
"Sstttt!!!, Jangan bicara terlalu keras atau mereka akan mendengar kita!" Ucap Elize dengan suara yang ditahan sambil menarik kepala Zen kemudian menjatuhkannya kebawah seolah mereka tengah bersembunyi dari sesuatu.
Zen meringis kecil lalu ikut dengan apa yang di katakan Elize, dia ikut berlindung di balik pohon bersama dengan Elize yang sedikit demi sedikit melihat kebalik pohon.
"Kau bilang kalau kau adalah salah satu dari para pejuang bukan..." Ujar Elize setelah beberapa saat melihat ke belakang pohon.
"Itu memang benar..."
"Bagus, kalau begitu bantu aku untuk menyelamatkan Desa Sol dari para tentara kerajaan Nipotia..." Ucapnya kemudian berdiri.
"Maksudmu Desa Sol saat ini telah di ambil alih oleh kerajaan Nipotia?"
"Benar... Mungkin karena letaknya yang sangat dekat dengan perbatasan dan tentara yang menjaga nya juga minim maka Kerajaan Nipotia langsung mengambil alih wilayah ini... Karena itu bantu aku merebut kembali Desa Sol..."
"Dengar aku kemari bukan untuk menjadi pahlawan yang datang saat situasi memburuk, tapi aku kesini untuk menjemput mu karena desakan art- yang mulia..." Zen yang tidak peduli sama sekali itu ikut berdiri.
Mendengar ucapan dari Zen alis Elize berkerut, dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang di katakan Zen barusan, ketika dimana seharusnya seorang pejuang memperjuangkan kedamaian kerajaan dia malah tidak peduli sama sekali.
"Kalau begitu aku tidak akan ikut dengan mu... Dan pergi merebut desa sendiri..."
"Jika kau memang berani, kau tidak akan bersembunyi disini..." Tantang Zen menghentikan langkah kaki Elize yang baru saja mau keluar dari persembunyian.
"Aku bersembunyi karena memantau situasi nya, bukan karena takut bodoh..." Bentak Elize dengan sedikit rasa Malu.
"Tapi kaki mi bergetar dari tadi?" Zen melirik kebawah melihat ke arah Kaki Elize yang dari tadi gemetaran.
"Ini... Karena dingin..."
"Jujur saja... Kenapa kau tidak katakan kalau kau tidak pernah berhadapan dengan pertarungan yang sesungguhnya... Meskipun kau adalah orang terkuat di akademi tapi kau belum pernah melawan para pasukan dalam perang sesungguhnya bukan?"
"Itu.. benar..." Ucap Pelan Elize.
"Apa?" Zen yang tidak mendengar karena suara Elize yang terlalu kecil mendekat kan wajahnya.
"Aku bilang apa yang kau katakan memang benar..." Teriaknya karena merasa di permalukan, dan ketika dia sadar kalau suaranya sangat besar maka sudah terlambat baginya karena para pasukan kerajaan Nipotia sudah mengepung mereka akibat suara yang begitu besar dari Elize.
"Siapapun yang ada di belakang sana, jangan bergerak... Kalian sudah terkepung, Sekarang keluar dari sana tanpa perlawanan apapun!" Teriak salah satu pasukan mengacungkan senjata berupa tombak di ikuti oleh beberapa anak buahnya di belakang.
"Segera keluar...!!" Teriaknya ketika tidak ada respon apapun dari balik pohon itu.
"Aku akan keluar!" Ucap Elize dengan penuh keyakinan, kedua kakinya kini tidak lagi gemetaran.
Tapp... Tapp...
Elize berjalan keluar dengan kedua tangan yang terangkat, para pasukan yang melihat hal itu kini berjalan pelan dengan acungan tombak yang tidak di kendor kan sedikitpun, mulai membatasi ruang gerak Elize agar tidak bisa melakukan perlawanan.
__ADS_1
"Chrono Magic: Barring Area" Rapal Elize ketika semua pasukan yang mengepung nya berada dalam jarak jangkauan sihirnya, melebarkan sebuah lingkaran sihir dari bawah kakinya dan mengenai para pasukan yang kini berhenti bergerak dalam sihir waktu milik Elize.
Elize berlari ketika ada sebuah kesempatan untuknya melepaskan diri, "Lancy" Panggil nya terhadap Relic yang muncul di telapak tangan kirinya, sebuah Lance sepanjang 1 meter berwarna putih bersih dan gagang berwarna emas mengkilat kini dia mainkan untuk menyerang satu persatu pasukan yang berhenti bergerak.
Setiap pasukan yang terkena serangan darinya kembali bergerak seolah Lancy memberikan efek pembalik yang membuat apapun kembali seperti semula, tapi tidak dengan luka luar yang di timbulkan.
"Wahh, gerakan yang hebat... Aku tidak percaya kalau kau bisa sehebat ini" Zen keluar dari balik pohon kemudian memberikan tepuk tangan kecil kepada Elize.
