The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 23


__ADS_3

Dengan cardigan warna merah fuscha yang menutup gaun berlengan sebahu, Clarissa Mae tampak sangat sederhana, sepatunya pun hanya pantofel ber-heel rendah. Sama sekali tak mencerminkan sosoknya sebagai seorang pemilik sebuah perusahaan elit di bidang otomotif. Atau mungkin dia sengaja ingin tampil 'low profile' di hadapan Edward Rodmeyer.


Walau hanya berdandan ala kadarnya, tapi pembawaan luwesnya dan cara bicaranya yang sopan serta cara bibirnya tersenyum mengesankan bahwa dia adalah perempuan terdidik. Tapi itu belum cukup bagi beberapa pasang mata perempuan lain di sekitar mejanya, mereka melirik ke arah Clarissa Mae dengan pandangan sinis. Bahkan beberapa diantaranya saling berbisik menggunjing ketidaklayakan Clarissa Mae untuk duduk semeja dengan Edwad Rodmeyer, karena sang lelaki dalam setelan lengkap dengan busana hasil rancangan Jack Spickl*us.


"Wow ... You look so Rodmeyer, Eddy !" ledek Clarissa Mae pada penampilan sempurna lelaki di hadapannya.


"Penampilanmu juga tak terlalu buruk untuk seorang pendatang yang baru tiba di kota ini tadi sore."


"Ayolah, Eddy ! Jangan terlalu menebar pesona. Aku takut patah hati."


"Ha ha ha ha ... Nona pintar bercanda."


"By the way ... Bagaimana kabar putramu ?"


"Huft ...." Edward Rodmeyer menghela nafas berat kemudian menghembuskannya secara perlahan. "Sean susah dikendalikan." eluhnya kemudian.


"Dia butuh figur seorang ibu." celetuk Clarissa Mae datar.


"Karena itu aku butuh campur tangan seorang ibu pengasuh panti bernama Faizah ... Ha ha ha ha !"


"Hadew ...." eluh Clarissa Mae. "Bu Faizah itu sudah kuanggap seperti ibu kandungku sendiri, Eddy ! Jangan diperolok terus."


Percakapan mereka terhenti oleh kehadiran seorang pelayan yang mengantar hidangan di meja mereka.


"No ! Just water, please." sergah Clarissa Mae saat pelayan itu bermaksud membuka segel sebotol 'Campaign'. Edward Rodmeyer pun ikutan menolak minuman itu dituang di gelasnya.


"Aku tak memperoloknya." ujar Edward Rodmeyer sepeningal pelayan dari sisi meja mereka.


"Ha ha ha ha ... Eddy ... Eddy ! Kon itu terkenal loh." balas Clarissa Mae menggunakan dialek jawa timuran.


Memancing tawa Edward Rodmeyer makin keras.


"Darimana kamu belajar dialek itu ?" tanyanya di sela-sela bahaknya.


"Aku ini keturunan cina surabaya loh ! Papaku ngomongnya 'arek'. Mama paling sebel kalau papa ngomong gitu. Tapi mereka telah lama meninggalkan kami, menghadap Tuhan." jawab Clarissa Mae, wajahnya mulai redup, binar di matanya mulai surut seiring ingatannya yang melayang kembali pada kebandelan Raquella. Dia merasa tak cukup baik menggantikan peran orangtuanya untuk sang adik.


Edward Rodmeyer melihat perubahan 'mood' Clarissa Mae dengan tatapan serius, menghentikan tawanya, menggantinya dengan sodoran setangkai mawar putih ke depan Clarissa Mae.


"Hey !" kejut Clarissa Mae, membuat mata nya sedikit mengerlingkan sinar. "Bikin gw susah tidur aja Lo, Eddy !" lanjut kelakarnya.


Itu membuat Edward Rodmeyer lega, dia mampu membalikkan 'mood' Clarissa Mae hanya dengan sekuntum mawar putih yang nilai nominalnya tak seberapa, tapi memiliki nilai filosofis yang sangat berharga. Itu artinya, perempuan yang sedang duduk dihadapannya itu lebih memilih hati daripada kemewahan, perempuan seperti itu yang sedang diinginkannya untuk membimbing Sean Rodmeyer.


"Jujur ... Saya harus mengakui ketajaman mata bu Faizah dalam menakar karakter seseorang. Nona Clarissa memiliki kwalitas yang lebih dari cukup untuk membimbing anak saya." ucap Edward Rodmeyer dengan suara berat.


"Kehidupan berumah tangga tak mungkin hanya dilandaskan pada pemuasan atas satu aspek, Sean misalnya. Tapi harus juga untuk pemuasan aspek lain, kamu sendiri misalnya, atau calon istrimu. Semua harus terpuaskan ! Baru lah sebuah rumahtangga bisa berdiri kokoh, tak gampang ambruk walau diguncang badai ujian."


