri, Raquella Mae, memperoloknya konyol, tapi dia tetap yakin bahwa cinta memang harus begitu, cinta seharusnya saling meringankan, bukan saling memberatkan. "Mama memasak dan mengurus semua keperluan papa untuk meringankan papa, kemudian papa bekerja mencari nafkah untuk meringankan mama dalam mengurus kita semua ! Itulah arti mencinta, Raquella !" sebuah nasehat yang sering didengungkan nya untuk sang adik juga dirinya sendiri.

__ADS_1


Sialnya, sang mama keburu meninggalkan dunia bersama sang papa dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Mobil yang sedang mereka kendarai terbalik karena dihantam truck seorang pemabuk, itu terjadi kala Clarissa Mae baru berumur 16 tahun dan Raquella Mae menjelang 8 tahun.


Entah telah berapa kali ombak menyisir pantai dan nyinyir nyanyian camar terdengar, Clarissa Mae masih menahan tangis nya dan Arvine Dowson duduk mematung, menyisakan hening ... Membumikan debur ombak dalam selaksa nada ... Ingin menyingkap tabir takdir ... Yang mungkin secerah fajar atau sesendu senja, atas mereka ... Dua manusia dewasa.


Hening itu akhir nya pecah, oleh deru suara motor trail yang tali gas nya dikekang sembarangan, meraung menghentak seolah enggan berhenti sebelum roda depan nya menyentuh sudut gazebo.


Raquella turun meloncat dan langsung mengosongkan cangkir teh diplomasi pilu itu tanpa permisi, seperti biasa--lalu nyengir dan memeluk kakak nya.


"Yaudah ! Tolong jagain kakak Lo." kepada Raquella, Arvine Dowson buka suara.


"Nah lo, enakan di sana ya !" timpal Raquella. Tapi Arvine Dowson seperti tak mendengar ucapan itu, dia lebih perhatian pada usahanya untuk turun dari gazebo lalu berjalan mendekati Clarissa.


"Kamu akan baik-baik saja, Sayang ! Karena aku akan selalu mencintaimu. Maaf, kali ini aku benar-benar harus pergi." lalu sebuah kecupan tulus mendarat mesra di kening Clarissa, sedikit menguatkan, tak banyak, nyaris tanpa.


"Baik-baik jagain nya !" pesan nya kepada Raquella dengan jemari seperti menodong, dan sebelum dia benar-benar melangkah pergi menjauh, mata nya mengerjap berat, melempar kode bahwa dia sedang sangat serius.


Beruntung nya, Raquella paham pada kode mata itu, dia menjadi tahu bahwa sang kakak-tempat dia biasa bermanja-sedang dalam masalah, dan dia harus tahu siapa yang membawa masalah pada kakak yang sangat disayangi nya itu.


Clarissa tetap berusaha tegar kala Senja mulai mengolok nya, dia tetap berjalan mengiringi Arvine Dowson hingga menarik handle pintu mobil, kemudian melambai dan ... menabur senyum sekali lagi kepada cinta nya yang harus pergi. Kemana ? Untuk berapa lama ? Clarissa Mae tak tahu. Baginya, selama Arvine Dowson masih mencintainya, dia akan menunggu lelaki itu untuk 'pulang'.

__ADS_1


"Sudah ! dia sudah pergi."bisik senja di ufuk, suaranya sendu dan pilu, "pandang lah aku sekarang !"


Clarissa menolak, dia memilih menunduk untuk menatap ujung jari kaki nya sendiri.


"Aku ingin melihat warna airmata mu ! Karena malam sering bercerita padaku bahwa airmata mu seputih airmata Khadijah, sebening sorot mata Fatimah, dan sesendu hati Hawa kala merindukan Adam. Benarkah itu ?"


"Tidak, Senja ! Aku tak pernah menangisi apa yang sudah kuberikan. Sang Malam melihat airmata orang lain." Jelas Clarissa.


"Benarkah ?" Kejar Senja pada ujung marun nya.


"Tidak !"


"Benarkah ... kah ... kah ... kah ...?"


Suara Senja meng-echo, memantul ke langit kemudian menusuk kedalam palung hati nya, mencabik sisa-sisa ketegaran nya, menggerogoti keberanian nya, membuat Clarissa makin mati rasa. Hingga akhirnya ....


Clarissa runtuh, kakinya luluh tak mampu, duduk berlutut bermandi airmata, kemudian bersimpuh menangisi rasa. Dari gemetar bibir nya tedengar desah : "Tidaaaaaaaak, Senja !" tepat sesaat sebelum dia pingsan dalam pelukan Raquella.


Senja pun berlalu, bergegas setengah berlari menyambut malam, dalam gelapnya, bahkan meski masih bertabir mendung di 4 cakrawala, suara Senja masih terdengar menggema, menutupi suara badai halilintar, dia berceloteh : "Malam, aku tahu tangis nya, aku melihat warna airmata nya. Cintanya benar-benar sesuci mereka ...."

__ADS_1


Kemudian ... di peraduan Malam ... di baris paling ujung ... senja masih serak merengek :


"Aku ingin menjadi Clarissa."


__ADS_2