The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 11 Sosok Misterius Yang Akan Menjadi Penanda Mulainya Aksi Si Pengkhianat


__ADS_3

Ramai riuh pasar ibukota kerajaan membuat semuanya nampak mengasyikkan, terlebih lagi kedatangan kedua putri kerajaan yaitu lUna dan Elize langsung memancing perhatian seluruh warga kerajaan.


Kecantikan keduanya terlihat membius beberapa orang yang tengah melakukan aktivitas sehari - hari di pasar, di temani dengan Shin, Rika, Iori dan juga Zen tentu saja membuat semua orang terkagum dengan kedatangan mereka, karena berita tentang terpanggil nya para pejuang sudah sampai di telinga para rakyat.


"Yahhh kita benar benar mendapatkan panggung disini yah..." Ucap Shin dengan sedikit bersemangat kepada yang lain.


"Benar... Rasanya seperti menjadi selebriti saja..." Jawab Rika yang berjalan sambil bergandengan tangan dengan Shin.


"Putri Luna lihat aksesoris disini sangat bagus..." Panggil Iori yang berjalan sedikit lebih cepat menuju ke salah satu toko penjual aksesoris yang di jaga oleh seorang perempuan tua.


Luna berlari kecil ke arah Iori menjawab panggilannya ikut memilih aksesoris yang di jual oleh si perempuan tua, "Wah kau benar Iori, semuanya sangat berkilauan..." Ucap Kagum Luna memilih milih aksesoris yang dijual, Shin, Rika, dan Elize ikut mendekat dan ikut memilih aksesoris untuk mereka.


"Zen kemarilah kurasa kalung ini cocok untukmu..." Panggil Shin kepada Zen yang berada cukup jauh di belakang dan tidak ada niat sama Sekali untuk mendekat.


"Harusnya kalian tidak mengajakku jika kalian ingin kencan ganda..." Keluh Zen sedikit membuang muka ketika tatapan beberapa orang tertuju padanya.


"Tapi kalau kau tidak ikut Kak Elize tidak akan punya pasangan... " Jawab Luna yang mengenakan sebuah jepit rambut angsa putih yang berhiaskan berbagai macam permata di setiap inci bagiannya.


"Bagaimana cocok tidak?" Unjuk Luna memperlihatkan rambutnya yang di jepit pinggir dengan jepitan angsa tadi.


"Hmm... Kau semakin tambah cantik adikku..." Puji Elize yang kala itu memegang sebuah hiasan kepala seperti bando.


"Aku juga berpikir kalau itu sangat cocok dengan mu putri Luna..." Sahut Iori.


"Kalau begitu aku akan membeli ini..." Ucap Senang Luna.


"Pilihan yang bagus tuan putri... Itu adalah jepit rambut yang memiliki pasangan, Silahkan..." Si perempuan tua tadi memberikan sebuah jepit rambut lainnya kepada Luna, Jepit rambut dengan model sama hanya saja yang membedakan adalah arah pandang nya saja dimana angsa yang di miliki Luna menghadap ke kanan dan pasangan nya menghadap ke kiri.


"Wahh... Ini benar benar sepasang kalau begitu aku akan memberikan nya pada kak Elize..." Luna yang menerima jepit rambut itu mengopernya kepada Elize yang dengan senang hati menerima hadiah dari adik perempuannya itu.


"Terima kasih Luna, aku akan menjaga ini..." Jawab Elize.


"Apa kalian juga sudah selesai memilih?" Tanya Luna ketika dia selesai membayar jepit rambut itu kepada Shin, Iori dan Rika.


"Yah, Kami juga sudah selesai..."


"Kalau begitu kita lanjut mencari pakaian pesta..." Ajak Elize kemudian berjalan terlebih dulu.

__ADS_1


"Tunggu, dimana Kanade?" Ucap Rika yang pertama menyadari kalau Zen sudah tidak ada di tempat dimana dia berdiri sebelumnya.


