
"Rahasia basi !" Lanjut Cindi Latuconsina dari arah belakang mereka.
Serta merta Farah Isuke menjambak rambut ikal dara Ambon itu, jantungnya masih berdetak kencang, dia mengira bahwa yang mengejutkannya dalah mentornya-Shanique Miller. Setelah sahabatnya itu mengaduh, dia melepas jambakannya.
"Aku sering mergokin kak Shasa menangis sambil melihat aksi bang Vinnie." Lanjut Cindi Latuconsina dengan wajah serius.
"Serius lo ?" Fatimah Mahmud terbelalak, dia tak bisa mempercayai cerita dua sahabatnya itu, karena dialah yang paling 'dekat' dengan Shanique Miller, dia lah yang paling sering diajak tidur di kamar mentornya itu. Tapi dia juga yang paling ga tahu apa-apa.
"Dan tadi malam juga keknya kak Shasa tidur sambil nangis, Deyh ! Matanya masih bengkak saat aku bangunkan ... Dan gadgetnya masih 'ON' pada foto cowo itu. Pasti ada 'apa-apa' antara kak Shasa dengan Arvine Dowson." sambung Farah Isuke.
"Ya iya lah ! Pasti ada sesuatu ... Makanya sampai aku belain repot-repot buat beli novel ini !"
Ucapan Cindi Latuconsina itu memaksa mata dua sahabat serumahnya itu terfokus pada novel di tangannya. Novel lama yang sudah dicetak ulang entah berapa ratus kali oleh penerbitnya karena masih banyak peminatnya.
"Ini adalah novel pertama karya kak Shasa. Dia menulisnya saat masih sekolah SMA di Swiss." Sambung Cindi Latuconsina sambil cemberut karena harus mengikat rambutnya sekali lagi.
"Trus ?" Kejar Fatimah Mahmud polos.
"Karena ini adalah sebuah karya pertama maka alur cerita yang diangkat oleh penulisnya adalah pengalaman priadi. Meski nama tokoh dan plotnya biasanya fiktif." Terang Cindi Latuconsina.
"Coba lihat !" seru Fatimah Mahmud.
Cindi Latuconsina menyodorkan sebuah novel tebal bersampul gambar dua bocah lelaki dan perempuan dalam seragam SMP, mereka bergandengan tangan saat berjalan menuju senja. Judulnya dicetak tebal dengan warna merah pada kata 'CINTA', lalu warna putih pada kata 'PUTIH', dan warna biru pada kata 'BIRU'.
"Aku membacanya belum sampai setengah, tapi airmataku sudah segalon ... Sedih banget ceritanya !"
"Sini pinjem !" Sahut Farah Isuke.
"Beli sendiri ... Jepang !" Seru Fatimah Mahmud. "Hidup seorang penulis seperti kak Shasa sepenuhnya bergantung pada kerelaan penggemarnya untuk membeli novel karya--"
"Seratus untuk Fatimah ! Hahahaha ...." suara dari belakang mereka mencekat ucapan Fatimah Mahmud, secepat kilat novel itu disimpan dalam pangkuannya, terlindung di bawah meja dari tatapan Shanique Miller yang kemudian melewati mereka untuk bergabung di meja makan.
Novel yang mungkin akan menyibak rahasia kenapa orang secantik dan sepopuler Shanique Miller masih melajang meski sudah cukup berumur.
***
Berjalan kaki, menelusuri hutan dan semak belukar, berdamai dengan kerumunan hewan liar, memanjakan pandangan mereka dengan rona hijau dedanunan, tidak lah cukup bagi mereka. Ketegangan ! 4 orang pendaki gunung (hikers) itu butuh ketegangan agar adrenalin mereka terpompa hingga ke ujung kepala.
Meski aura mistis kian terasa dalam benak mereka, itu tidak lah cukup. Mereka inginkan lebih ! Sesuatu yang mirip dengan suara di Radio Intercom mereka yang seperti patuh pada tuan nya.
"Untuk semua Team ! Mohon konfirmirmasi." Bunyi Intercom itu.
"Team Eureka confirm !" Balas Billy Williams. Lalu disusul 4 tim mengonfirmasi posisi mereka.
"Team Dewata ! Mohon segera confirm posisi." lanjut suara dari dalam Radio Intercom. "Dewata ! Tolong confirm ... Anda belum confirm sejak pagi !" lanjut suara itu setelah selang beberapa saat, ada nada cemas dalam suara penjaga post 4.
"Tanyakan posisi terakhir team Dewata !" Perintah Arvine Dowson kepada Billy Williams, terdengar mulai hawatir, ada peningkatan kadar adrenalin di kepala nya.
"Ini Team Eureka ! Mohon diberitahu lokasi team Dewata saat terakhir mereka confirm."
__ADS_1
"10.23 !"
"Kami telah melewati posisi 10.23 pada 14:22. Dan mereka tak kami temui !" balas Billy Williams.
