
Kenapa bukan kata "iya ... " ? atau kalimat lain yang memiliki makna 'menerima' yang keluar dari bibir Shanique Miller saat sebuah komitmen ditawarkan kepadanya oleh Edward Rodmeyer ?
Apa yang kurang dari sosoknya sehingga Shanique Miller memilih untuk menyusun ucapan pemanis bibir agar dia tak sakit hati ? Ganteng, iya. Berkuasa, iya. Populer, iya. Kaya raya, jangan ditanya. Dan yang paling mengherankan, semua orang tahu bahwa Edward Rodmeyer adalah lelaki yang setia dan penyayang keluarganya, tapi tetap saja itu semua tak mampu meluluhkan gunung es di hati Shanique Miller.
Satu-satunya alasan kenapa perempuan cantik berusia 30 tahun itu kukuh menutup hati adalah karena dia sedang menjaga hatinya untuk seseorang. Siapa lelaki yang mampu mengalahkan pesona Edward Rodmeyer ? Bahkan membuat putra mahkota 'The Rodmeyer's' itu harus menelan ludahnya sendiri saat berdiri di beranda depan rumah perempuan itu. Untuk kesekian kalinya, Edward Rodmeyer harus pulang dengan hati kecewa.
Langkah Shanique Miller memang selalu begitu, menapak ke lantai dengan irama sendu. Pinggangnya pun selalu pelan saat akan duduk di kursi kerjanya, kursi putar yang sandaran punggungnya telah kelewat empuk, mungkin penyet karena terlalu sering disandari.
Desktop di depannya perlahan mulai dijamah, kali itu bukan untuk menulis, tapi hanya untuk membuka sebuah file lama. 'Warm side of me' itu judul filenya.
Gambar pertama yang muncul di layar desktopnya itu disambut untaian senyum kecil di bibirnya, kemudian tertawa terkekeh pada gambar berikutnya, lalu perlahan meredup ... Bibirnya datar, wajahnya tegang.
Ketika semua file foto telah terlewati, dan hanya menyisakan file-file Video, wajahnya mulai gelisah. Bibirnya mulai bergetar seolah takut menyaksikan rangkaian video-video pendek di hadapannya. "Demi rinduku, aku harus kuat." bisik dalam hatinya.
Bukan video thriller tentang cerita horor yang dilihatnya, hanya rangkaian beberapa vlog yang didownloadnya dari yo*tube, terkhusus hanya dari seorang vloger bernama 'sang pujangga'. Sejujurnya, tak ada keistimewaan dalam video itu, hanya berisi aksi seorang lelaki yang sangat menggilai adrenalin serta kegilaan-kegilaan lain yang menjadi bumbu teknik sinematografi. Tapi itu disesaliinya ! Seolah tengah dihadang rasa bersalah, Shanique Miller larut dalam tangis tanpa henti, telapak tangannya menggenggam erat liontin kalungnya hingga nyaris berdarah.
Sekeranjang sudah tisue terbuang, basah karena mengusap airmata. Habis sekotak lalu datang lagi ... dan lagi. Hingga disadarinya bahwa tak mungkin kotak tisu bisa tersodor oleh angin, Shanique Miller memutar kursinya, kala dibelakang nya tengah berdiri 3 mahasiswi yang juga berburai airmata.
Farah Isuke tersedu. Cindi Latuconsina membuang pandangannya ke sudut plafon dengan linang tak henti. Fatimah Mahmud langsung menghamburkan tubuhnya dalam pangkuan Dosen pembimbingnya itu. Mereka sengaja mengendap memasuki kamar untuk mengetahui kisah sendu perempuan yang mereka anggap sempurna itu.
"Tak mungkin permata berkilau jika bukan karena badai dan hempasan panas yang menderanya !" celetuk Cindi Latuconsina.
"Cindi ...." serak suara Shanique Miller.
Pada akhirnya, segala yang terlihat seperti sempurna runtuh juga dalam dekapan peluk haru ketiga mahasiswinya. Tak ada lagi yang perlu disembunyikan, karena mencintai bukanlah aib, dan merindui tak melulu harus menangisi. Ada cara lain yang lebih bijak, yaitu ....
__ADS_1
"Ihlaskan atau wujudkan !" bisik Fatimah Mahmud, setelah semua tangis mereda.
"Hmmm ... Usia kami tak muda lagi, segalanya akan terasa lebih rumit, Fat ! Akan ada banyak hati yang tersakiti bila aku memaksa untuk tetap mewujudkan impian masa remaja kami."
"Dan cara Kak Shasa mengihlaskannya adalah dengan menghancurkan hidup Kakak sendiri ?" sahut Fara Isuke. "Maaf ya, Kak ! Darah Nipon di dalam diriku ini selalu berontak saat mendengar kata 'ihlaskan', karena kami tidak dididik untuk memahami kata itu. Kami terbiasa hidup dalam retorika 'perjuangkan' atau 'wujudkan dengan darahmu bila itu harus'. Tidak ada yang mudah dalam hidup ini, Kak ! Bahkan dalam percintaan !" comel gadis itu sudah kembali.
