
Unknown Time
Untouched Territory
"Kak Zen, kau pergi saja... Aku akan menghadapi orang ini..." Daven maju ke depan Zen dengan raut wajah yang terkesan percaya diri tanpa ada sedikitpun rasa takut yang terlihat.
"Kau yakin bisa menghadapi nya?" Tanya Ragu Zen yang sama sekali tidak percaya pada keinginan Daven yang ingin menghadapi Edward seorang diri.
"Apa... Kak Zen pikir dengan siapa kakak berbicara... Aku adalah pemilik sihir hampa yang tak terkalahkan..." Balasnya Sombong.
Sementara Edward yang sudah melepas kacamata nya itu memandang ke arah Daven yang terlihat siap untuk menghadapi nya, dan sama sekali tidak berniat untuk mengacaukan diskusi antara keduanya, karena tentu saja dia sudah yakin apa pun yang mereka putuskan tetap akan menjadi kemenangan nya dan juga Regurd.
"Baiklah, kuharap kau tidak segera menyusul adik adikmu karena kau masih punya beberapa utang padaku..." Zen mundur sedikit kebelakang dan bersiap dengan sihir perpindahan nya.
"Kak Zen boleh menganggap bantuan ku ini sebagai bayaran utang sebelumnya..."
"Dasar licik, Kalau begitu aku serahkan yang disini padamu [Shadow Magic : Reach Enchancer]" Memperluas jangkauan bayangan yang ada di bawah kakinya Zen kini tertelan masuk ke lantai dengan segera dan sudah berpindah tempat cukup jauh dari tempat Edward dan Daven.
"Aku tidak tahu apa yang kalian rencana kan tapi terima kasih karena tidak menghalangi kak Zen..." Ujar Daven.
"Apapun yang kalian lakukan, semuanya sudah terlambat... Dengan bantuan sihir enchantment... Kalian tidak akan punya kesempatan sedikitpun untuk menang... Sekarang bagaimana caranya aku harus mengirim mu pada Tuhan..." Edward dengan santainya berbicara seolah terlalu meremehkan Daven yang ada di depannya.
"Tuhan yah... Sayang sekali tapi aku tidak lagi percaya padanya... Dan karena kau terlihat seperti orang yang taat maka aku akan menghabisi mu dan membuatmu bertemu dengan Tuhan tersayang mu itu..."
"Erratic Air : Behind the Pressure" Edward memulai sihirnya dengan sebuah tekanan udara yang muncul dari belakang Daven.
"Dimension Eater : Hollow Wall" Daven yang menyadari tekanan yang muncul di belakangnya membuat sebuah Dinding tipis tak terlihat yang dapat menyerap apapun yang disentuhnya.
"Agghhhh!!!" Daven berteriak kesakitan ketika tubuhnya terhimpit oleh sesuatu yang tak terlihat dari arah depan dan belakang secara bersamaan membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun.
Setelah di tekan beberapa saat dengan tekanan udara yang tak kasat mata, Daven jatuh berlutut dan menopang tubuhnya agar tidak jatuh terbaring.
"Sayang sekali tapi sihir mu tidak akan bisa menghilangkan udara yang sejatinya adalah objek tak berwujud..." Ucap Edward yang langsung menjawab pertanyaan yang ada dalam kepala Daven tentang mengapa dia tidak bisa menghilangkan tekanan udara milik Edward.
"Dimension Eater : Slack of Emptiness" Daven menembakkan beberapa bola Berukuran kecil dari ujung jarinya ke arah Edward yang berdiri tidak jauh di depannya.
Tapi tidak ada satupun dari tembakan itu yang mengenai Edward dan malah menghantam dinding yang ada di belakang, menghilang kannya seperti tertelan oleh sesuatu dan tidak meninggalkan jejak apapun.
Di saat Edward sibuk menghindari tembakan tadi, Daven segera berdiri dan kembali membuat jarak antara dia dan Edward bersiap dengan sebuah sihir yang ia akan tembakan kembali.
"Dimension Eater : Slack Of Emptine-"
__ADS_1
"Erratic Air : Air Density" sebelum selesai dengan mantra sihirnya, Suara Daven tidak keluar sama sekali, dia mencekik lehernya sendiri seperti orang yang sesak napas.
"Waktumu hanga satu setengah menit sebelum kau mati karena kehabisan nafas... Aku penasaran bagaimana caramu melepaskan diri dari kepadatan udara yang kubentuk..."
Daven berteriak dalam kebisuan, berusaha menjernihkan pikirannya untuk berpikir tentang apa yang harus ia lakukan sekarang, dia sama sekali tidak menyangka kalau akan terpojok secepat ini bahkan belum 5 menit semenjak kepergian Zen dari tempatnya dan sekarang hidupnya sudah berada di ujung tanduk.
"Sial... Apa yang harus ku lakukan sekarang..."
• • •
"Pangeran Regurd, maafkan saya jika tidak sopan, tapi maukah anda memberikan kemudahan bagi orang biasa ini..." Zen yang muncul sedari tadi dalam sebuah ruangan dengan satu pintu masuk yang menjadi satu dengan pintu keluar berbicara pada sosok pria yang berdiri tidak jauh di depannya.
"Corpse Magic: Summons of Terrified" Tanpa menjawab pertanyaan Zen, Regurd malah memanggil sebuah lingkaran sihir yang cukup besar di depannya.
