
Pengakuan Nickolaus Welas telah membuat gundah hati nya, lalu bertambah resah saat dia mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Ida Ayu Widarti, semuanya teraduk rata dalam benak Raquella Mae, membuat nya terpaku dalam diam seribu bahasa.
Orang yang selama ini dipujanya tiba-tiba saja digugat sisi kemanusiaannya oleh teman dekatnya sendiri. Nickolaus Welas jelas-jelas memberi bukti, dan Ida Ayu Widarti memberi kesaksian. Itu semua menggiring perasaan Raquella Mae dalam keraguan, memutar balik keyakinannya bahwa sosok Arvine Dowson adalah titisan Rahwana, raja yang mencintai kekasihnya tanpa syarat.
Frustrasi nya kian nyata saat hatinya mulai kelu kedinginan, terbebat rindu tak terjamu kepada kekasihnya yang memutuskan untuk berpisah, dia memilih mendaki sendiri di sisi tenggara puncak Rinjani, sementara Raquella Mae dipaksa mendaki bersama kawanannya di jalur barat. Mereka terpisah dalam bentang ruang dan rindu. Raquella Mae semakin larut dalam elegi hari itu, hari dimana yang mencinta harus rela tersakiti oleh mereka yang pergi. Itu membuat matanya mulai berlinang.
"Sebentar lagi dia muncul, di sana ! Di atas pucuk pinus itu." Ucap I Putu Sudharma yang datang tiba-tiba membawa serta peluk pereda sedih.
Seakan tak ada pilihan lain, Pundak I Putu Sudharma menjadi tempat bersandar satu-satunya dari sengatan kebimbangan yang mendera batinnya.
"Kenapa harus menangisi rindu ? Berdoa lah untuknya, karena yang terbaik dari merindu adalah doa-doa yang menyertainya." Kutip I Putu Sudharma.
"#!?" Raquella terkejut.
"Hmmm ... Perkataan itu yang sering diucapkan Vinnie kepada teman-teman dekatnya." jelas I Putu Sudharma.
"Tapi mereka ngomog miring."
"Karena mereka memiliki sudut pandangnya sendiri. Vinnie itu manusia polos yang bisa di pandang dari sudut manapun oleh siapapun, karena dia tak pernah memakai topeng kemunafikan atau berbusana pencitraan." suara I Putu Sudharma terdengar lembut, bak tetesan embun di palung hati. Membuat Raquella Mae semakin nyaman, lalu mengusap linang terakhir di mata nya.
"Vinnie adalah sahabat sekaligus rival terbaikku." I Putu Sudharma pun seperti terpanggil untuk bercerita.
"Dalam banyak misi, kami sering berlomba untuk membuktikan siapa yang lebih cepat, lebih efisien dan pasti lebih baik. Bukan untuk mencari pemenang, hanya sekedar sebagai bahan untuk saling mengejek dan saling menertawakan." I Putu Sudharma diam sejenak. Melempar senyum simpul kearah mata Raquella Mae yang sipit nan menggemaskan itu. Kemudian tangannya menarik hidung gadis bongsor tapi cengeng itu dengan geram.
"Lanjutin dong, Kak !" keluh Raquella Mae dengan gaya khas nya, MANJAH !
"Sampai suatu ketika, di misi penaklukan Puncak Jaya. Kami yang sedang rehat di tepian sungai sambil saling lempar ledekan, dikejutkan oleh pekik perang adat bangsa Papua. Pekik itu berasal dari dalam hutan di belakang kami. " itu OPM !" teriak salah satu anak buah Vinnie. Sontak kami berlari menyeberangi sungai, seluruh anggota kami berlari dalam satu komando, komando Vinnie ! Karena aku tahu, Cowo mu itu 'master of crisis'-nya hikers." I Putu Sudharma menghentikan ceritanya hanya untuk melempar ledekan kepada Raquella Mae yang terlihat cengar-cengir melangitkan senyum. "Ketawa deyh, Dasar cewe lo !" ejeknya. Membuat senyum gadis itu melebar menjadi tawa.
Raquella Mae yang sudah merasa nyaman berpindah posisi. Dia memilih duduk bersila di hadapan I Putu Sudharma, "Lanjut, Pak ! Hehehe ...." candanya.
