
... Mundur selangkah dengan kaki goyah, sempoyongan dan hampir terjatuh.
Arvine Dowson bergerak cepat, meraih pundak lalu merengkuh punggung adik iparnya itu. Terkesan seperti sedang memeluk.
"Jangan sentuh kulitku !" Teriak Raquella, "jangan pernah !!"
Takut membuat malu, Arvine Dowson tetap menahan punggung Raquella dengan sebelah tangannya.
'PLAAAAK' sebuah tamparan mendarat telak di pipi kirinya. Memaksa Arvine Dowson melepas tangannya dari punggung Raquella sambil menebar senyum sanglir. Senyum antara malu dan berusaha bersabar.
Tamu undangan pun mulai merangsek, bergerak mendekati keributan di atas gazebo yang seharusnya sakral itu. Tentu agar mereka bisa leluasa mendengar dan melihat apa yang sesungguhnya terjadi.
3 orang satpam segera menerobos, mereka berusaha untuk mengamankan Raquella Mae agar tidak menimbulkan kekacauan lebih lanjut.
"Pak, jangan pernah sentuh adek saya !" ganti Clarissa yang bicara, meski dengan suara kalem, tapi mata nya tajam dan alisnya seperti hendak menyatu. Mereka tahu apa maksud Clarissa memasang muka seperti itu, membuat ketiga satpam itu beringsut mundur.
Bertumpu pada motornya, Raquella berusaha menegakkan badannya. Lalu membenahi jaket jeans ala cowboy yang membalut kaos o-blonk double oversize nya. Dan kaki panjangnya di bekap rip jeans khas anak band slengean. Sebelah sepatu boot kulit ala rocker segera nangkring di footstep motor nya, dia berkacak pinggang.
"Well, Kakakku yang cantik ! Selamat atas pernikahanmu." ucap Raquella, dia menunduk sebentar hanya untuk kembali tegak sambil mengibaskan rambut panjangnya yang berwarna biru kekuningan.
"Terimakasih, Dek !" balas Clarissa. Dia ingin segera memeluk adik satu-satunya itu, maka dia menghamburkan tubuh sambil membentang kedua tangannya.
"Ups ! It's not done yet." alih Raquella, dia menepis pelukan kakaknya. " Gw belum selesai ngomong !" lanjutnya dengan senyum sinis.
"Apalagi sih, Dek ?" polos Clarissa bertanya.
"Gw ga bisa menerima pernikahan ini !"
"Kenapa ?"
"Karena lo ga berhak memiliki Vinnie."
Jawaban yang keluar dari mulut adiknya itu membuat Clarissa kebingungan. Dia dan Arvine Dowson telah berpacaran lebih dari 4 tahun, dan selama 4 tahun itu tak pernah ada kecurangan yang dia lakukan yang layak disebut dengan frasa 'tidak pantas' atau 'tidak berhak'. Setianya Clarissa hanya untuk Arvine Dowson.
Terpaksa Clarissa mencari tahu, walau mungkin saja jawaban Raquella akan mengumbar aib di hadapan 6000 orang.
"Kenapa ? Kenapa aku ga berhak atas diri suamiku ?" nekat Clarissa.
__ADS_1
"Seserhana, Kak !" Balas Raquella lebih sinis.
"Iya ... Kenapa, Dek ?"
"Karena gw yang lebih berhak !"
Sejurus Clarissa terdiam. Dia menatap mata adiknya dalam-dalam, mencari adanya kemungkinan bahwa Raquella melakukan prank. Tapi tidak, mata gadis tomboy itu berkaca-kaca saat mengatakan alasan keberatannya. Clarissa mulai ragu pada dirinya sendiri. Tapi ....
"Aku mencintai Vinnie, Kak !"
Ucapan Raquella menjelaskan segalanya, sang adik sedang meminta kebahagiaannya, mengambil alih mimpinya, membuat Clarissa tak mampu berbuat apa-apa. Dalam benaknya mulai terbersit pertanyaan-pertanyaan, haruskah dia terus mengalah ? Memberikan semua yang dimilikinya kepada satu-satunya manusia yang sedarah dengannya ? Mengorbankan cinta atas nama cinta ? Sebuah elegi yang mulai meremukkan batin Clarissa.
"Kami saling mencintai, Kak !" lanjut Raquella.
"Vinnie !?" heran Clarissa, lalu matanya menatap sendu wajah suaminya.
"Lihatlah dia, Rissa !" jawab Arvine Dowson. "Dia sedang teler, omongannya ngaco."
Satu persatu kerumunan undangan mulai beringsut. Menjauhi gazebo dengan rasa empati mendalam kepada Clarissa.
"Itu karena Vinnie menyayangi lo, tapi mencintai orang lain." sejenak Raquella terdiam, dia mulai merasa mual. "Kasih gw air mineral !" bentaknya pada seorang waitress.
"Gw orangnya, Kakak ! Vinnie mencintai gw seperti gw mencintai Vinnie." lanjutnya.
