
"Serendipity !" ungkap Arvine Dowson pada smartphone yang sedang ia pegang sambil tersenyum. Di pagi itu, dia nekat mengendap mengikuti langkah Helena Krysnowack dengan tujuan sekedar untuk mencari tahu bentuk hubungan perempuan itu dengan Edward Rodmeyer. Tapi apa yang ia dapat justru diluar harapannya. Liontin milik Shanique Miller berhasil dirampasnya kembali, dan smartphone milik Edward Rodmeyer ia anggap sebagai sebuah serendipity.
Hanya perlu modal sebungkus rokok untuk ia berikan kepada seorang penjaga 'counter' pinggir jalan, Arvine Dowson berhasil menembus semua kunci dan password smartphone itu.
Tuhan sedang berbaik hati pada anak yatim-piatu sepertiku.
Senyumnya terus mengembang. Bahkan ketika mobil yang sedang ia kendarai mulai 'terbatuk', senyum itu tak berkurang brix-nya. Dua liontin kembar yang sedang tergantung di lehernya menjadi pemanis senyum itu. Tetaut di kalung emas milik Clarissa Mae, liontin-liontin itu seperti sedang menebar ironi, tapi itulah kenyataannya, Arvine Dowson sedang jumawa di atas pengorbanan Clarissa Mae.
Saat mobilnya benar-benar mogok, barulah senyum itu sedikit pudar. "Kenapa juga harus mogok di sini ? Kenapa mogoknya ga nunggu sampai di kantor. Hmmm ... " gumamnya sekali lagi.
Bukannya lupa untuk bersyukur, tapi mobilnya seperti sengaja mogok di jalanan yang tak jauh dari mansion milik keluarga Miller. Itu membuatnya hawatir, sedikit menepis rasa sukurnya. Tiga gadis yang ia 'takut'-i bisa muncul kapan saja.
Dan ... Sesaat setelah ia membuka kap depan ...
Hmmmmmm ... Kelewatan kamu, Thor !!
Bernafas luar biasa berat, lalu memutar kedua kornea matanya, Arvine Dowson tak bisa mengelak kala dua vespa matic menepi tepat di belakang pinggangnya.
"Enak aja kau, Bang ! Main kabur-kaburan ga jelas dan melupakan tanggungjawabmu." itu suara Cindi Latuconsina. Menarik ujung lengan kemejanya, memaksanya memutar badan. "Kami kelaparan, kehausan, pokoknya menderita banget ! Eh ... Abang enak-enakan pakai mobil bagus."
Eh ... Aku bukan bapakmu ! Kenapa harus bertanggung jawab ?
"Kalau kak Shasa masih ada, kami tak akan seperti ini, kelaparan dan terlunta-lunta seperti nasib anak yatim-piatu. Dan 'kepergian' kak Shasa adalah karena kamu, Bang ! Jadi jangan main kabur-kaburan seenakmu sendiri--"
"Cind ! Cindi !!" suara Fatimah Mahmud seperti tak didengarnya. Cindi Latuconsina meneruskan celotehnya, seperti ingin melampiaskan seluruh amarah.
"Hidup kami ini sudah menjadi tanggung jawab kak Shasa ! Dan sebagai cowoknya kak Shasa, Bang Vinnie harus mengambil alih tanggungjawab itu--"
"CINDIII !"
__ADS_1
Teriakan Fara Isuke memekakkan telinga Cindi Latuconsina, membuat mulut dara ambon manise itu terdiam.
"Maaf, kami mengganggu." suara Fatimah Mahmud memang selalu teduh, kali itu malah terdengar seperti sedang mengasihani. "Bang Vinnie gapapa ?" sejurus kemudian di tangannya sudah tergenggam tisu basah.
Arvine Dowson menarik kepalanya sedikit mundur, mengelak dari tangan Fatimah Mahmud yang tiba-tiba menjulur.