"Dasar lagi apes ! Kaki ku nyangkut di sela dua batu sungai, terhimpit di celah dua sisi batu yang tajam. Ku tarik paksa kaki ku sekuat tenaga, tapi gagal. Kulihat semua orang telah sampai di seberang sungai, sebagian sudah lari menerobos hutan. Tapi dasar si Vinnie ! Dia malah berbalik kemudian lari ke arah ku, padahal saat itu suara senapan mesin mulai menggema, memberondongkan peluru ke udara. Seolah tak acuh, dia membantu ku, menarik kaki kanan ku. Memang berhasil lepas, tapi terluka parah, tak mungkin untuk berlari lagi. Dia memilih menggendong ku, mengangkat berat tubuhku di punggungnya. Lalu berusaha berlari. Tapi desing peluru sudah terlalu dekat, memercikkan air di dua sisi kami, memberiku hanya satu pilihan, yaitu menarik belati di pinggangku lalu mengancamnya : " Lepaskan aku atau kugorok lehermu !" Tapi dia tak perduli, sampai akhirnya kutekankan belati ku di lehernya, sedikit menggores kulitnya. "Aku serius, Vinnie ! Lepaskan aku lalu berlarilah, selamatkan tim kita." paksaku kala itu. Dan berhasil, Vinnie melepaskan aku dari gendongannya. Mata nya menyorotkan sesal yang luar biasa saat dia memalingkan mukanya dari ku, kemudian berlari di antara terjangan timah panas. Sampai saat ini, sorot mata sesal itu masih tertanam dalam ingatanku sebagai monumen di hatiku bahwa Vinnie adalah sosok lelaki ... ITU DIA !!" Teriak I Putu Sudharma sambil melompat kegirangan, kemudian nyengir menahan nyeri karena baru sadar bahwa kaki dan dadanya masih terbebat perban.
"Di mana ?" gugup Raquella Mae, dia tahu maksud teriakan I Putu Sudharma adalah kemunculan Arvine Dowson, lelaki pujaan hatinya.
"Di pucuk pinus itu !" seru I Putu Sudharma seraya menunjuk sebuah siluet kecil yang sedang melambai.
Seperti perempuan pada umumnya, dia memang memiliki spektrum pandang yang lebih lebar, tapi fokus nya tidak lah sejauh kaum lelaki, karena itu Raquella Mae tetap tak mampu melihat sosok Arvine Dowson meski sudah mengikuti arah jari I Putu Sudharma, dengan terpaksa dia berlari ke arah kameranya. Memutar sedikit 'angle' di tripodnya, maka mekarlah senyumnya, mekar bak mawar bulgaria di langit bulan juli, senyum yang terlalu cantik untuk dilukis dengan diksi, senyum yang terlahir dari dalam rasa syukur dan mekar oleh bibir seorang perindu.
__ADS_1
Kemudian samar terdengar di telinganya, juga di telinga kawanannya, suara pekik nan pelan, nyaris tertimpa dengus pucuk pinus, "EUREKA !"
Disambut gegap teriak oleh NickoLaus Welas, Billy 'the trouble' Williams, I Putu Sudharma, Jonas Williamson, dan Ida Ayu Widarti. Mereka kompak memekik : "EUURRREEEEKAA !!” Hanya Raquella Mae yang berbisik pelan, dari bibir nya yang membias ikhlas : " Terimakasih Tuhan, telah Kau wujudkan doa dan pengharapanku."
Sosoknya telah tampak oleh mata, meski terhalang bentang kubah kawah, 3 hari sudah dia terpisah, maka terjamulah rindunya meski tak sesempurna yang dia mau. Sesaat hati Raquella Mae berbahagia, tapi hanya dalam saat yang teramat singkat. Karena I Putu Sudharma segera membenamkannya dalam rapsodi tangis saat bergumam :
"Bila tak ingin mati oleh hipothermia, maka bergegaslah, Sobat ! Meluncurlah secepat yang kau mampu untuk bermukim di 'goa kutukan' itu, karena tak mungkin senja ini akan menuntunmu lagi."
"Goa kutukan !?" tanya Raquella Mae, mengawali desir kengerian baru dalam benaknya.
"Iya !" Lugas bibir I Putu Sudharma menjawab, "lobang hitam di sana itu adalah goa kutukan, kata orang-orang lokal sini, goa itu adalah goa tempat bersemayamnya iblis pemakan sukma." lanjutnya dengan wajah sedih.
Kehawatiran mulai menyelimuti hati Raquella Mae, lebih dari sebelumnya. Memerahkan mukanya, menggiring tangis nya nyaris sampai di ujung mata. Goncangan batin nya di hari itu sungguh tak tertahankan, sedih karena kekasihnya dianggap sesat oleh Nickolaus Welas dan Ida Ayu Widarti, kemudian berbahagia kala mendengar I Putu Sudharma bercerita, lalu di penghujung hari itu, kembali tetancap sembilu di dasar kewarasannya, sang kekasih harus lagi dan lagi bertarung dengan malaikat kematian saat dia hanya mampu melihat dan berdoa.
Dengan sorot mata penuh empati, I Putu Sudharma menatap wajah Raquella Mae, kemudian berbisik pada dirinya sendiri : "Cinta mu hanya akan menghancurkanmu, Peri !"
***
Deru suara hujan di tengah malam terdengar seperti simponi dari dasar neraka. Menggiring jiwa-jiwa resah kedalam ketakutan, mencecar seperti berondongan peluru melubangi kewarasan mereka. Begitupun dengan Clarissa Mae, dia hanya mampu duduk memeluk kedua lututnya di sudut kamarnya sambil berharap agar hujan itu segera reda.
