
Glow-spa & boutique, sebuah outlet yang melayani segala keperluan perempuan agar tampil menawan. Di area parkirnya, Clarissa Mae duduk sendirian di dalam mobil, dia menolak untuk mengikuti Karen Rodmeyer yang ingin 'memperbaiki' penampilan calon menantunya.
Steve Rodmeyer yang sempat mengikuti mamanya terlihat gontai, berjalan sendiri menjauh dari pintu outlet itu, mukanya masam. Mengekori emak-emak ke salon & butik ternyata melelahkan baginya. Normal bukan ?
"Ck ... mama beneran parah !" gerutunya sesaat setelah memasuki mobil. Memandang ke arah Clarissa Mae yang menyambutnya dengan senyuman tipis. "Bantuin dong, Mbak ! Ingetin mama, ini sudah jam berapa ? Fatimah mungkin ada jam kuliah."
"Mama lagi nagajarin calon menantunya berdandan, kenapa harus diingetin ?"
"Mau didandanin gimana lagi, Mbak ? Penampilan Fatimah udah okey, kok ! Sederhana, itu yang membuatnya berbeda dari cewe-cewe lain."
Clarissa Mae sedikit menaikkan alisnya, heran pada kepolosan jalan pikiran Steve Rodmeyer. Anak muda itu dianggapnya belum tahu banyak persoalan rumahtangga tapi sudah nekat untuk berumahtangga. Memang hanya perlu itu bukan ? Hanya perlu tekat, determinasi yang kuat. Rumahtangga tak perlu pengalaman ! Karena semua bisa dipelajari sambil berjalan.
"Mama terlalu sewenang-wenang !"
Pembawaan Clarissa Mae yang cenderung pendiam dan anti perdebatan, saat itu terpaksa 'meluruskan', "saat ini, Fatimah memang hanya perlu memuaskan perasaanmu, tapi tidak setelah pernikahan kalian ! Setelah menikah dengan kamu, dia harus menyandang nama besar keluargamu, Fatimah Rodmeyer ! Dan saat ini, mama sedang mengajari calon istrimu itu untuk memantaskan diri. Baik dalam bersikap, berpikir, juga berpenampilan."
"Ketakutan terbesar mama adalah saat melihat kegagalan rumahtangga Eddy. Maka wajar bila saat ini mama berusaha untuk memastikan bahwa kegagalan itu tidak akan terjadi pada kamu. Mama itu orang baik ! Sama sekali tidak sewenang-wenang. Cerewet ? Perempuan mana sih yang ga cerewet demi melihat anak-anaknya bahagia--"
Karen Rodmeyer keluar dari Glow-spa & boutique Fatimah Mahmud melangkah malu-malu di sebelahnya.
"Itu mereka ! Kamu harus mulai membiasakan diri dengan aktifitas Fatimah yang mungkin harus sering pergi ke salon, karena itu tuntutan publik bagi keluarga Rodmeyer." Clarissa Mae mengakhiri nasehatnya dengan menunjuk ke arah Karen Rodmeyer dan Fatimah Mahmud.
Mata Steve Rodmeyer lekat menatap sosok Fatimah Mahmud. Hampir semua tentang gadis sederhana itu telah terkikis, hanya pembawaan lemah lembutnya saja yang tidak berubah. Lebih cantik ? Iya, bahkan Steve Rodmeyer tak ingin kehilangan bayangan gadis itu sedetikpun.
"Jalan, Pak sopir !" Clarissa Mae menowel dagu Steve Rodmeyer yang terlalu lama menoleh ke bangku belakang, terpaut pada raut wajah Fatimah Mahmud, "nungguin berdandan aja merutuk, giliran udah cantik, MELOTOT ! huft ... tipikal lelaki banget lo, Steve !"
Tak ada pilihan lain bagi Steve Rodmeyer selain menarik kedua sudut bibirnya lebar-lebar sambil menjalankan mobil nya pelan-pelan.
"Ntar malam papamu pulang, besok subuh kita sudah harus ke Ponpes Gontor. Mempersiapkan semuanya sama Om kyai." ucap Karen Rodmeyer.
"Kenapa harus sama om kyai sih, Ma ? Ntar dibully lagi ! Ck ...." keengganan jelas teruar dari kalimat Steve Rodmeyer.
"Itu bagus !"
"Bagus darimananya, Ma ?"
__ADS_1
"Oalaaaah, Steve ! Kamu itu mirip banget sama papamu ...." ucapan Karen Rodmeyer tersela oleh tawanya sendiri, terkekeh sampai matanya terpejam-pejam dan berair. "Menepilah ! Berhenti sebentar dan lihat wajah pacarmu ini baik-baik."
Mobilpun ditepikan lalu berhenti.
"Lihat wajah Fatimah !" ujar Karen Rodmeyer sambil mengangkat paksa wajah Fatimah Mahmud dengan menahan dagu gadis itu. "Mirip siapa, Steve ? Ingat baik-baik !"
Steve Rodmeyer memandang wajah kekasihnya dengan mata menyelidik, Clarissa Mae pun jadi latah, kedua orang itu memandangi wajah Fatimah Mahmud yang sedang memerah karena menahan malu, dia belum terbiasa dengan dandanan barunya.
"Mirip siapa ?" tanya Karen Rodmeyer.
Steve Rodmeyer hanya mampu menggelengkan kepalanya, " ... Ya mirip Fatimah lah, Ma !" seperti berputus asa, Anak muda itu menyerah.
"Tante Aisyah--" Karen Rodmeyer mencoba memberi referensi.
