
Mall menjadi lebih ramai di sabtu malam, lebih hiruk pikuk dibanding hari yang lain. Apakah itu yang namanya takdir ? Sesuatu yang kepastiannya mutlak. Lalu adakah anomali yang mungkin menggugat kesakralannya ? Yang bisa membuat keramaian di mall itu musnah dalam sesaat ? Senyap dalam hitungan detik ? Jawabnya : Ada !
Tuhan ? Yaaa ... Sejenis itu lah. Suatu kekuasaan yang melingkupi terlalu banyak hal untuk dibahas. Realitanya ada di depan hidung semua orang, tapi konsepnya masih ditolak oleh banyak orang, atau setidaknya masih dianggap berlebihan.
Siapa yang menyangka bahwa mall yang seharusnya hingar bingar itu mendadak senyap. Semua gegara sebuah pembicaraan via telpon, oleh Edward Rodmeyer kepada pemilik mall yang kemudian diteruskan kepada manajer operasionalnya.
Seluruh akses keluar-masuk mall itu ditutup, pintunya dijaga oleh puluhan satpam dan tenaga pengamanan pribadi keluarga Rodmeyer.
Seluruh pengunjung mall dibariskan, lalu satu demi satu dikeluarkan melalui pintu darurat, persis seperti prosedur menghadapi bencana alam. Tak ada yang berani protes dengan teriakan terbuka, hanya sebagian yang mengutuk dalam hati.
Yang sudah di luar mall, sebagian langsung pulang sambil unjuk kepengecutan. Sebagian lagi memilih bergerombol untuk sekedar berbagi.
"Jeng, ini ada apa ya ? Kok kita dikeluarin dengan cara horor gini." tanya seorang perempuan berlipstik kecoklatan, mungkin asap dari sebatang rokok yang di jepitnya akan menghitamkannya.
"Kata orang-orang sih, tadi ada seorang anak kecil tiba-tiba hilang. Sepertinya diculik atau apalah."
"Huh !? Hanya karena anak kecil ? Setdah !!"
"Bukan anak biasa, Jeng ! Tapi anak Tuhan." suaranya berbisik.
"Ooo ... anak Tuhan juga bisa gila belanja ?"
"Entahlah, Jeng ! Hanya Tuhan yang bisa membuat segini banyak orang merasa senang, tapi sekaligus marah di saat yang hampir bersamaan."
"Yasudahlah, Jeng ! Kita harus bersabar. Tuhan maunya begitu, kan ?"
Ga usah dijawab ! Menggibah siapapun, adalah buang-buang lipstik. Apalagi menggibah keluarga Rodmeyer, cuma bikin mulut makin manyun. Mereka terlalu banyak mau.
Hanya karena Sean Rodmeyer hilang dalam keramaian, mall ditutup, pengunjungnya dievakuasi mirip kamp pengungsi. Diteliti seperti maling. Diteriaki seperti domba enggan pulang.
Steve Rodmeyer duduk berdada tegak, tiga cewe di sebelahnya melipir ketakutan.
"Sudah dua kali kalian membuat saya kesal." Edward Rodmeyer berkata sambil berkacak pinggang, "Pertama soal kecelakaan Shasa, kalian menutupinya dengan dalih pemikiran totol kalian ! Sekarang Sean yang kalian hilangkan ! Sebenarnya apa mau kalian ?"
"Braaak !" meja digebrak.
"Kamu juga, Steve ! Harus berapa kali saya bilang ? Kalau mau pacaran, ga usah bawa Sean ! Pacaran juga sama cewe ga jelas."
__ADS_1
"Mas !" kali itu Steve Rodmeyer seperti sudah di ambang batas kata sabar. Dia mengannggap saudara tuanya itu telah melampaui batas dengan merendahkan kekasihnya. Dia terpanggil untuk membela.
Tapi remasan di lengannya menyurutkan niatnya, jemari Fatimah Mahmud menenangkannya dari atas kain kemeja panjangnya.
