
Lokasi : Tim 1
Cahaya Terang itu kini membawa tim 1 yang beranggotakan Shin, Hana, Haru, Kodaka dan juga Elize tiba di pinggiran sebuah hutan lebat, dengan sebuah krystal putih di belakang mereka yang terlihat melayang di atas tanah.
Wajah mereka kini terlihat sedikit bingung dan saling memandang wajah satu sama lain.
"Baiklah, semuanya... Dengarkan aku... Kondisi kita sekarang bisa di bilang cukup menguntungkan karena Hana berada di tim kita..." Ucap Shin berusaha memancing perhatian Tim 1.
"Berikan aku alasan kenapa kau bisa menyimpulkan itu... Kau tau sendiri bukan, Zen berada di tim 2... Dan kekuatannya sangat merepotkan..." Sanggah Elize, wajahnya terlihat cukup ragu dan penuh pertanyaan.
"Itulah mengapa aku bilang kita di untungkan tuan Putri... Sihir Hana adalah cahaya sedangkan Zen adalah bayangan yang tentunya banyak mengandalkan tempat gelap... Dengan sihirnya Hana bisa di pastikan sihir Zen tidak akan berpengaruh... Karena... Cahaya akan menetralkan kegelapan..." Jelas Shin.
"Itu seperti nya cukup masuk akal..." Sahut Hana yang berada tepat di sebelah Elize.
"Yang harus kita pikirkan sekarang adalah Sihir dari putri Luna, Rika, Iori, dan Natsukawa... Sihir mereka berempat juga sama merepotkan jika di hadapi secara langsung..." Shin memegangi dagunya dan mulai berjalan mendekati Kristal mereka, menyentuh nya dengan telapak tangan dan merasakan sensasi dingin dari permukaan Kristal putih itu.
"Sihir milik Iori adalah Angin, Luna adalah Sihir Roh elemen, Rika Beratribut air... Dan Natsukawa adalah Kaca... Apa yang merepotkan dari sihir mereka..." Tanya Elize.
"Jika Melihat dari Medan simulasi... sihir mereka akan menjadi sangat merepotkan..
Iori bisa menambah kekuatan sihirnya dan pergerakan nya akan menjadi tidak terbatas... Dan karena kita berada di hutan akan ada kemungkinan kita bertemu dengan sungai atau semacamnya saat berhadapan dengan mereka... Dan itulah letak keuntungan sihir Rika... Sementara untuk putri Luna... Tuan putri tau sendiri tanpa aku harus menjelaskannya..." Balas Shin, memberikan penjelasan yang terdengar sangat masuk akal, memiliki pemikiran yang terbuka terhadap situasi yang ada disekitarnya.
"Yah kalau di pikir lagi itu ada benarnya... Jadi apa yang kau rencanakan... Karena kau yang memberi penjelasan tadi aku harap kau siap untuk memimpin tim ini menuju kemenangan..." Elize tersenyum, tapi dengan sedikit provokasi kecil di dalamnya.
"Ya kalau itu lebih baik kita pikirkan bersa-"
Swushhh...
Objek hitam yang menutup permukaan tanah kini berada tepat di bawah kaki tim 1, setelah beberapa saat objek hitam itu semakin melebar dari dalam hutan, tapi itu hanya sesaat dan objek tadi menghilang.
"Tadi itu apa..." Ucap Panik Hana melangkah mundur kebelakang.
"Putri Luna yang tadi itu mungkinkah..."
"Apa kau mempunyai dugaan yang sama dengan ku Shin?" Tanya Elize, yang tentunya tau apa yang baru saja terjadi.
"Yah... Aku tau..."
"Yang tadi itu..." Kodaka membuka suara.
"Asegawa... Gunakan sihir mu untuk melindungi kristal..." Perintah Shin dengan segera.
"Baiklah... [Earth Magic : Earth Side]" Rapal Kodaka yang melindungi Kristal mereka di dalam sebuah kubus tanah.
"Putri Elize bersiaplah... [Arkua]" Shin Memanggil Relic nya yang berbentuk seperti Xbow dan melengket di punggung tangan kanannya.
