The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 53 Kembali Ke Kerajaan Nipotia


__ADS_3

"Kak Zen... Selamat pagi..." Sapa suara yang terdengar cukup riang dari arah depan, dimana Zen baru saja pergi dari ruangan Arthur dan berniat kembali ke kamarnya.


"Pagi..." Balas Singkat Zen berniat melewati Daven yang kala itu terlihat begitu senang hanya dilihat dari raut wajahnya saja.


"Ada apa kak Zen... Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu?, Apa terjadi sesuatu..." Daven menyusul langkah Zen yang telah melewatinya kemudian ikut berjalan berdampingan.


"Tidak usah bertanya, selain itu rupanya kau masih disini... Kupikir kau sudah kembali ke Kerajaan Nipotia..."


"Sebenarnya aku berniat begitu... Tapi belakangan ini Kak Yuuna sering meminta bantuan ku... Jadinya yah seperti ini..." Daven membalasnya sambil tersenyum canggung kemudian menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal.


"Yuragi?, Aku tidak tau kau dekat dengannya"


"Kak Yuuna itu sangat baik... Dia orang yang lembut dan juga cerdas... Aku merasa nyaman di dekatnya..."


"Entah kenapa dari kata katamu tadi aku merinding... Itu terdengar menjijikan mendengarnya darimu..." Ucap Zen kemudian semakin mempercepat langkahnya.


"Harusnya kak Zen mendukung ku dan bukannya mengejek..." Balas Daven kini dia mengikuti kecepatan langkah Zen dan kembali berjalan berdampingan dengannya.


"Mendukung mu?... Hey Daven biar ku tanya satu hal... Apa tujuan mu sebenarnya?" Zen berhenti, dia kini berbalik menatap Daven dengan sorot mata yang tajam seolah ingin mengintimidasi Daven.


"Membalas kematian adik adikku..." Jawab Daven dengan suara pelan.


"Lalu sekarang apa yang sedang kau lakukan?"


"Tidak ada... Tapi kak Zen aku sudah membalaskan dendam kematian adik adikku... Aku sudah puas sekarang karena itu setidaknya biarkan aku-" Suara berhenti, mulut Daven kini tidak bisa lagi bersuara setelah tatapan mata Zen menjadi sangat intens dimana terlihat seperti mata biru yang siap menghabisi nyawa nya saat itu juga.


"Yah, kau benar... Lagipula itu adalah Dendam mu dan juga urusan pribadi mu... Terserah darimu saja mau melanjutkan nya atau tidak, karena sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan ku..." Zen menjadi tenang dalam ucapan itu, sorot matanya kembali menjadi seperti biasa kemudian berlalu meninggalkan Daven yang masih berdiri mematung.


"Tapi ingat lah Daven, kau masih berutang sesuatu padaku... Dan suatu saat kau harus benar benar menebus semuanya... Kuharap kau bersiap, karena jika itu terjadi... Maka kita tidak akan bertemu lagi..." Lanjut Zen tanpa berbalik sedikitpun, dia berlalu dengan cepat dari pandangan Daven dan kembali menuju ke kamarnya.


"Kak... Zen..."


• • •


"Saljunya semakin tebal saja..."


Untuk kesekian kalinya Zen mengucapkan hal sama ketika melihat keluar jendela kamar, di mana di halaman bawah rumput rumput hijau kini semakin tenggelam di dalam salju putih yang terlihat dingin dan bersih.


Bagi orang lain mungkin hal itu terlihat seperti sesuatu yang menyenangkan tapi bagi Zen yang memiliki dugaan dari mana salju itu berasal membuatnya terlihat seperti sebuah bencana yang berangsur angsur datang.


"Padahal baru sehari dan bahkan baru beberapa jam sejak turunnya salju tapi ini benar benar tebal daripada yang seharusnya... Kurasa memang benar kalau ini dikarenakan Artifact..."

