The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 5 Identitas Si Pengkhianat Yang Terungkap Ketika Sudah Mendapat Relic


__ADS_3

"Waahhhh Ramainya..." Ucap Kagum Shin ketika menyaksikan anak - anak remaja seusai mereka berkumpul di dalam sebuah menara tinggi yang cukup luas di bagian dalam.


Semuanya nampak begitu menjanjikan dengan wajah percaya diri mereka, tentunya kehadiran para pejuang memancing perhatian semua orang yang berada di Dalam menara, Karena mereka muncul dengan cara yang heboh menaiki kereta kuda berjumlah 4 di temani beberapa pengawal yang berhenti tepat di depan menara, Luna si Putri kerajaan tentunya juga ikut untuk menerima Relic nya.


Selama perjalanan, Zen yang satu kereta Dengan Hana, Miharu, Yuuna, dan Aki hanya berdiam menyaksikan keasyikan obrolan di antara keempat orang itu, sebenarnya Zen sudah di ajak ngobrol sebelumnya tapi karena mereka membahas betapa asyiknya latihan Sihir, Zen jadi tidak tertarik karena dia adalah bagian dari Ksatria bukan penyihir.


Tentu saja tidak hanya mereka yang muncul dengan cara yang heboh, tapi juga beberapa bangsawan yang tiba dengan kereta kencana mereka, pakaian yang cetar membahana dan juga cara muncul yang heboh membuat Zen yang merasa malu.


Krekkk...


Pintu menara tertutup dan suasana yang sebelumnya ricuh menjadi tenang seketika, Yang tadinya terang menjadi gelap, sampai ketika cahaya yang muncul dari tembok menara mengembalikan pengelihatan semua orang.


Di sebuah pinggir ruangan yang terdapat panggung kecil sosok pria yang mengenakan pakaian serba putih dengan tongkat panjang berdiri dan membuat kaget semua orang.


"Selamat datang, di ritual penerimaan Relic... Kehadiran kalian disini pasti sudah menjadi takdir dari para dewa... Kalian semua adalah harapan dari kerajaan ini karena itu bagi siapapun yang mendapatkan Relic dengan kemampuan hebat di harapan meminjamkan kekuatan nya pada kerajaan ini... Tanpa berlama - lama lagi mari kita mulai ritualnya..." Setelah memberikan sedikit pidato pria tua aneh mengangkat tongkatnya ke atas, kemudian membaca semacam mantra aneh yang tidak di ketahui oleh semua orang yang ada Disana.


"Pada akhirnya kerajaan ini mengharuskan remaja seperti kami masuk ke pasukan kerajaan..." Gumam Zen melihat kalau kerajaan ini sudah teras cukup licik dengan memuji para remaja.


Cahaya kembali padam, tapi tidak berlangsung lama karena setelah beberapa saat lingkaran cahaya emas bersinar di atas kepala mereka, tidak ada satu orang pun yang tidak melirik ke arah cahaya itu termasuk Zen sendiri.


"Angkat tangan kalian untuk menerima Relic" Ucap Si pria tua kemudian semua yang ada di ruangan mengangkat tangan mereka ke atas sambil menutup mata seolah sedang menggacha untuk mendapatkan Item tingkat dewa dalam permainan video.


"Uwahhh... Cantiknya..." Puji beberapa Orang ketika si Putri Raja menjadi orang yang pertama kali mendapatkan Relic, Sebuah mahkota yang berwarna biru dan dihiasi oleh berbagai perhiasan indah melingkar di kepalanya, sosoknya yang berkilau itu terlihat seperti seorang Dewi.


Shin menurunkan tangannya ketika merasa ada sesuatu yang muncul di are lengannya, Melirik ke arah X Bow yang menempel dengan ketat di sana, berwarna kuning dan penuh dengan Energy sihir.


"Woahh...hebat"


"Dia mendapatkan Relic yang hebat..."


"Para pejuang memang sangat Hebat!"


Tidak hanya dia, Iori mendapatkan sebuah tombak dengan panjang satu setengah meter dengan kekokohan tingkat dewa, dia mengayunkan nya beberapa kali untuk menguji sekuat apa Relicnya, dan setiap kali ayunan darinya selesai, angin kencang bertiup.


"Hebattt!!!"


"Keren!!!"


Sementara untuk para pejuang lain, Ada Rika Takada yang mendapatkan Relic berbentuk Cincin dengan warna permata biru, Hana yang mendapatkan Relic berbentuk aksesoris Anting kecil di kedua telinganya, Natsukawa Isuzu dengan cermin bingkai perak, Kodaka Asegawa dengan sarung tangan bentuk keren berwarna coklat dan merah, Yuuna Yuragi mendapatkan gelang putih sebanyak tiga buah yang melingkar di tangan kanannya, Miharu Katagawa dengan bando berwarna kehijauan, dan Aki Takagi dengan topeng mata yang ia kenakan.


