The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 14 Candaan Si Pengkhianat Yang Menjadi Boomerang Untuknya Sendiri


__ADS_3

"Aku sudah menyelesaikan semua persiapan nya... Dengan bantuan Haley aku berhasil menaruh sihirnya di belakang gedung sesuai dengan yang kau perintahkan... Sekarang hanya tinggal menunggu besok sampai tempat itu benar benar kosong dari para pengawas..." Lapor seorang pria yang mengenakan sebuah kacamata tipis dan rambut panjang di kuncir kebelakang.


"Bagaimana dengan berkas para murid... Apakah berhasil di dapatkan..." Tanya pria yang berdiri di depan sebuah rak buku kemudian meraih sebuah buku tebal yang terpampang di sana.


"Yah, semua nya sudah dipastikan berada di tangan kita... Dengan memanfaatkan ujian masuk akademi orang kita berhasil mencurinya... Meskipun Haley juga berperan besar...."


"Begitu... Apa ada laporan terbaru dari Haley... Apa dia sudah memastikan bahwa target kita berada Disana..."


"Sudah di pastikan bahwa Yurina Olivier akan berada di kelas B..."


"Kerja bagus... Sesuai dengan rencana yang kita bahas kemarin... Jalankan tanpa ada protes apapun... Dan halangi siapa saja yang berani menantang kita..."


"Tapi Regurd... Kenapa kita harus menangkap anak dari bangsawan Oliver... Bukannya di akademi itu juga ada dua putri kerajaan ini..."


"Jangan bodoh... Yurina Oliver adalah aset berharga... Dengan sihir enchantment yang dia miliki kita bisa melakukan kudeta dengan lebih mudah... Selain itu untuk menangkapnya kita tidak perlu takut kalau dia akan menyerang karena dia bukan tipe petarung seperti kedua putri itu..." Jelasnya berbalik menatap si pria kacamata.


"Aku mengerti... Akan ku pastikan aksi besok akan berjalan sesuai rencana..."


"Aku mengandalkan mu Edward... Mari kita ubah kerajaan ini menjadi lebih baik... Demi keadilan bagi mereka yang tertindas seperti kita..."


"Yah...


• • •


Pagi Hari / Akademi Shield.


Keadaan akademi pagi hari ini nampak seperti biasanya dimana para murid berdatangan dari tempat tinggal mereka dan langsung masuk ke dalam akademi untuk menuju ke dalam kelas.


Dengan para murid baru yang menambah suasana ramai jalanan menuju akademi, Zen berjalan di belakang para pejuang yang ikut berjalan kaki menuju ke akademi secara serempak bersama dengan Luna dan Elize.


"Yah... Siapa sangka sosok Zen Kanade yang mendapatkan gelar Simbol Kesuraman akan menyatakan cintanya pada Putri Elize di depan banyak orang..." Shin mundur ke belakang saat menyadari Zen saat itu berjalan sendirian sambil menengok ke rumah rumah yang ada di jalanan kota.


"Itu benar... Aku bahkan tidak menyangka... Kau ternyata seberani itu... Aku kagum sekali..." Sahut Rika yang tidak sengaja mendengar ucapan Shin dari belakangnya.


"Kau bahkan membuat putri Elize merasa malu..." Iori yang berjalan di samping Luna ikut menyahuti perkataan Shin.


Suasana yang mungkin terasa sedikit canggung untuk Elize yang dari tadi diam seribu bahasa, setelah semalam Zen menyatakan bahwa Elize adalah Miliknya sampai sekarang Elize belum menjawab apapun atau menolak pernyataan itu, padahal semalam dia ingin memberikan penolakan terhadap Pernyataan Zen tapi setelah melihat Zen yang melindungi dan membelanya entah kenapa dia malah tidak protes sama sekali.


Hasil dari debat pesta penyambutan semalam di menangkan oleh Zen dimana dia berhasil memojokkan Duke Regard bersama dengan putranya, Hukuman di berikan dimana selain status bangsawan nya yang di cabut, Duke Regard juga akan di eksekusi dalam waktu seminggu dari sekarang bersama dengan putranya Mike dengan kasus pemberontakan dan juga mengancam raja.

__ADS_1


"Bagaimana menurut mu kak Elize... Apa kau akan menerimanya?" Bisik Luna yang merasa bahwa inilah saat dia bisa melihat sisi malu malu kakaknya sehingga dia tidak tahan untuk tidak ikut campur.


Elize berhenti berjalan sambil menahan Malu dengan menundukkan kepalanya, wajahnya serasa panas setelah mengingat kembali apa yang terjadi semalam dimana Zen memeluknya dan menyatakan bahwa dia yang memiliki Elize, pernyataan yang cukup jangan untuk ukuran Zen yang sedikit pemalas dan juga cuek terhadap hal hal yang tidak berkaitan dengannya.


"Aku... Aku..." Ucap Terbata-bata Elize sambil menutupi wajahnya yang mulai memerah.


"Ada apa kak?" Tanya Luna sedikit menggoda Elize.


"Kupikir... Aku akan memikirkan tentang lamaran itu..." Sambung Elize dengan suara yang cukup pelan tapi dapat di dengar oleh semua orang.


"Wahhh... Benarkah..." Ucap Senang Luna.


"Selamat Zen... Akhirnya temanku sudah menuju tangga kedewasaan bersama denganku..." Shin merangkul Leher Zen sambil berteriak semangat diikuti oleh reaksi senang dari beberapa pejuang yang turut hadir Disana.


