
Jan berharap ada drama alay di novel ini. Authornya benci sinetron ! Padahal aku sudah cape bersabar ... hufft.
Perpisahannya malam itu membuat Clarissa Mae semakin matang. Sakit yang dia rasakan saat menjalani hari-hari bersama kekasihnya membuatnya makin memahami makna kata sabar. Amarah takkan menyelesaikan masalah, sehelai pun tidak !
Hmmmm ....
Menghela nafas, kaki kurus itu melangkah pasti. Turun dari mobil Edward Rodmeyer menuju pintu rumah kediaman Helena Krysnowack ....
Haaaaa ....
Melepas nafasnya, mengharap nafas itu mengudara lalu menguarkan sejentik jengah yang masih tersisa dalam benaknya. Dia tetap tegar walau kepalanya sedang dipaksa menunduk.
Cuih !!!
Rissa, sayaaaang ... Babang Author sedang membangun narasi karaktermu. Stay on your dialogue, Please ! Ilysm.
Shi de, qin !
Membiarkan langkah lebar kaki Edward Rodmeyer tetap di belakangnya. Mengekorinya dengan derap pongah.
Pintu itu terbuka lebih dari setengah daun. Penghuninya sedang menunggu atau lebih tepatnya dipaksa agar menunggu. Helena Krysnowack sedang duduk tegang dan sedikit ketakutan di atas kursi tua. Dan Raquella Mae, seperti biasa, cuek dan tetap berusaha untuk sedingin es kristal.
"Selamat malam, Madam ! Maaf telah mengganggu waktu istirahat Anda."
Mendengar lembut tutur kata itu, yang kemudian disertai merunduknya kepala pengucapnya, membesarkan hati seorang Helena Krysnowack. Dia senang menerima salam seperti itu. Salam yang dulu selalu menyambutnya, bahkan kali itu dirasakannya berbeda. Clarissa Mae menyertakan ketulusan dalam sikap merunduknya.
"Selamat datang, Cantik !" entah tulus atau tidak, kalimat itu sudah diucapkan dengan bibir tersenyum dan pelukan akrab. Tapi hanya sekelebat, karena selanjutnya bibir Helena Krysnowack kembali mampat dan matanya miris. Menatap gaya angkuh Edward Rodmeyer yang sedang berdiri di depan pintu. Mantan suaminya itu dirasakannya datang hanya untuk menghina.
"Boleh saya duduk di sini, Madam ?" kerling matanya terlihat luarbiasa polos, malam itu Clarissa Mae benar-benar meyakinkan hati Helena Krynowack bahwa kedatangannya tidak membawa gada untuk menghakimi.
"Oh plesae, Dear ! Make yourself comfortable."
Mempersilahkan Clarissa Mae untuk duduk di samping Raquella Mae dengan senyum yang sedikit lebih lebar. Kemudian dikejutkan oleh langkah kaki mantan suaminya yang tiba-tiba masuk tanpa permisi ke dalam ruang tengahnya, ruang privasinya. Dia terpaksa mengikuti, meninggalkan Clarissa Mae dan Raquella Mae berdua saja di ruang tamu.
Sebuah ringkusan mengejutkannya, "jangan mengaku ! Apapun yang sudah kamu perintahkan kepada bocah itu, jangan pernah kau akui. Paham ?" mendorong tubuhnya hingga tersandar di dinding. Edward Rodmeyer sedang memenjara tubuhnya dengan dua lengan dan dada. Dan bisikan itu, meski bernada mengancam, juga menyertakan aroma nafas yang sangat dirindukannya.
"Eddy." nama itu didesahkan tapi tak mampu dilanjutkan. Kedua lengan Helena Krysnowack sontak memeluk tubuh mantan suaminya, berusaha mencuri rasa yang dulu pernah ada. Menyesap hangatnya pelukan itu dengan tanda tanya.
"Helen ... maafkan aku." bisik Edward Rodmeyer. Lengan lelaki itu perlahan membalas pelukan mantan istrinya, merengkuhnya lebih erat.
__ADS_1
***
"Peluk !" suara Clarissa Mae datar, sorot matanya sarat kerinduan, mengaharap sang adik untuk memeluknya. "Kakak kangen, Dek !"
Tak ada jawaban. Hanya ada punggung adiknya yang kemudian dia sentuh. Punggung itu jauh lebih kurus dibanding saat terakhir mereka berpelukan. "Kamu kurusan, Ra ! Badanmu jadi bagus. Seperti badan mama."
"Ck !"
Suara decak itu tak dipedulikannya, lengan kurusnya langsung membentang lalu menelangkup, meringkus bahu Raquella Mae. Memeluk tubuh adiknya dari belakang, "Kakak kangen kamu, Dek ! Beneran."
Bisikan itu belum juga mampu merubah mood Raquella Mae. Dia tetap duduk mematung membelakangi Clarissa Mae, menganggap sang kakak hanya berpura-pura. Mengingat tujuan mereka bertemu bukanlah untuk melepas kangen.
Rara masih marah, pasti gegara belum terima atas sikap kasar ku waktu itu.
"Maafin aku, Dek ! Aku kelepasan marah sama kamu. Tapi semua itu terjadi karena aku sayang sama kamu ! Aku ga mau kamu sia-siakan waktumu hanya untuk keluyuran dan melupakan kewajiban kuliah mu. Belum lagi masalah keuangan perusahaan kita. Aku beneran pusing waktu itu. Maafin kakak ya, Dek !? Please ... Hanya kamu yang kakak punya."