Sementara rasa nyeri yang semula hanya sedikit mengganggu perutnya mulai membuatnya mual.
Menyebut nama kekasih nya, seolah nama itu akan mengusir rasa melilit di dalam perutnya.
Ketika suara petir membelah langit, mata nya hanya mampu memejam rapat. Sementara kedua tangannya menggigil menutup telinga. Meringkuk sendiri di sudut kamar seperti anak ayam kehilangan induk. Tak mampu lepas dari rasa bimbang.
Kebimbangan yang hadir kala dia harus memilih. Menjalani kenyamanan sekedar sebagai kekasih atau menjalani ketidakpastian demi terwujudnya keinginan suci untuk melahirkan keturunan.
"Aku tahu, Vin ! Pendakian mu kali ini bukan untuk bersenang-senang. Tapi aku ga kuat hidup tanpamu ...." desahnya pelan tapi mengalir lurus membela awan menuju singgasana Tuhan.
Gadgetnya tergeletak di ujung kaki, mengabarkan bahwa sang kekasih berada diluar jangkauan operator seluler. Perut Clarissa Mae makin melilit.
"VINNIE !!" Jeritnya menahan nyeri saat harus tersujud bertumpu kening dengan tangan meremas perutnya. Airmata bercampur keringat dingin melumerkan lantai, memberi tanda bahwa dia sedang sangat menderita tanpa siapa-siapa.
Menjerit dan merintih bukanlah solusi, dia tahu itu ! Tapi tetap saja dilakukannya karena dia tak ada pilihan lain. Nyeri di perutnya kian tak tertahan, bercampur takutnya pada hujan badai di tengah malam, membuatnya tak sanggup lagi bersujud, gigil tubuhnya memaksa untuk direbahkan, miring sambil meringkuk dengan tangan makin keras meremas perutnya. Kepada tuhannya, mulut Clarissa Mae mulai memohon : "Demi namamu, Tuhan ! Dan demi keinginan suci ku, akan ku tahan semua lara ini walau tanpa siapa-siapa. Aku berpasrah diri kepada apa yang Kau gariskan."
Terpejam, menyerah kalah pada derita ... Tak sanggup lagi bertahan, hampir pingsan.
__ADS_1
"Beeep ... Beeeep ... Beeep beeep." gadgetnya berbunyi, memaksanya untuk kembali bangkit dari keterpurukan.
"Heloow ...." sember suara Clarissa Mae.
"Rissa ? Are you oaky, Darling ?" jawab suara lelaki di dalam gadget.
Ada guruh maha dahsyat menghantam jantung Clarissa Mae, membangkitan jutaan Joule daya hidup di seluruh sel-sel dalam jaringan tubuhnya, mengusir semua rasa takutnya, membangkitkan semangat juangnya untuk kembali duduk bersila.
"He emb, Vin ! Aku baik-baik saja ... Sehat walau sedikit merindukanmu."
"CUIHHH !" pisuh seekor cicak sambil terbirit sebelum tersambit.
"Sudah minum analgesic ? Ingat ... Malam ini mestinya adalah malam PMS mu ! Biasanya kamu kesakitan. Apalagi sekarang aku ga bisa hadir menemanimu, maafin aku ya !?" kata Arvine Dowson dari ujung sambungan telephon.
"So sweet ! Kamu ingat siklus menstruasiku ... Hihihi !" canda Clarissa Mae diantara ringis nyerinya, "dosis dobel analgesic dan foto mu disisiku sudah cukup menguatkan ku di malam yang cerah ini."
"Owh ... Syukur deh !" pelan suara Arvine Dowson.
"Kok kamu dapat sinyal, Sayang ?"
"Pinjem satphonenya anak baru ... ga pakai sinyal operator seluler, ini langsung via satelit."
"Hebat dong !" ledek Clarissa Mae.
"Mulai deh ...!"
"Oh yaa, Vin ! Gimana makanmu ?"
"Baik ! Cukup untuk menopang petualangan ini." jawab Arvine Dowson, "maaf ya, Rissa ! Batrey satphone ini sangat terbatas, aku sengaja paksain untuk nelpon kamu karena biasanya kamu kesakitan di saat PMS."
"Ga kok, Vin ! Kali ini aku kuat ... Tapi buruan pulang ... Kangen."
"Iya, Rissa ... Aku juga kangen."
"Yaudah ... Tutup teleponnya."
Lalu 'tuuuut' tanda sambungan telah terputus.
__ADS_1
Seperti kembali dari keterasingan, langkah Clarissa Mae dikuatkan, beringsut perlahan untuk kembali ke atas pembaringan. "Vinnie, aku tidak baik-baik saja, aku sakit ... Tapi aku tak ingin jadi beban pikiranmu, karena aku tahu bahwa kau melakukan semua itu demi aku dan calon anak-anak kita." bisik dalam hatinya.