Tentu saja tidak hanya mereka beberapa bangsawan juga mendapatkan Relic mereka masing - masing, ada seorang bangsawan laki - laki yang mendapat sebuah jarum kecil, dan bangsawan wanita yang mendapat sebuah kipas kertas.


Selain itu semua pejuang dan anak anak lainnya sudah mendapatkan Relic mereka masing - masing tentu saja Zen juga termasuk.


"Hmphhh...."


"Hahahaha"


"Relic macam apa itu"


"Dia mendapatkan Relic kertas? Oy oy, dia itu pejuang bukan...."


"Ahahahhahaha"


Berbagai macam tawa hina membanjiri Zen yang diam terpaku memandang Relicnya yang berbentuk Kertas kecil warna hitam polos, padahal dia berharap akan mendapatkan Relic senjata seperti Katana atau yang lainnya.

__ADS_1


Tapi itu tidak bertahan lama, Zen tahu Relic seperti apa yang dia dapatkan dan menurut nya itu akan sangat berguna dengan sihirnya yang merupakan tipe bayangan.


"Kalian bisa menyembunyikan Relic kalian dan memanggilnya kapan pun kalian mau, cukup konsentrasi saja untuk menyembunyikan dan untuk memanggilnya kalian hanya perlu memberikan identitas kepada Relic kalian, dan dengan begitu kalian akan mudah untuk memanggilnya" Ucap si pria tua.


Para anak anak yang mendapat Relicnya langsung mempraktekkan apa yang di katakan oleh Si Pria Tua, dan berhasil, Tombak Iori berubah menjadi angin, X Bow tangan Shin yang menghilang secepat kilat, dan berbagai cara menghilang yang heboh terjadi pada setiap Relic.


Sementara Relic Zen menghilang dengan cara terbakar dan abunya terbang di udara.


"Hahaha... Kau membakar Relicmu?"


"Pejuang yang malang, sepertinya dia baru saja kehilanganmu Relic nya..."


"Berisik Sekali kalian ini... Apa kalian sudah bosan hidup?" Nada dingin, jahat, da penuh dengan niat membunuh keluar dari mulut Zen.


Zenggg...


Seketika tekanan yang luar biasa menyelimuti menara, dimana Zen lah yang menjadi pusat tekanan itu, semua orang terlihat sangat takut dengan tatapan mata Zen yang begitu membunuh dan juga mereka tidak bisa bergerak sama sekali.


"Zen sudah cukup..." Tegur Shin kemudian Zen melepaskan tekanan darinya, membuat semua orang kembali bergerak seperti semula.


• • •


Malam Hari / Terarria Kingdom.


Semua orang kini sudah sampai kembali di istana, Dan bersiap untuk beristirahat setelah makan malam bersama, sang raja kelihatan sangat senang dengan para pejuang yang mendapat Relic dengan kekuatan yang terbilang kuat.


Bahkan mereka sudah membahas tentang masuk ke akademi kerajaan untuk berlatih menjadi lebih kuat demi menghadapi perang melawan kerajaan Nipotia beberapa bulan lagi.


Rencananya besok akademi akan membuka pendaftaran pada siapapun yang ingin menjadi bagian dari pasukan kerajaan, tentu saja mereka akan dilatih dengan sangat keras agar menjadi pasukan yang kuat.


"Carta" Zen memanggil Relicnya yang dimana ketika cahaya hitam itu berkumpul, Kertas berukuran seperti kartu itu muncul di tangannya.


"Jadi ini adalah Relic ku yah... Haaa... Repot sekali... Bagaimana kalau ku coba saja..."


Zen memusatkan konsentrasi nya sembari memegang Carta, mengingat bentuk dari Katana yang ia gunakan selama latihan.


"Berhasil... Cukup mudah..." Ucap Zen setelah kertas yang ada di tangannya berubah bentuk menjadi Katana yang ia selalu gunakan selama latihan.


Benar... Kekuatan dari Relic milik Zen adalah peniruan, dengan hanya membayangkan tentang benda yang ingin ditiru maka dengan mudah Zen dapat menirunya, bahkan jika yang di tiru adalah Relic maka kekuatan yang sama dengan Relic yang ditiru juga akan ada.