• • •


"Shadow Magic: Confinement of Being" Zen mengejar sosok mencurigakan yang menyengol tubuhnya saat tengah melihat para pejuang beserta putri kerajaan yang tengah memlilih milih aksesoris.


Sebenarnya bukan karena masalah di senggol atau menyenggol saja, melainkan ada sesuatu yang Zen curigai dimana sosok yang menabraknya adalah seorang yang mengenakan jubah gelap dan menutupi wajahnya sambil memeluk sebuah buku yang cukup tipis dan juga sosok itu berjalan sangat terburu buru sampai menabrak Zen dan menjatuhkan sebuah kertas catatan yang memiliki bahasa aneh, dan tentu saja Zen berniat mengembalikan catatan itu karena mungkin saja itu berisi sesuatu yang penting, tapi sosok itu malah melarikan diri yang membuat Zen penasaran.


Dengan rapalan sihirnya dinding gang yang menjadi jalur pelarian si sosok mencurigakan itu mengeluarkan semacam tangan yang menangkap kaki dan juga tubuh nya kemudian mengikat nya agar tidak bisa bergerak.


"Sudah cukup permainan kejar tangkap nya, aku .... Sangat... Lelah... Haa... Haa... Ha.." Zen menyandarkan tubuhnya di pinggir tembok kemudian bernapas secara perlahan agar bisa menghilangkan rasa lelahnya.


Setelah mengatur napasnya dengan baik, Zen melirik ke arah sosok yang tidak bisa bergerak itu kemudian mendekati nya secara perlahan.


"Baiklah, bisa kau katakan padaku kenapa kau berlari tadi?, Padahal aku hanya ingin mengembalikan ini..." Zen menyodorkan secarik kertas tadi kepada sosok yang terikat, tidak mencurigai Zen sama sekali tangan mulus itu perlahan meraih secarik kertas yang di berikan oleh Zen.


Srettt...


Zen dengan cepat menarik kembali kertas sebelum si sosok aneh mencapai nya, "Kau ini sebenarnya siapa?" Tanya Zen yang sedikit penasaran dengan wujud asli si sosok itu karena terus menerus menyembunyikan wajahnya dari balik penutup kepala jubah yang ia kenakan.


Zen memainkan jarinya seolah mengontrol bayangan yang ada di dinding, mengarahkan tangan itu ke buku yang ada di pelukan sosok aneh tadi kemudian memukuknya Dengan cukup kuat sampai buku itu terlepas dari pelukan nya dan jatuh ke dekat Zen.


"Hentikan!!" Suara perempuan yang begitu pasrah berusaha menghentikan Zen yang meraih buku tipis tadi, tapi seperti biasa Zen tidak memperdulikan peringatan darinya dan tetap mengambil buku itu kemudian membukanya secara perlahan.


"Ini..." Ucap Zen dengan sorot mata yang aneh, membuat tubuh sosok itu bergetar dengan hebat.


"Tulisan apa?, Aku tidak mengerti..." Sambung Zen dengan wajah Heran sambil memegang buku tadi, perempuan itu menghela napas lega setelah tau bahwa tulisan yang ada di buku tidak di mengerti oleh Zen.


"Bohong..." Ucap Zen lagi, kali ini wajahnya memasang seringai jahat dan penuh tekanan, membuat penutup kepala sosok itu terlepas dan memperlihatkan wajah kaget dan mata terbelalak dari perempuan muda seumuran Zen yang memiliki mata berwarna biru dan rambut coklat terang.


"Ini mantra pemanggilan makhluk kuno bukan..." Ucap Zen yang sebenarnya tahu tentang tulisan kuno dari penjelasan yang diberikan oleh pustakawan istana.


"Bagaimana kau bisa tau harusnya hanya sedikit orang saja yang bisa mengerti bahasa itu..." Ucapnya tidak percaya.


