The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 12 Kepuasan Si Pengkhianat Ketika Melihat Wajah Tertekan Si Raja


__ADS_3

"Apa kalian sudah selesai?" Tanya Zen yang muncul dari arah belakang, setelah beberapa saat menghilang demi memastikan sesuatu yang ia curigai akhirnya dia kembali ke tempat di mana Luna dan yang lainnya berada.


"Ahh... Ini dia.. darimana saja kau tiba - tiba menghilang..." Ucap Shin yang terlihat cukup terkejut dengan kemunculan Zen secara tiba - tiba.


"Hanya berkeliling sebentar..." Jawab Zen yang merasa tidak bersalah sama sekali.


"Mungkinkah Kanade pergi keliling kota untuk menggoda para wanita..." Rika yang masih bergandengan tangan dengan Shin berbicara.


"Apa yang kau katakan Rika... Dia itu adalah Zen, orang yang bahkan tidak akan peduli dengan kehidupan nya sendiri..." Ejek Shin memberi sorot mata yang begitu menjelek jelekkan Zen.


"Haha... Benar juga yah... Kanade memang selalu seperti itu sejak dulu" Sahut Iori.


"Yang dikatakan Takada memang benar... Lalu kenapa?" Zen yang dengan santainya mengucapkan itu karena merasa dipermainkan hanya memberikan ekspresi yang puas, sebenarnya dia tidak berbohong karena dia memang benar habis bertemu dengan wanita yang ia kejar.


"Eh?"


"Ehhhh?"


"Ehhhhhhh!!!" Reaksi yang begitu heboh di keluarkan oleh Shin yang merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Zen, bahkan Luna dan Elize saja sampai dibuat terdiam.


"Tidak mungkin... Kau... Kau benar benar Zen bukan... Apa yang merasuki mu... Apa kau salah makan..." Shin mendekat menyentuh pundak Zen dan menggoyang goyangkan nya ke depan dan kebelakang.


"Hentikan... Memangnya seaneh itu jika aku bertemu dengan perempuan..." Zen mendorong tubuh Shin menjauh dan merasa risih.


"Tentu saja!!!" Teriak Iori dan Shin secara bersamaan.


"Kemungkinan terbesar adalah dia sudah di palak atau di tipu..." Ujar Elize yang berdiri sambil memegangi dagunya.


"Heyy berhenti... Aku hanya bercanda... Kenapa kalian terlalu berlebihan..." Balas Zen dengan nada kesalnya.


"Ahh... Begitu, tentu saja kau adalah Zen, tidak mungkin kau akan melakukan hal seperti itu... Bahkan jika ini adalah dunia lain..." Ucap Shin yang langsung berekspresi terbalik dengan sebelumnya seolah kehilangan semangat dan wajahnya kelihatan lesu.


"Cih... Hentikan saja... Jadi apa kalian sudah selesai?" Tanyanya lagi.


"Belum, kami akan pergi ke pinggir kota untuk membeli dari perancang gaun terkenal Disana..." Jawab Elize.


"Kalau begitu segera selesaikan, ini sudah siang... Jika kalian tidak segera pergi maka nanti akan kesorean..."

__ADS_1


"Tenang saja... Ini tidak akan lama... Kau boleh pergi kembali jika kau terburu buru... Tapi tentunya kau tidak akan melakukan itu bukan... Karena kau tidak punya hal yang harus di kerjakan..." Ucap Shin bercanda.


"Baiklah, sampai jumpa" Ucap Zen yang tertelan masuk ke dalam bayangan di bawah kakinya benar benar berniat untuk kembali ke istana duluan.


"Heyy, tunggu apa yang kau lakukan... Aku hanya bercanda... Kau masih harus menemani putri Elize... Dan kau juga harus membeli pakaian pesta..." Ucap Shin mencegah kepergian Zen yang setengah badannya sudah tenggelam ke dalam tanah.


"Untuk pakaian pesta ku akan ku titipkan padamu, kau bisa menganggapnya sebagai bayaran atas janji mu karena aku sudah membantu agar kau bisa berpacaran dengan Rika sewaktu di bumi... Oke" Ucap Zen saat hanya tersisa kepalanya saja yang terlihat.


"Heyy!! kau masih harus mengawali ku..." Sahut Elize berlari mendekat ke arah Zen yang tidak menghentikan aksinya sama sekali, sampai dia benar benar menghilang dari pandangan semua orang.


