
Sebuah istana tersibak pintunya, menyambut kedatangan Shanique Miller saat senja baru saja pulang ke peraduan.
Jack Rodmeyer terbahak kegirangan ketika istrinya memeluk mesra tubuh tamu untuk acara makan malam mereka itu.
"You look georgeous, Sayang !" bisik Karen Rodmeyer di telinga Shanique Miller, padahal dia hanya mengenakan gaun putih terusan sederhana yang menutup pundak hingga mata kakinya, sedangkan kakinya hanya bersepatu kulit warna putih dengan heel tanggung, tidak tinggi tapi tidak juga datar. Rambutnya diikat kebelakang. Kesan kesederhanaan perempuan eropa abad pertengahan sangat menonjol pada penampilan Shanique Miller malam itu.
Meja oval terbuat dari batu marmer telah dipenuhi beraneka makanan yang menggugah selera, lengkap dengan buah mangga harum manis dan berbagai jenis minuman dalam botol yang masih tersegel. Tapi itu semua tak menarik perhatian Shanique Miller, dia lebih fokus pada sosok Edward Rodmeyer yang mengacuhkannya.
Putra sulung keluarga Rodmeyer itu hanya duduk membisu di ujung meja sambil sesekali melirik jam tangannya. Bahkan ketika makan malam tengah berlangsung, dia fokus pada cara menghabiskan isi piringnya saja, tanpa berkata sepatahpun.
Sesi makan malam telah selesai, berganti dengan sesi obrolan di meja makan, sebuah sesi keakraban dan keramahtamahan, hangat dan cair.
"Kenapa seseorang harus membeli buku bila hanya untuk 'digurui' ?" celetuk Edward Rodmeyer, membuat meja makan itu sejenak hening.
"Karena guru terbaik nomor 2 adalah buku, terbaik nomor 1 adalah pengalaman." balas Shanique Miller. Dia bersyukur dalam hati ketika mengetahui bahwa Edward Rodmeyer ternyata tidak bisu.
"Secara hirarki filsafat, kebenaran nomor 2 adalah penjabaran teknis dari kebenaran nomor 1."
"Memang benar !" sahut Shanique Miller.
"Itu berarti semua buku dan novel ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulisnya, begitu ?" ketus Edward Rodmeyer sambil mencecap air putih dari gelas yang disuguhkan di depannya.
"Tidak serta merta seperti itu ! Seorang penulis terkadang harus menggali pengalaman dari orang lain yang dilanjutkan dengan penelitian dan perenungan untuk menghasilkan sebuah tulisan yang bagus."
"Itu berarti sosok penulis bisa jadi seseorang yang sok tahu dan sok menggurui ! Ha ha ha ha ...."
"Sepanjang apa yang ditulisnya adalah kebenaran atau menginspirasi pembacanya untuk berbuat benar, tak ada masalah dengan sebutan 'sok tahu' atau 'sok menggurui'."
"Dan Nona bangga menjadi figur 'sok tahu' ?"
"Eddy !?" sergah Karen Rodmeyer. Dia menganggap anaknya itu telah berlaku kurang sopan.
"Biarkan saja, Tante !" balas Shanique Miller pada Karen Rodmeyer. "Lanjutkan opinimu, Tuan muda !" kali itu dia seperti menantang Edward Rodmeyer.
"Seharusnya Nona malu menjadi sosok 'sok tahu' yang dengan mudah meng-generalisasi kasus hanya dari sudut pandangmu saja." suara Edward Rodmeyer terdengar semakin panas.
"Eddy !?" kali itu suara sang papa yang mulai terdengar jengah.
"Maaf, Pa ! Saya merasa memiliki hak jawab atas kritikan dan hinaan nona ini pada cara saya menangani keluarga saya, terutama pada apa yang sudah saya lakukan untuk Helena." mata Edward Rodmeyer memerah, "novel ini telah menghina saya !" lanjutnya.