"Tidak mau bernegosiasi yah... [Carta : Arcana]" Zen mundur sedikit kebelakang setelah memastikan bahwa dugaanya benar, dia memanggil Relic milik Arthur untuk menghilangkan lingkaran sihir pemanggilan milik Regurd.
Tapi setelah beberapa saat memanggil Relicnya, Lingkaran sihir itu tidak kunjung hilang dan malah mengeluarkan beberapa mayat hidup dari dalamnya.
"Sihir enchantment bukanlah sihir gampangan asal kau tau... Dengan Relic milik ayahku saja kau tidak akan bisa menetralisir sihir yang sudah di perkuat dengan enchantment..." Sahut Regurd yang bersembunyi di belakang mayat hidup yang ia panggil.
"Itu artinya kau sudah mengambil sihir milik Yurina Oliver..."
Mayat hidup yang sebelumnya tidak bergerak kini mulai berlari dengan langkah lunglai seperti siap jatuh kapanpun, ada yang melompat, ada yang lari seperti waria bahkan ada yang bergerak dengan merayap untuk Menyerang Zen.
Membakar Arcana yang ia panggil, Zen merubah Relicnya menjadi kertas seperti semula dan melemparkannya ke arah Mayat Hidup yang sudah dekat dengannya.
"Lepaskan" Ucapnya tergesa Gesa setelah itu dari jarum yang ia lemparkan keluar sengatan listrik yang menyambar para mayat hidup.
"Tidak mempan??!!" Dia bergidik Ngeri kemudian berlari menjauh setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau listrik yang menyengat itu sama sekali tidak melukai para mayat hidup.
"Shadow Magic : Confinement Of Being"
"Carta : Katana"
Zen memadukan sihirnya dengan Relic yang ia realisasi kan menjadi beberapa Katana yang kemudian ia serahkan pada keempat shadow hand yang muncul dari belakangnya.
Dia mengendalikan Shadow hand tadi untuk menebas satu persatu mayat hidup yang mendekat kearahnya, dan saat itu juga Zen terlihat seperti seorang yang sangat ahli dalam menyerang dengan banyak tangan.
"Apa kau yakin menggunakan cara seperti itu? Regurd yang masih berdiri santai di belakang para mayat hidup mulai tersenyum.
"Aku tidak yakin, tapi sepertinya ini tidak berguna..." Balas Zen yang menyadari kalau setiap kali ia memotong tubuh manusia iblis itu tubuhnya yang terpotong malah beregenerasi dan membentuk tubuh baru dan menambah jumlah mayat hidup.
__ADS_1
"Kalau sudah tau kenapa kau tidak menyerah saja... Kau terlalu naif Kanade Zen..."
"Menyerah? Apa yang akan terjadi jika aku menyerah? Kau akan membunuh ku?"
"Tentu saja..."
"Kalau begitu aku menolak untuk menyerah, karena aku berjanji akan kembali dengan selamat pada seseorang... Uhhh mengingat tentang nya membuat ku Jandi rindu... Karena itu mari kita selesaikan ini dengan segera..."
"Sayangnya kau tidak akan bisa menepati janjimu karena kau tidak akan pulang dengan selamat... Bagaimana cara mu mengatasi para pasukan ku yang sudah diperkuat dengan sihir enchantment..." Tantang Regurd membanggakan para pasukannya yang masih di tebas satu persatu oleh shadow hand Zen.
"Kalau tidak bisa mengatasi anak buahnya, maka hanya ada satu cara yang pasti yang bisa ku lakukan... Mengincar bos mereka... [Shadow magic: Lightless Slash]" Zen mengayun tangannya secara diagonal dan melepaskan sebuah tebasan bayangan yang mengarah ke Regurd.
Dengan santai Regurd hanya bergeser dua langkah ke samping untuk menghindari serangan Zen dan tebasan tadi melewati nya.
Swushhh...
"Aku adalah bayangan dan bayangan adalah Aku" Ucap Zen yang muncul tepat di tebasan yang di hindari oleh Regurd dan bersiap dengan katana yang sudah ada di genggaman nya.
"Yah, tentu saja aku tau itu..." Ucap Regurd dengan tenang seolah sudah menduga bahwa Zen akan melakukan hal itu.
Srettt...
Mata yang terbelalak bersama dengan sebuah lengan yang terputus dan tubuh yang membeku melayang di udara ketika tebasan yang begitu cepat dan tajam memotong salah satu lengan Zen.
Bruakkk...
Belum berhasil mendaratkan satupun serangan tubuh Zen terlempar jauh kebelakang dan menghantam salah satu sisi Tembok, membuat tembok tadi retak dan tubuh Zen jatuh terkulai.
"Eghhh!!" Desahnya pelan, merasakan sakit di salah satu lengannya ,dia menoleh kesamping kanan dan mendapati kalau lengannya sudah tiada dan berganti menjadi darah yang bercucuran kemana mana.
"Perkenalkan... Dia adalah bidak terkuatku... Uccisore..." Regurd memanggil Zen yang masih setengah sadar dan berhasil membuat Zen mengalihkan pandangan nya pada sosok berbadan besar yang membawa sebuah pedang besar dengan banyak gerigi di pinggirannya.
Tatapan matanya sangar bersama dengan tarikan nafas berat yang terdengar di telinga Zen.
"Uc... Cisore?"
"Selamat jalan, Kanade Zen"
Note : Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru...
see u next chapter
__ADS_1