
"Seperti yang di harapkan dari Putri Luna... Dia mendapatkan peringkat 1 dalam ujian masuk.."
"Dia bahkan menyelesaikan ujian praktek kurang dari setengah menit... Hebat sekali..."
"Bahkan nilai ujian teorinya sempurna..."
Perbincangan para pendaftar yang tengah melihat papan Pengurung dimana nama - nama yang lolos dalam ujian masuk akademi terpampang akhirnya sampai di telinga Zen yang kala itu juga berniat melihat peringkat ujian.
Hampir semua orang ribut ketika membicarakan mengenai Luna yang mendidik peringkat pertama dalam ujian masuk dengan nilai Teori sempurna dan waktu ujian praktek yang terbilang sangat cepat yaitu 22 Detik saja.
Di bawah peringkat Luna ada nama Rose Hillemy yang menduduki peringkat kedua dengan nilai Teori sempurna dan waktu ujian praktek setengah menit.
Dan untuk Zen sendiri dia berada di peringkat 56 dimana ada di tempat kelima sebelum terakhir dengan perolehan nilai Teori sempurna dan ujian praktek 1 menit 15 Detik, berbanding terbalik dengan kejadian sebenernya saat ujian praktek, dimana dia bahkan menyelesaikannya kurang dari 2 detik.
Tidak ada alasan lain mengapa dia bisa berada di peringkat yang sangat jauh kecuali itu adalah ulah dari Arthur yang memimpin rapat penerimaan para murid akademi.
Arthur memerintahkan kepada semua penguji dan penilai bahwa Zen tidak akan di tempatkan di peringkat pertama dengan alasan akan menimbulkan banyak kontroversi dan protes dari para murid dan juga pejuang karena selain di anggap memiliki sihir yang tidak berguna, Zen juga di kenal sebagai pejuang pemalas yang hanya sedikit ahli di bidang bela diri, selain itu dia harus menjaga rahasia Zen yang merupakan si Pengkhianat dan dia juga harus membuat Zen dapat Fokus dengan misi yang di berikan olehnya.
Hal itu dikarenakan siapapun yang menduduki peringkat 5 besar maka dia akan Secara langsung di rekrut untuk masuk ke dalam dewan siswa dan mengurus semua hal yang berkaitan dengan akademi, dengan pertimbangan itulah Arthur tidak akan membiarkan Zen menempati peringkat satu dan memilih untuk mengasingkan nya jauh di peringkat bawah.
"Apa ini yang di sebut pemanfaatan kekuasaan" gumam Zen ketika melihat namanya yang sudah hampir berada di peringkat terakhir, dan tentu saja yang menempati peringkat terakhir adalah Iyrs dengan nilai Teori B dan waktu ujian praktek satu setengah menit.
Zen memilih untuk beranjak dari tempat penguguman karena hari sudah hampir malam, ujian di laksanakan dari pagi sampai siang sementara hasilnya di umumkan saat sore hari dan karena sudah cukup lama menunggu Zen sedikit merasa lelah dan ingin segera kembali ke kamarnya.
"Pejuang Ken..." Panggil suara dari belakang ketika Zen baru saja keluar dari gerbang masuk Akademi, Zen menoleh dan melihat ke arah Putri Luna yang saat itu hanya sendirian.
"Apakah Putri Luna itu tidak pandai mengingat nama ku?, Atau itu memang di sengaja... Tapi biarlah... Ada perlu apa.." Zen sedikit mendengus kemudian memutar bola Matanya seolah tidak terlalu peduli dengan kesalahan yang di buat Luna ketika menyebut namanya.
"Jangan pura pura tidak tahu... Hasil ujiannya... Kenapa kau berada di peringkat yang jauh, apa yang sudah kau lakukan? seharusnya kau menempati posisi pertama..." Luna yang berbicara secara blak blakan itu hanya mendapat tatapan mata Zen yang terlihat semakin tidak peduli, dia tidak bisa melupakan saat dimana Zen melenyapkan si boneka kelinci dalam satu kedipan mata saja.