"Karena aku termasuk dari kategori yang kau sebutkan tadi... Jadi mau menjelaskan untuk apa seorang rakyat biasa seperti mu memiliki buku mantra pemanggilan makhluk kuno..." Tanya Zen yang semakin mendekat dengan sosok itu, memperlihatkan wajahnya yang cukup mengancam.


"Kalau kau tidak menjawab maka aku akan membunuh mu atas tuduhan pemberontakan... Karena aku adalah pejuang di kerajaan ini..." Ucap Zen menambah ancamannya, sebenarnya dia hanya berbohong tentang pelanggaran tadi dan hanya ingin mengancam saja.

__ADS_1


"...."


"Dalam hitungan tiga aku akan membunuhmu jika kau masih tidak menjawab" Sambung Zen yang tidak mendapatkan respon apapun dari perempuan ini.


"1.."


"2.."


"Aku ingin menghancurkan para bangsawan dan para pejuang seperti mu..." Ucap nya merespon hitungan Zen dengan suara kecil karena merasa takut akibat tekanan yang diberikan Zen sangat besar dan menakutkan seolah dia benar benar akan membunuh perempuan itu.


"Kenapa kau ingin melakukan itu?" Tanya Zen yang tentu saja mendengar suara dari perempuan ini.


"Kehhh..." Menggeretakkan giginya, perempuan itu kelihatannya sedang menahan marah dan rasa dendamnya.


"Itu karena para bangsawan dan para pejuang adalah orang yang berengsek... Mereka membunuh keluarga ku..." Sambungnya dengan nada bicara yang tertahan oleh amarah.


"Apa yang mereka lakukan..." Tanya Zen dengan insting nya sebagai si pengkhianat dia tentu saja akan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan tingkah menyimpang para pejuang.


"Dua hari lalu, para bangsawan datang ke toko kami dan meminta bayaran pajak yang sangat tinggi padahal keluarga ku baru saja selesai mengurusnya beberapa saat yang lalu, dan tentu saja keluarga ku menolak untuk membayar karena merasa sudah membayarnya, alhasil bangsawan itu menyuruh dua orang pejuang untuk membantunya memaksa keluarga ku untuk membayar nya,


kupikir mereka tidak akan bertindak jauh tapi mereka benar - benar membunuh mereka, bahkan adik kecilku menjadi yang pertama di bunuh oleh mereka... Karena itu aku ingin memanggil monster kuno untuk menyerang mansion tempat tinggal para bangsawan dan pejuang itu..." Dengan air mata yang tertahan perempuan itu bercerita sambil menahan tangis nya yang mungkin akan pecah saat itu juga.


"Jadi begitu... Terima kasih sudah mau menceritakan nya kepada ku... Kau tidak perlu khawatir lagi sekarang, akan ku pastikan kau melihat kepala bangsawan dan dua pejuang yang membunuh keluarga mu itu..." Ucap Zen dengan rasa ingin membunuhnya yang sangat tinggi, mungkinhal ini terjadi karena raja membebaskan para pejuang untuk beradaptasi dengan semua orang yang menjadi bagian dari kerajaan termasuk para bangsawan.


Zen melepaskan sihirnya dan menyerahkan buku tadi kepada perempuan itu.


"Kau tidak perlu repot-repot menggunakan makhluk kuno untuk membasmi kuman kec karena itu hanya akan membuang buang tenaga dan juga sihirmu... Jadi serahkan saja semuanya padaku, tentunya setelah aku memastikan kebenaran dari apa yang kau katakan tadi..."


"Benarkah..."


"Tentu, tapi jika yang kau katakan tadi adalah sebuah kebohongan maka akan ku pastikan kalau jasadmu tidak akan bisa ditemukan siapapun ingat itu"


Note : Tetap Stay Halal Yah Guys, Yang Kuat puasanya bagi yang menjalankan okeyy!!


tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru.


see u next chapter

__ADS_1


__ADS_2