
Author.
Hari menjelang sore, Clarissa Mae melangkah perlahan untuk keluar dari rumah sakit. Pinggangnya erat dalam pelukan Faizah, hanya butuh 2 langkah lagi untuk sampai di pintu limousin yang telah terbuka, menyambut mereka.
"Mobil siapa, Bu ?" tanya Clarissa Mae. Dia menghentikan langkah, melihat mobil panjang dan mewah itu dari depan hingga belakang. Dari warna dan halus suara mesinnya, Clarissa Mae tahu bahwa hanya orang kaya yang sanggup memiliki mobil itu, dan Faizah jelas bukan salah satunya.
"Mobil teman saya, Non ! Ayo masuk."
Clarissa Mae masih enggan melangkah, dia masih mempertimbangkan menggunakan taksi untuk kembali ke kantornya. Tapi bagaimana dia bisa memanggil taksi, sedang hand phone nya saja tertinggal di meja kerjanya.
"Kita panggil taksi saja, bagaimana ?"
"Jangan, Non ! Perjalanannya jauh. Kondisimu juga masih lemas seperti ini, saya mohon ! Izinkan saya sekali saja membalas kebaikanmu."
Clarissa berdiam diri sejenak, berpikir lebih keras untuk mencari jalan tengah. Di satu sisi dia tak ingin membuat perempuan yang sudah seperti mamanya sendiri itu kecewa karena penolakannya. Tapi di sisi lain dia masih harus menenggelamkan diri dalam pekerjaannya, karena hanya dengan begitu dia bisa sedikit meredakan rasa sakit di hatinya akibat melihat kekasihnya mencium bibir perempuan lain.
"Saya tidak ingin mengusik kehidupan pribadimu, Non ! tapi saya juga tidak akan membiarkanmu menderita sakit berkepanjangan. Maka izinkanlah saya untuk merawatmu di rumah teman saya. Hanya itu permintaanku, tolong dikabulkan ya, Non !" suara Faizah terdengar ihlas dan tulus, mengharap agar Clarissa Mae bersedia diajak pulang ke rumah temannya.
Akhirnya tumbuh juga seulas senyum di bibir Clarissa Mae, dia luluh pada bujuk rayu Faizah. Mereka pun memasuki mobil mewah itu.
"Silahkan masuk, Nak Clarissa !" suara Karen Rodmeyer ramah menyambutnya. Perempuan itu telah menunggu di dalam mobil.
Merasa tak mengenal sosok perempuan yang telah menunggunya, Clarissa Mae hampir mengurungkan niatnya, sejenak mematung dengan tubuh menunduk.
"Saya Karen. Teman SMA nya Faizah."
__ADS_1
Perempuan itu tak cukup hanya bicara, tapi tangannya langsung menyentuh kening Clarissa Mae. "Faizah betul, Nak ! Kamu memang butuh beristirahat. Ini masih demam. Kebetulan kamar di rumah saya masih ada yang kosong, sepertinya cocok untuk merawatmu sampai pulih. Mau, ya ?"
Kalimat itu diucapkan oleh Karen Rodmeyer dengan tulus, kemudian diakhiri dengan senyum yang ihlas. Membuat Clarissa Mae merasa nyaman.
"Jadi merepotkan banyak ora--"
"Ngga kok, Nak ! Faizah itu sahabat terbaik saya, besprend pokoknya, jadi ga ada istilah repot merepotkan diantara kami. Terlebih kondisi Nak Clarissa ini memang sedang harus dirawat, jadi ngga usah sungkan." sela Karen Rodmeyer. Semua ucapannya membuat Clarissa Mae semakin nyaman.
Setelah menyiapkan bantal, "rebahlah di sini, Nak !" Karen Rodmeyer tersenyum lega, skenarionya telah berjalan dengan baik. Lalu makin sempurna dengan masuknya Faizah dari pintu yang lain, perempuan itu tersenyum tak kalah lega.
"Tidurlah, Nak ! Nanti mama bangunkan saat sampai di rumah." bisik Karen Rodmeyer, lalu menutup ucapannya dengan belaian lembut di kepala Clarissa Mae, membuat dara cantik itu merasa sedang dibelai oleh mamanya sendiri.
***
'KENALI DIRIMU, KENALI MUSUHMU, KENALI MEDAN PERANGMU, 1000 PEPERANGAN, 1000 KEMENANGAN.' (Sun Tzu-sang dewa perang).
150 meter jauhnya dari mansion nan megah milik konglomerat Jack Rodmeyer, membuat mobil itu aman dari sorot mata para satpam dan pengawal pribadi keluarga tersebut. Sebuah posisi yang dirasa cukup ideal untuk sebuah aksi pengintaian.
"Dengan merampas liontin kami berarti kau telah mengibarkan bendera perang kepadaku, Songong !" bisik dalam hati Arvine Dowson, rahangnya yang masih sedikit lebam perlahan mengeras, disertai suara gemeretak gigi gerahamnya saling beradu. "Kembalikan liontin itu atau iblis yang bersemayam dalam diriku ini akan menghukummu." lanjutnya dalam hati.
