
Pov : Clarissa Mae.
"Pernikahan ibarat rantai, dimulai oleh sebentuk cincin, lalu terangkai untuk berputar selamanya. Clarissa Mae ! Bersediakah engkau menerima cincin ini sebagai mula dari rantai rumah tangga kita ? Menjadi ibu dari anak-anak kita ? Menjadi perhiasanku dunia dan akhirat ?"
Ya Tuhan ! Tak mampu lagi kutahan airmataku, airmata yang telah kuikrarkan hanya boleh menetes kala berdoa untuk kedua orang tuaku, harus tertumpah tanpa kendali, mengucur deras di dada seorang lelaki yang teramat berharga bagi ku.
"Vinnie--" Hanya itu yang bisa ku bisikkan. Tak sanggup lagi kuteruskan, berganti tangis yang kian sesak menghimpit dadaku. Kupejam mataku kala kurengkuh lehernya dan takkan pernah kulepas lagi. Kuhanyutkan diriku dalam bahtera di lautan cinta, aku mau selamanya begitu.
Biar saja senja tahu warna tangisku, biar saja malam bercerita pada semua, tentang Clarissa yang luluh bersimbah airmata di pelukan seorang lelaki. Biar saja dunia mendengar senandung ku, menjadi saksi bahwa aku pernah bahagia dalam dekapan dada seorang lelaki.
Di atas pusara papa dan mama, di atas tanah tempat mereka bersemayam dalam keabadian, Vinnie melamar ku. Melafazkan ayat-ayat yang lebih sakral daripada semua ayat di kitab suci.
"Rissa !" Bisik Vinnie lembut di sisi telingaku, membuatku merinding, karena hanya papa dan mama yang memanggil ku dengan nama itu.
Kami melepas pelukan. Lalu tangannya menggenggam jemariku, mengajakku berdiri di sampingnya, menghadap makam papa dan mama.
"Tuan dan nyonya Ma, di sisi pusaramu ku pinang putri tercinta mu, izinkan aku membahagiakan Rissa dengan cinta dan kesetiaan. Kami mohon restu."
Suara Vinnie terdengar berat dan dalam seperti sedang berbicara di hadapan papa dan mama.
Saat sekuntum flamboyan putih luruh lalu bertahta di pundak kami, aku mengerti itu adalah pertanda bahwa di alam sana papa dan mama merestui permohonan kami. "Terima kasih Pa, Ma, di langkahnya akan kuturutkan jejakku, di tangannya akan kuabdikan diriku, dan di nafasnya kuselipkan nafasku." janjiku dalam sisa sisa isakku.
Untuk pertama kalinya aku merasa genggaman tangan Vinnie sangat mesra. Selama 4 tahun kami menjalani hubungan hati, baru saat itu lah aku merasa 'diinginkan'. Apalagi saat kemudian dia mengusap airmata di sudut bibirku, aku merasa 'dimiliki'. Dan saat dia menyematkan kerudung hitam di atas kepalaku lalu mengecup keningku, aku merasa 'dibimbing'.
Aku meleleh, lumer dalam pelukannya, saat Vinnie kembali mendekapku sangat lama, memeluk tubuhku erat seolah tak ingin melepasku lagi. "Ya Tuhan ... Terimakasih untuk semua sentuhanMu pada hatinya." Haru ku dalam hati penuh syukur.
Memang hanya Tuhan yang mampu melakukannya, menyentuh hati lelaki itu hingga dia memiliki keyakinan bahwa aku tercipta dari tulang rusuknya, bahwa aku butuh perlindungannya, bahwa aku adalah penyempurna takdirnya.
"Bimbinglah langkah ku, Vin ! Arahkan jalan ku, jalan anak-anak kita, dan jalan Raquella hingga istana Tuhan." Balasku dalam desah diantara sedu-sedan nafasku.
"Kita melangkah bersama, Rissa ! Tanpa mu di sisiku, butalah mata ku, gelaplah duniaku, karena kamu adalah pelita jiwa ku."
__ADS_1
Perlahan kurasakan rambut di bawah kerudung ku dibelainya lembut, lalu direngkuhnya kepalaku kedalam dadanya sekali lagi. Dari situ kurasakan jantungnya berdetak hanya untukku, melangitkan keyakinanku bahwa aku lah satu-satunya perempuan yang dia mau. "Bila saja kamu mau, akan kuhentikan detakku agar kau tahu bahwa hanya ada kamu di sana, dalam keabadian." Bisiknya.
"Iya, Vinnie ! Hanya ada kita, dalam keabadian."
Setelah cuitan burung di pucuk kamboja, yang seolah bersiul memperolok, kami melepas pelukan hanya dalam bentang sedepa.
