The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 45


__ADS_3

Lelaki itu mulai tersadar, di antara nyeri dan pedih di sekujur tubuhnya, telinganya mendengar telisik seseorang bergerak pelan di tengah kegelapan. Semuanya pekat, tak ada sedikitpun cahaya yang mampu menembus katup matanya. Semua gelap, bahkan lebih gelap daripada pemandangan di goa kutukan.


Dicobanya untuk membuka kelopak mata, tapi seluruh wajahnya terasa nyeri. Dan mata itu, jangankan terbuka, memicingpun tak sanggup. "Apakah ini kematian ?" gumamnya.


"Rissa ?"


Entah kenapa tiba-tiba nama itu kembali terlontar di antara rasa nyeri bibirnya. Ataukah itu nama malaikat kematian ?


Tak ada suara jawaban, hanya alas tidurnya yang bergerak sangat pelan, lalu detak heel terdengar menjejak lantai.


"Rissa !"


Kembali suara itu terdengar, kali itu lebih jelas, meski masih sengau bercampur erangan. Kemudian mendesis, nafasnya berbau kekecewaan dan sedikit kepasrahan. Suara heel itu menjauh lalu diakhiri suara pintu ditutup.


Ada yang hilang dari kakinya, pahanya tak lagi merasakan adanya tali pengikat. Tangannya merambah, di bawah boxernya digeledah. Nihil ! Pengikat liontin sakralnya musnah bersama lenyapnya liontin itu dari kulit pahanya.


"Oh my God !" geramnya. Cuma itu yang dia sanggup. Amarahnya terkungkung dalam tubuh lumpuh penuh luka lebam, tak sanggup bergerak.


Di sebalik pintu, Clarissa Mae berdiri lemas. Punggung menjadi penyangga berat tubuhnya, menempel lekat di daun pintu. Matanya perlahan memejam, menahan tangis sebisanya. Sementara sesak di dadanya dibiarkan mengalir, memompa kesedihan dari dalam hatinya agar menguar ke udara.


Tangan kurus itu menggenggam liontin, 'Vinnie & Hani' dalam lingkar hati. Cemburu ? Sepertinya ya ! Akan selalu ada rasa seperti itu dalam setiap hati perempuan. Saat matanya belum puas melepas rindu, saat jantungnya belum lega merenda cinta, hatinya kembali tersakiti oleh hadirnya liontin pembawa bara api bercampur cuka dan sebilah sembilu.


Mengalah ? Atau menyerah ? Dua hal yang sepertinya sama saja, yang kemudian membawa langkah Clarissa Mae menjauh. Berjalan meninggalkan pintu dengan muka datar, 'poker face'. Membiarkan Arvine Dowson terkurung di dalam apartemennya. "Aku akan kembali !" gumamnya.


***


Video proses pembunuhan Shanique Miller diputar berulang-ulang, rekaman cctv itu di zoom beratus kali pembesaran. Disajikan dalam layar putih seluas lapangan pingpong. Ruangan itu redup, hanya cahaya dari overhead proyektor yang meneranginya.


"Hold !" teriak Edward Rodmeyer.


Layar terhenti, memampang wajah perempuan berpakaian serba merah. Meski sedikit blur, tapi garis wajah perempuan itu terekam jelas. Dia menoleh ke belakang sesaat sebelum melemparkan kursi roda yang sedang diduduki oleh Shanique Miller ke dalam kolam renang.


"Namanya Raquella Mae. Biasa dipanggil Rara !" jelas seorang pakar sinematografi yang perlahan mulai berdiri. Seorang lelaki kurus berkacamata tebal, kemudian wajahnya menghadap kearah Edward Rodmeyer penuh hormat.

__ADS_1


"Mae !?"


Desir aneh melukai senyum Edward Rodmeyer saat nama belakang perempuan keji itu disebut. Nama yang serta merta membuat nilai tawarnya naik. Berasa seperti sedang menggenggam berlian.


"Benar, Pak ! Anak dari Jacob Ma, mendiang pemilik 'Ma Automobile corp'. Tinggal dan berdomisili di Jakarta."


"Ma automobile !?"


"Iya ... Mereka memiliki anak perusahaan di sini. Dengan nama yang sama, 'Ma automobile' dan sedang dikelola oleh seorang perempuan muda bernama Clarissa Mae. Data lengkapnya ada di dalam bendel laporan saya."


Edward Rodmeyer segera membuka bendel yang berada di hadapannya. Tapi karena gelapnya ruangan, dia kembali meletakkan dokumen itu.


"Apa motif di balik pembunuhan itu ?"


"Dugaan sementara : kacung ! Dia hanya diperintah oleh seseorang untuk melakukan pembunuhan itu. Sebatas kaki tangan saja !" jawab sang pakar sambil sedikit mengangkat kacamatanya. "Apakah mayat korban sudah ditemukan, Pak ?"


"Urusan itu kamu ga perlu tahu ! Pastikan saja bahwa perempuan itu benar-benar bernama Mae. Lanjutkan dengan bukti pendukung ! Terutama hubungan dia dengan perusahaan itu."