Tapi Elize yang diam seribu bahasa itu memancing rasa penasaran dari Zen, Zen mendekat kemudian menepuk pundak Elize, dan saat itulah dia tahu bahwa orang yang pundaknya bergetar itu kini mematung tanpa sedikitpun suara seolah telah melihat jalan menuju surga.
"Aku berhasil..." Elize menarik sebuah napas pendek kemudian bereaksi terhadap tepukan pundak Zen dengan sebuah gumaman kecil.
"Yahh yah... Kau berhasil, selamat karena sudah mendapatkan pengalaman pertarungan pertama yang bagus..." Balas Zen.
"Apa yang terjadi disini!!" Suara berat dan penuh dengan intonasi yang menyeramkan terdengar dari arah depan Elize dan Zen yang saat itu juga kembali terfokus.
Mereka berdua memandang ke arah Sosok Pria berpakaian kutang robek dengan banyak otot dan luka di seluruh tubuh dan wajahnya, dan untuk melihat wajah orang itu, Zen dan Elize diharuskan menengadahkan kepala mereka ke atas.
"Hooo... Putri Elize kau datang kemari untuk menemui guru mu ini yah?" Ucapnya dengan penuh kesenangan.
"Gur- tidak Uccisore... Aku sudah mencarimu..." Elize yang melihat wajah orang tua menyeramkan itu langsung mengenali sosoknya.
"Uccisore? Maksudmu orang ini adalah Uccisore, Gila badannya seperti truk tronton saja..." Zen bolak balik menatap ke arah Elize dan Uccisore seolah tidak percaya dengan nasibnya yang mungkin cukup buruk atau cukup beruntung karena secara kebetulan dia berhasil menemukan Elize dan Uccisore di saat yang bersamaan.
"Begitukah caramu menyapa orang yang mengajarkan mu cara bertarung..." Balas Uccisore sedikit tidak senang dengan perlakuan Elize kepadanya.
"Guru?, Apa ini mungkin adalah bagian dari sepotong drama rumit?" Zen yang sama Sekali tidak mengerti hanya mengoceh kecil kemudian mundur sedikit demi sedikit.
"Sepertinya kau masih tertelan dalam kesalah pahaman dari para bangsawan itu yah..."
"Berhenti menyalahkan para anggota kerajaan dan mengaku saja... Selain itu kau menyerang desa Sol untuk menguasainya... Kau adalah orang yang Keji Uccisore..." Tidak terima dengan ucapan Uccisore yang semakin menuduh keluarga kerajaan, Elize kembali berteriak.
"Aku menyerang desa Sol? Apa tidak salah... Aku hanya merebut nya kembali dari kerajaan ini... Asal kau tau kerajaan itu tidak sebaik apa yang kau pikirkan..." Zen tersentak dan mulai sedikit hanyut dalam pemikiran nya sendiri, berusaha mencerna perkataan dari Uccisore sedikit demi sedikit, tapi karena dia tidak cukup pintar dalam menganalisis sesuatu di luar pertarungan maka dia tidak mendapat kesimpulan sama sekali.
"Tutup Mulutmu, akan kubalaskan kematian Tione dan keluarga nya disini, bersiaplah Uccisore" Elize maju sembari memasang posisi menyerang dengan Lancy yang ia angkat setinggi dada.
Uccisore sama sekali tidak bergeming dari tempatnya dan hanya membiarkan Elize mendekat dengan tusukan yang cukup kuat.
"Berhenti putri Bodoh!!" Teriak Zen dengan sedikit emosi setelah menyaksikan kenaifan dan tingkah laku Elize yang semakin gegabah.
Uccisore mengangkat tangan kanannya ke atas ketika Elize sudah semakin dekat, mengepal dengan sekuat tenaga dan mengarahkan sebuah pukulan ke jalur yang di lalui oleh Elize.
"Lifting Magic: Break Through" Uccisore menghantam tanah di jalur Elize dan membelahnya menjadi dua bagian, Membuat Elize segera melompat ke arah samping menghindari serangan tadi.
"Serpente" Cahaya Putih dan Merah kini berkumpul di tangan Kanan Uccisore dan membentuk sebuah pedang panjang yang memiliki banyak gerigi di sisinya.
__ADS_1
"Uccisore!!" Elize kembali maju Menyerang dengan kecepatan yang di tambah, Menyerang Uccisore dengan tusukan demi tusukan yang berhasil di tangkis menggunakan bagian tumpul Serpente.
Menemukan sebuah celah dalam serangan Elize, Uccisore mengayunkan Serpente ke bagian bawah membuat nya terpaksa melompat keatas dan menyerang ke bagian dada Uccisore, tapi tentu saja hal itu sudah di duga oleh Uccisore, dengan sebuah tinju yang ia siapkan, Uccisore mengumpulkan sedikit energi sihirnya pada kepalan tangan itu dan menghantam perut Elize dengan kekuatan yang di minimalisir.