"Jangan ! Bukan kepadaku harusnya kamu berlutut." Larangku kala dia mulai merunduk. "Tak pantas bagimu untuk bertekuk lutut kepada siapapun. Karena bagiku, kau adalah penguasa sejati."
Dia terdiam ragu, aku tau apa yang ingin dia lakukan.
"Tegaklah, Kesatriaku ! Busungkan dadamu !"
Vinnie mengikuti mau ku, walau dia masih belum mengerti. Hingga akhirnya dia tersenyum sambil mendengus pelan kala aku berputar lalu bersandar di dada bidangnya, membiarkan kedua lengannya melingkari tubuhku dari belakang.
"Katakan, Vin !" rengekku memelas.
"Ogah ah !" Candanya .
"Vinnie !" seru ku setengah menjerit.
"Sejak kapan seorang Clarissa Mae berubah menjadi cengeng ? Bukan nya dia adalah 'Little Margareth Thatcher' ?"
"Vinnie !?" rengekku, kali itu sambil sedikit meronta.
"Lihatlah, Tuan dan Nyonya Ma ! Putri kalian mulai manja. Hahahaha ...."
"Hiks ... Hiks ... Hiks ...."
"Iya ... Iya ... Jangan nangis lagi. Sinikan tanganmu !" hiburnya, padahal dia tahu bahwa aku cuma pura-pura menangis.
"Malas gw, kamu jahad pakai d !" balasku sambil menyentuhkan jemari ku ke buku jarinya.
__ADS_1
"Clarissa Mae, kusemat cincin ini di jari manismu sebagai wujud keinginanku untuk memilikimu hingga berakhirnya waktu."
"Arvine Dowson, kuterima cincin ini sebagai mula dari pengabdian cintaku untukmu hingga berakhirnya waktu."
Tak sanggup lagi ku berkata apapun, kecuali berpaling menghadap wajahnya sambil memejam. Dan berharap ....
Ada binar merah di ujung cakrawala dikala mentari masih terlalu tinggi, tentu itu bukan fajar atau bahkan senja, bukan juga rembulan kesiangan. Ada haru biru di pucuk kamboja di kala angin enggan berhembus, tentu itu bukan langit atau bintang kerendahan. Itu adalah binar warna dalam sukmaku, yang memerah dan membiru di waktu bersamaan, berbijar terang kala bibir ku untuk pertama kalinya tersentuh oleh bibir seorang lelaki.
Awan menari, ilalang mengiringi, desah dan lenguh nafasku yang seolah sedang menyanyikan lagu tentang gairah bercinta, kala aku tak tahu lagi harus bagaimana menerima nafsunya saat Vinnie mengulum dan ******* bibirku.
Tak kupedulikan lagi suara langit yang serak mengejekku, kala batinku meringik meminta lebih. Sekujur tubuhku menuntut pemuasan nafsu. Aku baru tahu bagaimana rasanya 'menginginkan', yang ternyata lebih mengerikan daripada rasa 'diinginkan'. Aku malu, tapi tak sanggup menolak, karena aib itu berasal dari dalam diriku dan tak mungkin kutolak.
Lalu kehampaan menjelma, kala Vinnie melepas bibirnya. Tak tahu malu, lidah ku berseru : "Lagi ... Vin !"
"Kita belum halal, Sayang !" jawabnya, membumikan akalku, menghalau keluar iblis dari dalam jiwaku.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ...."
"Tunggulah sepekan lagi, aku akan menghalalkanmu."
Ucapannya mengalir bak sungai di taman surga, membius ku.
"Iya, Vinnie ! Akan ku tunggu-- , HAH ! APA LO BILANG ?"
Terbersitlah asa yang tak terbilang, memutar semua sedih dan duka selama 4 tahun belakangan menjadi kebahagiaan tiada tara.
"Iya, Rissa ! Kalau kamu mau, aku ingin menikahimu seminggu lagi."
Itu artinya dalam 10 bulan kedepan aku akan punya anak ! Ya Tuhan ... Terimakasih atas berkahmu.
"YESS !! Dear ... Aku mau."
__ADS_1
Biar saja dedaunan mengejekku, "tak tahu malu !". Biar saja angin memakiku, " Dasar gatal !". Aku melompat kegirangan, mendaratkan tubuhku dalam pelukan Vinnie sekali lagi. Kali itu untuk dikecup di ujung hidungku, mesrah meski tanpa nafsu.
Kala sepasang kupu-kupu merah hinggap di nisan papaku, dan sepasang kupu-kupu kuning hinggap di nisan mamaku. Aku tahu, bahwa papa dan mamaku sedang berbahagia, melihat bahagiaku siang itu.