
Bukan karena sakit gigi, mereka manyun. Juga bukan karena bisul, mereka tak bisa duduk. Langkah mereka tak jelas arahnya, berputar-putar di beranda depan. Farah Isuke dan Cindi Latuconsina memang sedang menuruti kehendak kaki mereka, walau mereka sadar bahwa langkah itu tak kan bisa membawa sang mentor kembali pulang.
"Duduk woy ! Langkah kalian itu membuat kepalaku makin pusing, tau ga ?" pinta Fatimah Mahmud. Dia yang sedari tadi memilih untuk duduk di sudut lantai kemudian menyandarkan punggungnya ke pilar dinding. Matanya sayu menyapu gerbang, berharap ada mobil yang tiba-tiba mengantar pulang Shanique Miller. Sudah 3 hari terhitung sejak mereka terakhir bertemu.
Kedua sahabatnya tak perduli, mereka tetap nelanjutkan ritual jalan resahnya, menganggap permintaan Fatimah Mahmud sebagai suara camar yang sedang frustrasi.
"Farah ... Cindi ...! Pusing kepalaku lihat tingkah kalian." ulangnya dengan geram.
"Beta juga pusing, Fat !" balas Cindi Latuconsina dengan nada lebih tinggi. "Kalau mau mu duduk, ya duduk saja ! Jangan main paksa-paksa."
Setelah melirik sejenak, Farah Isuke melanjutkan ritualnya, kali itu bahkan lebih jauh. Melangkah memasuki rumput taman sambil mengamati jejak roda mobil yang tertanam di sana. Bibirnya mendesis, tak tahu mesti berbuat apa.
Seandainya dia adalah detektif hebat seperti dalam novel novel misteri, tentu Farah Isuke akan nenemukan petunjuk untuk menemukan keberadaan mentornya. Tapi apa mau dikata, dia hanya seorang mahasiswi jurusan sastra, tak banyak yang bisa disimpulkannya.
Pandangannya sontak teralih ke pintu gerbang, begitu juga Fatimah Mahmud da Cindi Latuconsina. Mata mereka seperti dalam satu komando, berbarengan menatap ke arah sebuah mobil jenis SUV yang perlahan melewati pagar. Mobil baru, mereka tak bisa mengira siapa pengemudinya.
Dalam hati mereka sedang berharap mobil itu membawa serta Shanique Miller, suatu keajaiban yang sedang mereka nantikan.
Saat sosok pemuda sebaya mereka terlihat keluar dari pintu mobil, mereka serempak mendengus, lemas dengan gaya berbeda. Fatimah Mahmud yang paling kecewa, dengus nafasnya terdengar seperti sedang menyumpahi.
"Cewek ... Bagi senyum, dong !" kelakar pemuda itu. Seperti biasa, senyumnya mengembang, terutama saat memandang ke arah Fatimah Mahmud. Tapi tak ada yang menjawab.
"Huuuuu ... pada Manyun, kek bebek kehilangan induk !"
"Iya ! Kami memang sedang kehilangan induk, masalah buat Lo !?" suara Cindi Latuconsina terkesan menantang, mood-nya memang sedang tidak 'wellcome' kepada semua tamu. Yang dia mau hanya Shanique Miller, dosen sekaligus mentor mereka.
Meski geram, pemuda itu sepertinya bisa memaklumi ucapan kasar yang keluar bibir Cindi Latuconsina. Dia datang juga bukan untuk mengobok-obok di air dangkal, dia sedang membawa 'tawas' untuk menjernihkan suasana, walau mungkin tak terlalu bermakna.
Meski tak sedang dilihat oleh Fatimah Mahmud, pemuda itu tetap tersenyum. Lau, "Jalan yuk, Yang !" bisik pemuda itu, suaranya pelan dan terkesan sangat santun.
"Mau jalan kemana sih, Steve ? Kepalaku sedang pusing mikirin nasib kak Shasa, ck !" decak di akhir ucapan Fatimah Mahmud sebenarnya sudah menjelaskan keberatannya. Tapi Steve Rodmeyer tak mudah menyerah, dia memilih untuk duduk di sisi gadis pujaan hatinya itu.
"Kita ke Mall, refreshing, siapa tahu bisa ketemu bu Shasa di sana. Sebentar lagi malam minggu, lho ! Pasti ramai, cocok untuk hilangin suntuk."
__ADS_1
"Lagi males, Steve ! Maaf, lain kali aja ya ?"
"Sayang, coba dipikir deh ! Bu Shasa tidak akan bisa kembali dengan kesedihanmu. Ya meskipun aku juga tahu bahwa kesedihanmu adalah wujud dari rasa kehilanganmu, tapi sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk terus bersedih. Kita butuh pikiran positif, sebuah optimisme, untuk mencoba dan terus mencoba mencari keberadaan bu Shasa."
Fatimah tak menjawab. Gadis itu tetap bungkam sambil lalu menunduk, berusaha menyembunyikan wajah ke sela dua lututnya.
"Kamu ga boleh terus-terusan begini. Aku yakin bu Shasa belum meninggal, dia sedang bersama dengan orang yang berusaha menyelamatkannya. Bu Shasa ga punya musuh ... beliau orang yang baik. Tuhan pasti menjaganya."
Mendengar kata 'meninggal' yang barusan diucapkan oleh Steve Rodmeyer, tubuh Fatimah Mahmud perlahan bergetar, hijab di kepalanya pun seperti bergelombang. Kemudian isaknya terdengar.
Isak tangis itu membuat Steve Rodmeyer terkejut, dia berniat untuk meguatkan, bukan untuk membuat Fatimah Mahmud makin lemah.