"Aku tidak terlalu peduli tentang posisi yang kau maksud itu... Kau boleh menempati nya jika kau mau... Selain itu peringkat hanyalah sebuah angka yang tidak berguna dalam perang sesungguhnya... Jadi aku sama sekali tidak menginginkan nya..."
"Apa kau mengejek ku... Kau mengatakan kalau peringkat itu tidak ada gunanya... Kau pikir sudah berapa lama aku berlatih sihir agar bisa berada di peringkat itu... Jadi aku tidak ingin berada di peringkat itu hanya karena kau mengalah dan tidak peduli..."
"Yah sungguh, walaupun kau mengatakan itu aku tetap tidak peduli dengan siapapun yang berada Disana... Aku bahkan tidak akan peduli jika aku tidak lolos ujian masuk... Jadi jangan memaksa..."
"Selain itu tuan Putri..." Sambung Zen memanggil Luna yang tengah berdiam dan menatap kebawah, Luna mengangkat kepala kemudian menatap ke Zen yang saat itu memasang seringai jahat.
"Meskipun hanya sedikit aku sudah merasa puas berada di peringkat itu dan menbuat kalian berada di peringkat teratas... Ingatlah bukankah kalian meremehkan kemampuan sihirku... Kau pasti tidak menyangka kalau aku dapat menyelesaikan nya dalam waktu yang singkat bukan?... Dan bagiku Melihat wajah kalah orang - orang yang meremehkan ku itu cukup memuaskan... Dan seperti yang kau katakan tadi, aku mengucapkan selamat menempati posisi pertama dari rasa kasihan orang yang kau remehkan ini..." Zen memasang senyum jahatnya dan dengan tatapan merendahkan dia berbicara kepada Luna yang membuat Luna sendiri diam mematung.
__ADS_1
"Hanya bercanda... Haha... Tidak perlu takut tuan putri karena sebagian yang ku katakan tadi hanya bercanda... Baiklah jika tidak ada lagi aku akan kembali sekarang..." Zen tersenyum kemudian memutar tubuhnya berjalan menjauhi dari Luna yang masih diam terpaku.
"Apa... Apaan tadi itu... Dia seperti seorang penjahat..."
• • •
Malam Hari / Istana Kerajaan Terarria.
"Jadi... Ada apa kau memanggilku malam - malam begini..." Zen yang berdiri tepat di pintu masuk berbicara kepada Arthur yang duduk di kursinya dan tengah memeriksa beberapa dokumen yang ada Disana.
"Kemari... Aku akan memberitahu mu rute yang akan kau lewati agar bisa segera bertemu dengan Elize...." Panggil nya dengan santai sambil meraih ke pinggir meja, Tempat dimana peta yang berukuran cukup besar ada.
"Hooo... Kupikir kau akan menyuruh ku untuk melakukan hal gila..." Ucap Zen berjalan mendekati Arthur.
"Kau pikir aku orang yang seperti apa..."
"Jadi... Rute mana yang harus ku lewati" Tanyanya sambil melihat ke arah Peta yang terlentang di atas meja.
"Ini sudah hampir seminggu sejak kepergian Elize... Dengan menggunakan tunggangan kuda tanpa beban... Maka dia seharusnya sudah melewati hampir tiga perempat rute aslinya..."
"Secepat itu... Artinya dia akan segera sampai..."
"Desa Sol itu berada di dekat perbatasan bukan?"
"Benar..."
"Apa desa itu baik - baik saja..."
"Aku tidak tau... Sudah terhitung dua bulan semenjak aku terakhir kali mendapatkan laporan tentang desa Sol... Terakhir kali mereka meminta pasokan bahan makanan tambahan untuk para pasukan yang berjaga di perbatasan... Setelah itu tidak ada lagi..."
"Bukankah artinya desa itu sedang tidak baik - baik saja... Kenapa hal semudah itu kau masih belum paham juga..."
"Yang akan kita bahas bukan masalah desa, tapi tentang keberadaan Elize jadi lewati saja tentang itu..."