"Baik, Pak !"


"Ini wajah perempuan bernama Clarissa Mae ! Pemimpin 'Ma automobile corp'. Saya peroleh langsung dari jepretan kamera anak buah saya di kantornya beberapa hari yang lalu."


Slide ketiga muncul di layar.


"Slide ini mencoba membandingkan kedua wajah mereka. Silahkan Pak Edward mengamati kesamaan wajahnya. Sangat mirip kan, Pak ?"


"Hmmmb ...."


Meski wajah Clarissa Mae terlihat lebih tirus dibanding wajah Raquella Mae, tapi secara keseluruhan, wajah mereka tak jauh berbeda. Terutama bentuk bibir dan matanya yang terlihat identik satu sama lain.


"Dan ini yang paling kuat !" ujar sang pakar dengan semangat, wajahnya sangat yakin, saat slide ke-empat terpampang. " ini adalah foto yang diunggah oleh akun bernama Raquella.mae@yah**.co.id tiga bulan yang lalu di akun media sosialnya. Mereka adalah saudara !"


"Adakah bukti foto atau percakapan apa saja yang mengaitkan antara Raquella Mae dengan 'Ma Automobile' ? Saya tidak mau kerjasama antara RSC dengan 'Ma Automobile' berantakan hanya gegara kamu salah menilai bukti."

__ADS_1


"Maaf, Pak ! Penyelidikan saya belum ke arah itu. Kami baru sampai pada hubungan antara kita dengan dia."


"Kita ? Apa hubungan dia dengan perusahaan kita ?"


"Nyonya Helena, Pak ! Raquella Mae dan nyonya Helena memiliki kedekatan."


Mendengar penjelasan itu, Edward Rodmeyer merebahkan pinggangnya ke kursi. Ada hela nafas besar di dadanya. Setiap kali dia mendengar nama Helena Krysnowack disebut, maka reaksinya akan selalu seperti itu. Menghela nafasnya dalam-dalam lalu matanya memicing. Seperti sedang menahan nyeri di uluhatinya.


"Apa hubungan mereka ?" disertai hembusan nafas perlahan dari dalam dadanya.


"Mereka tinggal serumah, Pak !"


Mata Edward Rodmeyer sontak membola. Dia baru saja tersadar bahwa motif Raquella Mae menghabisi Shanique Miller bisa saja atas suruhan mantan istrinya itu. Kemudian dadanya semakin berat, ditimpa rasa bersalah yang mendadak menyelimuti hatinya. Kejahatan apapun yang dilakukan oleh mantan istrinya akan selalu membebani pikirannya.


"Hentikan investigasimu pada Helena ! Fokuskan pada hubungan perempuan itu dengan 'Ma Automobile'. Terutama pada jabatan strukturalnya di perusahaan itu, baik di Jakarta maupun yang di sini."


"Siap, Pak !"


"Sudah ! Tinggalkan saya sendiri."


Lelaki itu kemudian memasang kembali kaca matanya dengan dada lega, lalu membereskan meja. Laporannya berhasil diterima oleh sang bos dengan baik, tanpa bentakan dan makian seperti biasanya. Lampu ia nyalakan sebelum melenggang keluar.


"Tunggu !" teriak Edward Rodmeyer. "Sadap dan cek posisi nomor telepon ini."


Dengan langkah ragu, lelaki itu kembali menghampiri meja bosnya. Wajahnya kecut, karena perintah bosnya itu adalah tidakan ilegal dan melanggar aturan hukum.


Seolah paham keberatan anak buahnya, "kenapa ? Kamu takut melanggar hukum. Dan akan memilih melawan saya ?" suara itu tegas dan menekan di ujung. Menyebar ancaman yang jelas bukan gertakan.


"Tidak, Pak ! Akan saya laporkan hasilnya melalui mbak Ana."


"Ini nomernya. Dan lapor saja langsung ke saya melalui protokol darurat ! Jangan lewat siapapun, Faham ?" perintah Edward Rodmeyer sambil menyerahkan selembar note berisi nomor telepone celuler milik Clarissa Mae. "Ingat ! Ini hanya antara kamu dan saya. Tidak ada yang boleh tahu ! Bahkan Papa sekalipun."


"Siap, Pak !" jawaban itu lemes. Nyalinya sudah di titik nadir.

__ADS_1


Pintu ruangan ditutup perlahan, meninggalkan sosok Edward Rodmeyer duduk sendirian. Di belakang meja, berselonjor kaki. Bibirnya menyunggingkan senyum licik. Kemudian pulpen di tangannya mengetuk-ngetuk meja.


"Clarissa ... bila benar Raquella adalah adikmu, maka kamu tak akan bisa kemana-mana. Karena kamu adalah bonekaku ! Boneka yang bisa kubuat menjadi apa saja. Ha ha ha ha ....! Takdir hidupmu akan kutulis ulang dengan pena ini ! Sesuai keinginanku."


__ADS_2