The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 56


__ADS_3

Melangkah dengan anggun saat meninggalkan kamar Steve Rodmeyer, Clarissa Mae seperti membiarkan mata anak muda itu mengekorinya, menilai apakah dia bisa dipercaya sebagai penyambung harapan untuk meluluhkan hati sang ibu.


Melihat Karen Rodmeyer yang terus memasang muka tegang, Clarissa Mae menyematkan senyum. Bibir itu hanya ingin meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Steve ingin mentraktir Mama untuk makan siang di luar, bagaimana ?" ujarnya dengan suara berbisik, kemudian duduk di samping Karen Rodmeyer. "Dia juga minta maaf karena telah membuat Mama marah."


Hanya tersenyum, tak ada kata yang keluar dari bibir tua Karen Rodmeyer untuk menimpali ucapan Clarissa Mae. Tapi pundaknya turun, dan nafasnya terlihat semakin halus.


"Kalau Mama mau, nanti sekalian mampir ke rumah pacarnya Steve. Ia hanya ingin memperkenalkan pacarnya ke Mama, ga lebih. Mau ya, Ma ?"


"Ngapain repot-repot ? Tinggal bawa ke sini doang kan bisa ! Masih kecil kok sudah pacaran ...." memberengut lalu membuang muka, Karen Rodmeyer mungkin lupa bahwa dia juga menikah sebelum lulus kuliah.


"Haaah !! Perempuan datang ke rumah laki-laki !?" membelalakkan mata, Clarissa mae mulai berakting. "Apakah Mama dulu juga datang ke rumah papa Jack ?"


"Sorry aja ya, Nak Rissa ! Memang saya ini perempuan apaan ? Datang ke rumah laki-laki seperti perempuan murahan ... itu pamali !! Jack yang membawa Ibu ke rumah saya--"


Carissa Mae menyela ucapan Karen Rodmeyer dengan mendaratkan beberapa ciuman di pipi perempuan tua itu. "Hmmm ... Steve memang anak papa Jack ! Dia tahu bagaimana cara memperlakukan perempuan terhormat. Dan yang terhebat tentu mamanya, bisa mendidik anak menjadi sehebat Steve."


Tanpa disadari, pipi Karen Rodmeyer sedikit memerah. Bibir tuanya menyungging senyum, ada rasa bangga yang tiba-tiba menyirami hatinya. "Bilang sama Steve, Mama pengen lihat pacarnya."


"Kan Mama bisa bilang sendiri ! Saya mau bungkus makanan ini ... Buat bekal di jalan." akting Clarissa Mae diakhiri dengan tangannya yang mulai memasukkan Roti beserta daging cincang dan daun selada ke dalam kertas minyak.


"Steve !" teriak Karen Rodmeyer sesaat setelah berdiri meninggalkan kursinya. Kemudian ia berjalan mendekati kamar anak bungsunya. "Ayo berangkat ! Mama pengen lihat seperti apa rupa pacarmu itu."


"Haaa !?" Steve Rodmeyer membesarkan mata, menatap heran ke arah Clarissa Mae. Mantra apa yang dipakai oleh perempuan itu untuk menaklukkan mamanya ? Hanya perlu waktu 5 menit untuk merubah pikiran mamanya. Meski belum pasti merestui untuk menikah atau melamar, tapi setidaknya sang mama telah siap untuk bertemu dengan si calon menantu !


"Ayo buruan ! Sebelum aku berubah pikiran nih."


"Iya, Ma !" Steve Rodmeyer terkesiap, terbangun dari sikap mematungnya. Dia yakin, sang mama akan menyetujui pilihannya saat melihat sosok Fatimah Mahmud, gadis yang sudah ia gilai selama 3 tahun belakangan itu.

__ADS_1


"Pakai mobil mama saja ! Mobilmu ga enak, bikin pinggang mama patah rasanya."


Setelah menyerahkan kunci mobilnya, Karen Rodmeyer berlalu menuju pintu utama. Dia berjalan seperti biasa, trengginas eh salah ... Cekatan maksudnya !


Setelah mengekori heel tinggi sepatu mamanya, mata Steve Rodmeyer kemudian berganti ke arah Clarissa Mae, mendapati perempuan kurus itu sedang asik membungkus makanan. Lalu ia berjalan dengan langkah mengendap.


"Emmmuach !" mendaratkan ciuman di pipi Clarissa Mae, "terimakasih, Mbak !" mata Steve Rodmeyer berbinar luar biasa.


Merasa ada yang mencuri cium pipi, Clarissa Mae tertawa geli. "Masih manja kek gini kok mau nikah !" lalu sekali lagi mengacak rambut di pucuk kepala Steve Rodmeyer.


"Sudah siap ?" tanya Clarissa Mae dengan tatapan menghunjam, "apapun keputusan mama setelah bertemu dengan pacarmu, aku mohon satu hal padamu, Steve ! Jangan pernah kamu meninggalkan mama dan rumah ini. Kamulah satu-satunya alasan mama untuk tetap hidup."