"Tunggu bukankah sebagai raja kau harusnya peduli tentang desa yang ada di kerajaan mu... Raja macam apa kau sebenarnya..."
"Jangan menasihati ku... Aku tau bagaimana cara memperlakukan kerajaan ini..." Arthur sedikit berteriak kemudian berdeham kecil, kembali memperlihatkan peta setelah melihat reaksi dari Zen yang menatapnya Dengan tatapan intimidasi.
"Jadi kemungkinan besar Elize berada di desa Sol, segera jemput dia dan bawa kemari dia ke kerajaan ini... Sesegera mungkin kau harus membawanya..."
__ADS_1
"Kalau aku tidak bertemu dengannya bagaimana?..." Zen sedikit memiringkan kepala mengejek Ke Arthur yang memasang wajah kesal ketika melihat wajah Zen.
"Cari dia sampai ketemu..."
"Kau tau kan kalau besok ada pesta penyambutan... Dan aku ingin menghadiri pesta itu..." Keluh Zen.
"Aku akan mengundur pesta nya ke malam hari jadi temukan Elize sebelum malam mengerti..."
"Kenapa kau sangat buru - buru ingin putrimu kembali... Tenang saja kau bilang dia itu orang terkuat di akademi bukan jadi kau harusnya tidak perlu khawatir..."
"Kau tidak mengerti bagaimana perasaan seorang ayah yang merasa aman sementara Putri nya bisa mati kapan saja... Pokoknya temukan saja dia jika kau tidak mau rahasia mu terbongkar..."
"Bongkar saja... Lagipula aku tidak takut, karena saat rahasia itu terbongkar aku akan membunuh mereka dan juga menghancurkan kerajaan ini" Zen tanpa rasa takut memberikan tatapan tajam dan hawa membunuh yang begitu besar kepada Arthur.
"Bercanda... Haha reaksi mu sama seperti putri Luna... Kalian memang ayah dan anak yah... Baiklah aku akan segera pergi mencarinya... Pastikan kau benar benar mengundur waktu pesta... Sampai nanti" Zen mengayun ayun telapak tangannya di depan wajah Arthur yang saat itu juga bereaksi sama seperti Luna yang diam terpaku setelah mendengar perkataan darinya yang begitu mengancam.
• • •
"Shadow Magic: Reach Enhancer" Zen merapal sihirnya setelah tiba di depan gerbang masuk kerajaan Terarria.
Dengan rapalan sihir itu dia dapat memperluas jangkauan bayangan yang dapat dia kendalikan, Artinya dia semakin menambah kekuatan sihirnya melalui perluasan itu, apalagi saat ini adalah malam hari yang gelap di mana bulan sendiri tertutup oleh Awan gelap.
Setelah memperluas jangkauan sihir nya Zen tertelan masuk ke dalam bayangan malam dan menghilang dari tanah, kemudian keluar tepat di bawah sebuah pohon besar yang berada di tempat asing baginya.
"Ahhh!!! Si... Siapa kau..." Teriakan keras perempuan terdengar cukup memekakan telinga Zen yang baru saja melakukan pemindahan dengan bayangannya.
"Ahh... Mungkinkah kau Putri Elize?" Tanyanya setelah melihat perempuan dengan rambut silver yang panjang itu, mengenakan armor berwarna putih dan merah, Wanita itu kini tengah duduk bersandar di pohon bersama dengan seekor kuda coklat yang berada di dekatnya.
"Da... Darimana kau tau..." Ucapnya sedikit menjaga jarak dari Zen.
"Ternyata benar... Syukurlah aku Langsung bertemu dengan mu..." Zen yang terlihat lega itu kini berjalan mendekat ke Elize.
"Kau siapa..."
"Yah... Maaf aku Zen Kanade, salah satu pejuang yang terpanggil oleh Kerajaan Terarria... Arthu- maksudku yang mulia mengkhawatirkan mu jadi dia menyuruh ku untuk menjemput mu kembali...".
Note : Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru...
Jangan Lupa Like & Comment, Vote.
__ADS_1
Okeyy See u Next Chapter