Artinya, Relic milik Zen adalah Relic yang sangat kuat karena dapat meniru segala hal yang ada dalam ingatannya, dia berniat untuk tidak menyembunyikan kekuatan ini dan aka. Segera membungkam mulut orang yang menghina dan menertawakan nya waktu ritual Relic.


Dan tentu saja sebagai 'Si Pengkhianat' Relic miliknya adalah Relic yang sangat berguna untuk menghadapi para pejuang lainnya.


Tokk... Tokk... Tokk...


Suara ketukan pintu membuat Zen menghilangkan Relicnya dan berjalan membukakan pintu yang dengan segera kembali di ketuk.


"Tuan Zen... Anda di panggil oleh yang mulia ke ruangan kerja..." Ucap Nania dengan sedikit pelan.


"Aku? Ada apa?"


"Ini adalah sesuatu yang sangat penting karena itu ikuti saya sekarang tuan" bisik Nania lagi.


"Baiklah..." Zen menurut kepada Nania dan berjalan dengan cepat menyusul Nania yang berada di depan.

__ADS_1


Krekkk...


Nania membuka pintu dan masuk ke dalam sebuah ruangan kerja Arthur yang dimana hanya ada dia seorang Disana dengan beberapa kertas dimejanya.


"Yang mulia saya membawa nya..." Ucap Nania.


"Terima kasih... Kau boleh kembali sekarang..." Jawab Arthur menyuruh Nania untuk keluar ruangan, meninggalkan Zen dan juga Arthur.


Setelah pintu tertutup dan hanya menyisakan mereka berdua Disana suasana langsung berubah menjadi seperti menekan.


"Maaf yang mulia... Tapi ada urusan apa anda memanggil saya kemari?" Tanya Zen sedikit canggung.


"Tidak perlu gugup seperti itu..." Jawab santai Arthur kemudian berdiri dari kursinya.


"Kau tahu bukan kalau besok kalian semua akan masuk ke dalam akademi... Dan kau setuju?" Arthur berbicara sambil menatap jendela yang berada tepat di belakang meja.


"Itu benar..."


"Tapi sebagai seorang pengkhianat kau tidak boleh mengikuti hal yang sama dengan para pejuang lainnya bukan" dia membalikkan wajah dan melihat ke arah Zen dengan tatapan mengintimidasi.


Zen tersentak, tidak menyangka kalau Arthur akan tahu mengenai identitas nya sebagai The Traitor atau si Pengkhianat para pejuang.


"Carta" Memanggil Relic nya, Zen membentuk Katana dengan sangat cepat setelah itu memasang sikap waspada terhadap Arthur, kemudian mengunci pergerakan nya.


"Menyerang seorang raja itu melanggar hukum loh [Arcana]" Di selipan tangan Arthur sebuah kartu kuning dengan gambar aneh muncul dan seketika menghilangkan sihir dari Zen.


"Terkejut?, Ini adalah Relicku Kartu Arcana... Dan ini bisa menetralisir semua jenis sihir... Jadi tidak ada gunanya kau menyerang dengan sihir..." Ucap Arthur kemudian berjalan mendekat kearah Zen.


Zen mengancam menggunakan Katana nya, menyuruh Arthur untuk tidak mendekat.


"Tenang saja... Aku tidak akan melakukan apa - apa.. sebaliknya kaulah yang akan melakukan sesuatu untukku?"


"Kalau aku menolak?" Tanya Zen.


"Mungkin aku akan memberi tahukan kalau kau adalah si Pengkhianat kepada para pejuang..."


"Memangnya Meraka akan percaya padamu..."


"Tentu saja... Mari berpikir logis... Siapa yang akan mereka percaya... Si raja yang terkenal bijaksana atau kau si pejuang yang bahkan tidak punya teman dan jarang berinteraksi dengan mereka..."


"Cihh... Darimana kau tau kalau aku adalah si Pengkhianat..."


"Apprasial... Aku menggunakan sihir ku untuk mengetahui identitas kalian semua... Bola kristal yang kalian sentuh itu adalah salah satu dari sihirku untuk mengetahui identitas kalian... Dan siapa sangka kaulah si pengkhianat"


"Hooo... Jadi begitu siapa sangka si raja yang meyebut dirinya bijaksana akan melakukan hal seperti itu..."


"Itu adalah ketidak sengajaan kau mengerti..."


"Baiklah, aku akan mendengar kan apa yang kau inginkan, selain itu aku pun tidak bisa menolak..."


"Bagus keputusan yang sangat bagus... Sebagai orang terkuat di antara yang lain aku ingin kau menjadi mata - mata di kerajaan musuh... Selama kau berada di akademi..."


Note : Jangan Lupa Like & Coment Guys...


See u next chapter

__ADS_1


__ADS_2