Tercekat, diam, dan membisu. Ruang makan itu mendadak sunyi. Semua mata tertuju pada Edward Rodmeyer dengan tatapan iba.
__ADS_1
"Ehmmma ..af !" gugup Edward Rodmeyer. Dia baru tersadar bahwa novel karangan Shanique Miller itu tidak mungkin adalah kritik atas kehancuran rumah tangganya, itu adalah fiksi.
Tanpa permisi, Edward Rodmeyer meninggalkan ruang makan dengan langkah gugup tak menentu. Diiringi sunggingan senyum penuh kasih oleh bibir Shanique Miller.
"Ha ha ha ha ha ...." Jack Rodmeyer tak mampu menahan tawanya.
"Husssh ... Papa ih !" buru-buru Karen Rodmeyer membungkum mulut suaminya, agar anak sulungnya tidak semakin malu dan risih hati.
"Tolong bantulah Eddy, Nona ! Kasihan dia." harap Karen Rodmeyer. Matanya menebar keseriusan.
"Akan saya usahakan, Tante !" balas Shanique Miller.
"Janji ?" kejar Jack Rodmeyer.
***
"Itu lebih parah daripada perjanjian dengan iblis !"
Sebuah kalimat yang keluar dari mulut Nickolaus Welas membuat Raquella Mae tersentak. Meski diucapkan dengan suara baritone sambil tersenyum, Raquella Mae menangkap ada nada sinis dalam ucapan orang kepercayaan kekasihnya itu.
"Maksud lo ?" Kejarnya seraya membenahi letak duduk nya.
"Iya."
"Apa kata dia ?" Balas Nickolaus Welas sebelum memulai memasang tenda.
" ' ... Jangan macam-macam dengan nyawa mu, karena mulai sekarang, aku lah pemiliknya ! ... ' yang itu ?"
"Iya ! Saat itu mata Ayu mengerjap berat, yang artinya, benak dia mengamini ucapan Vinnie." jelas Nickolaus Welas. Tapi itu belum memuaskan keingintahuan Raquella Mae, dia masih tercengang pada frase 'perjanjian dengan iblis' yang diucapkan Nicklaus Welas dengan sinis itu. Tak ayal, dia menarik paksa ujung T-shirt Nickolaus Welas agar pemuda itu berhenti menata tenda, dia menuntut sebuah penjelasan detil atas frase itu.
"Apaan sih !?" keluh Nickolaus Welas. Dia hawatir T-shirt nya jadi melar.
"Terus apa hubungan ucapan vinnie dengan iblis ?"
Nickolaus Wenas sedikit ragu untuk menjelaskan racauannya.
"Lo jangan asal ngomong ! Di depan dia lo menunduk hormat, giliran di belakang, lo omong miring !" maki Raquella Mae dengan wajah sedikit memerah.
"Sebentar ! Ku bereskan ini dulu." Alih Nickolaus Welas.
"Ga bisa ! Lo jelasin dulu apa maksud sinis itu." Paksa Raquella Mae.
__ADS_1
"Bill, Putu ! Dan lo, Jonas !" panggil Nickolaus Welas kepada 3 rekan nya yang sedang mengatur kayu untuk membuat perapian. "Lanjutkan memasang tenda ! Aku perlu bicara pada Nyonya Dowson ini !" lanjut nya.
"Beres ! Hahahaha ... Cuci otak kumalnya itu ! Biar kinclongan dikit." Ledek Billy Williams.
Dari tawa diantara 3 orang itu, jelas mereka menyimpan suatu misteri. Nickolaus Welas, Billy Williams dan I Putu Sudharma sepertinya menyembunyikan rahasia tentang Vinnie Dowson. Sementara Raquella Mae, Ida Ayu Widarti dan seorang kadet bernama Jonas Williamson seperti orang dongok yang ga ngerti apa-apa. Sampai akhirnya, Nickolaus Welas memutuskan untuk memberitahu Raquella Mae, empat mata. Mereka duduk di bibir kubah kawah di puncak Rinjani.
