The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 60


__ADS_3

Hilangnya bayangan Kendrick Williamson dari pelupuk matanya menyisakan pemberontakan dalam ranah filsafatnya, konsep pemikiran Arvine Dowson pada kata 'pernikahan' langsung porak poranda.


"Pernikahan adalah usaha untuk membentuk 'lingkaran' kekuasaan demi terpenuhinya kodrat seorang lelaki." Kendrick Williamson.


"Aku ingin menjadi seperti mama, yang cintanya mampu mengangkat papa dari seorang 'pemulung' hingga menjadi saudagar terkenal di dunia." Clarissa Mae.


"Aku akan menjadi butiran debu yang terhempas dari tanah saat kau pijak untuk sampai ke singgasana." Clasrissa Mae.


"Aku adalah manusia paling dungu di dunia !" Arvine Dowson, ia hanya ingin menjambak rambutnya sendiri lalu membenamkan kepalanya di sela antara dua lututnya. Otaknya sedang setinggi lutut itu, atau mungkin letaknya di situ ? Sama-sama terlindung oleh tempurung, bukan ?


Siapa yang pernah mengajarkannya konsep tentang pernikahan ? Bahwa itu harus berlandaskan cinta untuk mencapai kebahagiaan ? William shaksepeare ? Atau cerita dari india tentang Rama dan Sinta ? Entahlah, tapi satu hal yang pasti terjadi, bahwa sepanjang perjalanannya ke Jakarta, dengan mata terpejam atau terbuka, di nadi Arvine Dowson hanya ada penyesalan.


Deru angin di luar jendela menambah lekat sesalnya. Dia yang selama bertahun-tahun menganggap pengorbanan Clarissa Mae sebagai bahan lelucon, hanya karena perempuan itu terlihat culun oleh dandanan yang sederhana dan sikap yang serba kikuk, pada akhirnya dia juga lah yang merasa malu.



tribute to : pinterest.


Apa yang kurang dari Clarissa Mae ? Si kereta api ! Hanya pembawaannya yang kaku dan kuno. Tak semewah pesawat terbang, tak segemerlap cat mobil-mobil mewah.


Rissa, kamu adalah kereta api. Nyaman, aman dan dapat diandalkan ! Paling sedikit mencemari. Maaf, bila aku sempat terbuai oleh indahnya kapal pesiar.


***


"Selamat pagi, Bu !"


Perempuan itu menatapnya dengan sorot mata kaget, sekretaris yang biasa membantu mengurus bisnis Clarissa Mae itu seperti kebingungan. Arvine Dowson yang seperti tiba-tiba berdiri di depan mejanya membuatnya kelabakan.


"Tuan Dowson !? Selamat pagi." dia berdiri untuk memberi salam. Sedikit merunduk tapi menyempatkan matanya untuk mengintip pakaian lawan bicaranya.


"Maaf, saya baru sampai di Jakarta, dan langsung ke sini." jelas Arvine Dowson setelah menyadari bahwa kondisi pakaiannya tak layak untuk bertamu. "Bu Bos ada ?"


"Ada, Tuan ! Silahkan masuk saja."


"Terimakasih." setelah tersenyum, Arvine Dowson bergegas menjinjing kembali tas nya untuk secepatnya membuka pintu ruangan direktur utama. Harapnya satu, ingin segera bertemu dengan sang empunya ruangan--Clarissa Mae.


Knock ... Knock ... Mau marah atau benci, aku datang membawa permintaan maaf.

__ADS_1


"Selamat pagi, Riss ... Rara !?" dadanya terhempas jangkar, menembus tepat di syaraf kecewanya, seluruh persendian di tubuhnya langsung lemas, tak ada Clarissa Mae. "Kenapa lo duduk di situ ?"


"Bang Vinnie !?" tak kalah terkejut, Raquella Mae sempat tertegun, tak percaya pada apa yang baru saja ia lihat. Sosok Arvine Dowson yang melintas masuk dari balik pintu adalah kejutan terindahnya pagi itu.


