The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 10


__ADS_3

Sesungguhnya tidak ada apa-apa dalam goa itu, tidak ada iblis atau makhluk terkutuk lainnya.


Tetapi sebuah mitos tidaklah tercipta dari sebuah dusta, tentu ada cerita yang menjadi dogma penguatnya. Hanya saja, cerita-cerita itu kebanyakan berdasarkan aspek supranatural atau bahkan mistik belaka. Dan istilah 'goa terkutuk' terlahir dari cerita mistis masyarakat sekitarnya.


Traffle, jenis jamur yang banyak tumbuh di puncak gunung Rinjani, pernah dianggap sebagai jamur termahal di dunia, karena tingginya nilai protein yang dikandungnya.


Sialnya, Traffle tumbuh bagus di dalam 'goa kutukan', dan memiliki sifat berbeda dengan traffle yang tumbuh di luar kubah kawah. Di dalam 'goa kutukan', traffle banyak terkontaminasi oleh belerang yang berasal dari kepulan asap kawah. Mengakibatkan bulu-bulu halus di batang dan mahkota jamur itu banyak menyimpan Sianida.


Siapapun yang memakan Traffle dari dalam 'goa kutukan' akan keracunan sianida, tak terkecuali Arvine Dowson. Dia tampak limbung karena otaknya berhalusinasi, mulutnya meracau tak tentu bak orang gila. Semuanya terekam utuh dalam kamera Raquella Mae.


"Vinnie, kamu kenapa ?" keluh Raquella Mae. Kemudian membiarkan tubuhnya jatuh merosot ke bebatuan, bersamaan dengan cucuran airmata di pipinya.


Semua mata menatapnya iba, Nickolaus Welas, Billy Williams, dan I Putu Sudharma tak tega membiarkan gadis itu terpuruk sendirian. Mereka mendakat, lalu duduk mengitari tubuh Raquella Mae yang mulai menggigil ketakutan.


"Kuatkan hatimu, Raquella ! Vinnie harus melakukan semua itu untuk berdamai dengan masa lalunya. Dia harus menaklukkan iblis penguasa goa itu dengan raitual yang dilakukannya." bisik I Putu Suharma.


"Tapi dia berbicara seperti orang gila." balas Raquella Mae.


"Dia tidak gila ! Vinnie sedang berdialog dengan makhluk astral tak kasat mata." jelas I Putu Sudharma.


"Vinnie tak akan kalah, karena dia adalah iblis terkuat di jagat raya." Sahut Nickolaus Welas. Itu makin membenamkan benak Raquella Mae kedalam lubang keputusasaan, membuat airmatanya makin deras mengalir.


"Besok adalah hari terakhir ritualnya, Kuatkan hatimu !" lanjut I Putu Sudharma sambil menepuk pelan pundak Raquella Mae.


"Darimana Bang Putu tahu ?" kejar Raquella Mae.


"Ini adalah hari ke 8 dia memahat tebing itu, dan hanya perlu memahat satu huruf lagi ... Yaitu huruf i atau y."


" i ? Y ?"


"Iya ! Dia akan memahat nama HANI atau HANY."


"Itu nama siapa ?"


"Seseorang di masa lalu Vinnie, yang menjadikan dia seorang musafir di sepanjang hayat nya. Nama yang kerap diucapkan dalam igauannya, yang membuat dia tidak berani bermukim di satu hati, hanya singgah dan singgah di beberapa hati wanita. Vinnie hanya akan bermukim dalam satu hati, karena dia tipe lelaki setia. Saat ini, dia sedang berusaha keluar dari hati seseorang agar dia bisa bermukim di hati orang lain. Dan itu bukanlah perkara mudah !" jelas I Putu Sudharma.


"Ga bakalan bisa !" Seru Billy Williams.


"Bisa !!" Bantah Nickolaus Welas. "Dia adalah 'King Of Demons' ! Dengan bantuan para iblis anak buahnya, Vinnie bisa melakukan segalanya." sambungnya dengan mata berapi-api.


"Dengan ritual yang segitu 'gilanya', tampaknya Sang Hyang Widiwata pun tak kan sanggup menolak permintaan Vinnie." tambah I Putu Sudharma.


Di saat semua terlihat seperti tak mungkin, Arvine Dowson terus memahatkan nama seorang gadis di masa kecilnya pada dinding tebing di dalam kubah kawah gunung Rinjani, tebing perawan. Meski setiap ujung jemarinya telah berdarah-darah.


"Senja sudah menghitam, kameramu tak kan sanggup merekam aksi Vinnie. Berehatlah, dan kuatkan hatimu, Raquella !" ujar Nickolaus Welas di ujung hari ke 21 misi mereka.

__ADS_1


Raquella Mae yang linglung oleh hati remuk redam mengikuti tiga seniornya, menuju tenda untuk lebih hanyut pada ketakutannya sendiri.