"Idealisme seperti itu akan sulit terwujud."


"Hehehehe ... Kabarnya Sean dan daddy-nya sedang 'jatuh cinta' pada seorang penulis top, benar begitu ?" selidik Clarissa Mae, senyum alay telah disunggingkan di bibirnya untuk memojokkan lawan bicaranya.


"Wakakaka ... Ternyata anda adalah pembaca tabloid kuning juga." alih Edward Rodmeyer.

__ADS_1


"Itu hoax atau kenyataan ?"


Pertanyaan Clarissa Mae itu menyudutkan Edward Rodmeyer. Dia tak mampu lagi berkelit. Memaksanya untuk kembali bermuka datar, wajah serius.


"Itulah alasan Sean untuk menolak ajakan ku makan malam bersama kita. Dia ingin selalu bersama Shasa." celetuk lelaki itu dengan muka masam.


"Kabarnya, saat ini dia sedang terbaring di rumah sakit karena kecelakaan lalulintas.”


"Kabarnya ?" sergah Clarissa Mae. Kedua alis matanya hampir beradu. "Kamu belum menjenguk !?"


"Aku nih serba salah ! Sean sudah terlalu dekat kepada Shasa, bahkan anakku itu sudah bergantung padanya. Sementara hubungan kami masih jauh dari kata asmara." Edward Rodmeyer kembali menghela nafas beratnya. Mengatur ekspresi wajahnya agar bisa terlihat lebih santai.


"Bila dibiarkan, Sean akan semakin bergantung padanya seperti bergantungnya dia pada sosok seorang ibu, lalu tiba-tiba Shasa menolak aku dan menikah dengan lelaki lain ... Kan berabe jadinya !"


"Xixixixixi ...." Clarissa Mae tertawa cekikikan, "mana ada perempuan yang sanggup menepis pesonamu, Eddy !? Look at You !" lanjutnya sambil mengusap sedikit noda minyak di sudut bibirnya.


"Beneran !"


"Dia menolakmu ?"


"Menolak sih, belum ! Tapi dia selalu menghindar."


"Sudah diuji ?" tanya Clarissa Mae dengan sedikit centil.


"Diuji bagaimana ?" kejar Edward Rodmeyer. Dia meletakkan pisau makan di tepi piringnya, bersiap mendengar penjelasan dari Clarissa Mae.


"Diuji kadar cemburunya. Ada sebagian perempuan yang sulit mendefinisikan perasaannya. Mereka kesulitan untuk membedakan mana rasa simpati kepada teman dan mana rasa cinta. Sampai suatu ketika, mereka merasa ditinggalkan oleh partnernya, mereka akan belajar untuk membedakan apakah yang dirasakan itu perasaan kehilangan atau cemburu. Ya ... Setidaknya itu yang pernah aku alami."


"Eddy !? Lo ini gimana, sih ??" kesal Clarissa Mae.


"Aku belum pernah ditolak, Broo !"


Kali itu Clarissa Mae yang menghela nafas beratnya. Dia baru teringat bahwa yang sedang duduk di hadapannya adalah Edward Rodmeyer, sosok paling ga mungkin untuk ditolak oleh seorang perempuan.


"Coba deh ? Kamu membawa seorang perempuan yang kualitasnya setara atau mungkin lebih baik darinya, trus kamu perkenalkan dia sebagai salah satu kandidat pesaingnya. Kalau dia cemburu lalu mengejarmu, berarti dia cinta. Kalau dia cuek, berarti Sean harus segera kau jauhkan darinya."


"Trus siapa cewe yang mesti ku bawa ?" kejar Edward Rodmeyer, kali itu sambil cengar-cengir.


"Ya Tuhan ... Eddy !" suara Clarissa Mae terdengar mulai geram. Tapi lelaki di depannya itu malah cuek, lalu mengangkat gadgetnya.


"iya, Pa ! Saya akan segera kesana." jawabnya pada gadget di telinganya. "Hihihi .... Sean ngamuk di rumah oppa-oma nya." lanjutnya sambil makin cengengesan, "gegara minta diantar ke rumah sakit."


"Yaudah ... Yuk balik !" seru Clarissa Mae.


"Kamu ikut mobilku saja, kita searah kok !"


"Hiya ... Ayo ah ! Mau tidur gw ... Capek." ucap Clarissa Mae buru-buru. Ada rasa syukur di dalam hatinya, karena pada hari pertamanya di Surabaya, Tuhannya sudah mengirimkan seorang teman yang bisa diandalkan. "Terimakasih, Bu Faizah !" bisik dalam benaknya.


***


Raquella Mae memasuki kantornya dengan dagu terangkat, jaket kulit warna hitam membalut tubuh bongsornya, terkancing hanya sebatas perut. Belahan dadanya nyaris terbuka, karena T-shirt triple oversize O-neck nya dibiarkan kedodoran sampai bagian terendah bra-nya. Pinggang hingga mata kakinya terbungkus rapejins ketat, berujung dengan boot hitam setinggi betis sebagai alas kakinya.