"Dia... Benar benar pergi..."


• • •


"Ayah... Aku sudah selesai mengumpulkan semua apa yang ayah inginkan..." Anak remaja laki - laki itu bergerak maju, mendatangi meja dimana seorang pria paruh baya tengah duduk dengan satu kaki terangkat dan di silangkan.


"Kerja bagus Mike... Kau benar benar dapat di andalkan... Sebagai putra dari Bangsawan setingkat Duke kau memang hebat... Dengan begini kita bisa memaksa Raja itu untuk menyerahkan tahta nya kepada keluarga kita... Dan kau akan menjadi suami dari kedua putri itu..." Jawab Pria paruh baya tadi dengan tawa yang cukup licik dan jahat, menerima berkas dari putranya.


"Ini bukan apa - apa... Karena bantuan para pejuang bodoh itu aku berhasil mendapatkan berkas perjanjian ini dari ruang penyimpanan... Haha para pejuang itu sangat mudah sekali di kelabui, mereka mau melakukan apa yang ku katakan hanya karena di beri imbalan selir selir biasa saja.." Balas Mike yang merasa begitu puas setelah mendengar apa yang di katakan oleh ayahnya.


"Kerajaan ini akan berdamai dengan kerajaan Nipotia, Kira kira apa reaksi dari para rakyat jika tau bahwa raja mereka ingin melakukan perdamaian dengan kerajaan musuh setelah melakukan perjanjian Rahasia ini..." Membaca dokumen tadi, Sang Duke Tidak henti hentinya tertawa puas dan mulai berdiri dari tempatnya duduk.


"Benar sekali ayah... Malam ini saat pesta penyambutan akan ku pastikan penguguman bahwa dua putri itu akan menjadi istriku di dengar oleh semua murid akademi..." Balas Mike yang mengikuti langkah sang Duke menuju pintu keluar.


Krekkk... Pintu tertutup dan langkah kaki Mike dan si Duke tidak lagi terdengar, Menandakan bahwa mereka berdua sudah menjauh dari ruangan kerjanya.


Dan tak perlu waktu lama, bayangan yang dari tadi mengintai dari sudut ruangan mulai naik dan memperlihatkan sosok anak laki laki berpenampilan biasa dengan sorot mata biru yang begitu membunuh.


Dengan langkah kakinya yang pelan, dia berjalan mendekati meja kerja Sang Duke dan meraih dokumen yang di tinggalkan olehnya di atas meja.


"Ternyata memang benar apa yang aku curigai selama ini, atau mungkin bisa saja aku memang belum memastikan kebenarannya... Entahlah tapi untuk sekarang mungkin aku akan mengambil ini dan sedikit membuat Raja itu panik, akan ku anggap itu sebagai hukuman nya karena sudah berani mengusik ku..." Ucap Zen dengan nada yang jahat dan dingin, sorotan matanya menyisir semua meja berisikan dokumen dokumen yang banyak.


Setelah itu dia tersenyum, ketika mendapatkan apa yang sebenarnya dia tidak cari, sebuah dokumen yang mungkin akan ia gunakan sebagai alat negosiasi atau mungkin lebih ke arah ancaman bagi si Duke.


"Apa peribahasa yang tepat untuk ini... Mungkin sekali dayung dua atau tiga pulau terlewati... Entahlah, aku hanya bercanda..." Setelah berbicara sendiri beberapa saat, Zen masuk kembali ke dalam Bayangan nya dan menghilang dari ruangan si Duke yang memang ia curigai sebagai dalang pembunuhan keluarga perempuan yang berada di kota dan pemanfaatan para pejuang.


• • •

__ADS_1


Malam Hari / Aula Besar Akademi Shield.


Orang orang berdatangan dengan mengenakan gaun pesta atau jas pesta yang kelihatannya cukup mewah untuk menghadiri pesta penyambutan yang berlangsung di Akademi demi menyambut kedatangan murid murid baru yang lulus ujian masuk.


Aula yang besar membuat orang orang yang datang sangat sedikit dan memberikan banyak ruang kosong di berbagai sudut dimana banyak meja berisikan makanan dan minuman, bahkan tidak hanya itu, alunan musik dari alat musik dunia lain terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan.