"Hehehehe ... Maaf, Bang ! Belum buka helmet. Jadi ga lihat." Cindi Latuconsina malu-malu sambil membuka pelindung di kepalanya.
"Duduklah, Bang ! Biar kami lihat lukamu. Sampai kek gini kok dibiarin aja ... ini bisa infeksi." kemudian Fara Isuke menarik pinggang Arvine Dowson.
"Aku ga apapa. Ini cuma kena pintu." meski berusaha menolak tapi lelaki itu akhirnya terduduk juga. Cindi Latuconsina menarik kerah bajunya dari belakang. "Auch ...!" jeritnya saat tiba-tiba selembar tisu basah setengah lipatan menyentuh kulit pelipisnya. Seperti sedang disengat lebah, pedih dan panas.
"Wheee ... luka itu parah, Fat ! Bersihin darahya aja. Kalau ditekan gitu pasti sakit." Fara Isuke bergidik, perasaan ngeri langsung hinggap di hatinya saat melihat luka robek tepat di bawah alis mata kiri Arvine Dowson. Sebagian darahnya hampir memasuki mata. "Kita rawat di rumah saja."
"Okey !" Fatimah Mahmud mengangguk. "Biar bang Vinnie aku yang rawat, kalian ke kampus dan jangan lupa tandatangani absen ku."
Meski masih menyisakan enggan di benak Arvine Dowson, tapi pada akhirnya lelaki itu luluh juga pada keputusan ketiga gadis itu. Mereka berpencar. Fara Isuke dan Cindi Latuconsina melanjutkan perjalanan mereka menuju kampus, Fatimah Mahmud kembali ke mansion milik keluarga Miller di belakang Arvine Dowson.
Han ! Kamu dimana ? Aku datang dengan liontin kita. Akan kusematkan lagi untukmu ... di leher atau di pusaramu.
"Bang !?" suara Fatimah Mahmud menyertakan tepukan di punggungnya, membuatnya kaget lalu spontan menarik handle rem motor yang hampir saja menabrak pintu garasi itu.
"Ngelamunin kak Shasa, ya ?" pertanyaan itu sederhana, diucapkan dengan suara lembut, tapi mampu menenggelamkan perasaan Arvine Dowson ke dasar penyesalannya, memaksanya mendesis lirih.
Seperti mobilnya, Arvine Dowson tiba-tiba mogok. Berdiam diri di pilar tiang sudut mansion. Dia menolak untuk melangkah walau Fatimah Mahmud memaksanya. Matanya lekat ke arah beranda belakang. Tajam menatap riak kecil di atas air kolam renang, seolah masih ada sosok Shanique Miller yang sedang mengharapkannya, berenang sekuat tenaga menanti pertolongannya.
Tiba-tiba dia berlari, matanya sedang menangkap bayangan dua tangan yang sedang meronta, menyibakkan air agar tetap bisa mengapung. "HANI !!" pekiknya membahana, "tunggu aku !!"
Dengan langkah yang kurang lebih sama, Fatimah Mahmud mengikutinya. Ketika menyaksikan Arvine Dowson melompat ke dalam kolam renang, matanya terbelalak, menolak untuk percaya bahwa lelaki itu terlihat mulai gila.
__ADS_1
Tak lama, kepala Arvine Dowson tampak mengapung di atas air. "Hani, kamu dimana sayang ?" jeritnya, kedua tangannya meronta, menyibakkan air seolah sedang mencari bayangan tubuh kekasihnya yang tengah tenggelam di dasar kolam. Saat matanya menangkap sebuah bayangan, dia kembali menyelam.
Lalu kecewa, di dasar kolam itu tak ada siapa-siapa. Hanya hamparan ubin berwarna biru yang tertata rapi. Tiba-tiba darahnya bergelora, saat matanya menangkap bayangan Shanique Miller sedang duduk di kursi roda. Kursi itu tegas menapak di dasar kolam.