Brukk... Tubuh Elize terlempar kebelakang dengan cepat dan menghantam pohon yang ada di belakang tempat dimana dia bersembunyi sebelumnya, Membuat bekas yang cukup besar di pohon itu dan melepaskan Lancy dari genggaman Elize.
"Kau tidak akan menang melawan ku Elize karena akulah yang mengajarkan mu semua gerakan tadi, jadi aku juga tahu kapan kau akan membuat celah... Kau tidak berkembang sama sekali, kau lemah dan tidak berdaya, karena itulah cepat atau lambat Kerajaan Terarria akan segera hancur..." Uccisore perlahan berjalan mendekat ke arah Elize yang perlahan mencoba kembali berdiri dan berusaha meraih Lancy.
"Shadow Magic: Movement Conclusion" Rapal Zen yang berusaha tidak terlalu banyak ikut campur ke dalam masalah Elize dan Uccisore, tapi tentu saja dia tidak akan membiarkan Elize terluka lebih parah dari ini, karena itulah dia segera mengunci pergerakan Dari Uccisore dengan sihir bayangan yang di perluas.
"Baik, kurasa sudah cukup pertemuan guru dan muridnya karena aku harus segera kembali dan tidur jadi kalian bisa menyelesaikan ini kapan - kapan... Aku akan membawanya kembali sekarang..." Ucap Zen yang dengan santai berjalan mendekat ke arah Elize yang kembali terjatuh ketika mencoba berdiri tapi pada akhirnya ia kehilangan kesadarannya.
"Diamlah Disana dan jangan ganggu pertarungan antara guru dan murid, saat ini aku sedang mengajarinya tentang pertarungan yang tidak bisa dia menang kan..." Uccisore mengangkat Serpente dan memanjangkan nya menuju ke arah Zen yang kemudian melompat menghindari serangan jangkauan luas Uccisore.
"Galak sekali kau ini... Tapi kau tidak dengar perkataan ku tadi? Aku harus segera kembali dan tidur... Selain itu bertarung Sambil membawa beban sangat tidak efektif" Zen yang mendarat dengan mulus itu berbicara tanpa rasa takut sedikitpun.
"Lalu kau pikir kau bisa mengalahkan ku, cobalah..." Tantang Uccisore.
"Yah, aku akan mundur untuk sekarang tapi karena kau menantang ku bagaimana jika kita menyelesaikan nya saat Relic War, aku yang akan menghadapi mu..."
"Kau benar benar berpikir bisa kabur dari sini?"
"Kenapa tidak? [Carta]” Zen memanggil Relic nya kemudian memperlihatkan nya pada Uccisore.
"Kertas?"
"Kau benar dan salah dalam waktu yang bersamaan..." Zen memainkan jarinya membuka Lembaran kertas Relic yang ada di tangannya, kemudian melemparkan nya ke Arah Uccisore.
Kertas yang melayang di udara tadi terbakar dan berubah bentuk menjadi Relic berbentuk jarum kecil milik seorang anak bangsawan laki laki yang sempat di lihat oleh Zen ketika Ritual penerimaan Relic.
Jarum kecil tadi menancap di sekeliling Uccisore dan mengelilinginya dengan sempurna.
"Sayang Sekali tapi kau melesat" Remeh Uccisore kemudian kembali mengangkat Serpente ke arah Zen.
"Tidak, jarum itu berada di tempat yang benar... [Lepaskan]" Zen dengan senyum jahatnya memandang penuh tantangan kepada Uccisore.
Zretttt.... Zretttt.....
Aliran listrik keluar dari jarum jarum tadi dan menyetrum Uccisore yang berada di tengah lingkaran Jarum, membuat Uccisore tersetrum dalam tegangan tinggi dan jatuh berlutut dengan Serpente sebagai penyanggah.
"Begitulah paman... Kita akan bertemu lagi dalam Relic war, sampai jumpa" ucap Zen membopoh tubuh Elize di lengan kanannya, perlahan tapi pasti bayangan yang berada di bawah kakinya menelannya masuk kedalam tanah bersama Elize yang tidak sadarkan diri, dia bisa saja menghabisi Uccisore saat itu juga, tapi pikirannya tidak mengizinkan karena dia sedikit demi sedikit mendapatkan petunjuk tentang kebenaran dari Relic war jadi dia mengabaikan salah satu perintah Arthur untuk membunuh Uccisore.
"Asal Tau saja... Kerajaan itu sudah membusuk dan sebentar lagi akan hancur dari dalam" Uccisore yang mencoba berdiri memperingatkan Zen yang mulai menghilang ditelan oleh bayangannya sendiri.
***Note : Author Mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puas Ramadhan Bagi Yang Menjalankan, Jangan Lupa Sucikan Hati Bersihkan Galeri Ehh Diri Yah Guys!!
__ADS_1
Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru***...
see u next chapter