The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 38 Jurus Pamungkas Daven & Zen Yang Nyawanya Terancam


__ADS_3

[Flashback]


"Oke Daven... Kau sudah menjadi sangat baik... Selain itu sihir yang kau pelajari juga sangat beragam" Zen masih menyandarkan tubuhnya di batang pohon tempat ia bersantai sebelumnya dan sekarang hari sudah hampir sore, wajah Daven sendiri juga nampak sangat kelelahan dengan semua latihan yang ia lalui.


"Terima kasih kak Zen, aku sudah merasa menjadi kuat..." Balas Daven sambil kembali mengatur nafasnya.


"Pelatihan mu sudah hampir selesai... Hanya tinggal satu tahap lagi yang harus kau pelajari..." Zen mengangkat tubuhnya dan mendekat ke arah Daven.


"Masih ada lagi... Kupikir yang tadi itu sudah terlalu banyak... Aku tidak yakin bisa mempelajari nya lagi..."


Pokkkk...


Tamparan keras mendarat di kepala Daven, Zen yang tanpa ragu mengayun tangannya itu memberikan tamparan lanjutan di kepala Daven secara berulang.


"Hentikan kak Zen itu sakit..." Daven menunduk untuk menghindari tamparan dari Zen yang terus memukulnya tanpa rasa kasihan.


"Bagaimana apa pikiran mu sudah menjadi jernih?" Ujar Zen tanpa rasa bersalah.


"Apa - apaan itu..."


"Dengar Daven langkah terakhir yang akan kau pelajari adalah sebuah hal yang sangat penting dimiliki oleh seorang penyihir..."


"Apa itu... Segera beritahu aku..."


"Kau harus mempunyai sebuah jurus pamungkas..."


"Jurus pamungkas?"


"Benar... Disaat kondisi sulit dan kau terpojok, jurus pamungkas akan menjadi titik baliknya... Tapi kau harus memastikan kalau Jurus pamungkas mu adalah sesuatu yang sangat kuat dan dapat mengalahkan musuh dalam sekali rapalan..."


"Sebuah Rapalan yang dapat mengalahkan musuh dalam sekali serang..."


"Yah benar... Misalnya sebuah Rapalan yang tidak bergantung pada Kena atau tidaknya mantra mu pada target..."


"Apa mungkin ada mantra seperti itu... Lagipula apakah ada sihir yang sehebat kak Zen katakan..." Daven meragukan perkataan Zen.


"Tentu saja ada... Dengar yah, di tempat ku berasal ada sebuah objek yang dapat melenyapkan semua objek yang ada di sekitarnya... Dia akan menyerap semua yang ada di sekitarannya masuk ke dalam Objek itu... Karena sihirmu mirip seperti Objek ini maka kurasa kau dapat mempelajarinya..."


"Objek sehebat itu ada di tempat kak Zen..."


"Yah meskipun aku belum pernah melihatnya langsung..."


"Jadi apa nama objek itu..."


"Namanya adalah..."


[Flashback Selesai]


'Benar itu dia' Daven berbicara di dalam pikirannya setelah berpikir beberapa saat.


Matanya terbuka dan menatap ke Edward yang berdiri menunggu kematiannya.


'Aku hanya perlu menggunakan jurus pamungkas ku' Pikir dengan senyum yang menghiasi wajahnya, Nafasnya hanya akan bertahan Beberapa saat lagi dan sebelum itu dia harus mengeluarkan jurus pamungkas yang sudah ia pelajari dari Zen.


"Matilah... Daven" Ucap Edward yang terus menghitung mundur waktu dan merasa sebentar lagi Daven akan kehabisan nafasnya.


'Dimension Eater : Black Hole'


Swushhhhh....


Angin bertiup kencang tepat di atas kepala Daven dan perlahan terkumpul menjadi satu, membentuk sebuah bola Hitam yang mulai menelan masuk semua yang ada di sekitar seperti Jendela Koridor, dan juga lampu lampu yang tadinya menyala juga ikut terserap masuk ke dalam bola Hitam di atas kepalanya.


"A... Apa yang kau lakukan..." Edward menahan tubuhnya karena bola Hitam itu juga ikut menyerapnya masuk.


Daven tidak berbicara karena kepadatan udara meredam mulutnya, dia hanya memberikan sebuah ekspresi puas dengan senyum yang begitu lebar.


'Sekarang matilah dalam gerbang menuju neraka' Batin Zen yang terus melihat tubuh Edward terserap masuk ke dalam Lubang Hitam yang ia buat.


"Sialan!!!! Aku pasti akan mengingat ini!!!" Ucapnya yang mulai terangkat dan melayang menuju ke dalam Lubang hitam yang semakin membesar dan menelan nya masuk.


