
"Apakah ini semua atas permintaanmu ?"
Hanya itu ? Saat sejuta sumpah serapah mengisi ruang batinnya, Arvine Dowson memilih bertutur lembut di hadapan Raquella Mae. Tapi matanya menatap penuh selidik.
"Ngga ! Kak Rissa hanya bilang bahwa aku harus bantuin kamu untuk ngurusin perusahaan ini. Itu pun kalau aku mau."
Kenapa Rissa melakukan ini semua ? Perusahaan ini adalah hal terpenting dalam hidupnya. Sesuatu yang dirintisnya dari nol ! Dengan mengorbankan masa mudanya.
"Ck !"
"Kenapa, Vin ? Kamu ga suka aku di sini !? Kamu berharap kak Rissa yang duduk di kursi ini, Kan ?"
"Itu jelas ! Rissa harus di sini, dia yang berhak atas ini semua. Hanya Rissa yang sanggup mengurus perusahaan ini. Aku bahkan ga ngerti cara membaca laporan-laporan ini." menyerakkan beberapa bendel dokumen yang berada di hadapannya. Lalu meletakkan keningnya ke atas meja, menunduk pasrah.
Raquella mendekatinya, memegang pundaknya. "Aku tahu kamu bisa. Kamu adalah lelaki terhebat yang pernah ada. Kamu ga butuh kak Rissa, aku selalu siap membantumu."
"Aku bahkan ga ngerti pembukuan, dan kamu sama saja denganku, ga ngerti apa-apa ! Kita pasti hanya bisa merusak perusahaan ini, perusahaan yang dibangun oleh Rissa dengan mengorbankan kebahagiaannya."
Kemudian heel sepatu Raquella Mae terdengar menjauh, seperti tetabuhan pengingat sahur. Membuatnya tetap sadar bahwa pemilik langkah itu dan masa depan perusahaannya adalah hukuman yang harus dia diterima.
"Kita bisa belajar dari karyawan senior. Mereka ahli dan pintar di bidangnya masing-masing." suara Raquella Mae terdengar jauh, menggumam dengan nada kesal.
"Tugas kita di sini ini memimpin mereka. Bukan belajar, Ra !" memberengut, mendongakkan kepala, hanya untuk menatap foto Clarissa Mae yang tiba-tiba seperti tersenyum mengejek. Sialnya, sorot mata itu diikuti oleh mata Raquella Mae.
"Dan kamu, Ra ! Keberadaanmu seharusnya bukan di sini, tapi di Jakarta ! Menyelesaikan kuliahmu secepatnya. Itu saja !"
"Tapi aku pengen di sini, Vin ! Di dekatmu."
"Hidup ini bukan semata tentang keinginanmu. Tapi juga harus menimbang kepentingan orang-orang di sekitarmu. Bahkan terkadang harus berjalan atas unsur keterpaksaan."
Berdiam sejenak, merasakan ada air di tenggorokannya yang menghalangi nafasnya, seperti tersedak tapi tak terbatuk. Lebih seperti merasa ada yang salah dalam ucapannya.
"Jadi, kamu mau aku kembali kuliah ? Ke Jakarta ? Sendirian ?" rengek Raquella Mae itu membebaskannya dari kesalahan bicaranya.
__ADS_1
"Sendirian ?" sejenak mengerenyitkan dahinya, "Rissa ada di Jakarta. Kalian bisa melanjutkan hidup seperti biasa."
Kali itu Raquella Mae yang kemudian tersedak. Bahkan terbatuk-batuk.
"Aku akan melanjutkan mengurus perusahaan ini semampuku sambil menunggu sampai kamu lulus kuliah, semoga saat kamu lulus nanti, perusahaan ini belum hancur oleh kebodohanku."
"Menunggu aku ?" Raquella Mae tersenyum. Menggenggam sebuah janji, untuk disumpahkan."Bang Vinnie mau menunggu sampai aku lulus kuliah ? Janji ??"
"Iya ! Aku janji."
Ranjau telah ditanam. Bisa meledak kapan saja, melukai bahkan membunuh siapa saja yang menyentuhnya. Sadar atau tidak, Arvine Dowson telah meletakkan ranjau dalam tubuh seorang gadis kecil yang dia sayangi selayaknya seorang adik.
Kelak akan ada matahari lain yang mampu mengikis sinarku di hatimu. Semoga ... semoga ... semoga ....
"Besok pagi, tolong antar aku sampai bandara. Aku janji akan menjadi anak baik selama di Jakarta, biar cepat lulus. Agar pantas bersanding denganmu." bisik Raquella Mae di telinga Arvine Dowson, di akhir sesi pelukan mereka. Walau asam, tapi kenyataan itu tak terbantah, dan harus diterimanya. Bukankah hidupnya tidak lagi semata tentang keinginannya ? Tapi setidaknya, saat itu dia berhayal sedang memeluk tubuh Shanique Miller.
"Aku pulang dulu, mau kemas barang-barang." pamit Raquella Mae. Langkahnya menuju pintu, tapi tiba-tiba terbelok ke arah satu-satunya bingkai foto yang terpasang di dinding. Mencopot lalu memasukkannya ke dalam tas. Foto Clarissa Mae disita !