__ADS_1


"Tapi misalnya saja ini memang benar apa untungnya mereka melakukan ini... Apa ada hal tertentu sampai ini terjadi... Selain itu aku masih penasaran dengan hutan penyihir... Kurasa percuma saja memikirkan nya sendiri..." Zen meraih sebuah jubah tebal yang ia letakkan di atas meja sebelumnya kemudian langsung saja mengenakan nya dengan segera.


Setelah itu dia melirik keluar jendela selama beberapa saat, terdapat Luna yang sedang bermain main dengan riang nya di atas salju ditemani oleh Iori, Shin, Rika dan beberapa orang lagi yang di kenali oleh Zen.


Ini menjadi keuntungan bagi Zen karena mereka sama sekali tidak menyadari Zen sedikit pun, bahkan mungkin mengingat keberadaan nya di dunia ini saja mereka akan lupa untuk sementara saking asiknya bermain di atas salju putih yang begitu Dingin.


"Shadow Magic : Reach Enchancer" Zen merapalkan sihirnya dan menghilang dari ruangan dengan begitu cepat tanpa di ketahui oleh seseorang pun.


Dia berniat untuk langsung pergi ke kerajaan Nipotia untuk menemui sang raja yaitu Demian, tapi tindakan perpindahan nya itu sama sekali tidak mendapatkan perlakuan baik karena ketika dia baru saja melihat seisi ruangan dia terlebih dulu terkepung oleh tombak yang langsung menyangsang lehernya.


"Upss..." Desahnya pelan, dia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri dan hanya memperhatikan sekeliling ruangan dimana banyak sekali orang yang berkumpul dan sang raja beserta keluarga nya tengah berada di atas singgasana.


"Zen Kanade..." Demian mengenali sosok itu, sosok yang sempat membuatnya merasa pusing atas berita yang ia bawa padahal itu semua hanyalah tipu muslihat dari Zen agar bisa mendapatkan bantuan berskala besar tapi untungnya pihak kerajaan Nipotia tidak tau tentang hal itu.


"Selamat pagi Raja Demian... Kurasa aku punya sedikit saran untukmu... Bagaimana jika Kerajaan ini mengubah cara penyambutan yang kurang sopan ini..." Balas Zen yang tak terlihat gentar.


"Turunkan senjata kalian... Aku mengenali anak itu..." Demian mengangkat tangannya keatas untuk mengambil perhatian seluruh prajurit yang mengepung Zen, meminta mereka untuk melepaskan todongan senjata mereka.


"Terima kasih banyak atas pengertiannya..." Ucap Zen lega setelah dia benar benar bisa bergerak dengan bebas.


"Ada urusan apa kau kemari..."


"Tidak masalah... Katakan saja mungkin kedatangan mu kemari juga ada sangkut pautnya dengan masalah yang sedang kami bahas..." Balas Demian melihat ke arah semua yang hadir di rapat penting kerajaan, dimana wajah mereka semua terkesan tegang.


"Kalau kau memaksa baiklah... Tujuan ku kemari adalah untuk membahas mengenai turunnya salju disaat pergantian musim belum terjadi..." Jawab Zen.


"Kebetulan kami juga sedang membahas tentang itu disini..."


"Kebetulan sekali... Tapi aku mempunyai syarat sebelum diskusi kita di mulai..."


"Katakan saja..."


"Aku hanya ingin diskusi ini diikuti oleh Kau dan aku saja..." Zen memberikan sebuah sorot mata yang begitu tajam, matanya melirik ke arah Demian dengan sangat tidak santai.


"Kalau begitu biarkan istri dan anakku mengikuti nya... Mungkin saja mereka bisa memberikan solusi..." Tawar Demian, dia sama Sekali tidak keberatan dengan syarat yang di ajukan Zen karena dia sendiri tau seperti apa sosok Zen yang sebenarnya.


"Tidak masalah..."