Radio Intercom itu diam sejenak, operator di post 4 sepertinya mulai panik. Kemudian menyalak lagi dengan suara bulat : "Semua team ! Semua unit ! Mohon lakukan rescue untuk team Dewata. Mereka kami nyatakan hilang ! Respon segera ! Posisi terakhir mereka di 10.23."
"EURRREKA !" teriak 4 orang pendaki, terutama Arvine Dowson, dia melonjak mengikuti kegilaannya. Sebuah tantangan menanti untuk ditaklukkan, sebuah misi penyelamatan menunggu untuk diselesaikan.
"Team Eureka ! Siap lakukan Search & Rescue. 4 personel ! Arvine Dowson leader ! Nickolaus Welas co leader ! Billy Williams Utility plus Radio Man ! Raquella Mae documentations girl ! Ready for action."
"Roger ! Frekwensi darurat dikunci."
"Diterima !" balas Billy Williams.
"Kami tunggu progress nya per-hour ! Selamat bekerja and stay safe !"
"Thank you post 4 ! Wiss us luck." ucap Billy Williams sebelum mematikan Radio Intercom di genggamannya.
"Kita bergerak kembali ke posisi 16 point zero ! Aku ada feel mereka bermasalah di ngarai itu." usul Arvine Dowson. "Mereka pasti terjebak kabut di sana !" lanjut nya seraya menunjuk ke lembah berhalimun sangat pekat.
"YEAH !" teriak Nickolaus Welas menyetujui, sebuah teriakan yang menyulut nyala mata nya, hendak memberi bukti pada jagad raya bahwa dia bukanlah manusia yang hanya bisa membunuh dan membinasakan tapi juga bisa menyelamatkan.
Rambahan belukar perawan pun dimulai, di saat matahari hampir termakan senja, saling mengikatkan diri pada seutas tali, berusaha untuk tetap dalam satu kesatuan aksi, memberi bukti bahwa mereka ingin memberi makna bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk kemanusiaan.
Tak jauh memang, tak banyak arti yang bisa mereka tawarkan hari itu, matahari terasa terlalu cepat memerah, terlelap dalam pelukan senja. Terpaksa mereka segera dirikan tenda, berlindung dari dinginnya kabut serta gangguan serigala hutan dan nyamuk anopheles.
Malam menjelma diskusi tentang strategi, saling berbagi pendapat sesuai keahliannya masing-masing, hanya Raquella Mae yang terpaksa bungkam, dia memang hanya pintar memutar kamera dan menguasai teknik dasar surviving (bertahan hidup di alam liar) tapi tak seahli kawanan lainnya. Terpaksa dia tidur duluan dalam sleeping bag-nya dekat punggung Arvine Dowson. Dan ketika api unggun kehilangan bara, semua telah terlelap kecuali Billy Williams, dia memilih berjaga sepanjang malam.
"Wow ! Cup ...." sebuah ciuman tipis mendarat di pipi Billy Williams.
"Hushhh ! Bisa hamil gw ... Xixixixi ...." canda nya kala tahu bahwa yang mencium adalah Raquella Mae. "100 meter ke utara, ada ujung sungai, lo bisa mandi di sana." lanjut Billy.
"Okay ! Gw mandi dulu ... Sisakan kelinci itu 2 buat gw." balas Raquella Mae saat berlalu dengan handuk menutup kepalanya.
"Makin bohay lo !" ledek Billy.
"Ga ngurus !"
"Yasudah ... Sana mandi ! Bau jigong lo !"
Sambil bersiul Raquella Mae melenggang menerobos semak, mengikuti petunjuk Billy Williams menuju ujung sungai.
Tak lama berselang, "Raquella Mana, Bill ?" suara Arvine Dowson mengejutkan Billy Williams.
"Mandi di sungai."
"Di mana sungainya ?" giliran Nickolaus Welas yang bertanya, lalu tangannya sibuk menuangkan kopi panas dari teko kedalam cangkir.
"Ngapa lo, Vin ?" usik Billy Williams.
__ADS_1
"Ngetes masakan lo ... Enak pa ga ?"
"Hahahaha ... Bilang aja laper !" sambung Billy Williams.
"Kasih gw sebiji, Vin ! Lempar." pinta Nickolaus Welas. Arvine Dowson segera melemparkan seekor kelinci panggang.
"Sisain 2 buat Raquella !" seru Billy Williams. kemudian dia mulai menyentuh radio intercomnya.
Dari balik dedaunan semak, dari ujung rerumputan, kemudian samar terdengar suara Raquella Mae memekik. Tak ayal, tiga rekannya segera menyusul dengan tangan dan mulut penuh, mereka makan sambil berlari.
"Rara !" teriak Arvine Dowson. Menarik perhatian Raquella Mae yang sedang berdiri di tepi jurang.
"Itu Dewata ! Di sana." jawab Raquella Mae kegirangan seraya menunjuk ke seberang lembah, dimana terlihat sebuah tenda, yang karena bentang jarak terlihat sangat kecil.
"Kita ke sana ! Sekarang." seru Arvine Dowson tanpa banyak pikir.
