
Sebuah mini van berjalan perlahan, keempat rodanya serasa enggan menapaki aspal jalanan. Mungkin karena usianya yang sudah kelewat tua untuk dikendarai, atau pengendaranya yang sudah tidak bernyali.
Puluhan mobil lain melewatinya, ada yang sembari membunyikan klakson untuk sekedar memberi salam, tapi ada juga yang sengaja meledakkan kentut dari lubang knalpot mereka, itu bisa berarti mengejek, bisa juga berarti memberi tantangan. Tapi semua tak dihiraukannya, mini van itu tetap melaju seperti tanpa gairah.
"Kenapa Rissa bisa berada di rumah si songong ? Bila untuk urusan bisnis, lalu kenapa semua terlihat sangat cair dan akrab ? Mereka bahkan seperti sebuah keluarga besar. Kamu harus lebih berhati-hati, Vinnie !" bisik pengemudi mobil mini van itu pada dirinya sendiri.
Setelah mencecap seteguk air mineral, pengendara mini van yang tak lain adalah Arvine Dowson itu menghela nafasnya dalam-dalam. Kemudian kakinya menginjak pedal gas hingga hampir habis, melajukan mini van itu dengan kecepatan tinggi. Seperti sedang mengejar sesuatu. Beberapa tikungan bahkan dilaluinya sambil menderitkan roda.
"Hani." tiba-tiba nama itu didesahkan, lirih bersama hembusan nafas panjangnya. Pedal gas diinjaknya semakin dalam, seiring dengan debaran aneh di dalam jantung Arvine Dowson. Instingnya sedang berbicara, naluri binatangnya mengabarkan berita duka.
Benar saja, pada tikungan terakhir, mata cekungnya menangkap bayangan mobil sedan merah sedang dipacu luar biasa kencang meninggalkan pagar rumah Shanique Miller. Deru suara knalpotnya membuat dada Arvine Dowson tercekam ketakutan.
Laju mini van itu tiba-tiba tak terkendali, memecah kerumunan lalulintas dengan derit rodanya dan suara klaksonnya, untuk sampai di pintu gerbang mansion keluarga Miller.
Arvine Dowson meninggalkan mobilnya di tepi jalan, membiarkan mesin mini van itu tetap menyala. Dia berlari secepat angin, menembus taman menuju beranda belakang. Entah apa yang mengarahkan langahnya ke arah sana, tapi langkah itu ternyata benar.
Sepasang tangan kurus sedang meronta, menyibak air kolam renang, menciptakan ombak hanya agar kepalanya nya tetap mengapung di permukaan. Kemudian perlahan tangan itu lemas, tak sanggup lagi bergerak. Menenggelamkan sosok Shanique Miller ke dasar kolam. Mengakhirinya dengan sebentuk gelembung terakhir.
"HANI !!!" histeria duka, menggema dari mulut penuh amarah.
Tanpa berhenti, kedua kaki Arvine Dowson melemparkan sepatunya ke langit, kemudian terjun tanpa perhitungan ke dalam kolam renang. Lututnya menyapu tepian, membanting tubuh kekar itu jumpalitan. Awh ... Sakit itu ! Tapi tak dihiraukan. Arvine Dowson melanjutkan aksinya dengan menyelam.
Di matanya sedang terpampang adegan kematian. Tak seperti aksi-aksi sebelumnya, kali itu Arvine Dowson menggigil. Di hatinya sudah tak ada lagi kepercayaan diri, berganti dengan rasa takut. Kehilangan Hani untuk yang kedua kali, berarti akhir dari segalanya.
"Jangan pergi, Han ! Senja mencari kita." bibir Arvine Dowson mengucap kata tanpa suara di telinga Shanique Miller.
Tubuh Shanique Miller tetap kaku, berdiri tegang di dasar kolam. Memaksa Arvine Dowson untuk mengangkatnya dengan lutut ngilu berasa kram.
Sekali hentak, tubuh keduanya melayang di dalam air, lalu mengambang sejenak. Saat tubuh Shaique Miller seperti hendak kembali tenggelam, lengan Arvine Dowson segera melingkari pinggangnya kemudian manariknya sambil berenang, menggapai tepian.
Setelah tubuh mereka berada di atas tepian, "Kamu tak boleh mati ! Kamu tak boleh pergi lagi ! Kamu harus tetap di sini ! Bersamaku ! Bersama cinta kita." entah berapa kali kalimat itu diucapkan oleh Arvine Dowson dengan bibir bergetar. Nafas buatan dari mulut ke mulut telah berulang dilakukannya, CVR terus saja dicobanya, tapi semua seperti sia-sia. Tubuh Shanique Miller tetap membujur kaku.
Arvine Dowson pun akhirnya menyerah, kalah oleh kehendak takdir. Kemudian rasa bersalah menyelimuti hatinya. Andai saja dia tak larut dalam rindunya kepada Clarissa Mae, tentu Shanique Miller bisa diselamatkannya. Andai saja Clarissa Mae tak mendesaknya untuk menikah, tentu Shanique Miller takkan dimantrainya. Andai saja Clarissa Mae tidak pernah ada, maka Shanique Miller akan hidup abadi.
"Maaf, Han ! Aku dan Rissa telah membunuhmu." matanya pun mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Siapapun yang telah mendorong kursi rodamu ke kolam ini, akan berhadapan dengan kematian. Luka untuk luka, darah untuk darah, dan nyawa untuk nyawa !" kemudian airmatanya pongah, tak sudi menetes dari mata itu. Bertahan di sana untuk kemudian hilang secara perlahan.
Begitulah cara Arvine Dowson, dendam dan airmata tidak boleh tumbuh bersama.