Walau dengan tatapan memelas dan nafas yang dihela berlebihan, "siap, Mbak ! Aku janji." gumam Steve Rodmeyer.


"Ayo berangkat ! Ku pegang janjimu loh, Steve ! Pemenuhan janji adalah martabat seorang laki-laki." menggamit lengan Steve Rodmeyer, Clarissa Mae mulai melangkah.


Misteri apa yang masih menghantui hatimu, Vinn? Hingga membuat nyali mu tak sehebat bocah ini.


Dari gaya bicara Steve Rodmeyer, Clarissa Mae bisa memahami satu hal. Selain mewarisi garis wajah imut mamanya, ternyata anak muda itu juga mewarisi sifat cerewetnya.


***


Setiap menit berlalu, dan setiap jengkal jarak terpangkas, jantung Clarissa Mae semakin berdebar. Ada kehawatiran di hatinya, bila Karen Rodmeyer tidak menyukai pacar anak bungsunya maka bisa saja perjalanan mereka akan berujung prahara.


Steve Rodmeyer pun begitu, mulai terlihat garis ketegangan di rahangnya. Walau optimistis, tapi keraguan masih saja menggelayut di dalam benaknya. Bila sang mama tidak sreg dengan pilihannya, maka itu berarti akan menyakiti perasaan kekasihnya, bahkan mungkin akan menghancurkan hidup nya.


Tak jarang mata keduanya bersirobok pada kacak spion dalam mobil mereka, Clarissa Mae dan Steve Rodmeyer ingin saling menguatkan.


Meski di hati Clarissa Mae tak ada setitikpun 'rasa' untuk Edward Rodmeyer, tapi tak dapat dipungkiri bahwa dia telah jatuh cinta pada keluarga itu, terutama pada Karen Rodmeyer. Pelan tapi pasti, dia telah menerima sosok perempuan tua itu sebagai mamanya sendiri.

__ADS_1


Perasaan itu membuatnya resah, dia hawatir bila Karen Rodmeyer akan makin tersakiti oleh keputusan sembrono anak bungsunya. Bila itu terjadi, maka Clarissa Mae tak akan bisa terlepas dari rasa bersalah.


Tiba-tiba ia merasa mobil seperti enggan bergerak. Merambat perlahan nyaris tak beringsut. Ada yang salah ! Mata sang sopir terlihat sedang membara, menatap geram ke arah sebuah mansion tua. Mengekori mata sopir itu, lalu hati Clarissa Mae teriris sembilu.


Vinnie !? Kenapa di sini ? Ini rumah siapa ? Dan siapa yang sedang kamu peluk itu ? Ah ... Tak mungkin ! Kamu tak pernah tertarik pada gadis belia.


"Kenapa berhenti, Steve ?" tanya Karen Rodmeyer. Kaca matanya masih berada di dalam tas. Tanpa kaca mata, orang tua itu nyaris buta.


"Gadis berkerudung itu pacar mu ya, Steve ?" yang ia maksud adalah gadis berhijab yang sedang bermanja dalam pelukan 'Vinnie'-nya.


Setelah mendiamkan pertanyaan mamanya, Steve Rodmeyer sengak membalas Clarissa Mae. "Mantan !"


Cemburu ! Steve Rodmeyer sedang mencemburui Arvine Dowson karena kedapatan sedang memeluk Fatimah Mahmud. Itu yang berada dalam pikiran Clarissa Mae.


"Aku kenal laki-laki itu, Steve. Kamu ga usah cemburu !"


Mata Steve Rodmeyer mengular, menjangkau wajah Clarissa Mae hanya untuk memastikan.


"Dia itu Arvine Dowson. Entah kenapa dia berada di sini ?"


Terbersit rasa lega dari wajah Steve Rodmeyer. "Mbak Rissa kenal dia juga ?" lalu berganti dengan binar hawatir dari dalam matanya. Yang ia tahu, nama itu adalah nama lelaki yang dicurigai oleh kakaknya sebagai penculik keponakannya.


"Iya ... Kenapa ? Kamu belum pernah lihat wajah Arvine Dowson ?"


Hanya tersenyum, Steve Rodmeyer kemudian menjalankan mobil nya secara perlahan untuk mendekati pintu gerbang.


"Bukankah dia musuhnya Mas--"


"Pssst !" lalu mata Clarissa bergeser cepat ke arah Karen Rodmeyer, kemudian mengerjap berat beberapa kali. Melempar isyarat kepada Steve Rodmeyer agar sang Mama tak perlu tahu perihal pertikaian antara Edward Rodmeyer dengan Arvine Dowson.

__ADS_1


'KELUARGA MILLER' tercetak dengan huruf kapital di atas selembar pelat besi. Warna background-nya biru tua, dan warna hurufnya putih. Terpasang di tiang gerbang. Sangat mencolok ! Bahkan membuat mata Clarissa Mae nyaris menangis.


__ADS_2