Dua kucing jantan akan saling berperang bila air kecing tanda wilayah kekuasaannya dikencingi oleh kucing jantan lain. Dua harimau jantan akan saling bertarung bila wilayah kawanannya berburu diusik oleh pejantan lain. Begitupun Arvine Dowson, dia akan bertarung menghadapi siapapun yang telah mengusik simbol wilayah kekuasaanya. Baginya, liontin yang dibuatnya untuk Shanique Miller adalah simbol wilayah kekuasaanya, hanya boleh ada satu pejantan di dalam hati cinta pertamanya itu, yaitu dirinya.
Kehadiran sosok Edward Rodmeyer dalam kehidupan Shanique Miller adalah ancaman bagi Arvine Dowson. Apalagi sampai merampas simbol cintanya, peperangan adalah jalan satu-satunya.
Dari golongan apapun, dari strata kehidupan sosial manapun, seorang lelaki tetaplah binatang ! Yang kadang menjadi buas dan liar saat wilayahnya diusik oleh lelaki lain. Akhir dalam sebuah pertempuran di medan laga adalah kenyataan yang harus dihadapi. Bisa menepuk dada karena menang, bisa menangis malu karena kalah, bahkan tak jarang mati bersimbah darah karena keras kepala.
__ADS_1
Setelah menunggu dengan muka manyun hampir sejam, bibir Arvine Dowson mulai tersenyum. Matanya menatap tajam ke arah mobil sedan berwarna putih yang sedang memasuki gerbang. Mobil itu kemudian berhenti di area parkir untuk tamu. Sosok berambut jagung turun dengan tergesa.
'Eyepiece' sebuah teleskop genggam segera menempel ke mata Arvine Dowson, kemudian lensanya diatur untuk mendapatkan fokus yang diinginkan.
"Helena Krysnowack, mantan istri si songong." ucap Arvine Dowson pada dirinya sendiri saat sosok perempuan berambut jagung itu memasuki pintu samping. "Bukan tamu istimewa, karena dia salah masuk pintu ! Tapi dia masih punya kepentingan dengan keluarga itu." lanjutnya.
Setelah meminum sebotol kecil air mineral, wajah Arvine Dowson kembali tersenyum. Mobil Rover model softop warna hitam memasuki gerbang, langsung disambut dua orang berseragam asisten rumah tangga.
"Hmm ... Sang bos besar ! Jack Rodmeyer." lagi, Arvine Dowson berbisik pada dirinya sendiri. "Dia pasti botak ! Karena di atas kepalanya itu adalah wig. Orang seperti mereka memang selalu butuh topeng,”
Ekspresi wajah Arvine Dowson mendadak berubah, ujung bibirnya ditarik lebih lebar, hampir menampakkan sebaris giginya. Teleskopnya menangkap gaya Jack Rodmeyer yang menurunkan pandangan kala berpapasan dengan dua asisten rumah tangga tersebut. " Hmmm ... Ternyata kau adalah lelaki baik yang gagal mewariskan kebaikanmu pada anakmu." Kagum sekaligus miris.
"Semoga perang ini tak memaksaku untuk melukai hatimu, Jack !"
Ada gurat getir dalam desah itu. Sambil memejamkan mata, Arvine Dowson meletakkan teleskop ke atas dustboard mobilnya lalu menengadahkan wajah. Berharap agar Tuhan menerima desahnya itu sebagai doa. Dia tak ingin menyakiti siapapun selain musuhnya.
Ketika limousin hitam pekat memasuki gerbang, Arvine Dowson tergagap. Buru-buru dipasangnya 'eyepiece' teleskop ke matanya. Dia benar-benar tak ingin kehilangan sedikitpun informasi tentang latar belakang kehidupan musuhnya.
Limousin itu berhenti tepat di depan pintu utama, hanya beberapa menit setelah Jack Rodmeyer melewatinya. Dua orang perempuan dengan seragam asisten rumah tangga segera menyambutnya, membuka pintunya lalu menunduk memberi salam.
Seorang wanita dengan pakaian modis ala artis keluar dari sisi kiri. "Hmm ... sang mama, Karen Rodmeyer." simpul Arvine Dowson dalam hati. "Dan siapakah kamu orang berhijab ? Kenapa aku seperti pernah melihat wajah mu ?" bisiknya pada angin.
Saat teleskop itu hampir fokus pada wajah sosok berhijab, entah kenapa tiba-tiba pemegangnya menariknya mundur. Mengarahkannya kembali ke sisi kiri, dimana seorang dengan rambut panjang lurus nan hitam yang diikat ke belakang tiba-tiba manguasainya. Blazer warna tosca, celana kain panjang dengan warna yang sama, sepatu itu ! seharusnya milik ....
"RISSA !?" pekik Arvine Dowson. Hanya itu yang sanggup ia teriakkan, kemudian mulutnya terkunci, hatinya terdiam, otaknya kelu. Hanya matanya yang tak berhenti menari, mengikuti tiap langkah dan senyum Clarissa Mae. Matanya memang tak tahu diri, terus menari dan menari, menjamu kerinduannya di saat seharusnya miris oleh kenyataan bahwa sang kekasih tengah berada dalam genggaman sang musuh.
__ADS_1
Ternyata, rindu masih setingkat lebih tinggi dari sebuah kebencian.