"Gaahhhh........!!!...!!..!!...!" Teriakan nya perlahan meredup, bersama degan wujudnya yang sudah tak lagi terlihat, Lubang Hitam berhenti menyerap dan menghilang bersama dengan udara yang kembali normal bagi Daven.


"Haa... Haa... Haa.... Haaa..." Daven berusaha mengatur napasnya setelah mendapat kembali udara yang sebelumnya di padatkan oleh Edward.


"Terima kasih kak Zen, pelatihan darimu memang yabg terbaik" Gumamnya kemudian berdiri tegap.


Dia melihat sekeliling dan mendapati koridor yang sudah hancur dimana jendela jendela disekitar sudah terlepas berikut dinding dinding yang terkikis, koridor yang sebelumnya terang kini menjadi gelap dengan hanya sedikit cahaya dari luar yang masuk.


"Ah yah, kak Zen..." Daven yang teringat dengan sosok Zen mulai berjalan lurus menyusuri koridor yang sudah hancur bahkan untuk lantainya juga.


Mansion yang begitu luas membuatnya harus mencari keberadaan Zen dengan teliti dan tidak boleh melewatkan satupun pintu untuk diperiksa.


"Bukankah tempat ini begitu luas... Entah sudah pintu keberapa ini..." Keluh Daven kemudian meraih gagang pintu kecil yang terletak di tengah tengah koridor lantai dua.


Dia membukanya secara perlahan dan menyusuri ruangan yang remang remang itu secara hati hati.


Matanya sedikit samar menangkap sosok manusia yang tengah meringkuk di pojok ruangan seolah tengah bersembunyi dari kedatangan Daven.


Daven mendekati soson tadi dan semakin yakinlah dia kalau sosok yang tengah meringkuk itu adalah manusia karena dari helaan nafasnya saja Daven sudah tau kalau dia sedang ketakutan.


"Permisi apa yang kau lakukan Disana... Apa kau baik baik saja?" Tanya Daven dengan suara pelan, berusaha agar tidak mengagetkan perempuan dengan rambut merah pendek yang dapat terlihat jelas dari ruangan dengan cahaya remang remang itu.

__ADS_1


"Ti... Tidak.. jangan mendekat penjahat!!" Jawab perempuan tadi dengan suara datar tapi terdengar cukup ketakutan.


"Ehhh???" Daven merasa syok setelah dikatai penjahat oleh perempuan dengan rambut merah itu, padahal dia baru saja hendak menyentuh pundaknya agar si perempuan bisa tenang karena dari yang Daven lihat bahu perempuan itu bergetar.


"Tidak tunggu... Kak Zen bilang kalau salah satu tujuannya kesini adalah untuk menyelamatkan seseorang... Mungkinkah itu kau?" Ujar Daven yang teringat dengan perkataan Zen sesaat sebelum mereka masuk ke dalam Mansion.


"Zen... Zen... Rasanya aku pernah mendengar nama itu..." Merasa familiar dengan nama Zen yang disebutkan oleh Daven, perempuan tadi mengangkat kepalanya secara perlahan untuk mengingat orang dengan nama Zen.


"Yah benar... Namanya adalah Kanade Zen..."


"Kanade... Zen... Lalu kau ini siapa?..."


"Aku Daven, rekan Kak Zen... Kamu berdua kesini untuk menyelamatkan mu..."


"Menyelamatkan ku?" Nada yang sama dengan ekspresi datar dari perempuan itu membuat Daven merasa di acuhkan.


"Benar... Kau boleh mengikuti ku... Tapi sebelumnya boleh aku tau siapa namamu..."


"Yurina... Yurina Oliver..."


"Baiklah Yurina Oliver... Karena sekarang kau sudah aman kau bisa ikut dengan ku..."


"Kemana?"


"Kemana lagi... Tentu saja pergi dari tempat ini dan mengantar mu pulang... Tapi sebelum itu kita akan menjemput Kak Zen..."


"Dimana Kanade Zen..."


"Di suatu tempat dalam bangunan ini..." Daven berbalik kemudian berjalan terlebih dulu menuju ke pintu keluar.


"Ba... Baiklah..." Yurina berdiri kemudian menyusul Daven yang berjalan meninggalkannya.


Keduanya berjalan melewati pintu demi pintu, Daven berjalan di depan sementara Yurina menjaga jarak satu meter di belakangnya karena belum sepenuhnya percaya pada Daven.


"Ini adalah ruangan terakhir, harusnya kak Zen ada disini" Ucap Daven dengan sedikit berharao bahwa di balik pintu besar ini ada Zen yang sedang menunggunya.


Di genggamannya kedua gagang pintu besi dengan sangat erat kemudian dengan sekuat tenagan mendorongnya ke depan.


Tekkk...