"Kalau begitu selain istri dan anakku silahkan meninggalkan ruangan dan menunggu perintah selanjutnya..." Demian berdiri kemudian memberi perintah dengan suara yang begitu tegas dimana semua yang hadir langsung menurut meninggalkan ruangan termasuk para penjaga, dan hanya meninggalkan Zen, Demian dan anggota keluarga nya.


Zen terkagum sesaat dengan keloyalan penghuni istana karena mereka terlihat sangat hormat dan patuh terhadap kehendak sang raja.

__ADS_1


"Baiklah semuanya sudah pergi sekarang... Jadi apa yang ingin kau katakan..." Sambung Demian setelah itu kembali duduk di kursi nya.


"Ayah tidak perlu selalu menuruti perkataan orang asing yang terlihat berbahaya ini..." Maihime berbicara dengan tatapan sinis pada Zen.


"Mai, tenang saja... Kalau dia memang berbahaya ayah yakin kau bisa mengalahkan nya... Tapi ayah rasa dia benar benar tidak berbahaya sama sekali..." Balas Demian pada putrinya itu.


"Tentu saja aku bisa melakukannya ayah..."


"Hubungan yang sangat akur... Tapi terserah lah... Baik mari kits mulai... Raja Demian menurut mu apa penyebab turunnya salju ini..."


"Awalnya aku hanya mengira kalau ini adalah pergantian musim yang sedikit lebih cepat... Tapi melihat dari sejarah seperti nya ini pertama kalinya musim berganti dengan cepat... Jadi kupikir itu tidak mungkin..." Demian memegangi dagunya dan tengah berpikir terhadap sesuatu.


"Tidak ku sangka kau akan menyangkutkan hal itu pada sejarah..."


"Apa maksudmu orang asing... Apa kau mengatakan kalau tindakan ayahku itu salah ha!!" Maihime membentak kearah Zen dengan suara yang ditinggikan.


"Kau diam saja... Orang yang tidak tau apapun seperti mu tidak pantas berbicara seperti itu..." Zen tidak takut dengan bentakan itu dan malah Memberikan sebuah intimidasi terhadap Maihime yang langsung membuatnya mematung ketika terkena tatapan Zen yang begitu tajam.


"A.. apa yang kau katakan..."


"Mai diamlah dulu... Jadi Kanade Zen apa yang kau ketahui tentang kejadian kali ini..." Demian mengalihkan pandangannya seketika dari Maihime kemudian kembali melirik ke arah Zen.


"Bagaimana jika aku bilang kejadian kali ini berasal dari kerajaan mu..."


"Tidak ada teori kenapa kau bisa menyimpulkan bahwa kejadian ini berasal dari kerajaan kami..."


"Melihat dari tebalnya salju sekarang... Kemungkinan salju mulai turun di Kerajaan ini adalah waktu malam artinya kerajaan inilah yang terlebih dulu turun salju... Sedangkan kerajaan Terarria baru turun tadi pagi... Apa ada yang bisa kau katakan mengenai itu raja Demian?" Zen berjalan ke salah satu ke jendela di sisi kanan ruangan kemudian melirik ke atap yang dimana banyak salju menumpuk.


"Artinya kerajaan ini adalah penyebab turunnya salju?, Tapi kami tidak mungkin melakukan hal yang merugikan kerajaan dengan menurunkan salju sebelum perang Relic nanti... Itu hanya akan mengurangi tingkat kekuatan kami..."


"Tenang dulu raja Demian... Aku hanya mengatakan kalau Kerajaan ini lah asalnya... Bukan berarti kalian yang membuatnya..." Zen terlihat sedikit tertawa sinis ketika wajah Demian terlihat panik.


"Lalu... Jangan bilang kalau ini adalah ulah pemberontak kemarin... Bukankah itu sudah cukup lama Selesai... Aku tau hanya dengan melihat lenganmu saja..."


"Jangan menyindir tentang itu disini, tapi yang kau katakan memang benar... Tapi bukan itu.."


"Ini semua berasal dari Hutan penyihir yang ada di kerajaan mu..."


Note : Tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru.


see u next chapter

__ADS_1


__ADS_2