The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 1 Ledakan Besar Yang Menuntun Ke Dunia Lain


__ADS_3

[POV AUTHOR]


"Yoo Kana... Pagi..." Sapaan yang begitu ceria sampai di telinga Zen ketika dia baru saja sampai di kelas, tidak lebih tepatnya ketika dia baru saja membuka pintu kelas dan menampakkan wujudnya kepada seluruh orang yang ada di sana.


"Berapa kali ku bilang, jangan memanggilku seperti itu, itu terdengar seperti nama perempuan..." Dia mengeluarkan sebuah keluhan ketika melihat wajah orang yang menyapanya.


Teman masa kecilnya, Shin Minasaki, Remaja Laki - Laki dengan tinggi 174 cm, lebih tinggi 4 Cm dari Zen, Rambutnya yang berwarna merah merupakan salah satu ciri khasnya, dibandingkan dengan Zen yang berpenampilan seperti Remaja Laki - laki pada umunya yaitu Rambut Hitam dan Mata Biru, ahh, tidak dialah satu - satunya yang memiliki kelopak mata biru di kelas, sementara Shin memiliki kelopak mata Coklat.


Menjadi anggota penting di Klub Kendo membuat orang - orang tidak percaya kalau tubuh Zen yang kelihatan lemah dan malas miliknya sebenarnya memiliki kelincahan dan ayunan pedang yang rapi.


"Ahaha... Seperti biasa kau terlihat sangat ceria pagi ini..." Balasnya dengan sedikit tertawa kecil ketika Zen sudah duduk di kursi sebelahnya, Shin yang duduk di bagian tepat di dekat jendela tengah sementara Zen duduk di sebelahnya.


"Ceria Matamu, jadi bagaimana... Semuanya berjalan lancar" Zen yang memulai Topik terlebih dahulu karena kemarin Shin memberi tahunya kalau kemarin malam dia akan menembak salah satu Murid perempuan di kelasnya, Salah Satu Riajuu atau orang populer yang belakangan dekat dengan Shin karena mereka berada di Klub Yang sama.


"Yah, Semuanya berkatmu... Saran darimu Memang yang terbaik.... Sekarang kami mulai berpacaran..." Jawabnya dengan sangat senang sembari mengacungkan jempol ke arah Zen.


"Begitu, aku ikut senang mendengarnya, yah setidaknya paket makan siang spesial kurasa cukup untuk membayar ku..." Zen tidak mengacuhkan rasa senang Shin dan malah memulai kebiasaannya, mengambil kesempatan di atas kesenangan orang lain.


"Tenang saja My Friend... Akan ku berikan kau sepuluh kali lipat dari pada itu...."


"Entah kenapa aku merasa tidak ingin mendengar janji dari orang yang sedang merasa senang..." Dengus Zen.


"Jadi kenapa...."


"Maksudmu?"


"Ituloh, kau ini kan tidak pernah punya pacar sama sekali, tapi kenapa saran yang kau berikan seperti sudah profesional..."


"Mudah saja..."


"Ayolah jangan memberi kan jawaban yang ambigu seperti itu..."


"Hentikan itu, dan ingat kataku, pelatih tidak bermain... Itu saja..."


"Kau yakin cuma itu... Atau kau adalah Maho?"


Pletakk...


Jitakan yang cukup keras melayang tepat di kepala Shin ketika dia baru selesai dengan kalimat nya dan di depannya Zen dengan wajah kesal dengan kepalan tangan kanan memandang jijik ke arah Shin.


"Katakan lagi dan kau akan mendapat gelar Almarhum..." Ucap Zen.


"Maaff... Habisnya sudah sejak kecil kita berteman, tapi kau tidak pernah memberitahu kepadaku tentang orang yang kau suka, terlihat tertarik saja tidak pernah... Tidak salah kan kalau aku berpikir seperti itu..." Shin memegang kepalanya dengan kedua telapak tangan karena rasa sakit itu terus ada.


"Haa... Dengar kan aku, Aku hanya menjalani hidupku sebagai mana mestinya, aku tidak mau merasa terikat kepada sesuatu yang aku tidak suka, maksudku kau mengerti bukan... Saat ini kau berpacaran dengan Rika, Itu berarti kau sudah terikat padanya dan tidak di perbolehkan mendekati perempuan lain, selain itu kau akan terikat dalam peraturan yang ada dalam hubungan kalian... Bukankah itu kehidupan yang menyedihkan..." Zen berbicara layaknya orang bijak.