"Lancy!" Mengikuti apa yang di lakukan oleh Shin, Elize memanggil Lancy dan memasang kuda kuda bertarung di depan Kubus tanah tadi.
Hanya mengikuti alur, Hana ikut memanggil Relicnya dan bersiap siap di belakang Elize dan Shin.
Kelima orang itu kini berdiri menunggu sesuatu yang mereka perkirakan akan muncul dari arah hutan, Tanpa suara apapun mereka masih berdiri dan bersiap dengan segala kemungkinan yang akan muncul.
"Mereka datang" Teriak Shin dengan lantang, ketika dari arah hutan terdengar sesuatu yang mencurigakan baginya.
Kodaka yang juga sudah siap dengan Relicnya kini berlari maju ke depan Shin dan Elize, dia menyapu tangannya ke atas dan membuat sebuah dinding tanah yang cukup tebal.
Brurr...
Tanah yang ia naikkan tadi bergetar cukup hebat dan dari arah tanah percikan air muncul dan mulai membasahi Kodaka yang masih berdiri demi menjaga sihirnya tetap aktif.
__ADS_1
Shin berlari ke arah samping Dinding Tanah kemudian melepaskan beberapa anak panah listrik dari Relicnya, menembak secara membabi buta ke dalam hutan tempat serangan tadi berasal.
Tapi anak panah itu tidak mengenai siapapun dan malah terbang kembali ke luar hutan.
"Yang tadi itu adalah sebuah sambutan yang cukup meriah bukan..." Suara dari arah belakang terdengar dan mengagetkan Hana yang berdiri tidak jauh dari dekat kubus.
Zen berdiri dengan pakaian yang tertiup ke samping, memandang ke bawah dari atas kubus, dan menyaksikan bagaimana kekuatan pertahanan tim 1.
"Kanade..."
"Zen..."
Shin mengalihkan fokusnya dari arah hutan dan malah membidik Zen dengan Relicnya kemudian menembakkan Beberapa anak panah yang melesat dengan cepat ke arah Zen.
Zen hanya berdiri santai, dan tanpa menggerakkan anggota tubuh manapun sebuah bayangan tiba tiba melindungi nya dari Proyektil Shin.
"Upss... Kalian tidak boleh terpaku padaku saja loh... Karena hanya ada aku disini... Dan Yang lainnya ada di..." Ucap Zen lagi setelah menyadari kalau dia mencuri panggung dan mendapat perhatian dari semua anggota tim 1.
"Ha!!" Shin segera berbalik kembali, dia menyadari bahwaa perkataan Zen tadi bukanlah sebuah candaan karena benar benar hanya ada dia Disana, sedangkan Iori, Rika, Luna, Dan juga Natsukawa tidak terlihat sama sekali.
Tapi sedikit terlambat baginya untuk menyadari itu karena dengan cepat serangan gelombang kedua dari arah hutan keluar, serangan yang berbentuk gelombang air yang melesat spiral kembali menghantam tembok tanah Kodaka dan menghancurkan nya berkeping keping.
Dan serangan itu malah mengenai Kodaka secara langsung, sedikit melemparkan tubuhnya ke belakang ke dekat Hana.
"Sudah ku bilang bukan... Baiklah sudah cukup sambutan nya... Bagaimana kalau kita masuk ke acara utama, tapi tunggu haruskah ada acara pembuka?... Ku pikir tidak perlu..." Zen melompat turun walaupun dia sebenarnya bisa saja langsung mengahancurkan kubus tanah tadi.
Setelah ucapan itu, Iori, Luna, Rika, Dan Natsukawa muncul dari dalam hutan secara bersamaan, dan Zen yang berada di belakang mereka kini menghilang dan muncul kembali di antara tim 2.
"Mulai dari sini, pertarungan sesungguhnya akan di mulai... Bersiap siaplah..." Ucap Iori yang mulai mengambil kembali kepemimpinan tim 2, dia tangannya ada [Gram] Relic nya yang berbentuk sebuah tombak.