Kemudian Raquella Mae berjalan, langkahnya membuat Arvine Dowson merinding. Lembut dan gemulai, menebar nuansa horor. Raquella Mae yang dulunya cuek dan terkesan brandalan tiba-tiba menjadi lembut dan santun. "Bagus !" Mungkin semua orang akan bilang begitu, tapi tidak bagi Arvine Dowson. Lelaki itu tahu siapa sebenarnya pemilik kelembutan itu, Clarissa Mae lah pemilik nya, dan Raquella Mae menirunya karena obsesi.


Sisi buruk dari cinta adalah obsesi ?


"Kenapa ga kasih kabar kalau mau berkunjung, Bang ?"


Suaranya pun dibuat nyaris sama. Dan pakaiannya, Blazer biru pekat membungkus hem putih, rok span selutut sepekat blazernya ... Yaaa Tuhaaaan, Raquella Mae berusaha menjadi Clarissa Mae ! Hanya juntaian rambut sederhananya yang gagal ditiru, dan tentu saja getaran jantung Arvine Dowson yang tak sanggup dibangkitkannya.


"Oh, maaf kalau mengganggu. Tiba-tiba saja aku ingin melihat rumah. Karena sejalan maka aku coba mampir ke sini." balas Arvine Dowson saat menerima pelukan hangat dari Raquella Mae.


"Ga mengganggu ko, Bang ! Kalau kasih kabar kan bisa aku jemput."


Bahkan dialek Rissa-pun dia tiru. Apa yang terjadi padamu, Dek ?


Bergumam hanya dalam hati, Arvine Dowson menerima cium pipi dengan perasaan ngeri. Pemantik 'Bom ranjau' yang dia tanamkan dalam diri Raquella Mae semakin goyah, bisa meledak kapan saja saat dia salah bicara.


"Nanti jam 10." Raquella Mae menjawab sambil mengikuti ujung mata Arvine Dowson. "Kenapa ? Bang Vinnie berharap bahwa orang yang duduk di kursi itu adalah kak Rissa."


"Ga ! Siapa saja boleh duduk di kursi itu. Asal bisa membuat perusahaan ini semakin maju. Dan lo adalah masa depan perusahaan ini. Makanya cepetan kelarin tuh kuliah." alih Arvine Dowson sambil mengacaukan poni di kening Raquella Mae. "Makin cantik aja lo, Ra !" suara rendahnya terkesan gemas.


"Semua yang mirip kak Rissa pasti terlihat cantik di mata, Abang !" keluhnya dibarengi manyun bibirnya, lalu pura-pura membuang muka.


"Masa ga ada yang bilang ? Ehmm ... Hidungmu lebih lancip, kulitmu lebih glowing, rambutmu lebih lebat dan hitam. Lo itu lebih cantik dari Rissa, maka akan banyak cowo hebat yang akan datang mengharap cintamu."


"Noway, Aku sudah punya cowo ! Dia sudah mengunci pintu hatiku." balas Raquella Mae dengan nada bulat.


"Wooyyy !! Kelarin kuliah. Jan cowo mulu di otak lo." Arvine Dowson menggiring pembicaraan agar jangan nyerempet-nyermpet bahaya.


"Ish ... Bang Vinnie pasti begitu--"


"Rissa di Jakarta, ya ?" sergah Arvine Dowson buru-buru untuk menghindari 'templokan' manja Raquella Mae di pundaknya.


"Ga ! Dia masih di Surabaya--"

__ADS_1


Nah lo ! Aku dibohongin. Tega kamu, Riss ... Tapi tak apa. Perlakuanku padamu lebih parah.