Para murid yang datang pun kini sudah saling membuat kelompok masing masing dengan minuman di tangan mereka, berbicara sembari menikmati alunan musik yang begitu enak di telinga.


Zen tiba sambil mengenakan jas pesta berwarna coklat yang ia titip pada Shin sebelum nya kemudian pergi ke salah satu sisi aula dan meraih segelas minuman yang ada disana.


Melihat lihat semua orang yang datang ke pesta Penyambutan, semuanya berpenampilan menarik dengan kelompok mereka masing - masing sambil menikmati jamuan yang di sediakan, Bahkan ada beberapa orang yang kelihatannya sangat antusias mencicipi semua hidangan pesta.


"Andaikan aku punya banyak teman atau mungkin pacar, mungkin aku tidak akan sendiri seperti ini... Hanya bercanda..." Gumam Zen meneguk minuman berwarna oranye di gelasnya.


Alunan musik berganti menjadi alunan yang terdengar seperti akan mengiringi dansa, dan tepat seperti perkiraan Zen, beberapa anak laki - laki yang menghadiri pesta penyambutan mulai bergerak ke arah perempuan yang mereka incar dan menawarkan uluran tangan kepada mereka, memberikan ajakan dansa sambil membungkukkan badannya di depan perempuan yang mereka incar.


Bahkan ada beberapa orang yang mengunci satu perempuan yang sama, setelah itu langkah kaki beraturan yang terlihat sangat serasi berputar putar di tengah aula mengikuti alunan musik yang mengiringi setiap langkah yang mereka buat, dan dari kejauhan, Zen dapat melihat Luna Yang sedang berdansa bersama Iori, Shin yang berdansa dengan Rika, dan Elize yang menyaksikan nya dari pinggir ruangan sama seperti Zen.


"Sepertinya drama malam ini akan segera mulai..." Ucap Zen yang mendengar kalau alunan musik tadi perlahan mengecil dan semakin mengecil membuat semua orang yang berdansa memperlambat gerakan mereka setelah itu berhenti berdansa bersama dengan berhenti nya alunan musik dan di sambut tepukan tangan yang meriah dari orang orang yang menonton.


"Ekhemm..." Dari arah depan aula, Arthur berdeham dengan gelas kecil berisi minuman berwarna merah di tangannya membuat semua perhatian tertuju padanya.


"Selamat malam para murid murid, calon ksatria kerajaan sekalian... Di malam yang begitu berarti ini Aku, Raja kerajaan Terarria, Arthur Du Terarria mengucapkan selamat kepada kalian semua yang sudah lolos ujian masuk dan diterima oleh Akademi Kerajaan... Kalian adalah benih benih generasi yang akan menyokong kerajaan untuk kedepannya... Karena itu mari menyambut kedatangan kalian semua dengan bersulang" Nada Penuh Wibawa keluar dari mulut Arthur, dan para murid yang mendengar nya reflek meraih gelas yang ada di atas meja kemudian mengangkat nya ke atas mengikuti instruksi dari Arthur.


""Bersulang!!"" Ucap semua orang secara bersamaan kemudian meminum minuman yang ada di gelas secara serempak begitu pula dengan Zen.


Setelah meletakkan kembali gelasnya di atas meja, Zen melirik ke wajah Arthur yang nampaknya sangat penuh masalah dan tertekan, menarik napas panjang Arthur membulatkan tekadnya.


"Selain itu... Malam ini juga... Aku mengugumknan kepada semua yang menghadiri pesta ini Bahwa kedua Putriku akan Melangsungkan pernikahan dengan Putra Duke Regard... Dan aku akan menyerahkan takhta ku kepadanya saat mereka berdua sudah menjadi Istri dari Mike Regard..." Ucap Lantang Arthur membuat semua yang berada di ruangan aula terdiam.


Bahkan Luna dan Elize saja diam terpaku tidak bisa menjawab kecuali satu anak laki laki yang berjalan mendekati Arthur dengan ayahnya, wajah mereka berdua nampak Begitu puas.


"Ayah... Apa yang kau katakan!!" Teriak Elize dari arah belakang, membuat perhatian semuanya tertuju pada Elize.


"Hoyy... Jangan terburu-buru mengakhiri dramanya dong" Gumam Senang Zen.


Note : Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru...

__ADS_1


Stay Strong Guys!!!


see u next chapter


__ADS_2