
"Hutan penyihir katamu..." Demian terlihat sedikit terkejut dengan pernyataan dari Zen yang menyinggung salah satu tempat yang ada di Kerajaan nya itu.
"Benar, hutan penyihir..."
"Kenapa bisa sampai ada kesimpulan seperti itu..."
"Jawabannya mudah saja... Bukankah kau selalu menyangkut pautkan sebuah masalah terhadap sejarah yang pernah terjadi... Jadi harusnya kau sudah tau tentang keberadaan Artifact bukan?" Zen menyindir atas ketidaktahuan Demian, dia sama sekali tidak memperdulikan Maihime yang menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
"Artifact, memang benar aku pernah membaca tentang itu, tapi itu hanyalah sebuah rumor saja tidak ada bukti tentang keberadaan Artifact di dunia ini..."
"Lalu apa pernah kau melihat ke dalam hutan penyihir sebelumnya..." Pertanyaan itu kembali terlontar, seolah benar benar ingin membuat Demian tersudut atas pengetahuan yang ia miliki.
"Apa maksudmu Kanade Zen... Yang ingin kau katakan itu sebenarnya apa..." Ucap Demian yang kala itu mulai terlihat kesal dengan ucapan Zen yang terkesan berusaha menghinanya.
"Hahaha, maafkan aku Raja Demian... Aku tidak ada maksud mengejek mu..." Zen tertawa kecil sambil mengayunkan tangannya ke depan.
Namun suasana kembali menjadi serius ketika Zen selesai dengan tawa kecilnya, dia kembali menatap ke arah Demian dengan sorot yang penuh tekanan.
"Karena belum ada yang tahu pasti apa yang ada di dalam hutan penyihir semua orang jadi mengira bahwa yang ada di dalam sana hanya lah sekedar rumor belaka, alhasil tidak ada kepastian tentang apa yang ada di dalamnya... Lalu bagaimana jika penduduk Hutan penyihir memanfaatkan Rumor untuk menyembunyikan rumor...
Artinya karena keberadaan mereka saja sudah di anggap tidak pasti tentu saja mereka bisa memanfaatkan itu untuk menyembunyikan keberadaan Artifact..." Zen Selesai dengan sangat cepat, penjelasan yang ia berikan benar benar terdengar lugas seolah itu adalah buah pemikirannya selama berabad abad.
"Artinya sampai benar benar memastikan seperti apa hutan penyihir kita tidak akan tahu apa yang ada di dalam sana... Termasuk keberadaan Artifact..."
"Benar, apakah yang ada Disana itu indah atau tidak, berbahaya atau tidak, apakah benar benar ada Artifact atau tidak... Semuanya akan terungkap saat berada Disana..." Balas Zen mengakhiri penjelasan nya, dia kemudian berhenti melirik ke Demian dan mulai melihat ke arah Maihime yang masih menatapnya dengan sinis.
"Setelah mendengar penjelasan mu tadi aku mulai berpikir itu adalah penjelasan yang paling logis, seperti yang diharapkan dari mata mata Kerajaan Terarria... Jadi apa rencanamu..."
__ADS_1
"Sebelum itu ada sesuatu yang ingin ku tanyakan... Apa benar benar tidak ada yang pergi ke hutan penyihir sebelumnya?"
"Tidak, belum pernah ada yang berhasil masuk atau mendekati area sekitar hutan penyihir... Karena katanya.."
"Biar ku tebak, ada Magische tingkat tinggi bukan?" Zen memotong kalimat Demian ketika pemikiran klise itu terlintas di pikiran nya.
"Benar... Kabarnya ada Grivyn yang di tugaskan menjaga tempat itu, dan Grivyn termasuk ke dalam tingkat yang hampir setara dengan Katastrophe..."
"Uwah merepotkan sekali... Selain itu apa tempatnya jauh?"
"Harusnya kau sudah tau bukan, karena ada Magische Tingkat tinggi tempat itu berada di sekitar Daerah Tak Terjamah... Dan itu cukup Sulit di lalui karena sudah hampir berada di luar perbatasan..."