Pintu sama sekali tidak bergerak berapa kali pun Daven mendorong nya dengan sekuat tenaga.


"Ini terkunci..." Ucapnya kesal.


"Aku sangat yakin kalau Kanade Zen ada di balik pintu ini..."


"Tapi tidak ada suara dari dalam... Kuharap kak Zen baik baik saja... Mundurlah Yurina..."


"Tentu saja... Memaksa masuk... [Dimension Eater : Blank Realm]" Rapalnya kemudian melepaskan bola Hitam kecil ke depan.


Wushhh...


Bola Hitam tadi membesar beberapa saat setelah menyentuh permukaan pintu kemudian menghilangkan nya bersama dengan tembok yang berada di pinggir nya.


Daven melangkah masuk dengan hati hati bersama dengan Yurina, keduanya melirik ke sekeliling ruangan dimana semua Furniture sudah banyak yang rusak dan jendela jendela yang pecah dan juga bercak darah di lantai dan dinding yang merusak pemandangan.


Bau amis darah segar tercium cukup menyengat, Daven dan Yurina memandang ke sekeliling dengan sangat teliti kemudian mendapati tubuh Regurd yang bermandikan darah dan tergeletak tidak bergerak sedikitpun dari tengah ruangan.


"Itu orang yang mengambil sihirku..." Ujar Yurina yang menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, karena bagaimanapun ini adalah kali pertama baginya melihat pemandangan yang cukup menjijikan dan juga mengerikan.


Daven terlihat khawatir, berusaha mencari Zen dengan kedua matanya, sampai akhirnya dia menemukan sosok yang tergeletak dengan kondisi sama mengenaskan nya dengan Regurd tepat beberapa jarak dari tubuh Regurd.


"Kak Zen!"


"Kanade Zen!!"


Daven dan Yurina berlari sekencang mungkin untuk menghampiri tubuh Zen yang sama sekali tidak menunjukkan pergerakan apapun.


Puncak kekhawatiran Daven kini terlihat setelah menyaksikan langsung tubuh Zen yang penuh darah dan juga luka dimana mana.


"Kak Zen, kak Zen... Sadarlah... Oyy kau belum mati kan!!" Ucap Daven berusaha membangunkan Zen dengan menggoyang goyangkan tubuh nya, tidak lagi memperdulikan kedua telapak tangannya yang penuh dengan noda darah.


"Sepertinya dia terluka parah dan pingsan, ada baiknya kita segera membawanya kembali untuk di rawat..." Yurina yang berusaha menjaga jarak dari Zen masih menutupi mulutnya.


"Yah baiklah, tapi apa kau tau dimana kak Zen tinggal?"


"Tentu... Dia tinggal di istana kerajaan..."


"Istana kerajaan... Sebenarnya kak Zen ini siapa..."


• • •


Malam Hari


Terarria Kingdom / Istana Kerajaan


Pasca Penyerangan.


"Kak Elize... Bagaimana disini?" Luna berlarian sambil melambaikan tangannya ke arah Elize yang sedang berdiri di dekat Beberapa orang yang diikat dengan tali tebal bersama dengan Nania dan juga beberapa pejuang seperti Shin dan Rika.


"Semua Assasin dan juga para pemberontak berhasil di amankan... Kalian bagaimana" Jawab Elize dengan sangat tenang kemudian menghilangkan Relic yang ada di genggamannya.

__ADS_1


"Kami juga sudah selesai, Mira dan juga beberapa pasukan sudah membawa mereka ke penjara..."


"Kerja bagus Luna dan juga semua pejuang... Berkat kalian istana dan juga kerajaan tidak lagi dalam bahaya..." Puji Elize pada Luna dan juga para pejuang seperti Iori, Aki, Kodaka, dan juga Natsukawa.


"Terima kasih atas keterlibatan kalian semua... Dan karena semuanya sudah selesai kalian boleh kembali ke dalam istana dan biarkan aku yang mengurus sisanya..."


"Baik, Terima kasih Kak Elize"


"Terima Kasih Putri"


Luna beranjak pergi bersama dengan Iori dan beberapa pejuang lainnya, Meninggalkan Elize dan juga Nania yang masih berdiam di tempat mereka sebelum nya, begitu pula dengan Shin dan Rika yang sama sekali tidak beranjak.


"Kau bisa kembali Nania... biar Aku yang menunggu Mira dan juga para pasukan datang" Ucap Elize pada Nania yang sama sekali tidak bergerak.


"Tidak tuan Putri, Biarkan saya saja yang menunggu, anda bisa kembali ke dalam istana dan beristirahat... Anda pasti kelelahan setelah melawan mereka tadi..." Balas Nania dengan sopan.


