
POV : Raquella Mae.
'Pengalaman adalah guru terbaik.' Itu benar, aku harus berterimakasih pada quote itu, entah siapa yang bikin. Pengalaman ku hari itu akan terpahat selamanya dalam hidup ku, sebagai maha guru.
Dadaku sesak, nyaris tak dapat bernafas. Mata ku perih, nyaris tak dapat melihat. Ototku lemas, nyaris tak dapat berdiri. Dan otakku kacau, nyaris gila. Semua gegara Vinnie ! Dia melompat kedalam jurang tanpa berpikir, hanya untuk menyelamatkan seorang bocah manja yang baru saja dikenalnya.
Entah berapa banyak airmataku telah tertumpah, dan berapa juta detak jantungku mengiris hati, takut dan menyesal menjadi satu. Takut kehilangan dia dan menyesali keputusanku untuk tak jujur padanya.
Tak jujur kepadanya adalah salah, karena itu menyakitkan. Selama ini aku selalu saja berpura-pura 'baik-baik saja' saat hatiku teriris, menguatkan diri semampuku saat kedua mataku melihat kemesraannya dengan Clarissa. Aku cemburu, tapi dia kakakku, 'mengalah' menjadi pilihanku. Pilihan yang tak sanggup lagi kupertahankan, akan kurebut Vinnie dari pelukan kakak ku, dengan segala cara.
Melihatnya bergelantungan di atas awan, mendengar racauanya saat bersenandung sambil mendobrak pintu takdir, merangkak menghindari kematian, aku tersadar, aku takut kehilangan dia ... Ya ! Aku tak mau lagi berbohong, aku harus jujur pada hatiku sendiri bahwa aku takut kehilangan Arvine Dowson. Karena aku mencintainya ! Walau dia milik kakakku.
Terserah orang-orang akan bilang apa, Pecun ! Pelakor ! Atau anak setan sekalipun ! Aku tak perduli.
Di saat Vinnie bertarung melawan takdir, Clarissa di mana ? Di saat Vinnie menggigil kedinginan, Clarissa di mana ? Di saat Vinnie resah dan merana, Clarissa di mana ? DI KANTOR ! Dia selalu saja di kantornya, mengurus bisnis dan diri nya sendiri.
Bandingkan denganku ! Aku selalu hadir dalam suka duka nya, dalam sehat dan sakit nya, dalam canda dan tangis nya. Tak ada orang lain yang lebih tahu tentang dirinya dibanding aku, dia nafas ku dan aku nafas nya. Wajar dong kalau aku menjadi pemilik cinta nya ? Karena aku lebih pantas dan lebih berhak dibanding siapapun ... Termasuk kak Clarissa !
Saat Vinnie berhasil menaklukkan tebing itu, sesaat setelah dia melepas tubuh pingsan gadis konyol itu dari punggungnya, aku tak sanggup lagi memepertahankan ego ku, aku berlari meninggalkan kamera, berhambur sekuat tenagaku untuk memeluknya. Menunjukkan pada dunia bahwa aku tak mau kehilangan dia, bahwa aku mencintainya.
"Vinnie, gw takuut !" rengek ku sambil berburai airmata, menindih tubuhnya yang masih tergeletak lemas di atas bebatuan.
"Hmm ...." balasnya.
Suaranya berbeda dari biasanya, helaan dan dengusan nafasnya terdengar lebih berat, tapi aku tak peduli.
"Gw takut lo pergi ninggalin gw untuk selamanya, gw ga mau itu, Vinnie ! Gw sayang ma lo." ucapku sambil terus mendekapnya, memeluknya seerat mungkin, lalu meletakkan pipi basah ku ke dada nya.
__ADS_1
"Kadet, Tandu Ayu ! Kita kembali ke sungai untuk berburu." teriak Putu. 7 orang anggotanya pun patuh, mengangkat tubuh pingsan Ida Ayu Widarti dengan sebuah tandu lalu berjalan menuruni bukit. Sementara dia sendiri berjalan dalam papahan Nicko dan Billy.
Aku tak tahu apa maksud mereka dengan meninggalkan kami berduaan saja di atas bukit itu, yang mengagetkan aku adalah belaian tangan Vinnie di pinggangku saat dia membalikkan badan kami, aku merasa jemari itu sedikit nakal.
"Vinnie !?" keluhku saat kusadari bahwa kami benar-benar berbalik posisi, dia menindihku, menggagahi aku dengan tubuh kekarnya.
Tak mungkin kulepas pelukanku dari punggungnya, tak kuasa kutahan gairah ku, kuhempaskan semua ego dan benteng kemunafikan ku ke awan. Aku menikmati setiap sentuhan jemarinya pada kulitku, ku terima hasrat nya sebagai lelakiku.
Di atas bukit itu, dilereng gunung Rinjani, aku pasrahkan tubuh ku kepada orang yang ku cintai, Arvine Dowson, pacar kakakku--Clarissa, saat ku lupa mematikan kamera.