***
Dari balkon beranda sisi mansion keluarga Rodmeyer, dua pasang mata menatap keramaian kota, mereka sedang duduk berdua.
"Hidungmu lucu, Eddy ! Tampangmu juga jadi berantakan karena perban iu."
"Bukannya makin keren ?"
"Keren darimana ? Bengkak gitu."
"Jelek ya, Riss ?"
"Pakai banget ! Xixixixixi."
Sepanjang sore itu, Clarissa Mae meledek penampilan Edward Rodmeyer. Operasi plastik untuk mengembalikan tulang hidungnya memang berjalan sempurna, tapi untuk memulihkan wajah ganteng itu seperti semula masih butuh waktu setidaknya seminggu.
"Beneran, Eddy. Fans mu akan kabur kalau lihat tampangmu itu. Lihat deh di kaca !"
Ucapan Clarissa Mae seperti memancing keponya, Edward Rodmeyer perlahan bangkit dari kursi lalu berjalan ke arah dinding kaca di sebelahnya. Meski agak blur, mata itu masih bisa menangkap pantulan wajahnya yang masih membengkak di sana-sini.
Kemudian rahangnya mengeras, seiring bayangan wajah Arvine Dowson menjelma kian nyata di pelupuk matanya. Wajah mengejek penuh kepuasaan saat lelaki itu mematahkan hidungnya.
"Dasar bocah brengsek ! Tunggu saja pembalasanku." geramnya kian nyata oleh derit giginya yang beradu, juga oleh kepalan tangannya yang mulai membatu.
"Bocah !? Bocah siapa ?"
Clarissa Mae memang tak tahu menahu asal luka di hidung temannya itu. Ketika Edward Rodmeyer menyebut kata 'bocah' maka yang ada di pikirannya adalah Sean, anak Edward Rodmeyer sendiri. Alangkah naifnya bila ada orang tua yang menaruh dendam pada anaknya sendiri.
"Pacarnya Shasa."
Jawaban itu melegakan hati Clarissa Mae, karena kegilaan Edward Rodmeyer ternyata masih terukur dan terkendali. Tapi sekaligus membuatnya bingung, Shasa adalah pacarnya Edward Rodmeyer, masa dia melukai dirinya sendiri. Atau jangan-jangan ....
__ADS_1
"Shasa menolak kamu, Ed ?" ada nada ketawa dalam ucapan Clarissa Mae itu. Tapi berhasil disembunyikan secara sempurna di ujung kalimatnya.
"Shasa memilih untuk bersama kekasih masa remajanya. Dia menolakku karena janjinya pada bocah itu."
"Maksudnya, bocah yang melukaimu itu ?"
"Iya, Rissa ! Dia sudah mengambil Shasa dariku, lalu mematahkan hidungku. Apa ada yang salah kalau aku akan membalasnya ?"
"Waduuh ! Kebangetan tuh orang, hajar saja. Aku mendukungmu." Clarissa Mae terdengar seperti sedang memancing di air comberan.
"Asal kamu jangan bilang sama papa atau mama."
Diiiih cemen ! Dah gede masih takut sama papa-mama. Udaaah jan dibully.
"Ga mungkin lah ! Ngapain juga aku nyinyir sama mereka. Lagian, seperti apa sih tampang orang yang bisa ngalahin pesonamu, Ed ?"
"Kalian pernah ketemu, e maksudnya kamu pernah melihat dia ko, Riss."
"Masaa ... Kapan ?"
"Itu loh, pas kita lagi jenguk Shasa di rumah sakit ! Cowo yang sedang tidur di dekat si Shasa."
Deg.
Clarissa Mae terdiam. Jantungnya berhenti berdetak. Nafasnya auto stop. Semua tentangnya tiba-tiba kempis, nyaris tak terlihat. Filosofi gajah di pelupuk mata semut sedang berlaku atas dirinya. Dia tidak bisa melihat 'gajah' yang terpapar di pelupuk matanya karena jarak pandang yang terlalu dekat. Yaaa ... Clarissa Mae merasa dirinya tak bisa melihat kelakuan Arvine Dowson, karena matanya terlalu dekat, bahkan selalu dipenuhi bayangan lelaki itu.
Logika Clarissa Mae sudah tak jernih lagi, kenyataan bahwa Arvine Dowson dan Shanique Miller adalah sepasang kekasih di masa lalu memperlemah keyakinannya. "Ternyata, selama ini bukan aku yang ada di hatinya, tapi Shasa. Perempuan yang dengan rakus diciumnya kala itu." simpulnya.
Seperti yang sudah-sudah, kemudian Clarissa Mae membutakan mata, menulikan telinga. Menutup diri sepenuhnya. Dia bahkan tak sanggup lagi melihat Edward Rodmeyer mengangkat gadget, menerima lalu membuka pesan multimedia di hadapannya.
Sebuah pesan berisi hasil rekaman kamera CCTV yang terpasang di kediaman keluarga Miller. Seorang perempuan berbusana serba merah sedang mendorong pemilik rumah yang sedang terduduk di kursi roda. Kemudian melemparkannya ke dalam kolam renang seperti sampah.Tak lama berselang, seorang lelaki berlari mencoba memberi pertolongan. Semua itu tak mampu lagi dicerna oleh mata dan otak Clarissa Mae.
Bahkan saat Edward Rodmeyer memberi perintah untuk menghapus hasil rekaman itu dari server dan hard drive CCTV, Clarissa Mae tak sanggup lagi mendengar.
"Selama kamu masih mencintaiku, aku akan tetap menunggumu untuk 'pulang', Vin !" tegas dalam hati Clarissa Mae.
__ADS_1