The Last Cliff

The Last Cliff
Chapter 20


__ADS_3

"EUREKA !" erang lelaki itu sambil menghentak, mengeluarkan segenap tenaga yang masih tersisa untuk menarik paksa tubuh perempuan malang itu.


"Boooo ...." ledek sang angin yang mulai mengundang kawanannya. Lelaki itu mendengarnya, tapi dia tak perduli. Usaha nya menarik paksa tubuh perempuan itu memang gagal, darah yang melumuri kulit perempuan itu menjadi penghambatnya, membuat lengan dan tangannya kehilangan daya cengkeram, terlalu licin.


Sementara itu, lelehan kulit kabel mulai menitikkan api, hanya butuh sambaran uap bensin saja untuk membinasakan semuanya.


Lelaki itu merunduk sesaat, diendusnya aroma bensin, diukurnya level ketinggian uap bensin yang dirasanya naik terlalu cepat. Merasa tak memiliki waktu yang cukup, lelaki itu mencoba peruntungannya dengan berdiri tegak lalu berteriak : "Tolong bantu saya !" kepada kerumunan.


Sekali lagi, dia harus kecewa, meski sempat melihat beberapa kepala sempat nongol dari balik tembok dan perdu liar namun akhirnya mereka kembali bersembunyi, memilih untuk lebih memuja keselamatan diri daripada kodrat kemanusiaan mereka. Hanya Ari yang bergerak cepat, sikecil itu berusaha bangkit lalu menerjang menembus perdu.


"Mau kemana lo, Bocah ?" suara lelaki perlente yang duduk di sebelah mamanya Ari membentak, tarikan tangan kasarnya menerpa kerah kaos Ari, menbuat si kecil Ari urung melompat.


"Om itu butuh bantuan !" keluh Ari yang mulai pasrah sambil memendam rasa yang lebih dari kesal.


"Tetap di sini ! Kalau ke sana, kamu bisa mati." geram si lelaki perlente dengan mata melotot. Membuat Ari makin terpojok, apalagi setelah jemari mamanya mulai menjewer daun telinganya.


"Bhooooooooo ...." ledekan sang angin terdengar makin panjang dan menjengkelkan, "Kenapa tak minta pertolongan pada Tuhan mu saja sekalian, hmmm ?"


"E u r e k a ...." keluh sang lelaki kala menunduk, memandangi celana dan sepatunya yang juga mulai terbercak darah. Kembali diraihnya T-shirt, kali itu tak lagi berwarna tosca, telah berganti coklat kehitaman akibat darah mengering, dielapnya seluruh tangan, lengan, hingga badannya sampai kering tanpa keringat ataupun percikan darah.


Dengan sorot mata bengisnya, dan gumpalan otot di sekujur persendiannya, lelaki itu kembali duduk di sisi pintu. Perlahan diraihnya tubuh perempuan pingsan itu, lalu dilingkarkan lengannya ke punggung hingga dada, kemudian sekali lagi dia mendengus, menarik lalu menghembuskan nafasnya secara kasar seperti dia tahu bahwa itu adalah kesempatan terakhirnya untuk menyelamatkan nyawa seorang perempuan yang tidak dikenalnya.


Uap bensin dirasanya semakin tinggi, hanya butuh sejengkal saja untuk sampai di percikan api akibat konsleting, yang berarti 2 nyawa akan melayang sia-sia.


Kali itu sang lelaki memejamkan mata, memilih untuk sejenak menenangkan diri, membiarkan angannya kembali ke masa silamnya, masa disaat dia pernah merasa sangat dikuatkan oleh seseorang yang dicintainya.


"Hani ... Cintamu adalah asal kekuatanku, so help me dear, when nobody doesn't !" bisik bibirnya, lalu ....


"HANI ...!" Teriaknya saat mengerahkan seluruh tenaganya.


Semua mata terbelalak dengan mulut ternganga saat melihat tubuh seorang perempuan hampir telanjang merosot keluar dari jendela mobil lalu menimpa sang lelaki hingga terjengkang lalu berguling seolah sedang bergumul. Ada yang bersyukur, tapi banyak yang masih gelisah. Mereka hanya mampu berdoa seolah doa mereka akan mematikan percikan api di kotak sekering mobil ringsek itu.

__ADS_1


Seperti sedang memamerkan ilmu beladirinya, sang lelaki mempertontonkan teknik mengangkat tubuh seseorang dalam keadaan pungsan. Dia meraih paha perempuan itu, kemudian meletakkannya di atas pundak kirinya, lalu melakukan roll ke arah depan. Dan saat lelaki itu kembali ke posisi duduk, tubuh setengah telanjang perempuan itu telah berada di atas pundaknya. Hanya perlu hentakan bahu yang bertumpu pada lutut kanannya, sang lelaki mampu berdiri tegak sambil memikul sosok pingsan perempuan nahas itu.


"WAAAW !" Teriak si kecil Ari penuh sukacita. Pemuda papua yang berada di atasnya hanya tersenyum mendengar kekaguman si bocah.


Sejenak lelaki itu berdiri, seolah sedang kebingungan.


"Bila harus berlari ke tempat aman, maka takkan cukup waktuku." bisik dalam hati sang lelaki.


"Hmmm ... Apes banget nih hari !" keluhnya lagi, masih dalam hatinya, saat matanya melihat betapa kotor nya parit besar disampingnya, penuh sampah peradaban kota Surabaya, hitam, jorok, dan bau. Tapi tak ada pilihan lain kecuali terjun kedalam parit itu.


Tertatih langkahnya, beban tubuh perempuan pingsan itu mengganggu persendian lutut dan tumitnya, ditambah licinnya jalanan akibat tumpahan bensin dan oli mobil itu. Tapi sang lelaki tetap memaksa untuk melangkah meski beberapa kali sempat terpeleset dan hampir terjengkang.