"Beneran ?"
Suara itu seperti hendak memancing airmatanya. Suara Raquella Mae yang sudah sebulan tak didengarnya tiba-tiba seperti memenuhi gendang telinganya, menggulirkan haru ke dalam nafasnya.
"Beneran, Dek ! Aku kangen kamu. Dan maafin kalau dulu pernah marahin kamu."
"Kak ? Ko merem sih !"
"Peluk kakak, Dek !" lirih sambil tetap memejam, mengharap pelukan sang adik untuk sungguh-sungguh mengusir butiran amarah dari palung hatinya.
Dan benar saja ! Hangat tubuh Raquella Mae berhasil mengikis habis amarahnya. Membawanya kembali ke masa kecilnya, mendengar lagi pesan mamanya : "Rissa ... Peluk mama, Nak !" Clarissa kecil pun menghamburkan diri dalam rengkuhan lengan pucat itu. Kemudian terbisik : "bila kamu sedang terluka oleh orang yang kamu sayangi, maka peluklah dia ! Hangatnya akan menyembuhkan segalanya. Tuhan menyembuhkan luka hati dengan hangatnya sebuah pelukan."
"Terimakasih, Ma !" bisiknya.
"Kak Rissaaa !?" rengek manja itu menghapus hayal nya. Meragum pipi Raquella Mae dengan kedua telapak tangannya, kemudian mengecup kening. Lalu membuka matanya.
"Kamu cantik, Dek ! Ga tembem lagi nih pipi." jemari gemasnya menari, mencubit, menjewer, kemudian meragum pipi adiknya sekali lagi, "coba dari dulu mau merawat diri, kamu pasti sudah jadi miss universe saat ini !"
"Kak Rissa ga marah ?"
"Tuh kan ? Bener kata ku, mata ini milik mama ! Bibir ini juga milik mama. Dan hidungmu, Dek ! Mancung mirip hidungnya papa ... Kamu mewarisi yang terbaik dari mereka ! Ga jelek kayak kakakmu ini ... Hahahaha !" ciumannya pun mendarat dimana-mana. Mengabaikan ucapan Raquella Mae, juga beban yang sedang menggantung di lehernya. Melupakan amarahnya, menggantinya dengan perjamuan rindu.
Kemudian adik bengalnya itu mulai menangis, "maafin aku, Kak ! Aku ga tahu kalau bakal jadi kek gini." memeluk pinggangnya. Terisak membasahi gaunnya.
__ADS_1
"Sstt ... waktu tidak berlaku surut, Dek ! Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Eddy bukan lelaki pemaaf, tapi aku janji, tidak ada makhluk yang akan ku biarkan menyakitimu."
"Kakaaaak ...."
"Sudah ... Jan nangis terus ! ntar mama sedih melihatmu menangis." bisiknya saat kaca bening mulai menggenang di matanya. "Sekarang jawab pertanyaan ku sejujur-jujurnya, jangan takut pada siapapun !"
Melepas pelukannya lalu lekat menatap mata adiknya, "kenapa kamu membunuh Shasa ? Apakah ada orang yang menyuruhmu ?"
"Maaf, Kak !" Raquella Mae menunduk, menyembunyikan tangisnya.
"Yasudah ... Peluk aku !"
Tersenyum simpul, lalu memeluk tubuh adiknya sekali lagi. Berusaha memahami keengganan adiknya itu untuk membahas masalah yang tengah membelit mereka.
"Perempuan itu merebut bang Vinnie, Kak ! Dia merampas Vinnie dari ku." suara Raquella Mae itu bulat. Menembus hingga ke ruang tengah, ke telinga Edward Rodmeyer.
Menepiskan semua rasa dari hatinya, menguatkan diri. "Jadi, kamu ga disuruh siapa-siapa ?"
"Iya, Kak ! Aku ga mau kehilangan bang Vinnie, aku mencintainya. Ihiiiks ... ihiks ... Maafin aku, Kak !"
"Hsssshh ...."
Gelaaap ! Rissa memendam perasaannya ke dalam labirin tak berdian, tak terbaca, bahkan oleh gw.
"Ehmm !"
Terperanjat, mereka menatap Edward Rodmeyer dengan perasaan aneh. Terkejut tapi juga geli.
"Sudah terbuka semuanya, sudah jelas motifnya. Tinggal kamu teken kontraknya ... Ya kan, Rissa !"
"Jangan pernah memanggilku dengan nama itu, Ed--"
"Atau apa, Huh ? Rissa ... rissa ... kamu itu hanya boneka ! Sudah ku bayar semua hargamu dengan kebebasan adikmu. Jadi jangan banyak tingkah di hadapanku, apalagi sampai mengancamku !"
Tangan besar Edward Rodmeyer menangkup rahangnya, untuk menancapkan sebuah ciuman kasar ke bibirnya. Lalu memaksanya mendecih, menunduk sedih, kesakitan.
Raquella Mae terperangah, saat dia sudah bersiap menerima scene alay dalam sinetron, dipersalahkan lalu dibentak dan dimaki dengan suara kasar. Dia malah menyaksikan ketulusan kakaknya yang terpaksa menjadi tumbal untuk menebus semua nafsunya.
Lalu, kenapa lipstick di bibir Helena Krysnowack terlihat belepotan ? Muncul tiba-tiba dengan gaun acak-acakan ? Terutama di bagian dada.
__ADS_1