Mereka pun kembali ke tenda, berkemas lalu segera bergerak ke seberang lembah. Menembus jalan pintas, jalan yang mereka buat sendiri dengan golok dan kompas, menuruni jurang, menembus derasnya air terjun, bahkan bergelantungan di atas seutas tali. Total ! Benar-benar belukar yang belum pernah terjamah manusia, mereka menembusnya demi satu kata : 'eureka' yang berarti 'freedom' atau 'merdeka'.
Merdeka dari rasa bersalah, merdeka dari sorot mata mereka mereka yang paling pintar menelanjangi, menghujat, menghakimi, lalu menghukum. Dan yang terpenting adalah merdeka dari masa lalu.
3 jam lebih mereka bertarung dengan binalnya alam, akhirnya sampai lah mereka di lokasi tenda tim Dewata berdiri. Tapi tenda itu kosong, tak ada satu pun manusia di sana. Hanya arang bekas api unggun yang masih berasa hangat. Sempat terbersit keraguan diantara mereka bahwa tenda itu bukanlah tenda tim Dewata, kemudian secara tiba-tiba terdengar suara perempuan meringik, halus seperti suara hantu di film-film horor. Menegakkan bulu kuduk Raquella Mae, membuat gadis itu beringsut ke punggung Arvine Dowson.
"Suara apaan tu ?" bisiknya. Lalu Raquella Mae memejamkan mata. Menelungkupkan wajahnya di punggung Arvine Dowson.
Sesaat tercipta nuansa horor, suara perempuan itu terdengar semakin tipis dan mendesah seakan sedang tersakiti, merengek meminta tolong. Nickolaus Welas dan Billy Williams sempat enggan bergerak, magis gunung Rinjani seakan menghimpit dada keduanya, di saat halimun kian tebal menyelumuti tubuh mereka.
Sekali lagi terbukti, bahwa Arvine Dowson bukanlah tipe lelaki yang mudah hanyut oleh diorama. Entah itu diorama horor atau komedi, diorama drama atau mistis ... Semua dianggapnya 'bullshit' ! Tanpa takut, dia berjalan menyisir rerumputan, menembus kabut yang menyelimuti sebatang pohon raksasa dimana suara perempuan itu bermula. Di belakangnya berbaris Raquella Mae, Nickolaus Welas lalu Billy Williams. Ketiganya sedang dicekam kengerian oleh imajinasi mereka sendiri.
Ketika senter kepala dinyalakan, cahanya menembus pekatnya kabut, menerangi salah satu sisi akar raksasa, tampak menyembul kepala berambut hitam acak-acakan di balik akar itu. Badannya terhalang tingginya akar, hanya separoh atas batok kepalanya yang tampak, berurai rambut hitam menghadap ke belakang.
Tak ayal, mata Raquella Mae makin rapat memejam, Nickolaus Welas pun mulai memicing ragu. Billy Williams berusaha menguatkan diri, dia berjalan menemani Arvine Dowson meski dengan langkah sedikit mengendap.
"Siapa, Lo ?" tegur Arvine Dowson.
Sosok perempuan itu seperti terkejut, berusaha menoleh tapi tak mampu. Hanya suaranya yang merintih : "tolooongin gw, Bang !" mirip suara Suzana dalam film-film horor yang dibintanginya.
Arvine Dowson mempercepat langkahnya, di otaknya hanya ada satu kalimat : "perempuan ini dalam bahaya !" butuh segera diselamatkan, makanya dia segera melompati akar itu.
"Bantuin angkat !" seru Arvine Dowson kepada Nickolaus Welas dan Raquella Mae. Tapi mereka enggan, bahkan Raquella Mae sempat mundur selangkah.
"Ini manusia, Oon !" lanjut Billy Williams, dia berharap Nickolaus Welas dan Raquella Mae membantu mengangkat punggung perempuan itu. Sementara dia dan Arvine Dowson mengangkat kaki hingga pinggangnya.
"Woooy ! Bantuin ... Ini beneran manusia !" teriak Arvine Dowson, memaksa Nickolaus Welas dan Raquella Mae memberanikan diri, lalu melangkah mendekat. "Kebanyakan nonton film porno sih, Lo !"
"Otak lo yang porno, Bambang !' balas Raquella Mae. Pada akhirnya dia yakin bahwa itu bukanlah sosok hantu.
Akhirnya mereka berhasil membawa sosok perempuan terikat di kaki serta tangan dan pinggangnya itu menuju tanah lapang dekat tenda.
Tanpa naungan pohon raksasa, jelas terlihat wajah kusut seorang gadis belia sedang menangis ketakutan. Kondisinya lemah, dehidrasi ringan dan kelaparan.
__ADS_1
Nickolaus Welas tampak tersenyum lega, begitupun Raquella Mae, bayang-bayang mistis tentang seramnya Gunung Rinjani perlahan hilang dari benak mereka. Saat keduanya berusaha melepas ikatan perempuan itu, tiba-tiba dari arah belakang mereka terdengar teriakan: "Jangan dilepas !"
Sebuah bentakan yang mengagetkan ke empat nya.