"Haaaah !" mata Steve Rodmeyer sontak terbelalak, rahang dan dagunya jatuh.
Clarissa Mae tersenyum melihat perubahan wajah Steve Rodmeyer. Entah apa yang ada dalam benak anak muda itu, tapi reaksinya seperti orang yang sedang melihat kebodohannya sendiri pada pantulan cermin.
"Fat ! Kamu anaknya tante Aisyah ? Anaknya om kyai Mahmud ?" gusar Steve Rodmeyer di sela kagetnya.
"Jadi kamu !?" kembali Steve Rodmeyer tercengang.
"Umi ku Aisyah dan Abi ku kyai Mahmud. Dan benar bahwa aku sudah mengenalmu sejak kita masih sama-sama kecil, bahkan aku sudah tau siapa kamu sejak mula perkenalan di kampus dulu."
Pengakuan Fatimah Mahmud menambah runyam suasana hati Steve Rodmeyer. Lalu mulai menyalahkan, "kenapa ga bilang dari dulu !" ucapannya ditekan di akhir.
Fatimah Mahmud tak menjawab ucapan itu. Dia membiarkan kekesalan calon tunangannya itu berlalu bigitu saja.
"Awas aja kamu, Fat ! Hutangmu belum lunas." gerutu Steve Rodmeyer sambil kembali melajukan mobilnya. Ingatannya melayang kembali ke masa kecilnya.
Clarissa Mae dan Karen Rodmeyer terkejut dengan ucapan anak muda itu. Tapi Fatimah Mahmud menenangkan mereka dengan tawanya. Kemudian mulai bercerita :
"Dulu Mas Steve ini pernah pingsan ...."
"Diamlah, Fat ! Gausah cerita." sela Steve Rodmeyer. Tapi Fatimah Mahmud malah tertawa dan menikmati cerita yang akan disampaikannya.
__ADS_1
"Mas Steve ini ga kuat puasa, jadi pas hari masih sore sekitar jam 4 sore, dia nyuri minum air di kran masjid. Alasannya mau wudlu untuk shalat Ashar, padahal kan sudah lewat tuh waktu ashar. Jadi ketahuan sama Abi ... Wikikikikikik ...."
Fatimah Mahmud terpaksa mengakhiri ceritanya karena tiba-tiba mobil menepi dan langsung berhenti.
"Kalau kamu terusin ceritamu itu, aku ga mau lagi jadi sopir !" ancam Steve Rodmeyer.
"Iya ... iya ... aku diam, gitu aja merajuk !" Fatimah Mahmud benar-benar berhenti bercerita, tapi tidak dengan tawanya yang kemudian disambut oleh tawa Karen Rodmeyer dan Clarissa Mae.
"Bagi yang belum tahu kejahatannya, silahkan tertawa !" geram Steve Rodmeyer. Dia tetap menolak menjalankan mobilnya.
"Cuma disiram air doang kok ! Jahat apanya ?" debat Fatimah Mahmud.
"Ya ga sampai seember besar juga kali, Fat !"
"Maaf kalau kebanyakan ! Hehehehe ... Itu juga sebagai balasan atas ejekanmu, Mas !"
"Dasar biang ingus lo !!"
"Tuh kan, Tante ! Dari dulu dia ngejekin mulu. Giliran dibalas marah-marah ! Kan lebih baik saya sembunyikan jati diri saya yang sebenarnya." Fatimah Mahmud perlahan menemukan zona nyamannya dalam pelukan Karen Rodmeyer.
"Sudah ah, Steve ! Jalankan mobilnya, kita harus segera sampai di rumah. Masih banyak yang harus kita siapkan untuk acara besok pagi." tukas Karen Rodmeyer.
"Sejak kapan Mama tahu kalau Fatimah ini anaknya tante Aisyah dan om kyai ?" tanya Steve Rodmeyer sambil melanjutkan perjalanan. Sepertinya dia merasa belum puas pada kebodohannya sendiri.
"Sejak pertama melihatnya di Mansion keluarga Miller tadi."
"Kok Mama diam saja !"
"Kan kamu sibuk ngobrol sama lelaki tadi itu ! Siapa tadi namanya ?" Karen Rodmeyer gagal mengingat nama Arvine Dowson. Manusia sepele yang terlalu murah untuk masuk dalam ingatannya.
"Bang Vinnie, Tante ! Arvine Dowson." Fatimah Mahmud menyebutkan nama itu untuk menjawab pertanyaan Karen Rodmeyer, tapi mata gadis itu menjulur untuk menjangkau ekspresi wajah Clarisa Mae.
Seperti diselimuti kabut, wajah Clarissa Mae perlahan semakin sendu. Setiap mendengar nama Dowson disanding nama Miller maka akan selalu membawa mendung di wajahnya. Ihlas atau 'ihlas' ?
Bila jodoh Steve & Fatimah dimudahkan oleh cerita lama yang mampu mempertemukan mereka, maka begitupun dengan Vinnie & Hannie. Lalu dimana seharusnya aku berada ? D e b u ??? Ternyata aku belum ihlas menjalaninya.
__ADS_1
Pikiran itu seperti membenamkan Clarissa Mae ke bawah dushboard, menyelipkan serpihan hatinya di antara rangkaian kabel elektrik di sana. Remuk redam oleh kuasa Tuhan yang dengan mudahnya mempertemukan Steve & Fatimah dan menjauhkan dirinya dari Vinnie-nya. Semua itu terekam di sudut mata Steve Rodmeyer dan Fatimah Mahmud.