Kodaka kembali berdiri setelah di bantu oleh Hana, kemudian keduanya mendekat ke arah Shin, Miharu dan juga Elize.
Kedua tim kini kembali berhadapan untuk kedua kalinya, Di mana terlukis jelas di wajah mereka bahwa pertarungan ini akan di menangkan oleh tim mereka.
"Shadow Magic: Shadow Party Night" Zen dengan segera mengeluarkan banyak sekali tusukan bayangan dari area gelap di dalam hutan, menghancurkan satu persatu tanaman merambat Haru.
Dia menunjukkan bahwa tidak hanya Haru saja yang mempunyai kekuasaan atas hutan, tapi setiap inci bias bayangan yang ada di sana adalah kekuasaan nya juga.
Serangan Haru yang tidak berhasil membuat Shin segera menariknya mundur ketika salah satu bayangan runcing itu mengarah ke Haru, membuat sedikit kepulan debu dari tanah yang di hantam kuat.
"Light Magic : Bright Light"
Cahaya terang seketika menghilangkan semua bayangan Zen yang ia kerahkan untuk menyerang Tim 1, memberikan kesempatan untuk Shin menyerang dengan anak panah berkecepatan tinggi.
Tidak membiarkan serangan itu mengenai Zen dengan mudahnya, Iori langsung membuat tiupan angin yang langsung menerbangkan anak panah tadi, kemudian menerjang maju ke arah Shin.
Dia memutar [Gram] dengan tekhnik yang ia pelajari dari Ksatria Istana Mira, memainkannya dengan sangat lihai dimana setiap serangan yang ia keluarkan terlihat begitu rapi.
Dan Shin hanya berusaha bertahan dengan menjaga jarak di antara keduanya, dia memperkuat kakinya dengan sihir listrik untuk menambah kecepatan gerak tubuhnya.
"Light Magic : Shining Spear" Hana merapalkan lagi sihirnya, menyerang dengan puluhan tombak cahaya ke arah Zen yang tengah berdiri santai dengan Luna dan Natsukawa, sementara Rika tengah beradu sihir dengan Miharu, keduanya saling bertukar beberapa proyektil sihir.
"Egh, kau sama Sekali tidak menahan diri Hana..." Ucap Natsukawa kemudian melemparkan sebuah cermin kecil ke depan, dimana cermin itu kemudian membesar dan melindungi Zen dari serangan tombak cahaya, tidak hanya berhasil di tahan tombak cahaya itu kini memantul kelangit kemudian meledak dengan suara yang cukup keras.
"Ternyata benar, itu bisa memantul kupikir teori di bumi tidak berlaku disini..." Ucap Natsukawa.
Bruk... Brakk...
Tendangan yang cukup kuat mendarat di tubuh Natsukawa, melayangkan tubuhnya ke samping dan menjauh dari timnya.
__ADS_1
Elize berdiri dengan wajah puas setelah berhasil menendang Natsukawa dengan sekuat tenaga, kemudian dia langsung membidik Luna yang kala itu berdiri dengan tingkah panik.
Dia tidak memainkan Relicnya tapi dia hanya menggunakan Beberapa bela diri dasar karena baginya untuk mengalahkan Luna yang jarang latihan fisik akan sangat mudah.
Elize berlari dengan sangat cepat dan siap menendang Luna dengan kakinya tepat ketika lesatan jarum jarum kecil itu mengarah ke dia, membuatnya harus berhenti dan menangkis jarum jarum tadi dengan Lancy.
"Tuan putri aku tau ini tidak akan mudah, tapi bisakah kau pergi menghancurkan Kristal nya... Meskipun kalah jumlah tapi aku yakin sihirmu lebih baik daripada mereka berdua bukan" Ucap Zen yang menjadi pelaku pelemparan jarum tadi demi melindungi Luna, Dimana mereka yang ia maksud adalah Hana dan juga Kodaka yang masih bersiap menunggu serangan darit tim 2.
"Baiklah aku mengerti!" Jawab pasti Luna, kemudian berlari dengan sekuat tenaga menjauh dari tempat Zen.