"Atau jangan-jangan kalian sedang dalam skenario ? Mengambil peran dalam perang melawan ku !" mata itu mulai merah, Edward Rodmeyer membuat praduga bersalah kepada tiga gadis itu. "Jawab !" lanjutnya sambil kembali menggebrak meja. "Atau kalian akan saya laporkan ke pihak berwajib atas dugaan penculikan disertai pemerasan."
"Mas ! Semua ini kesalahan saya. Mereka tak tahu menahu soal hilangnya Sean. Jadi urusannya cukup sama saya saja ! Jangan bawa-bawa mereka."
"Kamu mau jadi pahlawan huh, Steve ? Melindungi kelicikan mereka dengan jubah kebesaran keluarga kita. Begitu ?"
"BERHENTILAH MENYALAHKAN ORANG LAIN ! SEMUA INI TERJADI KARENA KESALAHANMU SENDIRI." Teriak Steve Rodmeyer. Ancaman yang diucapkan oleh kakaknya itu tak mungkin hanya gertak sambal, karena dia faham betul sifatnya. Kakaknya tak pernah menggertak.
"Bagaimana bisa saya yang dipersalahkan ?"
"Maaf bapak-bapak, saya mohon untuk meninggalkan ruangan ini." halus kata yang dipilih oleh Steve Rodmeyer, tapi maknanya sama saja dengan mengusir orang-orang yang kurang berkempentingan dari dalam ruangan, salah satunya adalah pemilik mall itu.
Setelah jemari tangan Edward Rodmeyer mengibas, ruangan menjadi senyap. Hanya berisi Edward dan Steve Rodmeyer serta tiga gadis ketakutan.
"Sejak dulu sudah ku peringatkan, agar Mas Eddy tidak menceraikan Helena ! Karena saya tahu, hal seperti ini takkan bisa dihindari. Terus apa hasilnya, Mas ? Tetap saja Mas Eddy menceraikan Helena, kan ? Lalu menyalahkan siapa saja yang mungkin bisa Mas jadikan kambing congek ! Jangan jadi pengecut, Mas ! Terutama di depan mata saya."
Ocehan Steve Rodmeyer itu menutup mulut kakaknya, bahkan membungkam kegilaan lelaki itu.
"DIAM KAU, STEVE !"
Edward Rodmeyer tak bisa lagi berkata apa-apa. Dia memilih membentak adiknya kemudian melangkah mendekati pintu.
"Mas ! Kalau sampai ada apa-apa pada ketiga gadis ini, maka Mas Eddy akan berhadapan dengan papa dan mama sekaligus saya di pihak beliau." ancam Steve Rodmeyer saat kakaknya tepat di ambang.
Lalu "Braaaaaak !" pintu ruangan dihempas super kasar.
"Terimakasih, Mas !" bisik Fatimah Mahmud. "Kalau bukan karena kamu, pasti sudah copot jantung ini."
Steve Rodmeyer yang masih gusar, terlihat menata kembali irama nafasnya. Barulah dia tersenyum. Kemudian memandangi mata gadis pujaannya dengan dengan perasaan lega. Ada rona bangga di wajahnya, sebagai lelaki, dia tak cukup sebagai jubah, tapi juga harus sebagai perisai untuk perempuannya.
"Skenario ? Peran ? Perang ? Sebenarnya ada apa di kepala pak Edward ?" Cindi Latuconsina lekat menatap Farah Isuke.
Seperti biasa, Farah Isuke hanya menggeleng.
__ADS_1
"Iya, Mas ... sebenarnya pak Edward tadi ngomong apaan ? Kita dituduh mengambil peran dalam skenario peperangan. Perang apa ?"
Steve Rodmeyer tidak menjawab pertanyaan polos ala Fatimah Mahmud, dia malah tersenyum sendiri.
