The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 25


__ADS_3

Aku tak bisa menyalahkan langit dengan caranya mempertemukan kami, karena mereka hanya perantara. Aku pun tak berhak menyalahkan Tuhan dengan kuasanya menghancurkan mimpi Hani, karena pasti ada hikmah yang bisa aku petik, entah besok entah lusa atau bahkan mungkin perlu waktu seumur hidup ku.


Aku hanya bisa menerima kenyataan pahit ini sebagai cermin bahwa aku mesti banyak membenahi diri dan pikiranku. Semua harus kuhadapi sebagai hukuman atas dosa yang telah aku lakukan. Meskipun aku belum tahu apa dosa ku, apa kesalahan ku sehingga Tuhan memainkan kuasanya melebihi cara para tirani.


"Kau adalah batu. Kau menolak untuk hancur menjadi kepingan kerikil, serpihan pasir, atau bahkan butiran debu. Kau akan tetap bersinar walau terperosok dalam gelap-pekatnya kehidupan. Karena kau adalah berlian ku."


Itu mantra ibu ku tepat sebelum beliau 'melangkah' untuk berpulang, meninggalkan aku sebagai berlian kecilnya, hidup di dunia ini tanpa siapa-siapa. Aku tak ingin mengecewakan ibu, memupus harapannya hanya karena guratan takdir.


Aku tak sudi ditulis oleh Tuhan sebagai tokoh cengeng dalam 'novel'-Nya ! Dimana ketidaksempurnaan ku dieksploitasi menjadi dogma yang membenarkan kelemahan ku.


Seandainya aku ditulis oleh author yang novelnya berserakan di novelto*n, yang menokohkan si Autis, si introvert, si culun, si bodoh, si buta, si tuli ... perlu dikasihani atau disayangi oleh para CEO, Pangeran tajir dan rupawan untuk menjalani hidup, maka yakin lah ! Aku akan keluar dari naskah mereka ... Menghajar author-author itu dan memasukkan kepala mereka ke dalam lubang WC ! Agar mereka mengerti bahwa kekurangan dan kelebihan yang melekat pada diri seseorang adalah ibarat dua sisi mata koin.


Buat lo juga, Thor ! Jangan sampai aku keluar dari naskahmu, terus botakin rambut gimbalmu itu gegara kamu jadiin aku tokoh bucin yang sering menangis karena cewe !


Lo nantangin gw, Vin !?


Yaelah ... Emosi lo, Thor !? Kalau berani ? sini !


Lo tuh stress ! Mikirin cewe lo yang lagi mo mati ! Awokawokawok ....


Kalau sampai kamu matiin Hani ... Aku sobek-sobek naskah mu.


Sabar, Vin ! Ga gw matiin ko cewe lo.


Ya jelas ... Aku tahu ide mu, Thor ! Sama seperti author-author minimalis itu ! Tak punya kedalaman filsafat.


*B*syet dah nih bocah* !


Jangan nyerobot dialog ku dong, Thor ! Aku belum selesai ngomong.


Next !!!


Kamu mau aku nyayangin Hani, kan ? Karena Hani lumpuh, karena Hani lemah, karena Hani butuh sosok ganteng dan perkasa seperti aku ... Ya, kan ? Ya ... Kan ? Sama kamu, Thor ! Seperti author-author cemen yang lain ! Ju*h !!!


Nah lo ? Kok ....


Kita damai aja, Thor ! Bukan zaman nya lagi pakai kekerasan, musim tawuran sudah lewat ... Ganti musim semangka.


Terus ?

__ADS_1


Begini aja ... Kalau kamu tulis aku harus mencintai Hani karena dia lemah, eh maksudku, lumpuh. Maka dengan segala hormat, aku resign jadi tokoh Arvine Dowson dalam novel i--


Ah ... parah lo, Vin ! Mana ada author diatur-atur sama tokoh dalam novelnya ?


Pokoknya ... Aku tidak mau ambil bagian dalam novel yang mengeksploitasi cacat seseorang demi mencari simpati atau tetesan airmata pembaca ! Itu sama sekali tidak adil !! Dan kesannya seperti hanya ingin mencari uang.