"Jangan nangis, Sayang ! Kamu harus tetap optimis."
"Apa-apaan sih, Lo !" tiba-tiba saja tangan Cindi Latuconsina sudah mendorong bahu Steve Rodmeyer, membuat pemuda itu hampir terjengkang menyamping. "Panggil-panggil 'sayang' segala ! Memang kalian sudah jadian ?"
Tersinggung atas sikap kasar Cindi Latuconsina, wajah Steve Rodmeyer terlihat gerah, kemudian berdiri perlahan untuk menjauh. Dia sadar bahwa apa yang diucapkannya kontraproduktif dengan niatnya.
"Biarkan Steve bicara, dia benar ! Semua perkataannya benar. Kita yang bodoh ... Wuuuu ... huuu ...." tangis Fatimah Mahmud pecah tak terbendung. Kepalanya terangkat membawa buliran airmata, dia menangis tersedu, kemudian luruh ke dalam pelukan Cindi Latuconsina.
Tak mau larut dalam drama, Farah Isuke membuka pintu mobil. Matanya menemukan sosok mungil Sean Rodmeyer sedang tertawa ke arahnya.
"Hai Sean ! Bagaimana kabar mister cacing dalam perutmu ?" sengaja dikeraskan suaranya, agar drama tangis di beranda segera berakhir.
"Sean tidak punya cacing, ini susu dan roti." jawab Sean Rodmeyer, logat cadelnya masih utuh.
"Sini ! Naik punggung tante, kita main kuda lumping ... hihihihi."
"Asyiiiik ...." hanya itu yang diucapkan oleh pangeran kecil 'The Rodmeyer's'. Selanjutnya dia menaiki punggung Farah Isuke, kemudian tertawa lepas seperti biasa.
Dan benar saja perkiraan Fara Isuke, tawa Sean Rodmeyer menyita perhatian Fatimah Mahmud, menghentikan tangisnya, lalu melepaskan pelukan Cindi Latuconsina.
"Kamu bawa Sean ?" meski sengau, setidaknya suara itu telah mengganti tangisnya. Malu-malu, Fatimah Mahmud melihat ke arah Steve Rodmeyer.
__ADS_1
"Kasihan Sean ! sejak bu Shasa kecelakaan, dia hanya bisa main di rumah. Makanya kalau kamu mau, kita ajak Sean rame-rame main di Mall. Bukan untuk bersenang-senang, hanya sekedar menumbuhkan pikiran positif saja ... yaaa ... sampai setingkat optimis lah. Gimana ?"
"Isshhhhhh ... skill baru ! rayuan maut ... wkwkwkwk." nyinyir Cindi Latuconsina. Menarik perhatian Steve Rodmeyer yang kemudian terlihat malu-malu.
"Bagaimana, jadi ga ?" ulang Steve Rodmeyer, kali itu dengan tatapan yang lebih serius kepada Fatimah Mahmud.
"Boleh !" pelan dan cepat, jawaban itu nyaris tak terdengar.
"Huh !?" Steve Rodmeyer ingin mendengar jawaban yang keluar dari bibir Fatimah Mahmud sekali lagi. Itu moment bersejarah, perlu didirikan tugu peringatan ! Baru sekali itu lah Fatimah Mahmud bersedia menerima ajakannya.
"Iya, Steve ! Saya mau." meski pelan namun jelas dan disertai senyum yang tak lagi malu-malu.
Farah Isuke, Cindi Latuconsina, dan tentu saja Steve Rodmeyer sangat terkejut mendengar jawaban yang tak biasa itu. Tapi mereka berhasil menutupinya dengan sedikit senyum, tanpa berkomentar.
"Brugh !" Dari arah dalam, pintu mobil dihentak sedikit kasar, Farah Isuke dan Cindi Latuconsina serta Sean Rodmeyer telah berada di dalam, di bangku tengah.
Steve Rodmeyer sedikit mengangkat handle pintu depan, "ceklek." senyumnya menguar, mempersilahkan Fatimah Mahmud untuk duduk di bangku depan. Lalu beranjak menuju pintu sebelah kanan.
"Steve ...!"
Pemuda itu berhenti melangkah. Mulai ada resah dalam hatinya. Hawatir bila Fatimah Mahmud berubah pikiran. Apalagi saat Gadis itu melangkah mendekatinya.
"Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama, jawabku : iya ... aku, Fatimah Mahmud bintu Ali Mahmud, menerima uluran tali taarufmu."
Makan lobster ! Steve Rodmeyer berasa sedang menyantap hidangan mewah itu. Nikmat itu bukan di lidah atau di matanya, puasnya itu di hatinya. Bangga, lega, bahkan mengangkasa !
Thanks, Lord !
Steve Rodmeyer belum menginjak bumi. Bahkan ketika Fatimah Mahmud sudah duduk di dalam mobil, anak bungsu keluarga Rodmeyer itu masih memainkan sayap-sayapnya yang mengembang karena hembusan angin surga.
"Woooy, kamvret ! Jan lebay ... baru juga pacaran."
Teriakan Cindi Latuconsina itu seperti gravitasi, memaksanya membumi. Tapi dia tak terima, maka melompatlah Steve Rodmeyer, sekali lagi untuk tetap mengudara. Tinjunya menengadah, "Yeaaaah !" teriaknya.
__ADS_1
"Om steve gila." celoteh bibir kecil Sean Rodmeyer tiba-tiba.
"Otomatis ! Hahahahaha." sambung Farah Isuke dan Cindi Latuconsina berbarengan. Hanya Fatimah Mahmud yang tersenyum malu-malu, menyimpan dalih hanya untuk dirinya sendiri.