"Kamu dengar cerita ku ! Sampai selesai, jangan menyela !" tegas Nickolaus Welas. Raquella Mae mengangguk meng-iyakan.
Setelah sebuah tarikan nafas besarnya, angan Nickolaus Welas melayang jauh ke belakang, seperti hendak mencari jarum kecil di dalam tumpukan jerami ingatannya.
"Dulu, aku pernah berada di posisi Ayu." Nickolaus Welas mengawali pengakuannya. "Mencoba bunuh diri, tentu dengan alasan yang berbeda. Melompat ke dalam sebuah jurang di salah satu tebing di lembah Baliyem. Tubuhku meluncur bebas menuju kematian, mata ku terpejam rapat ! Tapi entah bagaimana, aku seperti memasuki alam lain." Nickolaus Welas menjeda ceritanya, lalu dilihatnya mata Raquella Mae, menelisik ke dalam benak perempuan muda itu seolah ingin memastikan kesiapan mentalnya. Lalu tersenyum sendiri dan melanjutkan pengakuannya.
"Aku melihat bangkai manusia berserakan, dan mencium anyir darah yang menggenang di sepanjang pengelihatanku. Rintih sebuah kepala yang kukenal tiba-tiba mengagetkan aku, memohon ampun kepada ku, mendatangi aku tanpa leher dan badan, suaranya mengilusikan horor tersangar ! Membenamkan jiwaku ke dalam kengerian terburuk di sepanjang hayatku. Matanya terbalik persis seperti saat terpenggal kepalanya waktu itu. Kucoba untuk mengahalaunya dengan tangan ku, tapi sia-sia, kepala itu seolah berpindah ke sisiku sambil terus mengerang : " GGGRRRGRRREEGHHG !!" persis seperti suara di lehernya kala kami memenggalnya." Nickolaus Welas memejamkan mata, tak kuasa melanjutkan ceritanya, keringat telah membasahi dahi hingga pipinya. Dia sedang tercekam rasa takut luar biasa.
Raquella Mae menatapnya dengan mata yang tak kalah kalutnya, jelas sekali terlihat keringat dingin mulai membasahi belakang lehernya, dia juga tercekam kengerian, lalu makin takut saat Nickolaus Welas melanjutkan Pengakuannya.
"Akhirnya kupilih untuk berlari, meninggalkan kepala itu sejauh mungkin dengan menerjang tumpukan bangkai manusia. Tapi dia mengejar ku, kepala itu menggelinding mengikuti langkah ku. Jatuh bangun aku berlari, mengerahkan semua daya ku untuk menjauh, merangkak bahkan terjerembab ke kubangan anyirnya darah segar manusia, tapi semua sia-sia ! Kepala tanpa leher itu terus mengikuti kaki ku, memperdengarkan suara yang paling kutakuti itu, suara ngorok saat kami memenggalnya ! Kupanggil nama Tuhan seperti tertulis dalam Alkitab, kumohon pertolongan kepadaNya ! Tapi sia-sia ... Tuhan menjauhi pendosa seperti ku, Dia tak mau menolong." Lagi, Nickolaus Welas menjeda ceritanya, kali itu untuk mengusap airmatanya.