"Memang benar apa yang kau katakan, tapi ini lah hidup, selagi masih ada aku akan menikmatinya sebisa mungkin... Apalagi dia adalah Rika, Rika Takada Loh..."


"Sudahlah kau tidak akan mengerti dengan apa yang ku katakan..." Zen mengalihkan pandangannya dari Shin dan mulai melihat ke sekeliling kelas dimana tinggal beberapa orang lagi yang belum hadir.


"Ahh.. itu dia... Rika...." Shin dengan heboh memanggil sosok Perempuan dengan rambut gaya Twintail pirang yang baru saja tiba di kelas.


"Berisik..." Tegur Zen yang merasa terganggu dengan suara keras Shin.


Rika adalah orang terakhir yang belum hadir saat itu, dan tentu saja Shin sangat senang karena akhirnya Rika hadir juga.


Namun tepat saat Rika melangkah masuk ke dalam kelas sebuah hal yang tak terduga terjadi.


KABOOMMM!!!


Pagi itu, menjadi pagi kelabu, Dimana terjadi sebuah ledakan misterius berskala besar yang menewaskan seluruh orang yang berada di Kelas Zen.


Satu sekolah, tidak satu kota menjadi gempar dengan kejadian yang baru saja terjadi dan pihak kepolisian mulai menyelidiki tempat kejadian.


Anehnya tidak ada satupun tubuh para siswa yang berada di puing puing bekas ledakan terjadi, Polisi mengasumsikan bahwa tubuh mereka sudah lenyap karena ledakan.

__ADS_1


• • •


"Kalian masih hidup..." Suara yang menggema di telinga para siswa membangun kan mereka dari tidur yang terasa sangat singkat.


"Ini... Dimana..." Shin bangun dari tidurnya dan melihat sekeliling dimana hanya ada ruangan putih tanpa ujung sama sekali.


"Kalian berada di Dimensi pemanggilan..." Suara itu kembali terdengar membuat Shin dan juga para siswa kebingungan dengan apa yang terjadi.


"Siapa... Dan dimana kau... Apa yang terjadi..." Shin dengan nada bicara yang terdengar takut mencoba mencari letak orang yang berbicara dengan mereka.


Tidak hanya dia, Bahkan para murid yang lain terlihat saling merangkul satu sama lain karena ketakutan.


"Jangan Takut... Kalian akan baik - baik saja..." Ucap suara itu lagi berusaha menenangkan Shin dan yang lainnya.


"Kalau begitu pulang kan kami..." Iori yang merupakan Ketua Kelas sekaligus ketua OSIS di SMA tempat Shin berada memohon.


"Sayangnya kalian tidak bisa kembali..."


"Kenapa... Apa yang sudah kau lakukan, pulang kan kami segera... Orang tua ku sedang menunggu..."


"Karena kalian sudah mati di dunia itu..."


"Ma.. ti...."


"Itu benar..."


"Tapi kenapa..."


"Karena kalian adalah orang yang dipilih untuk mendamaikan dunia"


"Mendamaikan dunia?... Apa maksudnya..."


"Kalian adalah para pejuang dari dunia lain yang di panggil oleh kerajaan Terarria..."


"Kami tidak mengerti... Segera kembalikan kami..."


"Tunggu tapi kami belum...." Suara Iori mendadak menghilang ketika dia di telan oleh cahaya gelap bersama dengan para murid yang lain, meninggalkan tempat itu.


• • •


Waktu yang sama...


Tempat yang berbeda...


"Jadi kau adalah orang yang di pilih yah..." Suara yang jauh berbeda dengan tempat Shin dan yang lainnya terbangun membuat Zen mencoba mencari asal suara itu, matanya sama sekali tidak lepas dari semua tempat, seolah dia sedang waspada.


"Tidak perlu takut seperti itu... Kau akan baik - baik saja..." Suara itu kembali berbicara pada Zen.


"Ahh... Baiklah kalau kau bilang begitu..." Balas Zen melepas kewaspadaan nya kemudian duduk.


"Kau sepertinya sangat tenang yah... Apa kau tidak takut..."


"Aneh sekali, tadi kau bilang aku tidak perlu takut... Bagaimana sih..."


"Ahaha... Kau menarik juga rupanya... Tapi bagaimana jika aku berbohong tadi..."


"Yah meskipun aku mati tidak masalah, Karena itu adalah takdir ku..." Balas Zen.