Ini novel gw ! Terserah gw ! Mo nyari duit kek ... Mo nyari popularitas kek ... Itu urusan gw.


Setiap novel harus memiliki pesan moral yang bagus, Thor ! Apalagi portal ini portal favorit generasi muda ! Pesan moralmu harus hati-hati, jangan membuat otak 'masa depan bangsa ini' sedangkal otakmu, Thor !


Waaah ... Kacau nih ! Stress lo parah, Vin !


Ga asyik kamu, Thor ! Omonganmu miring terus.


Terserah gw, kan ? Mo miring ... Mo mojok ... Semua terserah gw !


Tapi aku tetap pada pendirianku, akan aku boikot semua novelmu dan keluar dari novel ini.


Dasar stress bin sinting lo, Vin !


Serah kamu deh, Thor ! Capek otakku ... Mending tidur !


Ogah !


*Kampr*t lo, Vin*.


Kamu yang kebangetan, Thor !


***


Author


Setelah cukup lama menyendiri di dalam kamar mandi sambil marah-marah ke gw, Arvine Dowson kembali ke kamar perawatan, mendapati kekasih sejatinya sedang tergolek koma di atas pembaringan, lengkap dengan alat bantu penopang hidup yang menempel di sekujur tubuhnya. Cantiknya pun hilang karena perban yang membebat hampir di seluruh wajahnya.


Sementara ketiga mahasiswinya tampak duduk dalam gelisah mengitarinya, Shanique Miller hanya memejam, tak merespon sedikitpun stimulus yang telah diberikan oleh para dokter. Komanya berasa titik, hampir mati bila tak segera disambung spasi.


Itu semua membenamkan ketangguhan Arvine Dowson ke dalam keletihan, bukan hanya fisiknya yang masih fatique karena misi Rinjani. Tapi juga psikisnya yang sedang didera rasa bersalah karena Clarissa Mae pasti sedang kelabakan merinduinya. Dan sepekan di dalam ruang perawatan itu seperti kerangkeng yang membuinya.


"Pssst ...!" sebuah kode dari bibir Arvine Dowson ditujukan kepada Fatimah Mahmud, agar gadis itu bergeser meninggalkan sisi kanan ranjang.

__ADS_1


Gadis itu mengerti apa yang dimau oleh Arvine Dowson, dia meninggalkan bangkunya untuk pindah ke sofa.


Beriring manik mata muak di wajah Cindi Latuconsina, Arvine Dowson meletakkan pinggangnya di bangku kosong yang ditinggalkan oleh Fatimah Mahmud.


Tak butuh waktu lama untuk membuat Arvine Dowson tepar dalam dengkur. Dia terlelap hanya sesaat setelah meletakkan tangan Shanique Miller di atas kepalanya, menopang di atas rambut lurus dan tebalnya.


Farah Isuke melihat tertidurnya Arvine Dowson seperti kejadian langka. Sudah seminggu mereka bersama, dan selama itu pula dia tak pernah melihat Arvine Dowson memejamkan mata. "Manusia aneh." bisik dalam hatinya, antara mengagumi dan mengasihani.


Lain Farah Isuke, lain pula Cindi Latuconsina. Dara ambon manise itu terlihat geram saat mendengar suara dengkur Arvine Dowson. Didekatinya secara perlahan, lalu dikibas-kibaskannya jemarinya di depan wajah Arvine Dowson, ingin mendapat kepastian bahwa cowo itu sudah benar-benar terlelap. Lalu dikepalkan jemarinya sambil mundur 2 langkah, kemudian dia melakukan shadow boxing, sebuah gaya bertinju melawan bayangan. Cindi Latuconsina seperti sedang bertanding tinju melawan bayangan Arvine Dowson tepat di belakang kepala lelaki itu.


Fatimah Mahmud menertawakan ulah sahabatnya itu, menganggapnya sebagai tindakan konyol namun menggugah syaraf tawanya yang sudah seperti mati selama seminggu.