"Kak Shasa sudah terlalu menderita, sekarang saatnya untuk bangkit ! 'Semut pun akan menggigit bila koloninya disakiti' itu kata Kakak sendiri kan ? Di novel ini !" sambung Cindi Latuconsina.
Saat Cindi Latuconsina menunjukkan novel di tangannya, Shanique Miller tersenyum getir. Novel itu adalah novel pertamanya.
"Bintang adalah Bang Vinnie, dan Bulan adalah Kak Shasa ... Dan plotnya adalah kisah nyata yang dijalani penulisnya ! Benar kan, Kak ?" lanjut Cindi Latuconsina. Yang hanya sanggup dijawab dengan anggukan kecil oleh sang mentor.
"Apakah dia masih mengingatku ?"
Sebuah pertanyaan sederhana keluar dari bibir Shanique Miller, membuat mulut tiga mahasiswi di hadapannya bungkam, mata mereka saling taut tanpa tahu bagaimana menjawabnya.
***
Helena Krysnowack memasuki kamar hotelnya dengan rasa kesal. Mantan istri Edward Rodmeyer itu terpaksa menggunakan kembali nama keluarga Krysnowack setelah perceraian mereka resmi didaftarkan di kedutaan Polandia 3 tahun sebelumnya.
Pada awal kehidupan berumahtangga mereka, hidupnya ibarat dongeng para ratu. Menikmati semua fasilitas sebagai istri putra mahkota kerajaan bisnis 'the Rodmeyer's', hidup bergelimang harta dan kemewahan, lengkap dengan sorot kamera media yang menguntit kehidupannya.
__ADS_1
Sanjung dan puji dari lingkungannya perlahan merubah kepribadiannya. Sosoknya yang dulu 'humble' perlahan ditanggalkan, berganti dengan 'topeng' kesempurnaan. Media pun makin menyorotnya, memperlakukan dia bak seorang aktris papan atas lengkap dengan glamornya kehidupan malam. Apalagi setelah kelahiran anak pertama mereka-Sean Rodmeyer, perempuan kelahiran Warsawa itu mulai mengenal dunia hitam, narkoba dan alkohol mulai digilainya. Mengabaikan semua nasehat suaminya, dia makin larut dalam hedonnya kehidupan kerlip lampu diskotik.
Hingga suatu ketika, beberapa orang anggota korps kepolisian mengakhiri segalanya. Mereka mendobrak kamar hotlenya, mempersalahkannya dengan pasal kepemilikan narkotika. Menggelandangnya seperti pengemis bersama seorang lelaki yang kerap menjadi teman tidurnya. Itu adalah batas kesabaran Edward Rodmeyer.
'Dust to dust ... From zero to zero !" menjadi akhir kegilaan Helena Krysnowack. Walau belum terimanya.
Di hari itu, hari di saat dia berperan sebagi ibu dari seorang pangeran muda 'The Rodmeyer's', dia hanya mampu menatap getir ke arah sosok seorang perempuan anggun yang segera menggantikan posisinya sebagai 'queen of the Rodmeyer's'.
Perempuan berambut coklat dengan mata biru secerah langit itu bernama Shanique Miller. Dia memiliki semua persyaratan untuk menjadi seorang 'queen', bahkan dia mampu merebut simpati seorang pangeran kecil bernama Sean Rodmeyer. Kenyataan itu membuat hati Helena Krysnowack membara, memupus asa nya untuk bertahta kembali di hati Edward Rodmeyer.
"Don't touch which is mine ! Don't even to try !" geram dalam hati Helena Krysnowak kala itu. Semburat bara dendam membakar mata hatinya bahkan ketika suara lembut menyapanya :
"Hi ... Madam Helena ! Nice to meet you here." hormat Shanique Miller.
"Me too ... You look georgeous, Dear !" balas Helena Krisnowack.
Dia tak memiliki pilihan lain selain berusaha ramah, karena lelaki yang sedang digamit oleh Shanique Miller adalah Edward Rodmeyer.
"Mom, kenalin ! ini mama Shasa." ucap Sean Rodmeyer yang tiba-tiba muncul dari belakang gaun Shanique Miller, bocah itu kemudian bersandar di kaki Helena Krysnowack, "Dia cantik kan, Mom ?" lanjutnya penuh semangat.
"Tentu, Sean ! Daddymu selalu dikelilingi bidadari." jawab Helena Krysnowack.
Saat dia menunduk untuk melihat wajah putranya lebih dekat, tangan Edward Rodmeyer bergerak lebih cepat. Lelaki itu merengkuh tubuh kecil Sean Rodmeyer untuk menggendongnya, kemudian berlalu meninggalkan mantan istrinya itu bengong.
"Sha ...?" lirih suara Edward Rodmeyer.
__ADS_1
Shanique Miller pun beranjak mengikuti, meski disempatkannya untuk menunduk sopan ke arah Helena Krysnowack. Tapi itu tak mampu meredakan amarahnya, dalam hatinya dia mengutuk untuk menuntut balas atas semua malu yang diterimanya.