\*\*\*


Hari ke 22 berjalan seperti terlalu cepat. Arvine Dowson yang kian teler oleh racun arsenik akibat hanya memakan jamur Traffle terlihat seperti telah kehilangan sukma, kulitnya sepucat mayat, seluruh tubuhnya menggigil, mata nya terkatup tak mampu lagi melihat, tapi tangan kanannya masih terus menghantam pahat di tangan kirinya, memecahkan cadas untuk menggoreskan huruf terakhir, 'i'.


Otak Arvine Dowson tengah berhalusinasi tentang masa-masa SMP nya, disaat kedekatannya dengan teman sekolahnya seolah surga. Hani adalah salah satu nama bidadari terindahnya. Bidadari penyempurna takdir hidupnya.


"Eureka !" Bisik I Putu Sudharma, Billy Williams, dan Nickolaus Welas dalam waktu nyaris bersamaan. Mata mereka menatap konfigurasi 4 huruf telah sempurna, H A N I. Terpahat megah, terbentang dari sayap timur hingga sayap selatan tebing kubah kawah gunung Rinjani. Sebuah tempat yang takkan pernah terjamah oleh manusia, "Nama itu akan abadi." pikir mereka.


"Bingung, Gw !" Keluh Raquella Mae tiba-tiba. Ada nada cemburu dalam desahnya.


"Apalagi ??" Sahut Billy Williams kesal.


"Ngapain Vinnie mengukir nama itu ? Masa lalu ya masa lalu, tinggal 'move on' doang kok !" Bentak Raquella Mae, menyemburkan amarah karena panas nya api cemburu. Memaksa 'the Wise man' I Putu Sudharma untuk meredakan : "Dengarkan apa yang aka dikatakan Vinnie sebentar lagi, fokuskan pada audio ! Contain Vlog ini akan mengguncang ***toube !"


Sejauh pengetahuan Raquella Mae, omongan lelaki Bali itu selalu benar, juga untuk kali itu. Raquella Mae menangkap suara lelaki sedang bergumam pelan, kemudia semakin keras saat dia mengatur 'range' infra merah kameranya. Kemudian ....


"Kepada penguasa jagat raya, lihatlah persembahanku ! Telah kulakukan segala yang Kau mau. Keringat, darah, bahkan nyawaku ihlas kupertaruhkan untuk nya ! Lalu aral apa lagi yang kan Kau tanam di bentang jalan antara aku dan dia ? Bila Kau tetap tak rela mempertemukan kami, maka terimalah tubuhku sebagai pengobar bara di dalam kawah gunung ini, dan jiwaku sebagai 'Blizardious Demon' di alam antara hidup dan kematian." Suara Arvine Dowson lalu menghilang.


"OMG ... Vinnie No ! Jangan bunuh diri." jerit Raquella Mae. Kembali tubuhnya dibiarkan merosot ke bebatuan, dia tak sanggup menyaksikan Arvine Dowson membentangkan tangan sambil memejam, lalu perlahan memiringkin tubuh pucatnya ke depan agar bisa jatuh tanpa halangan ke dalam kawah.


"Tahan ! Tetap fokuskan kameramu." teriak I Putu Sudharma. Tapi terlambat, Raquella Mae benar-benar luluh, tak sanggup lagi berdiri.


Seperti tahu akan ada keajaiban, Nickolaus Welas, Billy Williams dan I Putu Sudharma bergerak serempak. Mengambil alih kamera tak bertuan itu. Menjaganya agar tetap fokus pada aksi 'gila' Arvine Dowson.


Rinjani terbatuk ! Hembusan nafasnya menghantam sebongkah koral raksasa, melambungkannya seolah kapas, menghantamkannya ke tubuh Arvine Dowson yang tengah melayang terjun bebas, membawa tubuh pingsan itu ke bibir kubah kawah seolah ingin meletakkannya di sana, sebelum akhirnya koral itu kembali luruh ke dalam kawah lalu hancur melebur menjadi magma.


Kembali gegap membahana : "EUREKAAAAA !!" Dari mulut 3 hikers senior itu, saat di kamera mereka terekam kaki Arvine Dowson sedang bergerak pelan.


"Vinnie selamat, Lihat !" Bisik Billy Williams di telinga Raquella Mae. Tapi gadis itu tak merespon, dia terpaku pada gemeretak gigil di giginya.


"Kita tak mungkin melakukan evakuasi tepat pada waktunya. Tubuh penuh luka Vinnie akan segera menarik perhatian burung pemakan bangkai dan kawanan srigala." ucap I Putu Sudharma kesal.


Ketiga hikers itu kemudian larut dalam sesal, mereka adalah manusia manusia yang pernah diselamatkan Arvine Dowson, tapi tak mampu berbuat apa-apa saat Sahabatnya itu butuh diselamatkan.


"Om, aku butuh Helikopter sekarang !" tiba-tiba suara Jonas Williamson terdengar bak nyanyian peri di telinga mereka. "Di puncak Rinjani !"


Jonas Williamson tersenyum malu-malu kala empat pasang mata menatapnya bahagia. "Apaan sih, Kak ? Malu gw." ujar nya kala menutup SatPhone-nya. "15 menit lagi Helli nyampe." tambahnya kalem.


"Kita berkemas sekarang ! Waktu kita tak banyak." Seru sang Co leader, Nickolaus Welas.