"Pengecut, Lo !" ejek Farah Isuke, "giliran dia tidur, lo tinjuin ! Coba kalau dia bangun. Berani ga Lo !?"


"Berani ! Gini ya ... Hum. Kupukul pake kursi ini, trus ku pijak-pijak 'burung'nya kek gini, ha ! Mamp*s dia ... Wakakaka !" ulah Cindi Latuconsina makin menjadi, semua dilakukannya sedepa di belakang Arvine Dowson. Disambut gelak dan tawa oleh Fatimah Mahmud dan Farah Isuke.


Tepat di jeda antara tawa mereka bertiga, ada sebuah gerakan tipis dan pelan di rambut Arvine Dowson. Ya ... Gerakan jari Shanique Miller yang luput dari pengamatan mata tiga mahasiswi itu.


Kala gemeretak bunyi liontin jatuh ke lantai terdengar, ketiganya baru tersadar bahwa liontin itu berasal dari genggaman tangan Shanique Miller yang sudah terbuka.


"Kak Shasa--" jerit Fatimah Mahmud. Dia berlari mendekat ke arah wajah Shanique Miller, mendapati airmata mentornya itu telah merembes membasahi perban di pelipis kirinya.


Farah Isuke segera menyusul, mendekati wajah mentornya untuk menyeka bulir bening yang hampir luruh ke lereng hidung.


"Ups ! Maaf ya, Bang." spontan bibir Cindi Latuconsina meracau, kakinya menerjang pinggang Arvine Dowson yang sepertinya sedang tertidur mati. Gadis itu tergesa karena ingin segera menyentuh pipi Shanique Miller, maka kakinya menjadi kurang ajar, menerjang apa saja yang menjadi penghalangnya.


Gerakan jemari Shanique Miller makin kentara, dari yang hanya bergetar sedikit kemudian jadi meremas rambut Arvine Dowson. Lalu menjambak rambut kekasihnya itu sambil terus berlinangan aimata.


Farah Isuke melihat remasan jemari Shanique Miller dengan berurai airmata, sebagai wujud syukur pada Tuhannya karena telah mengembalikan orang yang disayanginya itu kembali ke kehidupannya.


Fatimah Mahmud lebih parah, dia menyambut kembalinya sang mentor dengan bibir menggigil sambil mengumandangkan syair-syair suci dari kitabnya, suaranya mengalun lembut hingga ke telinga gunung-gunung, menenangkan mereka yang sangar menjadi syahdu, menina-bobokkan mereka yang sedang letih. Hanya Rinjani yang menolak untuk menjadi syahdu, memilih untuk tetap meradang karena mau-nya sedang dihadang.


Tombol bell untuk memanggil dokter ditekan Cindi Latuconsina dengan telunjuk gugup berbarengan dengan suara lirih dari bibir Shanique Miller : "V..i....nn....i....e ...." suara itu berasal dari dalam tenggorokannya, terdengar sumir, tak jelas antara memanggil atau merintih, antara merindu atau membenci. Hanya jemarinya yang seolah sedang berbisik, membelai mesra rambut sang kekasih dengan sentuhan cinta dan kerinduan.


Ketika seorang dokter masuk beserta dua orang perawat di kedua sisinya. Mereka tersenyum, memanjatkan syukur atas terwujudnya sebuah keajaiban lagi. Seorang pasien dengan luka trauma berat berhasil bangkit dari koma-nya hanya dalam tempo seminggu, sebuah mukjizat !


"Jangan ! Biarkan saja ... Itu lah sumber kekuatannya." ujar dokter ketika dia melihat suster sedang berusaha melepaskan tangan Shanique Miller dari kepala Arvine Dowson.


"Lihatlah itu wahai penguasa nafas gunung-gunung. Kala semua bersyukur menyembah keagunganmu, berterimakasih atas berkah yang Kau anugerahkan pada mereka, lihatlah dengan matamu wahai Tuhan sejati ! Lihat betapa pongahnya jadah nista itu ! Dia bahkan menyambut anugerahmu hanya dengan suara dengkur !" murka Gunung Rinjani nun jauh di sana.

__ADS_1


__ADS_2