"Aku datang sayang, bertahanlah !" ucapnya tanpa kata, kala matanya berisi pantulan senyum Hannie-nya. Senyum yang rela ia tukar dengan nyawanya. Menjejak dasar kolam sekuatnya, Arvine Dowson seperti berlari menghampiri kursi roda itu. Kemudian mengangkatnya perlahan, lembut dan pelan, seperti tak ingin mengusik siluet senyum itu dari pandangannya.
Kursi roda itu ditepikan, diletakkan di atas tepian kolam dengan senyum terkembang.
Tunggu sebentar, Han ! Akan kuambilkan handuk untuk rambut basahmu itu. Akan kuhangatkan tubuhmu. Tunggulah ... Aku akan segera naik.
Ketika tubuh kuyupnya sudah di atas tepian kolam, "Han !? Hannie ?? Kamu dimana, Sayang ?" Suara Arvine Dowson lirih, kursi roda itu kosong, Shanique Miller tak ada di sana. Lalu dia mulai marah, merasa dipermainkan oleh nasib buruk. kehangatan Ayahnya tiba-tiba hilang dari hidupnya yang masih samar-samar, lalu ibunya yang kemudian pergi setelah menyemburkan muntahan darah di wajahnya, juga musnahnya Hannie yang tiba-tiba seperti raib ditelan bumi. Semua itu menambah besar bara amarahnya.
"Fat ! Hannie tadi pergi kemana ?" teriakan itu mulai terdengar gelap, "Kamana, Fat !?" semakin kelam, "jangan hanya diam, Fat ! Jawab aku." disertai mengguncang-guncangkan pundak Fatimah Mahmud. Kemudian tangan Arvine Dowson terangkat, jelas akan menampar gadis lemah yang mulai berlinang di hadapannya itu.
"Bang Vinnie ... hiii ... hiikiks." tangis gadis itu tak tertahan. Dekapannya erat membekap tubuh Arvine Dowson. Matanya tak sanggup melihat luka yang tertanam dalam hati lelaki itu. Luka karena 'kepergian' Shanique Miller.
Menyibak pelukan Fatimah Mahmud, "kamu barusan lihat Hannie duduk di situ kan, Fat ? Dia tersenyum ke arahmu, memakai gaun warna tosca. Bahkan sempat melambaikan tangannya ke arah kita. Iya kan, Fat !?" Arvine Dowson sangat gugup, wajahnya merah padam. Berusaha memendam amarah di dalam tawanya.
"Nggak, Bang ! Kursi roda itu kosong." masih dalam tangis, kedua tangan Fatimah Mahmud mencoba menahan tubuh Arvine Dowson yang perlahan mulai surut, tapi tenaganya tak cukup. Terpaksa membiarkan tubuh lelaki itu luruh, kemudian tersimpuh di depan kakinya.
Menggigil, menyimpan kepala di ruang antara kedua lututnya, Arvine Dowson mencoba menghadirkan kembali kesabarannya. Tapi gagal. Nafasnya terdengar semakin sesak. Giginya bahkan gemeretak. Dan gumpalan otot di sekujur tubuhnya terlihat semakin liat.
Kemudian dia berdiri, bola matanya menghitam, menatap mata Fatimah Mahmud dengan sorot membunuh, Arvine Dowson meraih ujung kursi roda, lalu melemparkannya sekuat tenaga : "SONGOOONG ... KEMBALIKAN HANNIE KU !!!"
***
"Praaang ... " suara kursi roda itu menghantam pagar, kemudian melenting kembali ke udara ...
"Cilok ... aci dicolok, cilooook ... aci dicol--" suara itu menghilang, kemudian berganti dengan erangan seperti sedang menangis, "cibug ... cilok digebuk ... Pakai kursi roda ... huuuuu ... huuuu ...."
__ADS_1
Tangis itu terdengar sangat rapuh ... terkena lemparan kursi roda kah ? Atau karena dagangannya tak laku ? ... jangan-jangan karena istrinya yang ternyata berharap mendapat bayi laki-laki.