"Sebenarnya apa yang dari tadi kalian bicarakan... Jangan melibatkan ku dengan hal hal tidak penting..." Zen meraih tangan Shin kemudian melepaskan rangkulannya.


"Ayolah jangan malu - malu begitu..." Shin tersenyum aneh.


"Itu benar... Padahal semalam kau sangat berani..." Balas Luna yang ikut merasa bahwa Zen saat ini sedang malu - malu.


"Malu - malu? Untuk apa... Apa yang kalian bicarakan dari tadi?" Zen memasang wajah sedikit kesal setelah merasa di permainkan oleh Shin dan Luna.


"Ha? Pernyataan Cinta? Apa kalian sedang mabuk?" Zen dengan wajah heran alami memandang Luna dan Shin dengan mata sipit.


"Eh?"


"Eh?"


"Eh?"


"Eh?"


"Eh?"


"Eh?"


"Eh?"


"Eh?"

__ADS_1


"Eh?"


"Ehhhhhhhhhhh!!!!!... Tunggu tunggu lalu yang semalam itu apa... Kau bilang kalau aku adalah milikmu bukan... Kau bahkan memeluk ku... Itu disebut apa kalau bukan pernyataan Cinta..." Elize berteriak kencang kemudian sedikit menjelaskan kembali pada Zen tentang apa yang terjadi.


"Hmphhh... Hahahaha... Kau menganggap itu sungguhan tuan putri?, Padahal aku sudah bilang itu hanya bercanda... maaf maaf... Aku melakukannya karena pernah melihat hal seperti itu di TV, dan aku mencoba meniru nya... Ternyata cukup bagus tapi siapa sangka kalian benar benar menganggap aku serius...." Zen tertawa lepas sampai ada sedikit air mata yang keluar dari sudut matanya, memikirkan kebodohan para pejuang dan juga dua tuan putri yang terlalu polos itu.


"Tapi... Tapi... Hwaahhhhhh" Elize berlari setelah wajahnya merah sempurna sambil berteriak dengan air mata yang terlempar ke segala arah, meninggalkan Para pejuang dan Juga Luna.


"Sampah..."


"Rendahan..."


"Musuh Para wanita..."


"Tukang PHP..."


Kata kata kasar mulai di lontarkan para pahlawan kepada Zen yang merasa itu adalah hal lucu, "Hey, ayolah aku melakukan itu secara spontan, selain itu aku sudah bilang itu hanya bercanda lagipula aku sudah minta maaf..." Ucap Zen yang mulai merasa bersalah setelah melihat Elize yang dikenal sebagai perempuan terkuat di akademi menangis sambil berlari kencang.


"Walaupun itu hanya bercanda kau harusnya tidak tertawa dan memberi tahu dengan benar... Dia merasa sungguh sungguh padamu tapi kau malah memberinya harapan palsu..." Ucap Shin dengan nada seperti sedang menasehati anak nakal.


"Kak Elize tidak pernah menangis beberapa tahun terakhir... Dan untuk pertama kalinya dia menangis begitu... Kurasa dia sangat tersakiti... Kasian kak Elize... Padahal dia benar benar melawan rasa malunya dan berusaha keras untuk mengatakan nya langsung..." Ucap Luna dengan nada sedih, membuat Zen tambah merasa bersalah saja.


"Cih, baiklah aku akan meminta maaf dengan benar padanya..." Ujar Zen menggaruk rambut belakangnya yang tak gatal.


"Memang itu yang harusnya kau lakukan... Kejar Putri Elize dan segera minta maaf padanya..." Dorong Iori yang ikut ikutan menyalahkan Zen.


"Kuharap kau mempunyai sesuatu untuk kah berikan sebagai tanda bahwa kau benar benar menyesal..." Sahut Rika.


"Merepotkan sekali... Baiklah baiklah... Aku akan pergi minta maaf sekarang..." Ucap Zen yang mulai merasa eneg setelah di salahkan beberapa saat, dia menggunakan Sihirnya kemudian tertelan masuk ke dalam bayangannya sendiri untuk langsung pergi menuju akademi karena jaraknya yang masih cukup jauh dari tempatnya sekarang ditambah gerakan lari Elize yang sangat cepat.


Setelah Zen menghilang, Iori, Luna, Shin, Dan Rika serta beberapa pahlawan yang lain saling menatap satu sama lain kemudian tersenyum senang, "Akting yang bagus teman - teman dengan begini Zen pasti akan semakin dekat dengan Putri Elize... Aku harap dengan begini mereka berdua akan semakin dekat..." Ucap Shin sambil memberikan sebuah acungan jempol.


"Kupikir dia bersungguh - sungguh semalam tapi ternyata hanya bercanda... Syukurlah putri Elize masih punya kesempatan karena sepertinya dia mulai menyukai Zen... Yah kalau itu aku, aku pasti juga akan menyukainya jika dia melindungi dan membela ku disaat aku benar benar sendirian..." Sahut Rika yang membuat wajah Shin sedikit aneh.


"Yah, yang penting sekarang semuanya sudah berjalan lancar meski tadi itu sangat tiba tiba... Kuharap dengan begini semuanya dapat berjalan lancar..." Balas Luna


Note : Tetap Stay Strong Puasanya Guys 🔥...


tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru...

__ADS_1


see u next chapter


__ADS_2