"Jauh dan sulit... Yah akan ku pikirkan tentang rencananya nanti... Untuk sementara aku akan pergi dulu... Terima kasih atas kerja samanya Raja Demian, tenang saja aku pasti akan menyelesaikan masalah ini sebelum Relic War... Agar tugasku juga bisa segera selesai..." Zen mundur beberapa langkah kebelakang kemudian berniat merapalkan sihirnya, tepat sebelum Demian kembali memanggil nya.
"Kanade Zen tunggu dulu..." Panggilnya tepat sebelum bayangan yang ada di bawah kaki Zen meluas dan hendak menelannya masuk.
"Ada apa..."
"Ada satu permintaan yang aku ingin kau lakukan... Dan hanya bisa kau yang melakukannya..."
"Itu tidak terdengar seperti sebuah rasa hormat..." Balas Zen dengan wajah malas.
"Ini adalah masalah Kerajaan kami, tapi orang dari Kerajaan musuh hendak membantu menyelesaikan nya... Karena itu setidaknya biarkan aku memberikan sedikit bantuan pada mu untuk menyelesaikan Masalah ini" sambung Demian.
"Jadi... Bantuan apa yang akan kau berikan..."
"Aku akan menurunkan putriku Mai dalam masalah ini, dan dengan keberadaan nya akan menjadi perwakilan di antara kedua kerajaan dalam sebuah kerjasama... Dimana dari perwakilan dari Kerajaan Terarria adalah kau Kanade Zen..." Ucapnya lagi yang sontak membuat Maihime berdiri dari kursinya karena tidak setuju.
__ADS_1
"Kenapa ayah memutuskannya seenak itu... Aku sama sekali tidak setuju..." Tolaknya dengan sangat cepat.
"Putriku Mai, untuk pertama kalinya ayah meminta tolong padamu... Tolong bantu ayah menyelesaikan masalah ini..." Demian menundukkan kepalanya di hadapan Maihime yang masih memasang wajah angkuh membuatnya langsung luluh begitu saja karena ini pertama kalinya sang ayah menundukkan kepalanya kepada maihime.
"Kanade Zen adalah orang yang kuat jadi aku yakin dia akan memastikan keamanan mu, kau hanya perlu percaya kepadanya meskipun kepribadiannya sangat buruk..." Sambungnya lagi.
"Maaf saja jika kepribadian ku buruk..."
"Cih, ba... Baiklah akan ku lakukan... Jadi angkat kepala ayah... Aku akan melakukannya sebisa ku..." Maihime yang sudah luluh itu akhirnya menyetujui permintaan Demian.
"Bagaimana Kanade Zen, kau tidak keberatan bukan"
"Yah, terserah saja... Tapi aku tidak bisa memastikan keselamatan nya yah..." Zen terlihat tidak peduli dengan itu.
"Kalau begitu Mai, ikutlah bersama dengannya ke kerajaan Terarria untuk bertemu dengan Raja Arthur... Kemudian beritahu kan mengenai ini..."
"Ba, Baiklah" Maihime turun dan mulai berjalan mendekati Zen yang terlihat tengah bersiap kemudian berhenti sekitar satu meter di samping Zen.
"Jangan mendekati ku orang asing..."
"Siapa juga yang mau mendekati mu... [Shadow Magic : Reach Enchancer]" Zen merapalkan sihirnya dan mulai menelannya masuk bersama dengan Maihime dan perlahan tapi pasti keduanya menghilang dari kerajaan dan langsung menuju Ke Kerajaan Terarria.
"Suamiku apa semuanya akan baik baik saja..." Sang Ratu yang terlihat diam daritadi akhirnya bertanya pada Demian mengenai kepergian putrinya tadi.
"Aku tidak tahu Sayang, kita hanya bisa berharap pada mereka berdua demi masa depan kedua kerajaan..."
Note Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru
__ADS_1
see u next chapter