"Ahaha... Hebat sekali... Kau adalah orang yang pantas untuk menjadi The Traitor"


"The Traitor ? Apa maksudnya, Dan lagi siapa kau... Dan dimana aku, segera pulangkan aku..." Ucap Zen yang mulai merasa kesal.


"Sayangnya itu adalah hal yang mustahil..." Kini kabut hitam muncul di dekat Zen membuatnya berdiri menanti apa yang akan muncul dari kabut itu.


"Kenapa...."

__ADS_1


"Karena kau sudah mati" Kabut hitam itu kini berubah menjadi wujud seorang pria dengan jubah hitam dan mata dengan sorotan yang sangat tajam.


"Siapa kau..."


"Aku adalah Dewa Kehidupan..."


"Begitu yah... Jadi ada perlu apa dewa dengan ku..."


"Singkatnya aku ingin kau menjadi si Pengkhianat di antara teman - teman mu yang bertugas menjadi pejuang Kedamaian..."


"Ahaha... Lucu sekali" tawa garing Zen.


"Aku tidak bercanda...."


"Kalau begitu jawab aku... Kenapa hanya ada aku disini, kau bilang kalau teman sekelas ku yang lain juga ada kan..." Tanya Zen yang saat itu menatap dengan tajam.


"Mereka berada di Dimensi pemanggilan pejuang"


"Lalu kenapa aku ada disini..."


"Karena kau bukan lah orang yang akan menjadi pahlawan... Si pengkhianat"


"Tunggu bisa kau jelaskan... Apa kau secara tidak langsung mengatakan kalau aku akan mengkhianati teman Sekelasku..."


"Benar... Karena itulah kau berada di sini..."


"Tapi kenapa..."


"Kedamaian di dunia Jinx berada di ambang kehancuran... Perang di antara kerajaan satu dan yang lainnya sudah mulai memanas demi menguasai seluruh benua..., demi menghalau serangan itu kerajaan Terarria memanggil kalian para pejuang yang akan membuat kedamaian dari dunia lain"


"Lalu apa hubungannya..."


"Akan tiba saatnya dimana para pejuang akan menghentikan perang dan membuat kerajaan Terraia menjadi yang terkuat... Bis kau tebak apa yang akan terjadi?"


"Dunia mendapatkan kedamaian kan..."


"Yah benar... Setelah itu..."


"Yang akan menjadi makhluk terkuat adalah para pejuang..."


"Tepat sekali, kenapa kau begitu cerdas?... Dengan begitu mereka sudah kupastikan akan berlaku semena - mena karena mereka lah yang terkuat... Karena itu dunia butuh sang Pengkhianat"


"Artinya..."


"Artinya suatu saat jika ada para Pejuang yang mulai bergeser dari tugas mereka yang sebenarnya maka sudah menjadi tugasmu untuk membunuh mereka... Kau paham..."


"Penjelasan semudah itu tidak mungkin aku tidak paham..."


"Bagus sekali..."


"Tapi itu artinya aku akan menjadi orang yang lebih kuat dari para pejuang benar kan..."


"Tidak, kemampuan mu akan sama kuatnya dengan mereka secara keseluruhan"


"Lalu bagaimana aku bisa mengalahkan mereka..."


"Tenang saja... Kau adalah orang yang terpilih dengan begitu kau pasti akan mendapat kemampuan yang lebih, tapi pada intinya kemampuan yang kami berikan kepada kalian sama kuatnya, tapi aku yakin kau jauh lebih kuat dari mereka... Kau akan Tau jika kau sudah ada di dunia itu..."


"Kalau begitu yang akan menjadi makhluk terkuat adalah aku... Bagaimana jika aku sendiri yang melenceng, misalnya aku malah membuat Harem gitu..."


"Sudah di pastikan kau adalah orang yang cocok, karena Hatimu sudah tumpul... Kau tidak akan merasakan rasa suka terhadap sesuatu... Untuk saat ini saja tentunya..."


"Tapi aku ragu kau tidak akan sanggup membunuh mereka..." Sambung sang dewa.


"Ini adalah tugas, tentu saja aku sanggup... Akan ku bunuh mereka jika memang melenceng meski pun dia adalah temanku sendiri... Karena itu pasti adalah Takdir nya untuk terbunuh di tanganku..." Jawab Zen yang terdengar begitu jahat.

__ADS_1


"Hahaha... Bagus sekali... Kalau begitu kau bisa pergi sekarang,... The Traitor..."


Note : Thanks Udah Baca:)


__ADS_2