Hingga akhirnya dia berhasil berdiri tegak di atas trotoar, mendengus sesaat. Tapi matanya segera terfokus pada sebentuk tahi lalat yang menempel di ujung kelingking perempuan itu. Sebuah tahi lalat yang sangat dikenalnya.


"Hahahaha ... Iya ! Kamu ragu siapa perempuan di atas pundakmu itu ? Maka lihatlah liontin di kalung nya !" teriak gugusan angin di pucuk akasia.


Lelaki itu menurut, mengambil liontin yang menggelantung di leher perempuan nahas yang mulai mengganggu jalan pikirannya.


Seperti tersambar petir, hatinya membuncah tak karuan, seluruh sendi-sendinya luluh lantak, dan ototnya tak berdaya, luruh dan bersimpuh dalam berlaksa sesal. Lelaki itu terduduk lalu merebahkan sang perempuan dalam dekapannya. Sementara telapak tangannya erat menggenggam liontin bercampur darah, sebuah liontin emas bertuliskan Vinnie & Hani yang terbingkai bentuk hati.


Hanya sang lelaki dan kekasih di masa lalu nya yang punya liontin seperti itu, karena mereka memang membuatnya kembar. Sebatas pengingat bahwa mereka pernah saling berbahagia.


Dan di detik itu, sang lelaki baru saja tersadar, bahwa perempuan bermandi darah dan sedang tergolek lunglai dalam pelukannya itu adalah kekasihnya yang dicarinya selama 15 tahun terakhir. Kenyataan itu memperkuat keyakinannya bahwa takdir adalah cara Tuhan mempermainkan hidup nya, yang ditulis sesuai kehendakNya sambil menutup mata.


"Kenapa kau terdiam, Anak muda ? Menyesal takkan membuatmu dimaafkan !" kembali angin mengejek dari ranting akasia.


"Maka terbangkan uap bensin ini ke dalam api itu ! Agar musnah jejak sebuah cinta suci, agar seluruh umat manusia mencatat bahwa cinta Tuhan tak semulia cinta ku pada gadisku ! Itu pun kalau kau sanggup !" tantang sang lelaki saat tangannya mulai mengusap air di pipinya, entah air dari keringat atau airmatanya.


"Oh tidak ! Kamu tak mengenaliku ? Aku bukanlah angin pencabut nyawa, Aku adalah angin yang diutus oleh puncak Rinjani. Menjadi saksi apakah kau sanggup menghadapi takdir yang kau tulis sendiri." Balas sang angin.


"Aku tak pernah merampas pena Tuhan !"

__ADS_1


"Lalu kenapa kau paksakan kehendakmu untuk bertemu dia ?"


"Karena aku rindu padanya ! Aku cinta padanya ! Apakah itu salah ? Bila mencinta adalah kesalahan maka harkat manusia direndahkan serendah binatang ! Kami lahir dari cinta yang berbalut nafsu birahi di hati orang tua kami. Dan hanya binatang yang lahir dari nafsu birahi semata."


Mendengar jawaban yang keluar dari hati lelaki itu, sang angin seperti malu, berdiam diri di pucuk akasia sebelum perlahan mulai menghilang.


"Katakan pada Rinjani ! Bila hanya ini yang dia mampu ... Maka selamanya dia akan menjadi gunung milik para kafir !" pesan lelaki itu sebelum sang angin benar-benar pergi.


"Dan kau, Angin bod*h ! Jangan hanya bisa berkacak pinggang di kejauhan. Datanglah ke sini, bawa serta oksigen dalam saku dekilmu itu." teriak lelaki itu menantang pada angin yang masih juga enggan turun dari rooftop apartemen biru.


"Kau menantangku ?" jawab gugusan angin itu.


"Mari kita lihat ! Apakah kamu mampu mengemban amanah Tuhanmu ... Membunuh aku dan cintaku ?"


"Maka rasakan ini !"


Gugusan angin yang sedari tadi hanya menjadi saksi, lalu berubah emosi, melemparkan jutaan metrik ton oksigen ke arah percikan api konsleting, tapi ....


"EUREKAAAA !" Teriak lelaki itu, dia berhasil terjun ke dalam parit sambil memeluk kekasih sejatinya itu sepersekian detik saja lebih cepat dari : "BOOOMB !" suara dahsyat sebuah ledakan yang melemparkan bangkai mobil itu setinggi akasia. Menyisakan jelaga asap yang menutupi pandangan.


Suara ledakan yang membahana, menggetarkan kaca-kaca, bahkan sebagian terpecah.


Mencekam, mengiris hati kerumunan dengan rasa sesal, andai saja mereka mau membantu, mungkin nasib sang lelaki takkan setragis itu.


"Demi Tuhan ! Om itu tak akan mati karena orang baik tak akan gampang dimatikan !" seru Ari Polos.


"Toss !"


Ajakan pemuda papua itu disambutnya dengan gembira, untuk kali kedua, si kecil Ari beradu telapak tangan dengan orang yang seoptimis dia.


"Nama Om tadi itu siapa ?" lanjut Ari. Dia yakin bahwa sang lelaki penyelamat itu tak mati akibat ledakan meski dia tak tahu pasti karena pandangannya terhalang jelaga hitam.

__ADS_1


"Arvine Dowson ! Sahabat saya, juga sahabat Ari ... Okay ?" jelas pemuda papua itu.


"Okay !" jawab Ari, "Mama, dengerin ! Ari ngga mau punya papa Om Alex, Ari mau punya papa om Arvine Dowson. Kalian harus putus !" lanjut Ari pada mamanya.


__ADS_2