"Aku telah kehabisan tenaga." Kembali Nickolaus Welas menguatkan diri untuk melanjutkan pengakuannya, "Tak sanggup lagi bahkan untuk bergerak, kaki ku lumpuh mati rasa, tanganku layu tak bertulang ... Pupus sudah asa pelarianku ! Luruh dalam dekapan teror penyesalan ku. Hanya suara ku yang bisa kudengar, diantara lolong dan erang suara kepala itu. Dari cakrawala hitam di ujung langit, kulihat sepasang mata menyorotkan bara, merah penuh amarah ! Pupilnya hitam siratkan dendam. Memberikan setitik harap kepadaku, untuk memohon pertolongan. " Wahai pemilik mata iblis ! Apapun kamu, mendekatlah ! Tolong aku ! Kan kubayar dengan apapun yang kau mau ... Tolong aku !" Teriak dengan segenap sisa tenaga. Kemudian dia 'mengoar' menyuarakan auman dahsyat meski dalam bentang jarak teramat jauh. Kepala itu mendongak ke arah iblis bermata bara, lalu terbirit menggelinding hilang entah kemana, menyisakan aku dalam nafas lega luar biasa." Nickolaus Welas sekali lagi menjeda, untuk menyematkan senyum di tebal bibirnya.
" "Terima kasih, Tuhan !" ucapku kala itu, tiba-tiba dia melompat ke sisi ku, terjangan cakarnya memercikkan darah ke pelipis ku. Dia hanya berwujud halimun hitam pekat, tak berbentuk. "Aku bukan Tuhan ! Aku hanya makhluk tanpa kasih dan cinta. Sekarang, buka mata mu lebar-lebar !" suaranya sangat jelas, memaksa ku untuk membuka mata. Ketika ku hela nafas ku, kubuka mata ku, aku telah berada di atas tebing, tanpa terluka. Tahukah kamu, apa kalimat makhluk itu selanjutnya ?" Pungkas Nickolaus Welas.
Raquella Mae gugup, dia seperti baru saja lepas dari hipnotis. "Apa ?" kata nya.
"JANGAN MACAM-MACAM DENGAN NYAWAMU, KARENA MULAI SEKARANG, AKULAH PEMILIKNYA !" Teriak Nickolaus Welas kepada kawah gunung Rinjani.
"Busyet !" seru Raquella Mae. Masih tersisa ketakutan di matanya.
"Yang paling mengerikan adalah saat makhluk itu mengusap mukaku dengan cakarnya, memaksaku kembali memejam. Kemudian saat aku kembali membuka mata, makhluk itu hilang, berganti dengan sosok Arvine Dowson yang berdiri di hadapan ku. Dan semua kata-kata nya terpahat abadi dalam ingatanku." Nickolaus Welas mengakhiri pengakuannya dengan senyum sumir.
"Ragu gw !" Celetuk Raquella Mae, dia belum yakin pada kebenaran pengakuan Nickolaus Welas.
"Kamu bisa tanyakan ke Ayu ! Tentang apa yang telah dilalui oleh batinnya sebelum Cowo mu itu mengusap muka nya." tantang Nickolaus Welas.
Mendengar itu, Raquella Mae merasa bahwa lelaki itu bicara jujur. Tapi tetap saja dia tidak mau menerima kenyataan bahwa Arvine Dowson adalah seorang lelaki yang tak punya cinta dan kasih, karena di matanya, Arvine Dowson adalah lelaki lembut penuh kasih dan cinta.
"Coba kamu pikir ! Kenapa Vinnie mengusir turun 6 kadet dan mengajak 1 saja diantara mereka ? Jonas Williamson !" Tanya Nickolaus Wenas dengan tatapan serius. Membuat Raquella Mae hanya mampu mengangkat kedua bahunya. "Aku yakin ada yang disembunyikan Vinnie, Jonas pasti akan berperan penting dalam misinya ini, hanya Vinnie yang tahu." gumam lelaki Papua itu pada dirinya sendiri.
"Trus ngapain juga Vinnie memilih melakukan solo hiking (mendaki seorang diri) di sisi utara ? Kenapa ga bareng kita saja ?" susul Raquella Mae dalam gerutunya.
"Vinnie adalah misteri ! Tak akan ada yang tahu ke arah mana jalan hidupnya, bisa saja dia menjelma Tuhan ... Atau iblis !" Keluh Nickolaus Welas kepada sekuntum edelwies hitam.
__ADS_1