Saat semua sedang mengemas tenda dan perlengkapannya, Nickolaus Welas berbisik pada Raquella Mae : " Hanya Vinnie yang bisa tahu kejadian yang belum terjadi, bahkan dia tahu siapa yang bisa membantunya di saat orang lain tak pernah memikirkannya. Apa itu namanya jika bukan seorang iblis ?"


***

__ADS_1


Langkah kecil Sean Rodmeyer membekas di atas pasir, tak lama kemudian ombak menghapusnya. Begitupun peluh di keningnya, sempat tampak meleleh tapi Shanique Miller segera mengusapnya. Mereka berlari dan bermain di atas pasir pantai di sebelah mansion milik keluarga Miller. Sedangkan Edward Rodmeyer menatap kebahagiaan putranya dengan rasa bersalah.


"Inilah akhir dari merahnya cinta ku pada Helena. Kelabu dan suram, tercerai berai berantakan, meninggalkan seorang anak berdiri sendirian. Berapa lama kamu bisa bertahan hidup tanpa bimbingan seorang ibu, Sean ? Sementara orang yang kamu peluk dan menyeka keringatmu itu belum bisa menerima cinta ku." keluh Edward Rodmeyer kepada sebatang nyiur di ujung tanjung.


Setelah menceraikan Helena Krysnowack, Edward Rodmeyer tak ingin berlama-lama hidup menduda. Bukan saja karena dia ingin segera melupakan mantan istrinya, tapi lebih pada alasan demi memberikan sosok seorang ibu untuk membimbing langkah putra semata wayangnya.


Dia tak ingin garis hidup putranya berakhir seperti tokoh Panji dalam novel yang ditulis oleh Shanique Miller.


Selangkah demi selangkah, Edward Rodmeyer kian mendekat. Shanique Miller dan Sean Rodmeyer menatapnya dengan sudut berbeda. Bila Shanique Miller menganggapnya 'biasa', maka si kecil Sean berharap sang Daddy dan Shanique Miller segera berpelukan agar dia segera punya adik bayi.


"Apakah Panji bisa memaafkan Barata ? Karena dia lah yang bersalah hingga membuat panji kehilangan arah dengan menceraikan Prameshwari." tanya Edward Rodmeyer.


"C'mmon, Eddy ! Novelku itu hanya fiksi." balas Shanique Miller.


"Tidak, Shasa ! Semakin aku membacanya, novel itu lebih mirip autobiografi ku, bahkan semakin ke sini ... Menjadi semacam ramalan masa depan ku juga Sean."


"Aku yang menulisnya, berdasar pada hasil penelitianku di lingkungan kumuh. Bukan di strata kehidupan kelas atas seperti kehidupanmu."


"Tapi kenapa plotnya bisa sama persis dengan kehidupanku, Sha ...? Bahkan logika berpikir tokoh Barata sama persis dengan logikaku !"


"Percayalah, Eddy ! Novel itu bukan tantang kamu."


"Yang paling aku takutkan adalah bila logika berpikir tokoh Panji sama dengan logikanya Sean ! Dan itu sama artinya dengan kehancuran bagi kami semua."


"Baiklah ! Aku mengalah ... Kita anggap novel itu adalah semacam ramalan bagi hidup kalian. Maka kamu harus melakukan langkah antitesis terhadap perilaku Mahesa."


Ada senyum kemenangan di bibir Edward Rodmeyer. Sebuah kesempatan.


"Bagaimana langkah antitesisnya ?" kejar Edward Rodmeyer.


"Segera menikah lagi, mungkin ? Barata kan memilih menduda sambil meratapi kehancuran hidup Prameshwari."


"Maka menikahlah denganku ... Demi Sean."


Kalimat Edward Rodmeyer seperti mencekik lehernya. Sebuah ajakan untuk menikah terlontar dari bibir seorang lelaki idaman seluruh perempuan di kota itu. Tak bisa dipungkiri, ada rasa tersanjung dalam hati Shanique Miller, bila ajakan itu menimpa perempuan lain maka pastilah perempuan itu akan menjerit histeris mengiyakan.


Tapi tidak bagi Shanique Miller. Hatinya memang tersanjung, wajahnya memang sempat memerah sesaat. Tapu jantungnya tetap dingin, seolah sedang memompakan gumpalan es ke seluruh sistem saraf kewarasannya.


"Dear Eddy ... Banyak perempuan lain di luaran sana yang memiliki kualitas lebih baik daripada aku, mereka akan membahagiakan kamu dan Sean dengan senang hati." jawab Shanique Miller.


"Tapi--"


"Andai saja kamu tahu siapa diriku sesungguhnya, maka takkan mungkin kau memilihku."


Kala itu tatapan mata Shanique Miller sangat tajam, sedikit mengungkap tabir betapa 'dingin' kisah hidupnya sehingga kata-kata manis dari mulut seorang Edward Rodmeyer pun tak sanggup mencairkan gunung es di jantung nya.

__ADS_1


"Sean ! ... One ... Two ... Three !" mereka kembali beradu lari sambil tertawa saling mengejek.


__ADS_2