"Terus apa hubungan antara virginnya gw sama perasaannya Vinnie ?" tanya Clarissa.
"Yaelah Kak ! Naif amat Lo jadi orang." ucapan Raquella terhenti beberapa saat, karena tangannya sibuk menerima sebotol besar air mineral yang kemudian dia siramkan ke kepalanya sendiri, membasahi rambut, wajah, bahkan jaket dan celananya.
"Vinnie menolak 'menyentuh' lo, tapi dia merampas keperawanan gw ! Apa artinya itu jika bukan dia lebih cinta ke gw dibanding ke lo ?"
'PLAAAAK !!!' tamparan Clarissa membuat bibir Raquella sedikit berdarah. Sebuah tamparan yang mewakili keterkejutannya atas pengakuan sang adik.
Walau mungkin pengakuan itu benar, tapi tak seharusnya disampaikan didepan semua tamu undangan. Dan Clarissa tidak percaya bahwa suaminya melakukan kekejian itu terhadap adik semata wayangnya.
Ketika pesing bau alkohol menyeruak dari nafas Raquella, rasa sesal segera menyelimuti batin Clarissa, dia yang selama 20 tahun bisa bersabar menghadapi kenakalan Adiknya, saat itu akhirnya gerah juga. Tapi tamparan hingga membuat bibir adiknya berdarah itu adalah hal yang dianggapnya berlebihan, terlebih yang melakukannya adalah tangannya sendiri.
"Sakiiit, Kak !" rintih Raquella.
__ADS_1
"Maaf--" tak diteruskannya ucapannya, tangan gugupnya segera menyeka darah di bibir adiknya.
"Kamu boleh pilih ! Percaya sama saya atau sama adik mabokmu itu." tegas Arvine Dowson. Dia menolak untuk terlibat terlalu jauh dalam polemik hati dua perempuan yang juga masih sedarah itu. Karena menurutnya, hati bukanlah untuk diperebutkan, melainkan untuk diselaraskan.
Clarissa tak menjawab, dia memilih untuk memeluk tubuh Raquella seerat mungkin. Baginya yang terpenting adalah kebahagiaan adiknya itu. Terbayang dalam ingatannya betapa jerit dan lolongan tangis adik kecilnya itu saat orang tua mereka tutup usia, dia masih terlalu kecil untuk menjalani hidup tanpa kedua orang tua.
"Raquella, katakan apa yang bisa membuatmu bahagia ... Demi Tuhan akan gw berikan !" Bisik Clarissa.
"Maaf, Kak ! Hanya Vinnie yang bisa membuatku tertidur tanpa bermimpi tentang kecelakaan itu." balas Raquella, airmatanya mulai mengalir membasahi gaun pengantin Clarissa.
"Seandainya lo datang lebih cepat, tak mungkin semua ini terjadi. Secepatnya akan gw 'lepas' Vinnie untuk--"
"TIDAK !" Seru Arvine Dowson memotong ucapan Clarissa. "Aku tak akan pernah memadamkan bara cinta ku kepadamu hanya karena keinginanmu untuk memanjakan adikmu itu."
"Vinnie !" geram Clarissa.
"Tidak akan pernah !" balas Arvine Dowson.
"Tapi--"
"Raquella sudah dewasa, Sayang ! Sudah saatnya bagi dia untuk menerima kenyataan bahwa dunia tidak berputar hanya di atas kepala nya." jelas Arvine Dowson.
"Lo nolak gw setelah apa yang lo lakukan ke gw ?" Raquella murka, dia melepas pelukan Clarissa lalu menyerang Arvine Dowson dengan kalap. "Lo punya otak, ga sih ?" tanyanya sembari melancarkan pukulan dan tamparan bertubi-tubi.
Kali itu Arvine Dowson menolak untuk menghindar, ditangkapnya kedua tangan Raquella kemudian diringkusnya meski tak terlalu erat.
"Semua yang terjadi di antara kita, itu sama sekali tak berarti bagiku." ucap Arvine Dowson. "Jangan pernah berpikir aku akan mencintai gadis manja sepertimu ! Bahkan di alam hayalmu."
"Lepaskan Raquella, Vin ! Please." jerit Clarissa.
Semua tamu undangan sontak menjauh, bahkan para tamu dari jepang pun turut menghindar. Mereka sepertinya sudah tahu bahwa akan ada tragedi dalam pesta itu.
Demi Clarissa, Arvine Dowson rela melepas ringkusannya pada lengan Raquella, meski firasatnya menyatakan bahwa tindakannya itu akan makin memperuncing keadaan.
Dan firasat itu tidak salah, hanya dalam 3 langkah ke belakang, Raquella menyibak jaketnya, kemudian menarik sepucuk pistol jenis FN dari pinggangnya, lalu bunyi 'klik' terdengar saat gadis itu membuka kunci pengamannya.
"Raquella ... NO !" teriak Clarissa, dia histeris sambil berlutut, kemudian terduduk merunduk.
__ADS_1