"Hanya ini saja tidak akan membuatku lelah, selain itu kau juga ikut melawan mereka tadi... Jadi kau pasti lelah"


"Tidak sopan bagi seorang pelayan untuk beristirahat sebelum majikan mereka istirahat duluan... Jadi silahkan anda yang istirahat terlebih dulu..."


"Kau saja..."


"Silahkan anda duluan"


"Sudah sudah, kalian berdua istirahat lah biarkan kami yang menjaga disini" Ucap Shin menengahi perdebatan di antara keduanya.


""Tidak Terima kasih"" Balas Keduanya secara serempak membuat Shin syok sesaat dan Rika hanya tersenyum di sampingnya.


"Ngomong ngomong Nania itu memang ahli bertarung yah..." Ucap Rika mencairkan suasana yang terasa tegang.


"Tidak, saya hanya di ajak oleh Tuan Zen untuk menemani nya berlatih, jadi dia sekalian meminta saya untuk berlatih juga, karena itulah saya bisa sedikit bela diri... Semuanya berkat tuan Zen..." Nania dengan nada sopannya berbicara dengan menutup kedua matanya.


"Hemm... Hanya menemani nya berlatih saja ternyata, aku sudah sering menghabiskan waktu dengan minum teh dengan Zen..." Elize berbicara dengan membanggakan diri tapi Nania hanya menanggapi dengan raut wajah datar seolah tidak peduli dengan siapa yang lebih sering menghabiskan waktu dengan Zen.


'Tuan Putri Hentikan anda hanya mempermalukan diri anda sendiri dengan menyombongkan diri di depan Nania...' Batin Shin yang merasa sangat kasihan dengan Elize.


'Melihat tuan Putri yang cemburu seperti ini ternyata lumayan juga... Kerja bagus Nania' Batin Rika.


"Shin lihat, itu bukannya" Rika menarik bahu Shin dan menunjuk ke arah gerbang masuk istana.


"Ada apa Rika?" Tanya Shin kemudian melihat ke arah Rika menunjuk, begitu pula dengan Nania dan Elize.


Nania adalah orang yang pertama kali berlari ketika melihat kedatangan dua orang yang terdiri dari satu laki laki dan perempuan dimana si laki laki membawa seorang yang terlihat terluka sangat parah di rangkulannya.


"Zen!!" Ucap Nania kemudian menambah kecepatan nya berlari ketika sadar bahwa yang terluka sangat parah itu adalah orang yang ia tunggu kedatangannya.


Mendengar Nania menyebut nama Zen, Elize bersama dengan Rika dan Shin ikut berlari menghampiri orang yang melewati gerbang tanpa penjagaan itu.


"Apa yang terjadi pada Zen!!" Tanya panik Nania ketika melihat tubuh Zen yang di rangkul oleh Daven itu penuh dengan luka sa darah yang membuat tubuhnya menjadi berwarna kemerahan.


"Apa kau kenalan kak Zen..."


"Itu benar aku pelayannya, katakan padaku apa yang terjadi, kenapa Zen bisa terluka seperti ini..."


"Z... Zen!!"


"Kanade...."


"Zen..."


"Syukurlah, kumohon segera sembuhkan kak Zen, dia terluka sangat parah dan kehilangan banyak darah, nafasnya juga semakin tidak teratur..." Ucap panik Daven kemudian menurunkan Zen dari rangkulannya.


"Putri Elize... Tubuh Zen sangat dingin, detak jantungnya juga sangat lambat" Ucap Nania pada Elize yang berlutut di sampingnya setelah menyandarkan telinganya di dada Zen untuk mendengarkan suara detak jantungnya.


"Shin... Rika... Yurina, segera masuk istana dan beritahukan ini pada raja, minta dia untuk mengirimkan Yuuna Yuragi ke kamar Zen untuk penyembuhan... Kalau perlu panggil semua Dokter dan tabib yang ada di kerajaan..." Perintah Elize yang berusaha mempertahankan pikirannya agar tidak Kacau karena bagaimanapun dia juga sangat khawatir dengan kondisi Zen sekarang.


""Baik"" Balas Ketiganya secara serempak kemudian segera masuk ke dalam istana untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Elize.


"Nania bantu aku mengangkat tubuh Zen ke kamarnya, cepatlah karena jika terlambat kita berdua tidak akan pernah melihatnya lagi" ucap Elize kemudian mengangkat satu tangan Zen sementara itu Nania memegangi perutnya.


"Siapa namamu..." Tanya Elize pada Daven.


"Aku Daven..."


"Ikutlah denganku dan jelaskan apa yang terjadi Daven"


"Yah" balas Daven sambil menganggukkan kepalanya.


Note :


Yosh Waktunya Vote:


Pilihan :


1. Zen Ngeharem


2. Zen Cuman Punya Satu Pasangan


3. Isi Sendiri


Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru

__ADS_1


see u next chapter


__ADS_2