***
"Apa yang akan dilakukan oleh seorang musafir saat kehabisan bekal di tengah perjalanannya ?" tanya Shanique Miller kepada penggemarnya saat menjadi pembicara dalam sebuah acara bedah buku.
"Kembali pulang ? Tak mungkin ! Secara psikologi, seorang musafir sejati merasa dirinya tak punya rumah untuk pulang karena hidupnya adalah sebentuk pencarian. Berdiam diri sambil berharap ada pertolongan ? Pilihan ini juga tidak mungkin ! Karena seorang musafir tidak berencana untuk mati di tengah perjalanannya, juga tak bergantung kepada orang lain untuk membuatnya tetap hidup." jelasnya penuh antusias.
"Langkah yang diambil oleh tokoh Barata menjadi kontraproduktif. Dia berusaha meluruskan jalan Prameshwari yang nota bene adalah istrinya dengan cara memblokir kartu kredit dan semua akses keuangan mereka, itu ternyata membuat Prameshwari menjadi semakin liar dan pada akhirnya melacurkan diri demi mendapatkan narkoba." sambungnya.
"Langkah yang lebih produktif dilakukan oleh mantan kekasih Prameshwari, Mahesa. Dia mencoba meluruskan langkah mantannya itu dengan cara menyediakan sumber daya yang diletakkannya di jalan yang mungkin akan mampu membuat Prameshwari kembali lurus. Itu terbukti dengan makin dekatnya hubungan batin kedua tokoh ini. Sampai sejauh ini, apakah ada pertanyaan ?" tawar Shanique Miller.
"Saya mau nanya, Thor !" seru seseorang di deretan kursi bagian tengah.
"Silahkan !"
"Bila ending novel itu menyatukan Prameshwari dengan Mahesa, maka itu artinya langkah Mahesa gagal untuk meluruskan Prameshwari. Karena faktanya mereka malah terlibat perselungkuhan." lanjut sang penanya.
"Sepertinya anda harus membeli novel ini dulu untuk sampai pada kesimpulan itu." kata Shanique Miller yang kemudian disambut "GRRRR" oleh pengunjung lainnya.
__ADS_1
"Dan jangan lupa untuk membelinya sekarang juga, karena setiap pembelian pada hari ini di toko buku ini, semua akan saya tandatangani langsung. Juga foto bareng saya ... Ha ha ha ha !" tutup Shanique Miller.
Hadirin pun bertepuk tangan sambil berdiri, sebuah 'standing ovation' diterima oleh Shanique Miller dari seluruh pengunjung, termasuk di dalamnya adalah pasangan konglomerat pemilik grup 'The Rodmeyer's', Jack dan Karen Rodmeyer. Mereka tampak sangat puas dengan gaya bicara sang penulis. Tapi tidak dengan Edward Rodmeyer, putra sulung dari pasangan konglomerat itu memilih berdiri tanpa bertepuk tangan sambil membuang pandangannya keluar jendela.
Dari sela-sela pinggang pengunjung dewasa, tampak bocah berumur 6 tahun berusaha mendekati meja podium sambil membawa sebotol kecil air mineral. Itu menarik perhatian Shanique Miller, kala bentang jarak tak banyak tersisa, dia memutuskan untuk menjemput bocah itu lalu menggendongnya.
"Hai ... Siapa namanya ?" tanya Shanique Miller sesaat setelah mendudukkan si bocah di kursinya.
"Sean !" jawab si bocah.
"Sean ke sini sama siapa ?" lanjut Shanique Miller.
"Oppa, omma dan Daddy."
"Yang mana mereka ?"
"Itu !" seru Sean saat menunjuk ke arah pasangan Jack dan Karen Rodmeyer yang tampak sangat terkejut, "dan itu Daddy" lanjutnya seraya menunjuk ke arah Edward Rodmeyer.
Sontak terlihat keributan kecil di deretan kursi bagian tengah, para pengunjung berusaha memberi ruang kepada pasangan konglomerat itu dengan tersibak ke samping.
"Para hadirin yang berbahagia ... Telah hadir bersama kita, Tuan dan Nyonya Rodmeyer ! Mohon diberikan ruang untuk maju ke meja podium." sambut MC acara itu.
Mata Shanique Miller terlihat bersinar bahagia, orang terkaya nomor 5 di benua Asia itu ternyata salah satu penggemar karya-karya nya. Itu membuatnya makin antusias saat menyalami dan menerima ucapan selamat dari keduanya.
Bahkan ketika pasangan itu menawarkan ajakan untuk makan malam bersama di kediaman mereka, Shanique Miller langsung menyetujuinya tanpa berpikir panjang.
Meski sedang sangat berbahagia, mata cantik Shanique Miller masih saja berusaha memilah wajah-wajah asing para penggemarnya, untuk menemukan seraut wajah yang sangat di dambanya.
__ADS_1
"Vin ... Kamu dimana ? Datanglah ke acara seperti ini sekali saja ... Agar aku bisa melihatmu, agar terjamu rinduku." harapnya dalam hati.