__ADS_1


Di hari pertamanya memimpin perusahaan, dia bergaya ala gangster Amerika--the Banditos, lengkap dengan motor gede dan kaca mata hitamnya. Hanya kurang tatto saja, Raquella Mae tak berani mentatto kulitnya karena sang kakak--Raquella Mae bisa sangat berang lalu menghukumnya !


"Selamat pagi, Bu !" sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengannya.


"Pagi !" dingin Raquella Mae menimpali sambil terus saja melangkah menuju lift khusus manajer.


Sementara para karyawannya segera bergerombol pada beberapa sudut meja. Mereka bergumam pelan, berbisik lembut sambil menutupi bibir mereka dengan jemari. Menggunjing penampilan 'angker' bos baru mereka.


Raquella Mae tak perduli, sosoknya hari itu ibarat badai di kantornya. Siap menghantam siapa saja yang tidak mau diajaknya bekerjasama. Menambahkan kesan angker di kantor yang sebelumnya sudah terkesan mistis itu.


Di dalam kantor itu memang tak pernah ada 'tawa', tak pernah hadir 'seloroh', karena boss mereka sebelumnya--Clarissa Mae bukanlah sosok 'pelawak'. Dia hanya berbicara sebatas perlu saja, dengan sedikit senyum.


Selepas dari pintu lift, Raquella Mae langsung memasuki ruangan Direktur Utama.


"Mbak, kumpulkan semua anggota dewan direksi !" serunya pada asisten pribadinya. Lalu duduk di belakang meja Direktur Utama, kaki diangkatnya ke atas meja, berselonjor pongah.


Tangannya lalu memainkan gadget.


"Brengsek !" teriaknya pada gadget.


Membuat perempuan paruh baya yang sudah 4 tahun lebih bekerja sebagai asisten pribadi Clarissa Mae itu tersentak kaget, lalu buru-buru meninggalkan ruang.


Mata Raquella Mae nanar, nafasnya mulai tak berirama, wajahnya memerah. Gadget di tangannya memunculkan video tentang Arvine Dowson yang sedang bertarung melawan maut saat menyelamatkan seorang pengemudi dari ledakan bangkai mobilnya.


Bukan aksi lelaki itu yang membuatnya gelisah, karena dia tahu bahwa Arvine Dowson takkan mudah dibinasakan, Raquella Mae fokus pada setting video itu.


"Pantesan Lo suruh gw ngurusin kantor ini ! Rupanya kakak ke surabaya untuk menemui Vinnie." geramnya saat menyadari bahwa setting vlog itu adalah di kota Surabaya.


"Trus Lo yakin bakalan bisa dapetin Vinnie lagi, Kak ? Ini gw, Kak ! Raquella ... Selalu bersiap dengan senjata pamungkas untuk memasuki peperangan." ucapnya pada diri sendiri.


"Hallo ... Mas Bram !" sapanya pada gambar lelaki di layar video call-nya. Buru-buru dipasangkannya headset ke telinganya.


"Tolong sampah editing di misi rinjani dikirim ke nomerku ya, Mas !" lanjut Raquella Mae.


"Benar, Mas ! Scene yang di puncak bukit itu." jelasnya lagi.


"Nggak lah, Mas ! Masa adegan mesum kek gitu gw publish sendiri ... Malu lah ! Pokoknya Mas Bram percaya deh sama Quella ! Scene itu bakal gw jadiin kenangan terindah dalam hidupku ... Konsumsi pribadi kok, Mas !" rayunya lagi.


"Okay ... Thatha Mas Bram ! Makasih ya ...." tutup Raquella Mae dengan binar mata penuh kemenangan.


Ketika beberapa bapak-bapak memasuki ruangannya, Raquella Mae dengan santai berkata : "Bapak-bapak silahkan kembali ke meja masing-masing. Rapat tidak jadi dilaksanakan hari ini." membuat asisten pribadinya berdiri kelu sambil menggaruk kepala.


"Dan tugas untukmu hari ini adalah menyiapkan akomodasi untuk perjalananku ke Surabaya, sama persis seperti akomodasi untuk kak Clarissa, terutama hotel tempatnya menginap." kata Raquella Mae kepada Asisten Pribadinya.


"Hotelnya full, Bu ! Tiket pesawatnya sebentar, saya cek dulu."


"Harus bisa ! Hari ini juga saya harus berada di Surabaya."


"Tapi, Bu !"


"Ga usah banyak alasan ! Gw bilang sekarang ya ... Sekarang !" murka Raquella Mae. Dia merasa telah dibohongi oleh Clarissa Mae.

__ADS_1


__ADS_2