"Sungguh, yang paling merepotkan dari kalian adalah kau Zen..." Umpat Elize kemudian menyiapkan Lancy di depan wajahnya.
"Benarkah..?, Kupikir itu hanya anggapan mu saja..." Balas Zen yang ikut menyiapkan sebuah Katana di tangan kanannya.
"Itu benar... Tapi kuharap saat melawan ku kau tidak menahan diri?"
"Menahan diri? Apa itu... Yang ku tahu hanya bermain main saja..."
Keduanya melesat bersamaan dan mulai beradu pedang, Lance yang di pegang oleh Elize beberapa kali ia arahkan untuk menembus pertahanan bagian bawah Zen, tapi itu terlalu lambat untuk Zen sadari dan mulai menggunakan senjatanya kembali.
Zen berputar ketika Elize menusuk ke bagian perut, setelah itu mengubah posisi genggamannya dimana ia menggenggam Katana itu seperti sebuah belati dan membalas tusukan dari Elize.
"Chrono Magic : Delay Cube"
"Carta : Arcana" belum sempat aktif, kini sihir Elize terlebih dulu di batalkan oleh Zen, dengan Zen yang mengubah Katana nya menjadi sebuah kartu kecil, tapi berkat itu Elize jadi dapat menghindari serangan Zen barusan.
Elize melompat mundur, berusaha membuat jarak di antara keduanya untuk sementara waktu.
"Carta : Gram" Tak mau Elize beristirahat Zen kembali merubah Relicnya menjadi sebuah Tombak milik Iori, dimana tombak itu bisa memanjang dan memendek sesuai dengan keinginan pengguna nya.
Elize melompat ke atas kemudian berdiri di atas Tombak yang memanjang itu dengan terus mempertahankan keseimbangan nya, dia berlari dengan sangat cepat di atas tombak.
Membuat Zen terpaksa memendekkan ukuran tombaknya, tapi sudah terlambat kini Elize kembali melompat dan melayang di udara dengan Lancy yang ia arahkan untuk menusuk Zen dibawah.
Tapi Zen sama Sekali tidak berniat untuk menghindari serangan itu dan malah tersenyum, membuat Elize terheran dalam serangannya.
"Glass Magic: Prison Bias"
Di udara Elize terkurung di dalam sebuah kaca bening yang begitu tebal, membuatnya sama sekali tidak bisa keluar karena Natsukawa memfokuskan semua sihirnya untuk membentuk sihir tadi.
"Tuan Putri, kau memang seperti gorilla saja..." Ucapnya dengan pakaian yang kotor terkena tanah.
"Bukan aku yang mengatakan itu..." Zen mengangkat tangannya.
Sementara Elize terlihat seperti sedang berbicara tapi tidak ada suara yang terdengar sama sekali.
"Pertandingan ini sama sekali tidak asik... Kurasa tantangan nya tidak ada jika kita tidak mempertaruhkan kristal kita..." Ucap Zen kemudian membuat sebuah kumpul bayangan di hadapan Kurungan Elize.
Dan dari bayangan itu muncul sebuah kaca berwarna kuning pucat dimana di dalam kaca itu terdapat sebuah Kristal es yang mengurung kristal di dalamnya.
"Kanade untuk apa kau memperlihatkan kristal kita dasar bodoh" Umpat Natsukawa.
"Terserah ku..." Balas acuh Zen kemudian berjalan menjauh di ikuti oleh Natsukawa, keduanya berniat untuk membantu Luna sementara Iori dan Rika tengah sibuk melawan Shin dan Haru.
"Natsukawa kau pergilah membantu Putri Luna... Dan aku... akan membantu Rika dan Iori... Kita akan segera memenangkan pertarungan ini"
Ucap Zen yang suara nya terdengar sampai ke para rakyat dan murid akademi yang menyaksikan Pertarungan mereka yang di nilai cukup brutal dan hebat.
"Yang tadi anggap saja sebagai pembukaan, dan sekaran adalah acara utama...!"
__ADS_1
Note : Tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru...
see u next chapter