Aku hanya ingin menyita Hani dari tangan si songong. Hidup atau mati.
***
Entah sejak kapan nama Arvine Dowson berganti menjadi Babang tukang cilok. Tapi dia terpaksa menerimanya walau risih. Serisih rasa hatinya saat pinggangnya dipeluk mesra. Raquella Mae telah menjadi mimpi buruknya dalam dua hari terakhirnya. Menyerap oksigen dari langitnya dengan segala bentuk obsesi kekanakan.
"Seminggu sekali aku ke sini, boleh ?"
"Boleh ... biar makin lama lulusnya, Kan ?"
"Ish ! Jahat banget." seperti biasa, kolokan.
Manyunmu sudah kembali. Tak seperti kemarin, mengerikan ... Semoga waktu mendewasakanmu, Ra ! Adikku !!
"Malu ! Ini tempat umum, dilihat banyak orang." ujarnya saat jari telunjuknya menyilang di bibir Raquella Mae yang berharap untuk mendapat sekecup 'farewell kisses'. Menggantinya dengan sebuah kecupan lembut di ujung kepala gadis itu. Sebijaksana yang dia mampu.
__ADS_1
"Itu panggilan boarding terakhirmu. Berangkatlah ! Be a good girl, in this cruel world." menjadi penutup kecupannya, sebagai jawaban atas suara yang terdengar dari toa bandara.
Mereka berpisah dengan harap berbeda, bertolak belakang satu sama lain. Tapi senyum mereka terlihat seperti sama.
***
Dari dalam sebuah limousin hitam yang terparkir tak jauh dari mereka. Sepasang mata tak sanggup berkedip. Memandang adik bengalnya yang takluk luluh menjadi budak cinta.
Kamu butuh papa, Dek ! Sosok yang ga pernah sanggup ku hadirkan untukmu. Tuhan telah memanggilnya saat kamu terlalu kecil untuk mengenangnya.
Hati kita berasal dari benih yang sama, maka wajar bila perasaannya tertaut pada sosok yang sama. Sosok lelaki yang dalam banyak hal sangat mirip dengan papa kita, lalu kita berdua mencintainya.
Rara ... Ga ada yang salah dengan rasa cintamu, ga ada yang salah dengan hatiku. Perempuan memang tercipta untuk mencintai lelaki yang mirip ayahnya.
Adalah egois bila aku memaksa untuk terus merasakan cinta itu. Dulu, aku pernah meraskannya dari papa, sekarang giliranmu untuk mengecapnya dari Vinnie. Percayalah, Dek ! Cinta mereka sama. Maaf bila aku pernah mendahuluimu.
"E..ehmmm !" deham Edward Rodmeyer mengagetinya, membuyarkan lamunannya. Menyimpan semua nelangsa itu ke dalam senyum sanglir bibirnya. Kemudian menguncinya dengan nafas tipis, nyaris tak terhembus.
"Kamu mencintai bocah itu sebesar cinta adikmu kepadanya, Shasa juga. Padahal dia hanya seorang bocah nakal yang tak punya apa-ap--"
"Oh ya ?" Clarissa Mae membuang pandangannya ke wajah Edward Rodmeyer, "kalau Vinnie adalah bocah yang tak punya apa-apa, kenapa kamu tak menghajarnya lagi sekarang ? Bukankah dia yang menculik anakamu ? Sean." lalu kembali menatap Arvine Dowson yang mulai berjalan menuju area parkir.
"Ha ha ha ha ... Untuk apa aku mengotori tanganku dengan darah gembelnya !" Edward Rodmeyer membalas tantangan dengan mencengkeram pipi Clarissa Mae, lalu menarik wajah perempuan itu untuk menghadap ke arah ujung lengannya.
"Besok atau lusa, dia akan mengemis padaku untuk mendapatkan ini kembali." memamerkan sebentuk liontin dari dalam lengan jasnya. "Saat itulah, aku akan menghabisinya ! Paham kamu ?"
Lalu, "jalan, Pak ! Langsung ke kantor." perintah Edward Rodemeyer kepada sopirnya sembari melepas cengkeramannya secara kasar.
"Tahu ga, Eddy ? Di sini, sebulan yang lalu. Aku sempat mengira bahwa kamu itu orang baik. Tapi aku salah, ternyata kamu ... luar biasa !!" sarkas itu seperti tak didengar. Walau jarak mereka tak lebih dari sejengkal.
Saat kemudian Clarissa Mae menoleh ke belakang, mencari sosok Arvine Dowson, sudah tak ada siapa-siapa di sana. Kecewa, kemudian mengekspresikannya dengan mendengus keras.
"Kamu adalah boneka unik, Rissa ! boneka yang memiliki perasaan ...." mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu terlihat senyum di satu sudut bibirnya, "mungkin akan sangat menyenangkan untuk dapat mempermainkan perasaanmu itu ! Ha ha ha ha ... juga mempermainkan cinta kalian ... Ha ha ha ha ...."
__ADS_1
Jangan mempertuhankan dirimu terlalu dini, Tuan ! Karena besok atau lusa, saat Vinnie menemuimu, kamu mungkin harus bersujud di hadapannya, dan mencium kakinya.