"Kok senyum-senyum sendiri, sih ? Kasih pencerahan dong !" rengek Fatimah Mahmud sembari meremas bahu cowo nya.
Alih-alih memberi jawaban, Steve Rodmeyer malah tersenyum lebar. Membiarkan atau lebih tepatnya menikmati rengekan gadis berhijab jingga itu lebih lama.
"Mas !? Hehehehe ... apa adik sayaaaang ?" ledek Steve Rodmeyer. Tawanya cenderung cengengesan.
"Dasar kamvret ! Kami ketakutan, eh dia malah menikmati kemesraan ! Sotoy Lo !!" kesal Cindi Latuconsina.
"Sudah ... kita balik aja sekarang. Biar semua diurus oleh para ahlinya."
"Emang bisa ? Semua pintunya aja ditutup. Dan lagian, begitu kita sampai di rumah, nasib kita sama kek nasib kak Shasa ... diculik, dikarungin, terus dimutilasi ! Grrrr ... Takut gw." Farah Isuke tampak serius dengan ucapannya, kulitnya pun terlihat merinding.
"Kalian pikir aku main-main waktu mengancam mas Eddy tadi ? Kami berasal dari darah yang sama. Semua ucapan kami tak satupun untuk menggertak. Jadi percayalah, kalian aman ! Mas Eddy tak akan berani bertindak terlalu jauh."
Muka Steve Rodmeyer tak kalah serius. Perlindungannya mungkin saja berakhir dengan perang saudara, semua sudah terlanjur diucapkannya dan tak mungkin dijilat kembali.
"Kenapa harus begini ?" desah itu bertirai ujung hijabnya, terdengar hampir disertai tangis. Fatimah Mahmud tercekam rasa bersalah. "Aku menerima tali taarufmu karena aku takut kisah kita bakal seburuk kisah kak Shasa. Aku memberanikan diri untuk mencintaimu, menyandingkan dirimu sedikit dibawah dzat Tuhanku. Tapi lihatlah ! Kamu bahkan harus bermusuhan dengan saudara sedarahmu demi melindungiku. Apakah benar kata pujangga, bahwa merahnya cinta sepekat darah ?"
Merasa terus didesak, akhirnya Steve Rodmeyer mengalah. Berdiri di depan para gadis, kemudian angkat bicara.
"Hanya ada satu orang yang berani mempermalukan mas Eddy. Dia bahkan berhasil merampas cinta bu Shasa dari kekuasaan mas Eddy. Malu dan cinta adalah dua hal yang belum pernah dia rasakan di sepanjang hayatnya. Dan lelaki itu bernama tuan Dowson, lucunya, kalian bertiga adalah teman tuan Dowson."
Cindi Latuconsina dan Farah Isuke tampak termenung, mereka mulai mampu mengurai benang ruwet di kepalanya, mengaitkan beberapa kejadian dalam beberapa hari terakhir dengan amarah Edward Rodmeyer.
"Maksudnya, bang Vinnie sama pak Edward rebutan kak Shasa, begitu ?"
"Ya Tuhan ! Sayaaaang ...." geram Steve Rodmeyer menanggapi kepolosan Fatimah Mahmud, dan entah kenapa pemuda itu begitu memuja kepolosan gadis itu.
"Dua lelaki tak akan saling memerangi hanya demi seorang perempuan ! Mereka berperang karena ego kehormatan masing-masing."
"Oowh, begitu ! Ko sekarang kamu jadi pinter sih, Mas ?" puji Fatimah Mahmud.
"Iya lah ! Kan Steve sekarang sudah beda ... sudah kinclong pakai emas ... Hahahahaha ... Mas Steve ! Segarnya hati ... hmmmm."
__ADS_1
"Huuuuuu ... mas 10 karat aja bangga ! Ayo pulang !" tanpa ampun, Farah Isuke menggelandang Steve Rodmeyer dengan menjewer telinga pemuda kasmaran itu.