"Perusahaan ini ia serahkan pada ku, dan yang di Surabaya ia serahkan ke kamu. Demi apa coba ? Demi kita, Bang ! Agar kita bisa secepatnya--"


Ta* kucing rasa cokelat ! Aku ga bisa menjalani skenariomu, Rissa ! Ini sudah kelewatan !! Kamu bahkan menghancurkan seluruh usaha yang sudah kamu rintis dengan peluh dan airmata. Jangan sok jadi pahlawan kamu ... Risssaaaaaaaa !


Keringat dingin bercampur debu kereta, membalur di sekujur tubuh Arvine Dowson. Menimbulkan rasa jengah yang luar biasa. Kemudian letih makin menambah gelisahnya.


"Sudah hampir jam 10, dan gw juga harus melihat kondisi rumah. Gw permisi dulu ya, Ra ?" pamit Arvine Dowson. Wajah lelaki itu nyaris tanpa ekspresi. Menutupi rasa bersalahnya dengan membuang muka ke arah pintu.


"Boleh aku ga kuliah ? Kali ini saja ? Aku masih kangen.”


"Kalau kedatangan gw ke sini membawa malas lo kembali, maka sebaiknya gw ga usah lagi datang ke sini."


"Ish ... Kek gitu amat ! Iya ... iya ... aku kuliah. Tapi anterin ke kampus." meski masih keberatan tapi pada akhirnya Raquella Mae beranjak dari lengan Arvine Dowson. Berjalan dengan gemulai ke arah meja kerjanya untuk mengambil tas di sana.


Tanpa gairah, Arvine Dowson berjalan ke arah pintu. Langkah kakinya malas, dan sorot matanya sayu. Otaknya masih mengembara pada keputusan Clarissa Mae yang dianggapnya tak lebih dari sebuah kengawuran kelas dewata.


Tidak boleh ada pengorbanan yang menyerupai persembahan ! Itu bermakna mempersekutukan. Aku harus kembali ke Surabaya.


"Bang, tunggu !" teriak Raquella Mae.


Saat Arvine Dowson berhenti di ambang pintu, gadis itu sudah menggamit lengannya, tak malu walau mata sang sekretaris menatapnya risih. Tapi tak ada pilihan lain, satu peran harus dijalani oleh Arvine Dowson, sebagai seorang abang kepada calon adik iparnya. Walau ia juga risih, tapi ia ingin yang terbaik bagi Raquella Mae, mengharap waktu kan mendewasakan gadis itu.


Raquella Mae bisa meniru sikap dan perilaku kakaknya, tapi gagal total pada skala kepribadiannya. Itu terbukti saat Arvine Dowson menatap penuh tanya : "ini mobil lo, Ra ?"


"Iya ... Kenapa, Bang ?"


"Gapapa !" Arvine Dowson tersenyum kecut. Pinggangnya menghempas jok lembut sebuah sedan lamborghini keluaran terbaru, model convertable roof, harganya ? Hmmmm ... 1 milyar lebih !


"Ntar malam gw harus balik ke Surabaya. Dan mobil ini akan gw pakai untuk ke sana. Lo pakai mobil gw yang di rumah." dengan suara berat, Arvine Dowson setengah memaksa menukar mobil.


Muka Raquella Mae sontak memberengut, jelas terlihat bahwa ia keberatan pada ide itu. Bahkan suara nafas beratnya sengaja ia keraskan, agar Arvine Dowson mengerti keberatannya.


"Mobil ini mengundang bahaya ! Akan banyak niat jahat tercipta bila lo mengendarainya di jalanan. Pakai saja mobil gw ! Ga bakalan ada orang yang mengincar mobil itu. Dan lo pasti aman." keputusan Arvine Dowson tak bisa lagi digugat. Diterima sebagai titah.


"Mobilmu jelek, Bang ! Hiks hiks hiks." menawar di sisa-sisa keberaniannya. Pada akhirnya Raquella Mae harus pasrah saat mendengar jawaban : "lo mau kuliah ? atau pamer kekayaan di kampus."

__ADS_1


__ADS_2